I Need You

I Need You
IMPAS



Happy reading 😍📖


Premium Elite


Danang mendengus berat,membanting kasar tubuhnya ke sofa.Kali ini ia merasa telah menjadi pria bodoh untuk bertahun-tahun lamanya.


Selama ini ia terlalu naif karena percaya pada tuduhan Vania bahwa dirinyalah yang telah merenggut kehormatan wanita itu di acara ulang tahun Jefry.Padahal yang benarnya,Lutfylah pelakunya,miris.


"Dania bilang,Lutfy adalah pria masa remajanya Vania."Ucapan Dimas masih mengiang di telinganya.


Kenyataannya....,Dania,adik kecilnya saja mengetahui dan nalar akan rahasia sebesar itu,sementara dirinya yang hampir tiap hari bertemu dengan Lutfy,bahkan pernah beberapa kali ia dan Jefry secara tidak sengaja bergabung dalam satu geng hura-hura bersama dengan pria itu tapi ia malah tidak menyadarinya sama sekali,"Bodoh."Menepuk tinjunya sendiri.


Kata-kata Dimas masih setia bermain ria di pikirannya yang kalut,mambuat kepalanya ikut berdenyut panas,


"Setelah bertemu Dania kita,aku menjadi sangat lega karena walau bagaimanapun,Vania tidak jadi menikah denganmu,apalagi denganku."


"Lalu runutan kejadian yang membuatku dan Vania tidak jadi menikah itu adalah satu berkah tak terhingga buatku."


"Setidaknya,peristiwa sakitnya oma Hasnah dan kecelakaan yang menimpa Karin waktu itu telah menyelamatkan diriku dari kebusukan Vania."


Ah,seorang wanita seperti Vania telah membawa penderitaan besar bagi putera Imran dan Amran.Bertahun-tahun hidup dalam bayang-bayang Vania,jelas sebuah pencapaian yang buruk.


"Masih sibuk?"Sapaan lembut dari Hilya seketika membuyarkan lamunannya.Sejenak pandangannya tertuju kepada wanita yang kini berjalan semakin mendekati dirinya.Di tangannya terdapat nampan berisi segelas kopi sore berserta camilan khas nan gurih.


"Emm....,tidak."Menyambut nampan kemudian meletakkan di atas meja.Kebiasaan yang sangat jarang dilakukan oleh suaminya,membuat Hilya tersenyum mengerut.


Namun belum sempat pikirannya berkelana,tiba-tiba gerakan gesit Danang membawa tubuhnya untuk duduk di pangkuannya menjadi jawaban paling konkret yang tidak terbantahkan,"Jadi ini maksud suamiku terburu-buru menyambut nampan tadi?"Hilya dengan kedipan menggoda dan setengah tertawa.


Danang mengangguk manja,"Karena bersamamu,aku tenang,"Mengeksplor batang leher jenjang dan telinganya,"Hei,apa kau tidak ingin dimanja oleh suamimu ini hmm?"


"Mau,sayang....,tapi...."


Danang membungkam pelan perkataan sang isteri dengan menangkup bibir ranum itu ke dalam decapan lembut nan memabukkan.Cukup lama dalam ritme pelan mendayu namun menuntut,menotok titik syaraf menggelenyar seakan memperlambat detik menit yang berjalan.


Sementara Hilya pasrah menerima perlakuan suaminya,dan sesekali ikut merespon dengan pergerakan kecil yang membuat suaminya semakin menuntut,"Terima kasih telah memberiku kado terindah seumur hidupku,"bisiknya lirih ke telinga Hilya.Meniupkan hawa panas yang menjalar ke seluruh wajah dan juga tubuh mereka masing-masing,"Terima kasih juga karena telah menerimaku apa adanya."


Jemarinya meraba perut datar sang isteri dengan penuh kasih sayang.Hilya menoleh menatap suaminya,terdengar jelas pergerakan pria itu ketika ia menelan salivanya,"gluk,"dan jakunnya bergerak naik turun.


