
Happy reading 😍📖
Memasuki awal pekan....
Suasana riuh khas orang siap bepergian jauh, sudah memenuhi ruang keluarga perumahan premium di saat mentari baru naik sepenggalah.Rupanya Danang harus menyambut pembukaan hari kerjanya dengan menjalani tugas luar kota yang siap menanti.
Ya,kini baru saja Danang berpamitan kepada Hilya,akan pergi ke luar kota selama seminggu.
"Jaga dirimu baik-baik,aku tidak akan lama,di sana."
Hilya merespon ucapan sang suami dengan seulas senyum menawan disertai anggukan kecil.Sengaja memberitahu lewat tindakan bahwa dirinya akan baik-baik saja.Padahal seonggok sedih sudah meronta-ronta kian mendesak dan siap memproduksi kabut memanas di kelopak mata indahnya yang siap meluap kapan saja.
Hilya berusaha menyamarkan situasi dengan membuang pandangan ke sisi sembari melempar kalimat penghibur hati,"Jangan lupa saling kontak,sayang."Sebuah ungkapan refleks yang membuat Danang serta-merta tersenyum lebar.
Tangan kekarnya sigap mengusap lembut pucuk kepala sang isteri,"Tentu,apa yang tidak untuk isteriku yang cantik ini....,hmm."Gelegar khas suara Danang yang mampu menggetarkan syarafnya nan kian menegang,"Jika aku mengabaikanmu,maka kau berhak menghukumku dengan caramu."lanjutnya penuh penghayatan.
Meski sekuat apapun usahanya menyamarkan sesuatu,namun tindakan kecil sang suami baru saja,telah sukses membuat sang isteri tak kuasa menahan kabut yang menghangat di pelupuk matanya.Kini Danang terlanjur menangkap basah air mata yang menetes begitu saja dari bola bening laksana bola ktistal.
"Kenapa....,sedih hmm?....,sini kupeluk."
"Satu minggu saja,sayang."lanjutnya dengan senyum menenangkan.Padahal hatinya juga lebih gusar dari yang diduga.
Seperti kata orang,wanita memang unik,setiap momen akan mereka tuntaskan dengan berbagai jenis air mata yang berbeda makna.Hal itu yang membuat mereka tampak kuat dan tegar.
Sangat berbeda dengan dirinya saat ini.Ia bahkan tidak memiliki alasan untuk menjatuhkan air mata.Mungkin di momen-momen tertentu pertahanannya pernah lolos begitu saja,namun tidak untuk yang satu ini.
Jiwa lelakinya lebih memilih untuk mengedepankan logika ketimbang perasaan.Menangis hanya demi menjalankan tugas kecil serupa itu,bukankah sesuatu yang aneh.Egonya meyeringai sinis,lalu melambai-lambai ria mengitari pikirannya seakan tengah mengejek perasaannya yang rapuh.
Sesuatu yang membuat hatinya kian dilanda gusar,tentunya.Namun begitu jugalah uniknya ia sebagai seorang pria,memiliki jenis air mata termahal di dunia.Hingga ia mampu menempatkan diri pada situasi yang berbeda,mampu luluh dan membuat hati pasangannya tenang.
Hilya mengangguk pasrah.
Gadis itu mendesah lirih,berusaha menyudahi kegusaran yang tiba-tiba mengganggu agar tidak berlanjut.Bahkan sebelumnya ia sempat berpikir andai bisa,ingin rasanya meminta izin kepada sang suami agar ikut ke sana.
Akan tetapi dirinya juga harus belajar untuk memaklumi keadaan suaminya,dan bukan malah menyusahkan sang suami yang sedang disibukkan dengan hal-hal penting dalam pekerjaan.
Tuntutan pekerjaan yang mengharuskan seorang calon pemimpin besar seperti Danang untuk fokus dan berkonsentrasi penuh,membuatnya harus menjalani kenyataan bersama sang isteri secara realistis.Demi menyelamatkan kas nenek moyangnya,Danang memang sudah seharusnya menerima tugas penting tersebut dari sang ayah secara profesional,bukan.
