
Happy reading 😍📖
Aula Besar Kediaman Tuan Imran
"Eksekusi," bisik Nuha pelan ke telinga sahabatnya yang masih kesal menatapnya itu, lalu kembali memandang ke arah Danang yang sudah siap menghunus satu kedipan mata nakal tanpa rasa bersalah yang sengaja ia tujukan terhadapnya. Kini Hilya pasrah dalam gandengan sang suami. Semua perlakuan mesra dan posesif seorang Danang terhadap isterinya itu benar-benar direkam jelas oleh memori wanita yang bernama Karin tersebut. Kini ia hanya bisa memandang Hilya dengan tatapan yang tidak terbaca.
Perlahan pasangan itu melangkah maju melewati lorong penghubung antar ruangan, Nuha masih tetap setia menggandeng lengan Hilya yang berjalan lamban di belakang, sedangkan Karin kini mengambil posisi berjalan di samping Danang yang telah selangkah lebih cepat di depan seraya mencoba bercengkrama.
"Kau tahu, acara ini mengingatkanku kepada mendiang Oma kita, Danang." Karin dengan ucapan lirihnya seraya tersenyum menerawang.
"Sama, aku juga, Rin." Danang membalas ucapan wanita yang berjalan sejajar dengan dirinya. Tatapannya lurus ke depan tanpa mau menoleh ke arah wanita yang mengajaknya berbicara.
"Apa kau masih ingat semuanya?" tanya Karin dengan tatapan berkaca.
"Heeum." jawaban seadanya mendengung begitu saja dari mulut pria tersebut.
"Entah kenapa, aku merasa kau banyak berubah," ucap Karin rada sensitif.
"Hanya perasaanmu saja, aku masih seperti yang dulu." Danang Dengan tenang menyanggah ucapannya. Seiring dengan itu, langkahnya kinipun semakin dipercepat.
Menyadarinya, Karin seketika menghentikan langkah. Kini ia hanya bisa menghela napas berat, "Tapi aku merasa ada yang hilang darimu, Danang." Wanita itu bergumam seraya tersenyum kecut memandangi punggung pria yang berkelebat kian menjauh darinya.
Flashback on
Karin, wanita di masa lalu Danang yang kecantiknya nyaris sempurna, melenggang indah dengan lenggok khas nan anggun memasuki area 'Kafe Elite' milik Adhytama Star Group di salah satu cabangnya di pusat kota D. Senyum kian menyerlah manakala dirinya mendapati pria yang pernah menyimpan namanya di balik hati yang terdalam itu kini telah lebih dahulu berada di sana, tempat janji bertemu.
Dan hari ini Danang memenuhi ajakan reuni yang telah direncanakan wanita itu setelah beberapa kali sang pria sempat menolak untuk bertemu. Selayang pandang, tak banyak yang berubah dari lelaki jangkung tipikal Asia tersebut. Masih sama seperti dahulu, selalu santai tanpa beban, itulah ciri khas dari pemilik nama lengkap Danang Danuarta Setiawan ini.
Satu hal yang membedakannya adalah, keberadaan pemuda itu selama satu setengah tahun ini bagai ditelan bumi. Berkali-kali Karin mencoba mengerjapkan mata, seakan ingin memastikan bahwa di saat itu dirinya sedang tidak bermimpi. Benar, pria itu tampak melambaikan tangan ke arah dirinya seraya melempar senyum khas yang selalu memercikkan api kerinduan di hatinya. Rindu sahabat? Entahlah.
"Danang, apa benar kau di sana?" tanya Karin seakan tidak yakin dengan penglihatannya.
"Ya, ini aku." Danang lantas berdiri menyambut kedatangan sang wanita begitu mendengar namanya disebut, "Kenapa? Kau seperti melihat setan saja." Pria itu melirik singkat seraya menyerangnya dengan gaya khas yang paling dirindui oleh wanita tersebut.
Karin langsung berhambur meraih tubuh kekarnya, "Hhh, aku hanya butuh sedikit alasan buat meyakinkan hatiku atas penglihatan yang buram ini." Sebuah rangkulan erat penuh tuntutan melesat begitu saja, "Kau menolak bertemu beberapa kali, dan aku mengira kau sudah tidak ingin lagi bertemu denganku." Ada raut rindu yang mendalam di balik kelopak mata bening nan indah itu.
"Ayo peluk aku, Danang." pintanya riang.
