I Need You

I Need You
Rasa Khawatir



Happy reading 😍📖


"Hei,apa kehadiranku mengganggumu?"


Lenting suara manja yang dibuat-buat oleh seseorang dari belakang.Hilya yang melihat perubahan di wajah suaminya bersamaan dengan mendengar suara tersebut,lantas berbalik ke belakang.


Ya,wanita itu lagi.


Sekilas pandang,ia memang sangat cantik.Bahkan Hilya sempat memberi nilai kepadanya.Mungkin di zaman sekolah ataupun kuliah ia termasuk salah satu primadona sekolah ataupun kampus.Tapi siapakah dia,itu yang menjadi pertanyaannya saat ini.


"Kenapa,pasang muka datar begitu?"Menyosorkan tubuhnya ke depan.


Wanita yang tidak lain adalah Vania itu tampak menyerobot begitu saja.Melewati tubuh Hilya tanpa peduli padahal ia sempat menabrak lengan gadis itu.Ia bahkan seakan tidak menyadari keberadaan Hilya sebagai isteri Danang di sana.Yang ia tahu hanyalah keinginannya untuk mendekati Danang.


"Kau tahu,aku sangat merinduimu."Vania memecah keheningan yang sempat tercipta di antara mereka.


Jemarinya naik mengusap lembut dada bidang Danang yang tampak membuang pandangan ke sisi yang berbeda.Sontak kedua tangan lentiknya mulai beraksi memeluk erat tubuh yang masih berdiri mematung.


Sebuah pemandangan yang tidak luput dari tatapan Hilya.Membuat mata itu seketika memanas dan pembuluh darahnya juga ikut berdesir.


Sejenak pikiran gadis itu berkelana mengingat kembali kejadian di kantor Adhytama Star Group,beberapa hari yang lalu.Di mana wanita itu dengan penuh ekspresi cinta,memeluk Danang tanpa sungkan.Dan sekarang kejadian itu terulang kembali di depan matanya sendiri.


'Dia bahkan tidak peduli dengan keberadaanku di sini.Main peluk-peluk suami orang.Mungkinkah dia pacar sah Danang?'batinnya terluka.


Memandang wanita lain yang begitu gencar menyentuh tubuh orang yang baru saja menghabiskan waktu semalaman bersamanya,menikmati tubuhnya dengan begitu rakus,sementara saat diserang,orang itu malah hanya mematung tanpa perlawanan,membuat Hilya merasa ada yang tidak beres.Gadis itu sukses mengerut tajam keningnya.


"Sayang,seharusnya kau kabari aku kalau kau ada di sini."Vania dengan suara manjanya kembali menyentak Danang yang tenggelam dalam lamunannya.


"Ah,ya.Kenapa kau bisa di sini?"Danang terkesiap lantas menepis kasar tangan nakal Vania yang menjelajahi otot kekarnya.Untuk sejenak ia melupakan keberadaan Hilya.


"Ya,karena kemarin aku ke kantormu,tapi kau tidak ada.Om Imran bilang kau sedang di wilayah sini,"ucapnya menggelayut ria di lengan Danang,"Jadi aku sengaja menyusulmu kemari,untuk membuat kejutan."lanjutnya tanpa dosa.


"Pergilah dari hadapanku."Danang memerintah sembari menepisnya kembali.


"Kenapa Danang,bukankah kita saling mencintai?"Vania mengerut keras,"Aku sudah bilang akan memperbaiki sikapku."lanjutnya memberengut.


"Keadaannya sudah berubah,Vania."Danang membentak dengan suara meninggi,"Aku sudah menikah dan punya tanggung jawab."lanjutnya kesal.


Vania membalas sengit,"Aku tidak peduli Danang,"menghunus tatapan mautnya,"Tidak peduli mau kau jadikan yang keberapa asalkan aku kembali padamu dan untuk menebus semua dosaku padamu."


"Aku sudah memaafkanmu,jadi pergilah dan jangan pernah kembali,"ucapnya datar.


"Tidak semudah itu,Danang."Vania menolak,"Aku begini karena cinta kita di masa lalu,kemudian karena ulah adikmu Dimas."mensejajarkan diri disampingnya,"Jadi setidaknya kau harus menerimaku kembali,atau minimal obatilah lukaku ini."Vania masih berupaya bergelayut di lengannya.


"Stop!Kau bukan siapa-siapaku.Aku bilang jangan mengganggu hidupku,aku sudah punya isteri."Danang mendorong wanita tersebut,"Kau bahkan sama sekali tidak menghargai keberadaan isteriku di si...."ucapannya terhenti.Tatapannya seketika meranting,"Ke mana isteriku?"lebih nyata berbicara kepada dirinya sendiri.


Pemuda itu lantas menunjukkan kepanikkan yang tidak biasa di wajahnya.Memutuskan menyisir bibir pantai mencari keberadaan sang isteri yang perginya entah ke mana.


Hilya!


Hilya!


Sementara Vania yang merasa diabaikan,lantas tidak terima begitu saja.Ia memutuskan untuk kembali mengejar Danang,"Kau mau ke mana?"bentaknya keras,"Untuk apa kau mengejar wanita tidak jelas itu?Dia hanya seorang janda yang memanfaatkanmu."Ucapan yang sama sekali tidak mendapat respon balim dari Danang yang sibuk mencari keberadaan sang isteri.