"Kemarin,Ommu mendatangi papa."Saat dirinya dengan Hilya dipanggil menghadap tuan Imran du kediamannya pada hari minggu kemarin.
"Menurutnya,'Wayans Group' sedang dalam masalah besar."Sungguh waktu yang tepat untuk membahas masalah penting serupa itu.
"Sepertinya dia sangat membutuhkan pertolongan,temuilah dia."Papa Imran mengarahkan puteranya untuk mengambil bagian dengan langsung terjun ke lapangan,demi menyelesaikan masalah sang paman.
Di luar kota,ia harus menyelesaikan permasalahan yang terjadi pada salah satu perusahaan keluarga sang papa.Perusahaan Wayans Group yang diwariskan oleh kakek kandungnya sendiri bernama tuan Wayan Suruddin.
Satu-satunya perusahaan terbesar di ujung timur matahari terbit,kota D.Juga merupakan atap perusahaan yang sebenarnya dikelola oleh paman kandungnya sendiri,yaitu adik dari sang papa bernama tuan Amran Suruddin Setiawan.
Pria yang pernah menampung dirinya sewaktu menjadi anak rantau di kota Tun Mat Saleh.Selain itu,dia juga pernah menurunkan sebagian peran besar dalam menggembleng anak,keponakannya tersebut,hingga menjadi orang hebat seperti saat ini.
"Sejak sepupumu memilih untuk senyap dari dunia bisnis keluarga,beberapa orang kepercayaan Wayans Group berani mengambil keuntungan dengan menggelapkan sebagian saham perusahaan mediang opa."Papa Imran menarik napas tenang,"Datangi ommu,dan bantulah dia,"ucapnya menerawang.
"Satu minggu,cukup untuk pejuang muda seperti dirimu."Mengacungkan jari telunjuknya,"Papa yakin kau bisa menyelesaikannya dengan baik."lanjutnya yakin.
Sungguh,sebuah tugas yang dipercayakan oleh sang papa kepadanya dengan harapan kelak ia bisa memindahkan tongkat estafet perusahaan kepada puteranya itu tanpa keraguan.
Danang menghela napas panjang mendengar ulasan sang papa,"Lalu apa yang harus kulakukan demi menuntaskan masalah ini,pa?"
Tuan Imran tampak berpikir sejenak,kemudian bersuara cukup pelan namun tegas,"Hanya bukti akurat yang bisa menumbangkan mereka."
"Maka berhati-hatilah saat meminta keterangan dari siapapun di sana.Ommu belum mengetahui secara persis siapa pelakunya."
"Tugasmu,cukup samarkan identitasmu lalu kumpulkan buktinya."
Danang menyimak setiap ucapan sang ayah dengan anggukan kecil.Meski dirinya sendiri belum yakin sepenuhnya akan mampu menyelesaikan tugas tersebut atau tidak,namun ia mencoba untuk tetap profesional di depan sang ayah.
Ehmm....
"Hati-hati di jalan.Berjanjilah untuk pulang jika semua urusanmu sudah selesai."Hilya membuyarkan lamunan panjangnya.Satu kebiasaan buruk yang sering ia lakukan belakangan ini.
Hilya tersenyum tenang,gadis itu tampak menggeleng pelan,"Bukan,aku hanya sedang menyindir kelemahanku sendiri demi menguatkan hati yang bakal ditinggal olehmu,"ujarnya tertawa kecil.
Danang ikut terkekeh,"Aku jadi tidak pantas lagi buat meragukan kemampuan rayuanmu,sekarang."bisiknya kedengaran menyebalkan.Namun Hilya tidak ingin tampak cemberut di mata suaminya di momen mencekam seperti saat ini.
"Ya,siapa lagi yang mengajarku demikian kalau bukan dirimu....,lalu siapa juga yang bisa membuatku jadi perindu ulung,selain dirimu?"desahnya menggelitik di telinga sang suami.
Lagi-lagi Danang memasang wajah semringah.Tidak sia-sia usahanya beberapa minggu belakangn,telah membuat Hilya menjadi lebih jujur kepada hatinya sendiri.
"Itu pasti,sayang....,baiklah aku berangkat dulu."
"Baik-baik dengan Juna di sini."