Justeru itu membuat sekujur tubuhnya meremang.Asli,kulit tubuh Hilya sedang sensitif saat itu.Apapun bentuk pergerakan pada diri suaminya,mau sekecil apapun,sukses membuat hatinya menggeliat tak menentu,dan jiwanya meronta demi meminta lebih,"Kau membuatku gila,suamiku."batinnya pasrah.


"Sayanghh....,"desah sang suami parau.


"Hmmhh....,"balasnya nyaris kehilangan kontrol.Namun begitu,kehendak hatinya sedang menolak hasrat yang tiba-tiba dipancing oleh suaminya,"Jangan berlebihan,"desahnya pelan dengan tatapan memelas,dan suaminya pun mendadak terkekeh.


Danang yang masih dengan pergerakan lincah bergerilya ke mana-mana,tiba-tiba menghentikan aktivitasnya seraya menatap nyalang ke bola mata bening milik sang isteri,dalam dan mendamba.Namun garis letih itu membuatnya harus menerima kenyataan bahwa kondisi sang isteri sedang tidak fit.


Kemudian mengangguk penuh pemakluman,"Aku punya sesuatu untukmu,"bisiknya pelan dan berat,"Akan kuberikan setelah kita di kamar,oke."


Hilya mengangguk meski sebenarnya dirinya ingin sekali bertanya,"Apa hadiahnya?"Namun diurungkan niat itu karena Danang sudah lebih dulu membopongnya keluar dari ruang kerja,"Baiklah,aku ikut saja,"ucapnya rada terputus dengan napas yang masih belum teratur sempurna.


Di kamar,Danang membiarkan isterinya duduk di depan cermin,sembari ia memasang sebuah liontin berbentuk hati ke lehernya,"Maafkan aku,"desahnya lirih,kemudian mencium leher jenjang tersebut,"atas segala luka yang pernah kutoreh."Sengaja memeluknya dari belakang.


Kini tampak wajah keduanya yang saling menatap rindu lewat kaca rias.Tampak sorot mata isteri yang penuh pemaafan.Danang sengaja memberi ruang dan kesempatan kepada sang isteri menatap hasil perjuangannya selama beberapa hari di luar kota sembari memeluknya erat di depan kaca rias.


"Sudah kumaafkan dari dulu,"desah Hilya pelan sembari tersenyum.Sejenak iapun sengaja membuka mata berlian berbentuk hati yang bergantung di lehernya.Rupanya sang suami sengaja memesan liontin berisikan foto mereka berdua,"Cantik,"ucapnya membelalak riang,"Kau memesannya khusus untukku?"Bahagia terpancar dari tulang pipinya yang menirus,dan Danang segera meraba lembut pipi tirusnya itu dengan tatapan masygul.


"Heeum,maaf baru bisa memberinya sekarang,"ucapnya menyesal,karena pada saat itu ia terlanjur kesal pada sikap isterinya yang meninggalkan rumah saat ia bepergian jauh,ditambah tidak terbuka soal menitip Juna kepada Nuha.


Hilya menggeleng,"Jangan menyesali yang sudah terjadi,aku yakin kau punya alasan di balik itu."


"Tidak ingin tahu alasannya?"


Hilya menggeleng cepat.


"Yakin?"


Hilya mengangguk.


Danang sigap membawa isterinya kedalam dekapan setelah membuatnya saling berhadapan,"Terima kasih,sayang."Menghirup dalam aroma lembut yang menguar dari tubuh wanitanya dan kian menuntut,"Ini yang aku suka darimu,sikap memaklumi dan tidak pernah menuntut,"desahnya lagi.


"Sayang,aku mau mandi."Pinta Hilya tanpa merespon ucapan terakhirnya seketika membuat Danang mengernyit bingung,"Bukannya baru usai mandi beberapa jam yang lalu?"Menyugar rambut isterinya,"Ini saja masih belum kering."menunjukkan ke arah cermin.


Hilya mengangguk pelan,"Tapi aku kegerahan dan mau mandi lagi."