Vania tidak menyerah,"Dia menjebakmu di kamar restoran itu kan,"mensejajarkan posisinya dengan pemuda yang berjalan dengan langkah cepat,membuat dirinya ikut melangkah setengah berlari,"Lalu untuk apa kau masih mempertahankan wanita murahan yang_?"


"Diam kau!,atau aku tidak segan-segan melukaimu."memotong cepat dan mendadak menghentikan langkahnya,"Tahu apa kau soal isteriku,hah?"


"Aku tahu banyak tentang dia,Danang.Kau saja yang dibohongi"mengedikkan bahunya,"Dia hanya seorang wanita panggilan pemuas napsu pria hidung belang.Dia perempuan binal!"


PLAKKK


"Jaga bicaramu,atau kulukai kau sekarang juga."mencekal kasar lengan Vania sementara tangan lainnya mengangkat telunjuknya menusuk tepat di ujung mata wanita itu sebagai pertanda memberi peringatan,"Kau bahkan tidak lebih baik dari wanita manapun di dunia ini."Datar namun penuh penekanan.


"Danang lepas,ini sakit."pekik Vania tidak terima diperlakukan kasar oleh pemuda yang entah kapan rasa cinta dan penyesalannya mulai tumbuh.Gadis itu tampak meringis kesakitan.Air mata mulai mengucur membasahi pipinya.


Danang tipe pecinta wanita.Gampang luruh saat melihat air mata seorang wanita.Ia juga pandai menerima kekurangan wanita,dan memaklumi kelemahan mereka.Baginya,wanita adalah para ibu yang pantas untuk dijunjung tinggi.


"Aku mencintaimu,Danang."Berusaha melepas dari cengkeraman pemuda itu,"Apa salah jika aku ingin memupuk kembali rasa cinta itu?"


Danang mendengus kasar.Lihai membawa suasana hati dan suka memberi perhatian kepada makhluk yang berkodrat wanita,namun tidak untuk sikap Vania saat ini.Gadis ini sudah keterlaluan memancing emosinya.Tampak dari sorot gelap yang menohok tanpa menjawab.


"Kau jahat,kau bukan Danang yang kukenal dulu."Vania menyeletuk geram.Air mata masih setia menemaninya.Tanganya yang lain memukul-mukul dada bidang itu hingga tangannya melemah.


Danang yang dulu masih bisa mengalah,dan memberi kesempatan kedua,kini hatinya telah terkunci untuk wanita ini.Lalu hati yang terkunci mulai pandai membandingkan kelembutan seorang wanita dengan ketulusannya.Kali ini ia merasa Vania tidak berarti apa-apa dibanding dengan isteri yang sangat ia cintai.Hilya begitu lembut dan murni.Sedangkan Vania?


Danang yang hatinya sudah dibaluti dengan amarah yang membuncah malah semakin membuat erat cekalan tangannya,"Gara-gara kau,isteriku pergi."menatap tajam dengan netra menggelap,"Awas kalau sampai terjadi apa-apa pada isteriku,maka kau yang bertanggung jawab."Danang mendorong tubuh langsing nan cantik itu hingga terjerembab begitu saja.


Kemudian mengambil langkah menjauh dengan suasana hati yang penuh amarah bercampur khawatir.Tidak peduli kepada siapa yang sedang merasakan sakit akibat tamparan,cekalan maupun dorongan tangannya.Danang kalut karena kepergian sang isteri yang tiba-tiba saja meninggalkannya.


Sedangkan Vania hanya bisa menangis memegang lengannya yang tampak memerah akibat cekalan tangan kekar Danang.Dan yang lebih menyakitkan lagi adalah luka hati yang telah tergores.


"Awas kau,Danang!Jangan pikir aku menyerah dengan sikap yang kau buat-buat."menggenggam pasir yang sudah diraup sebelumnya saat awal ia terjerembab.


Danang menyisir sepanjang pantai namun tidak menemukan jejak sang isteri.Dalam hatinya berkecamuk.Marahkah ia,atau kecewakah ia,dan bencikah ia kepada dirinya.Sudah berkali-kali Hilya harus menyaksikan pelukan dari wanita yang bukan muhrimnya.


Sementara itu,di ujung pantai yang sepi,Hilya mengambil posisi duduk di atas pasir putih sembari memandang sendu ke arah laut lepas.Matanya yang sembab tampak memerah menahan air mata yang sebenarnya masih ingin keluar.


Akan tetapi ia memilih untuk meredam semua kesedihannya.Sembari melirik arloji di tangannya,jemari lentik itu naik merapikan sulur rambut yang membingkai wajahnya.Membiarkan daun telinganya terekspos indah.


"Jika suatu masalah hanya bisa diselesaikan dengan air mata,maka lakukanlah."menyodorkan sebotol kemasan air mineral ke arahnya,"Jangan dipendam,karena hanya akan menimbulkan luka."lanjut suara gelegar yang baru saja menyapanya dari arah samping.


Hilya terkesiap.Lantas mendongak memandang wajah yang tengah menatapnya,teduh.Senyum ramah mengukir jelas di bibirnya yang terbuka.Tampak deretan gigi putihnya yang tersusun rapi menambah kesan muda di sosok yang masih menatapnya tersebut.


•••••


Bersambung...


🤗🤗🤗