Tapi tunggu dulu, tak ada respon ataupun pelukan balas dari pria jangkung tersebut. Yang ada hanya sebuah tepukan ringan yang mendarat di bahu wanita yang meminta dipeluk tersebut, "Maaf, aku hanya sedang sibuk." ucapnya datar, kemudian berlanjut dengan upaya melepas pelukan wanita tersebut.
Menyadari itu, Karin mendadak canggung, namun seketika bis menguasai keadaan, "Ayo, silakan duduk." lanjutnya penuh sahabat.
Karin menyodorkan daftar menu kepadanya, "Kafeku punya beberapa racikan terbaru, semuanya berasal dari kopi pilihan, dan kau bisa pilih sesuka hatimu," lanjutnya tertawa riang.
"Oh, ya? Boleh. Emm..., tapi kau saja yang pilihkan, aku percaya kepadamu."
"Yakin? Ayolah, Danang. Sekali saja." pintanya memelas, "Pilihanku bisa saja meleset dari seleramu." lanjutnya menolak.
Danang menggeleng keras, "Pass! Aku percayakan semuanya kepadamu."
Karin mendadak risih, namun ia tetap mengontrol suasana hatinya. Kini iapun mencoba masuk ke persoalan inti, "Termasuk memperbaiki hubungan kedua adik kita?" Karin melayangkan pertanyaan yang membuat Danang sontak memindai wajahnya tanpa kedip. Sementara wanita itu mengangguk yakin.
Danang terlonjak, "Ee, maaf aku tidak punya waktu untuk itu." sanggahnya berat. Perubahan di wajahnya tak mampu menyembunyikan kemarahannya. Tampaknya iapun sudah siap meninggalkan tempat tersebut, namun Karin sigap menangkap pergelangan tangannya.
"Kita harus membahasnya, Danang." ucapnya tegas.
"Tidak ada yang perlu dibahas, aku tidak ingin Dania terjebak dalam lingkungan mafia. Aku hanya ingin dia selamat dan tidak bernasib sama seperti dirimu. Aku juga tidak sudi adikku punya hubungan apa-apa dengan pria bajingan itu." sergah Danang keras karena ia terpaksa harus menghentikan pergerakannya akibat ulah Karin.
"Dia bukan bajingan! Dia adik iparku. Kami bukan keluarga mafia." sentak Karin mengagetkan. Ada pernyataan perang di balik serangan mendadaknya yang penuh penekanan. Sorot matanya memerah.
Danang membungkam sinis, hanya ada tatapan tajam penuh perlawanan kini menghunus ke kelopak indah menyala milik wanita yang dahulu pernah ia jadikan sebagai orang pertama di hatinya. Menyadari ini, Karin lantas merendahkan suaranya lalu meminta kesediaan Danang untuk kembali mengambil posisi duduk.
"Maaf, kumohon duduklah, akan kujelaskan kepadamu." pinta Karin berubah melembut, dan Danangpun melunak.
Wanita itupun memulai penjelasan panjang lebar, "Semenjak Haidar dipindah tugaskan ke Adhytama Star Group, namanya terhitung bersih dari deretan nama personil 'Diego Spirit'."
"Pusat Misi keluarga TF itu kini sudah diambil alih oleh kak David bersama orang-orang kepercayaannya. Diego sebagai adik kandungnya saja, tidak berhak ke atas itu. Ingat baik-baik, Haidar hanyalah karyawan dari kalangan keluarga yang dipercayakan, dan dia bukan pemilik."
"Dan semenjak peristiwa di Bruno Palm tahun lalu yang nyaris mengorbankan nyawa suamiku, para mafia kelas atas itu telahpun menyerah dan berjanji tidak akan pernah membuat kekacauan lagi, jadi semuanya sudah aman."
"Hei, ingat satu hal lagi, Haidar dan Dania juga manusia biasa yang hanya ingin memperjuangkan cinta mereka kepada orang yang mereka cintai. Sama seperti para pecinta yang lainnya, Dimas, Diego, aku, bahkan kau sendiri juga pernah melakukan hal yang sama, bukan?"
Danang menghela napas berat. Kali ini ia harus mengakui kehebatan wanita yang pernah ia kagumi itu. Ya, kini wanita yang dulunya lemah dan terkungkung dalam penjagaan keluarga yang ketat itu, telah menjelma menjadi wanita mandiri nan tangguh dan tak terkalahkan di lingkungan sosialitanya. Bakal seperti Karinkah adik manjanya suatu saat nanti?
Satu hal yang membuatnya terkesiap, ketika Karin menceritakan kalau Hilya sempat mendatangi Haidar di ruang ICU yang mana ia juga sempat bertemu dengan Diego, suami Karin. Apa tujuan isterinya? Tidak lain adalah atas dasar kemanusiaan. Sang isteri hanya ingin memperbaiki kekacauan yang telah diciptakan oleh mertua dan suaminya sendiri dengan memberi support kepada Haidar agar tidak menyerah begitu saja.