"Oh,ya?....,kalau begitu mandi berdua."


Hilya tampak berpikir sejenak,"Emm....,boleh.Tapi janji untuk tidak macam-macam."balas Hilya mengingatkan suaminya,"Aku sedang tidak ingin melakukannya,"lanjutnya dengan mimik menolak.


Danang tersenyum menatapnya,"Aku paham sayang,"Aku rela menggantung hasratku demi isteriku tercinta dan calon buah hati kita,"desahnya lirih ke telinga sang isteri sembari tiada henti meraba perutnya.


"Baiklah,kalau begitu tunggu apalagi."


"Ayo,siapa takut."


Sepasang anak manusia itu merasakan bahagia yang tidak terhingga.Sepulang dari rumah Dimas,Danang sengaja membawa isterinya mampir ke rumah sakit demi memastikan sendiri keterangan yang diberikan oleh dokter Maulana.


Bukan karena meragukan hasil keputusan dokter Maulana,melainkan sewaktu dokter Maulana memberi keterangan tersebut,baik dirinya maupun Hilya sama-sama tidak mendwngarnya secara langsung.Dirinya tidak beradabdi tempat kejadian,sementara isterinya belum siuman.


"Benar,sayang."balasnya tersenyum lebar,"Jadi kau tidak hanya menjaga dirimu sendiri,tapi juga dengan calon bayi kita."


Hilya tergugu,hanya ada tatapan berkaca-kaca yang mewakili suasana hatinya saat itu.


"Sudah rapi,"ucap Danang yang baru saja mengenakan piyama ke tubuh isterinya.


"Terima kasih,sayang,"balas Hilya tersipu.


"Sekarang,istirahatlah."Membawa isterinya ke ranjang,"Aku akan mengambilkan sup bening untukmu,"mengarahkan tekunjuknya ke bawah lantai,"Tadi sudah kupesan pada bibi Nunung."lanjutnya sembari membelai rambutnya kemudian siap beranjak.


Sementara itu,di kediaman Permata Elite,tuan Amran dan juga nyonya Mira baru saja pulang dari negara tetangga.Keduanya begitu senang manakala mendapati putera mereka kini sudah bisa diajak bercanda ria,dan juga semangat ingin berjalan sendiri tanpa bantuan orang lain.


"Kau sembuh total,nak."Tuan Amran tersenyum bahagia,"Gadis itu sudah pulang?"


"Hilya,maksud papa?"


Tuan Amran mengangkat alis membenarkan ucapan puteranya tersebut,"Siapa lagi gadis di kehidupan barumu selain dia?"


"Baru juga pulang bareng kak Danang."


Tuan Amran lagi-lagi mengangkat alisnya,"Danang kemari menjengukmu?"


Dimas mengedikkan bahu sembari berucap datar,"Entahlah."


Tuan Amran terkekeh,"Maafkan saudaramu itu,dia bahkan tidak tahu persoalan yang telah menimpa keluarga kita."


"Dia...."


"Dia juga sama terpuruknya dengan diriku dan memutuskan untuk menutup diri dari semua orang terutama masa lalunya."Potong Dimas cepat tanpa memberi kesempatan sang papa menuntaskan ucapannya.


Lagi-lagi Tuan Amran terkekeh,"Kau sudah tahu rupanya."Mengambil posisi saling bersebelahan dengan sang anak,"Jadi sudah jelas Danang bukan memghindar darimu,bukan?"Merangkul bahunya,"Papa baru saja meminta bantuannya untuk membongkar kebusukan Denis....,ini luar biasa,nak."


Dimas terbelalak,namun seketika itu juga langsung mengangguk,"Dan lebih luar biasa lagi,sakit hatinya kami kami sama-sama disembuhkan oleh satu wanita yang baik,lembut,keibuan dan penuh pengertian."


Tuan Amran tidak langsung merespon ucapan anaknya melainkan ia tampak menunduk,mungkin sedang memikirkan sesuatu,cukup lama.Lalu mengangkat pandangannya lurus ke arah Dimas untuk kembali bersuara,"Gadis itukah?"