"Oke,sayang."
Sebuah penyatuan bibir yang cukup dalam dan mengesankan,membuat keduanya melebur di dalam rasa yang membuncah,mentransfer energi positif ke dalam tubuh mereka dengan saling bertukar saliva.Dua-duanya saling berpacu seakan tidak ingin menyudahinya.Membawa jarum jam seakan ikut berhenti berdetak menyaksikan dua anak manusia yang kini sudah mulai terang-terangan saling memuji.
"Kau cantik."
"Dan kau....,hebat."Hilya membalas pujian sang suami.Untuk pertama kalinya ia memberanikan diri mangatakan sesuatu yang membuat hati Danang ikut meringis.
"Kenapa detik menit begitu cepat berputar hingga kita harus terpisah?"gumam hatinya seakan meronta untuk segera membatalkan perjalanannya.Sungguh bukan sebuah solusi yang baik.Justeru sabarlah yang bisa membuat semuanya terasa lebih mudah dijalani.
Danang dan Hilya sama-sama menyudahi salam pamit terhangat yang mengakhiri pertemuan mereka saat itu.Senyum malu-malu di wajah yang kian merona membuat Danang semakin memantapkan diri untuk segera berlalu agar bisa pulang secepatnya demi wajah malu-malu tersebut.
..
Hilya tengah berdiri menatap takjub sebuah rumah mewah yang baru disambanginya.Rumah berdesain modern klasik tampak semegah rumah besar milik sang mertua.Sementara sorot matanya sibuk memindai alamat yang tertera di kartu nama nan menyilau di balik pendaran cahaya pagi yang mulai menghangat.
Pikirannya bergelayut ria memastikan ia sedang tidak salah alamat.Langkah kikuk membawa tubuhnya untuk tetap menekan tombol bel rumah meski hatinya tampak ragu.
Usai mengantar kepergian sang suami yang bepergian ke luar kota selama satu minggu,Hilya memutuskan untuk pergi mencari alamat pria paruh baya yang ditemuinya beberapa minggu berlalu di pantai 'Tanjung Benoa Water Sport'.
Sementara Juna yang masih tertidur,dibiarkan tinggal di rumah bersama bibi Nunung.
"Bi,titip Juna sebentar,aku ada keperluan di luar untuk beberapa jam kedepan,"ujarnya seusai menyantap sarapan pagi.Nasi goreng udang spesial kesukaannya.
"Baik,nona Hilya."Jawabnya singkat tanpa tawar-menawar.
Hilya melangkah ke dalam rumah mengikuti seorang asisten rumah tangga yang membawanya menuju ke salah satu ruang di lantai dua.Suasana rumah yang begitu lengang seakan tidak berpenghuni.
"Silakan,nona.Bapak ada di ruangan yang itu."Asisten rumah tangga menunjukkan salah satu ruang terbuka yang memamerkan desain interior ala eropa.
"Selamat pagi,tuan."Hilya meenyapa pria yang duduk memunggungi dirinya.
Pria yang sibuk membolak-balikkan sebuah buku di tangannya,tidak menjawab sapaan sang gadis.Kesannya saat itu,ia tenggelam dalam dunianya sendiri.
"Selamat pagi,tuan."Kali ini ia sedikit lebih melantangkan suaranya,dengan posisi berdiri sudah lebih dekat dari sebelumnya.
Pria tersebut yang tidak langsung menjawab sapaannya,memilih mendongakkan kepala beruban untuk memastikan kehadiran dirinya.
"Duduklah,"ucapnya pelan.
Hilya mengangguk meski sedikit mengernyit bingung lantaran pria tersebut tampak tidak begitu antusias melihat kehadirannya.Tidak seperti saat ia menyapanya di pantai waktu itu.
"M_maaf,saya...."
"Sudah kuduga,kau akan datang."
"Kehadiranmu adalah jawaban mutlak yang tidak bisa dibatalkan....,kau telah setuju membantuku."
Hilya tertegun menatap wajah pria paruh baya yang tampak bersikukuh dengan ucapannya.Tak ada gurat senyum di raut wajahnya yang tegas namun rada kusut.
Bersambung....
🤗🤗🤗