"Apa, kalau bukan isterimu juga sependapat denganku, huh?" sindir Karin penuh kemenangan.
"Jadi isteriku nekad masuk ke lingkaran keluarga itu? Bagaimana kalau terjadi apa-apa dengannya sementara aku sendiri tidak mengetahui saat itu?" batinnya frustrasi. Tampak dari gerakan jemari yang menyapu kasar wajah oriental tersebut.
Berkat pertemuan Karin dengan Danang tersebut, kini keduanya telah sepakat untuk mempertemukan kedua keluarga mereka demi memperbaiki hubungan yang sempat terputus akibat kejadian beberapa minggu yang lalu.
Karin berhasil meyakinkan keluarga suaminya, sementara Danang pula, meski dala. keraguan, ia juga berhasil meyakinkan sang papa agar bisa menyatukan hubungan sang adik dengan pria idamannya tersebut. Semuanya ia lakukan demi menghargai perjuangan sang isteri dan juga sahabat lamanya itu.
Beberapa kali ia melakukan pertemuan singkat dengan pemuda bernama Danang yang dulu pernah sangat dekat dengannya. Banyak kenangan yang muncul tatkala mereka sedang berdua. Hanya yang membedakannya, saat ini, Danang malah selalu menolak daripada merespon balik ketika ia mencoba menyentil masa lalu mereka. Jangankan tentang mereka, tentang mendiang Oma mereka saja Danang tidak ingin menggubrisnya.
Bahkan Danang terkesan menghindar dan selalu menjaga jarak dengannya. Padahal bukan itu yang ia inginkan, melainkan ia menginginkan kebersamaan seperti masa dulu bisa terulang kembali meski dengan versi yang berbeda. Namun semuanya tidak sesuai dengan harapan.
Dan saat ini ketika ia mendapati sikap Danang yang sangat bertolak belakang ketika berhadapan dengan Hilya. Pria itu bahkan tidak segan-segan memamerkan kemesraan di depan publik bersama wanita tersebut. Menyayangi, memeluknya posesif, dan satu hal yang tidak pernah terjadi diantara mereka, dalam tanda kutip 'menggerayangi wajah dan bibir seksinya tanpa tolerir, dan juga menganggap dunia milik mereka berdua'.
Ini bukti bahwa kini pria itu telah berhasil melupakan masa lalunya yang kelam. Bukan cuma haru, ia juga ikut terkesiap ketika mendapati Danang ikut melupakan persahabatan mereka yang terkesan ekstrem di mata suaminya Diego, dan juga para wanita yang pernah dekat dengan Danang. Entahlah perasaan apa itu, kehilangankah dia? Tak terasa sebutir air mata ikut menetes di kelopak mata yang indah.
Flash back end
"Ya, ampun. Cantik amat wanita yang bernama Karin itu," bisik Nuha ke telinga Hilya yang melangkah pelan kian mendekat.
"Hmhm, kau benar, Nut." Hilya membenarkan ucapan Nuha. Senyumnya kian mengembang. Matanya tidak lepas dari mengagumi keanggunan wajah wanita yang kini tengah berbalik ke arahnya dan juga ikut kagum menatap dirinya.
"Silakan, mengambil tempat di samping dua pria tampan." ucap Karin ramah penuh senyum kepada Hilya yang telah memasuki arena.
"Terima kasih," balas Hilya ikut tersenyum ramah seraya menyambut uluran tangan tangan Danang dan Dimas yang telah lebih dulu mengambil posisi duduk bersebelahan. Kini posisi duduk Hilya berada diantara kedua kakak beradik tersebut. Keduanya melemparkan senyum penuh makna ke arah dirinya.
Hilya POV
Hanya satu hal yang ingin kulakukan saat itu, yakni menempel di balik lengan suamiku yang terlihat sangat tampan, bahkan lebih tampan dari biasanya, bak seorang pangeran bagsawan saat berseragam adat seperti ini. Ya, mungkin karena darah bangsawan yang benar-benar mengalir di tubuhnya itu.
Satu hal yang kuketahui saat menjadi pendamping hidupnya adalah, keluarga besar yang digadang-gadang sebagai keturunan bangsawan tulen ini tidak pernah membangga-banggakan keningratan mereka layak pemimpin di zaman dahulu.