Dimas mengangguk pelan,"Hilya itu....,"Menerawang jauh,"isterinya kak Danang."lanjutnya nyaris tidak kedengaran.


Kini gilaran Tuan Amran yang terbelalak,"Aih,bisa kebetulan begini?"


Dimas mengedikkan bahu,"Mungkin Allah telah menetapkan jalan takdir buat kami berdua,"


"Disakiti oleh satu wanita dan disembuhkan oleh satu wanita lainnya,dalam arti,dia terluka lalu sembuh,dan aku sembuh lalu terluka....,impas."


"Dengan begitu,kami berdua menjadi lebih saling menghargai dan menghormati kepunyaan masing-masing,dan berbagi pada batas porsi tertentu."


Tuan Amran menatap sang anak tanpa kedip.Rasanya ia baru saja berbicara pada orang asing yang menjelma dalam tubuh puteranya,"Kau yakin dengan ucapanmu,nak?"Tanyanya ragu.


Dimas mengangguk pasti,"Gadis itu juga yang membuatku sadar bahwa kesalahan terbesarku selama ini,menilai wanita dari kulit luarnya saja,"


"Padahal kelembutan seorang wanita itu juga,dinilai dari budi pekerti dan akhlaknya yang lebih utama,dan aku salah mendefenisikan budi dan akhlak yang sesungguhnya,"


Karena pada Vania semuanya berbeda tipis lantaran ditutupi dengan kebohongan yang membuatku buta."


Tuan Amran menepuk punggungnya,"Luar biasa,anak papa bisa kembali dengan sendirinya tanpa harus terikat kepada pesona gadis yang telah menyelamatkanmu."Tuan Amran berucap takjub.


"Awalnya tidak begitu,papa."


"Maksudmu?"


"Awalnya aku jatuh hati padanya,tapi setelah mengetahui kalau dia sedang hamil,dan ketika dihubungi suaminya,kak Dananglah yang kemari menjemputnya,"


"Aku baru melihat cinta yang sesungguhnya dari sana.Cinta yang hadir tanpa dipaksakan."


Lalu Dimas menceritakan sepenggal kalimat yang diucapkan sepupunya,Danang mengenai awal pertemuannya dengan Hilya,lalu kebencian akan masa lalu yang berimbas pada hubungannya dengan gadis itu hingga semua runutan masalah yang akhirnya membawanya pada kesadaran penuh akan cinta dan membuatnya bertekuk lutut kepada gadis yang menjadi isterinya itu.


Tuan Amran manggut-manggut mengerti."Pantas saja kak Imran memilih menjebak gadis itu,karena dia punya potensi menyembuhkan luka batin seperti yang diderita anak-anak kami,"batinnya masygul.


Dalam hatinya mengucapkan syukur tak terhingga.Meski ia juga pernah berharap kalau Hilya adalah wanita yang tepat buat puteranya,kini ia harus puas dengan aura positif sang gadis yang berhasil membawa kembali anaknya tanpa harus menjadikan ia milik seutuhnya.


Namun satu hal yang wajib ia syukuri,Hilya,gadis yang ia incar beberapa minggu ini adalah menantu tertua keluarga Suruddin yang membawa cahaya kehidupan baru bagi keponakan dan juga anaknya sendiri,"Ah,kasihan puteriku,aku sudah kasar membiarkannya berjuang sendiri,"batinnya menyesal.


"Ck!"decaknya geleng-geleng.


"Bisa marah kakak Imran kalau dia sampai mengetahui bahwa aku telah mempekerjakan secara paksa menantu kesayangan keluarga,demi menyembuhkan Dimas,"


"Mana sedang hamil lagi,sampai pingsan juga,"batinnya nelangsa.


Sejenak ia menoleh ke arah pintu yang dibiarkan terbuka,tampak nyonya Mira yang berdiri mematung dengan ekspresi yang sama.Menyesalkah dia?


....


Bersambung....


🤗🤗🤗