"Lagipula apa yang perlu dipamerkan kalau pemerintahanku hanya sebatas ruang lingkup duniaku. Menggeluti bisnis nenek moyangku yang hasilnya saja, belum tentu terbagi secara adil dan merata kepada kalangan masyarakat kecil."
"Perlu diingat satu hal, bahwa semua orang berhak menjadi pemimpin bagi diri dan keluarganya sendiri," begitu kata papa Imran sebagai mertuaku yang memegang prinsip kedamaian di dalam hidup keluarganya.
Ya, aku tahu itu sejak lama. Hanya saja penampilan suamiku saat ini seakan membawa dirinya kepada gambaran nenek moyang masa lalu yang nama mereka melambung tinggi di ukiran sejarah. Hanya itu yang ingin kujelaskan.
Semua mata tertuju memandangku dan juga dirinya saat ia dan aku masing-masing secara terpisah memasuki jalur yang telah disediakan sebagai jalan masuk yang dipenuhi taman bunga berwarna-warni.
Bayanganku lari ke masa enam bulan yang lalu, di mana kami berdua memasuki arena dengan bergandengan tangan. Ah, rasanya aku menjadi seperti pengantin baru yang siap-siap dinikahi oleh kekasihku. Bedanya, ketika itu aku belum mengenal siapa suamiku yang sebenarnya. Dan saat ini, kini kuyakin dan semakin yakin bahwa dialah jodohku yang sesungguhnya, dan dititip Allah untuk menjaga dan melindungiku juga anak-anakku.
Namun di saat ini, di dalam gelaran acara yang mirip enam bulan lalu tersebut, saat aku lagi-lagi duduk bersimpuh dan menempel di balik lengan kekarnya tersebut, perasaanku menjadi lebih berbunga-bunga dari yang pernah kurasakan.
Di mana pada saat itu kurasa hanyalah dunia yang kacau, juga kegugupan lantaran dipermalukan oleh status sosialku yang sebatas gadis kampung dan tidak punya apa-apa. Lebih beratnya adalah saat itu kurasa keberadaanku tidak disukai oleh suamiku sendiri. Ah, cuma perasaanku saja.
Dan saat ini, kini semuanya telah berubah, karena aku mengetahui secara jelas, bahwa suamiku sangat mencintai dan menyayangiku, apalagi saat ini kami memiliki calon buah hati sebagai tanda cinta yang tengah bersemayam di dalam rahimku.
Begitu juga dengan adik iparku yang kini duduknya bersila di sebelah kiri ku dan kami dikerumuni oleh para keluarga yang melingkari kami bertiga. Meski tidak punya pendamping di sisinya, namun Dimas tampak sangat tampan dan berwibawa. Begitu juga pasangan baru Dania dan Haidar. Rupanya Dania dan Haidar telah memasuki arena terlebih dahulu dan duduk berdampingan dengan sangat manis dan serasi.
Kulirik ke sisi yang lain, ternyata papa dan mama juga mengenakan seragam yang sama dengan kami. Begitu juga dengan tuan Amran dan nyonya Mira yang duduk berdampingan.
Kini aku mulai mengerti bahwa momen yang ada ini, memang sengaja dibuat oleh papa dan juga keluarga besarku untuk mendoakan keselamatan keluarga Setiawan yang baru saja melewati badai besar. Badai yang memporakporandakan hidup dan ketenangan keluarga.
Momen yang sangat tepat untuk 'penyatuan hubungan kekerabatan'. Menyatukan apa yang yang pernah terpisah, memungut apa yang pernah tercecer, mendoakan yang pernah sakit, yang pernah jatuh, yang pernah ditipu dan merebut kembali apa yang pernah direbut, lalu mengambil kembali apa yang pernah diambil begitu saja dalam porsi memiliki seutuhnya. Kesetiaan dan ketulusan pengorbanan adalah simbol dari cinta dan kasih sayang yang sesungguhnya.
Lalu bagaimana dengan Ibnu Haidar yang sengaja diikutsertakan dalam acara ini? Ibnu Haidar adalah bagian dari yang pernah ditentang, bagian dari yang pernah tertindas, dan bagian yang pernah tercampakkan.
Kini saatnya ia diangkat kembali harkat dan martabatnya di depan seluruh keluarga besar sebagai bentuk permintaan maaf dari pihak keluarga Setiawan kepada dirinya secara pribadi, dan juga kepada keluarga Fatah-Fatih secara umum.
Oleh karenanya, saat ini juga dia dan Dania akan segera ditunangkan sebagai bentuk penyatuan yang pernah terpisahkan. Itu artinya, Haidar sudah menjadi bagian dari keluarga besar kami.
Sementara aku dan suamiku, harus melewati beberapa ritual lagi untuk pengutuhan hubungan kami yang selama ini dianggap masih dalam lingkaran semu. Ditambah janin yang kini bersemi di dalam perutku yang masih sangat muda, menjadi alasan utama penyatuan kami berdua.
Papa Imran sengaja mendatangkan tetua adat yang berperan sebagai pemimpin acara ritual tersebut, hingga semuanya tampak berjalan begitu khidmat. Dan aku disebut oleh sang tetua sebagai sosok pembawa cahaya bagi kebahagiaan keluarga Setiawan.
Ya, belum lagi kata sambutan keluarga yang dibawakan oleh om Amran. Sebagai ucapan rasa syukurnya, beliau memperjelas statusku sebagai menantu keluarga yang berhasil menjadi penyatu dan pengikat hubungan kekeluargaan yang nyaris terputus, serta membawa kehidupan baru bagi jiwa dan raga keluarga tersebut.
Aku mendongak singkat, lalu balas menunduk tajam dengan wajah merona saat semua yang hadir di sana menatapku dengan tatapan masygul.
Terima kasih suamiku, karena telah memilih bertahan, setelah semua ujian lara kita lewati bersama dan menjatuhkan pilihanmu kepadaku sebagai isteri pendamping hidupmu, mengarungi suka duka bersamamu, dan menjadikan aku sebagai ibu dari anak-anakmu.
Hilya POV end.
Acara doa bersama berjalan khidmat. Berlanjut ke acara pertunangan Dania dan juga Haidar, berlangsung cukup meriah. Ritual tukar cincin disertai panjatan doa syukur atas keselamatan putera-puteri yang diberi ujian.
Tuan Imran menyadari bahwa satu-satunya puteri jelita ini bakal pergi meninggalkan keluarga Setiawan dan berpindah gelar mengikuti calon suaminya.
Kalimat demi kalimat yang dirangkai dalam bahasa yang apik penuh penghayatan membuat semua yang hadir ikut berurai air mata, saat tuan Imran menyampaikan permintaan maafnya kepada pihak keluarga pria.
Ucapan maaf yang tulus sekaligus ungkapan rasa haru dan kesedihannya, manakala ia terpaksa harus rela melepas puteri semata wayangnya itu kepada anak generasi keluarga Fatah-Fatih yang pernah ia sakiti.
"Saya hanyalah seorang ayah yang luruh pada persoalan anak-anak, yang bisa saja bertindak berlebihan dan bahkan membabi buta jika itu perihal hidup anak-anak dalam masalah. Dan semua itu refleks terjadi, bukan karena unsur benci dan dendam, melainkan itu semata-mata hanya karena saya begitu mengkhawatirkan keselamatan anak-anak saya."
"Tiada manusia tanpa kekurangan. Dan jikalau kekurangan itu sudah menyakitkan sebagian pihak, maka pada kesempatan ini, saya secara pribadi ingin menyampaikan permintaan maaf sebesar-besarnya kepada pihak keluarga Fatah-Fatih atas musibah yang telah menimpa putera kebangaan kalian."
"Harapan saya kepada ananda berdua, cukup buktikan cinta kalian berdua kepadaku, dengan saling melindungi, saling menjaga dan saling melengkapi hingga kalian menua bersama."
"Ambil hikmah dari permasalahan ini, lalu jadikan ia sebagai ibrah untuk menata hidup di masa depan."
"Dan teruntuk menantuku tercinta, nona Hilya Afiyana Abimanyu Setiawan, terima kasih atas segalanya, terima kasih telah menjadi puteri yang membawa kebahagiaan bagi kami semua." Tuan Imran mendadak menghentikan ucapannya yang tiba-tiba menjadi sebak, "Juga syukur atas pencerahan yang telah Allah datangkan kepada keluarga ini melalui kehadiranmu di sisi putera tertua kami, sehingga memberikan cahaya keturunan baru bagi generasi Setiawan berikutnya. Ucapan maaf dan terimalah kasih sayang kami untukmu." lanjutnya haru, membuat air mata ikut menjadi tidak terbendung. Tidak hanya yang bersangkutan, akan tetapi semua yang hadir ikut terbawa perasaan haru dalam linangan air mata bahagia.
"Terima kasih kepada semua yang telah mendukung dan memberikan support atas keluarga yang sempat melewati ujian berat ini. Semoga kita semua tetap berada di dalam lindungan Allah SWT, aamiin."
••••
Bersambung....
Salam hangat buat kita semua 🤗🤗🤗