I Need You

I Need You
Bukan Urusanmu!



Prisilia Amanda melajukan kendaraan menembus jalanan Kota K di bawah hembusan angin sore. Otaknya tiada henti bekerja memikirkan cara berkelit di depan Dimas yang nota bene kaku dan berprinsip. Bertolak belakang dengan Danang yang lebih luwes dan mengalah meski diacuhkan.


"Aku kan, nggak tahu kalau pasien itu adalah kak Vania," gumamnya gusar.


Gadis itu menghentikan laju kendaraan di salah satu butik langganannya. Butik Wardana yang terbesar di Kota K. Tujuannya membeli sesuatu untuk seseorang.


"Bungkuskan yang ini dan yang itu," tuturnya kepada seorang petugas yang sudah terbiasa dengan kehadirannya.


"Tidak dicoba dulu, dek?" Petugas menawarkan dengan senyum ramah.


"Nggak usah, aku buru-buru," jawabnya cepat. Petugas mengangguk. Baru saja ia akan mencari keperluan yang lain, matanya mendadak memindai seorang pria narsis menggandeng gadis belia nan genit. Sepertinya pria itu sedang mabuk berat.


"Papa?" gumamnya. Prisil bergegas mendatanginya. "Pap--"


"Sayang, aku kan butuh lingerie itu untuk nanti malam." Niatnya menyapa sang ayah dihalangi oleh ucapan refleks gadis belia yang manja.


"Ya, udah. Ambil apa yang menjadi kebutuhanmu. Aku ingin kau tampil cantik malam ini." Denis, sang ayah mempersilakan. Gadis itu tertawa genit. Sekilas wajahnya mengingatkan Prisil kepada seseorang, tapi entah siapa.


Prisil sukses mematung menatap kedua orang yang saling mencolek genit hingga Denis menyadari kehadiran putrinya.


"Amanda?" gumamnya terkesiap.


"Hhh! Jadi ini kerjaan Papa setiap harinya?" ujarnya berang. "Hei! Kau wanita jal*ng! Tidak sadarkah kau sudah merusak hubungan pria ini dengan keluarganya?" lanjutnya dengan tubuh yang bergetar hebat.


"Eh! Hati-hati kalau bicara. Papamu yang datang padaku!"


"Dasar pelakor!" Prisil melayangkan pukulan telak ke wajah wanita tersebut. Namun, tangan Denis lebih lihai menangkapnya.


"Jangan berlebihan, Amanda!" tegurnya keras. Euforia miras sudah menguasai raganya lalu berbalik membujuk wanita tersebut. "Dinda, kau tidak apa-apa, kan?" Tampak wanita itu sangat lihai menarik perhatian Denis hingga lupa kalau Prisil ada di depannya.


"Oh! God!" gumamnya sebal. Prisil pun akhirnya memilih pergi daripada harus meladeni sang ayah yang lebih memihak wanita simpanan daripada anak kandung sendiri. Gadis itu pergi dengan air mata membasahi wajah.


Baru saja ia keluar dari butik membawa paper bag hasil belanjaan menuju ke mobil, tiba-tiba Joshua kembali menghampirinya! 'Damn!' pikirnya gusar. "Apalagi ini, haa?" hardiknya kasar.


"Maaf, Sil! Aku cuma mau bilang terima kasih sudah menolong Kak Vania," jawab Joshua dengan tatapan memelas.


"Itu aja? Ya sudah, pergi sana!" usirnya cepat. Joshua sigap menangkup kedua telapak tangannya.


"Sil, izinkan aku meminta maaf," ujarnya mengeratkan genggaman. Prisil lebih gesit menghindari tangannya.


"Jangan gitu, dong! Pliss?!" Joshua menautkan kedua tangannya. "Kita bicara baik-baik, oke."


"Hhh! Memangnya, aku siapa? Apa yang mau kau bicarakan?"


"Amanda!!" Gelegar suara Denis tiba-tiba mengagetkan keduanya. Prisil memandang wajah sang ayah baru muncul bersama wanita bernama Dinda dengan dendam sementara Joshua sukses mematung.


"Papa minta sekarang juga minta maaf sama Dinda!" ujarnya tegas. Langkahnya tampak gontai. Prisil Amanda mendengus kasar.


"Nggak mau!"


"Lakukan, atau papa tidak akan memaafkanmu!"


"Tidak masalah, Pa. Seperti biasa, aku akan baik-baik saja tanpa Papa!"


"Anak tidak berguna!" Telapak tangannya siap mendarat ke pipi mulus Amanda.


"Hentikan, Paman!" Joshua memotong cepat dan menahan pergerakan pria paruh baya tersebut. "Jangan menampar putri sendiri hanya untuk membela wanita seperti dia.' Telunjuknya mengarah kepada Dinda. Sorot matanya kian menyala.


"Heh! Anak Farhan! Jangan mencampuri urusanku, atau kau akan tahu akibatnya."


"Maaf kalau aku lancang, Paman. Tapi mulai saat ini urusan Prisil menjadi urusanku juga." Joshua mendorong tubuh Denis hingga terhuyung. "Dinda! Ajak ayahmu ini pergi dari sini," tuturnya kepada Dinda yang mau tidak mau harus menahan malu. Kini dia sibuk membopong tubuh Denis yang sudah di bawah pengaruh obat akibat kebodohannya.


"Sial!" umpatnya dengan susah payah beranjak.


Joshua menghela napas lega. Baru saja akan berpaling, Prisil sudah bercakak pinggang di depannya. "Apa maksudmu, haa?" Sorto tajam menyertai ucapannya.


"Soal?"


Prisil mendorong dada Joshua namun tidak berhasil membuatnya bergeser.


"Dengar baik-baik Tuan Seniman, kau bukan siapa-siapa buatku, dan jangan pernah menganggap urusanku menjadi urusanmu," tekannya datar lalu segera mencapai pintu mobil dan membanting keras. Joshua berjingkrak.


"Sil! Prisil! Beri aku waktu untuk menjelaskan." Tangannya berkali-kali mengetuk kaca mobil berharap gadis itu melunak dan memberinya kesempatan. Namun Prisil terlanjur kecewa dan segera menancap gas.


"Prisil!!"


Bersambung ....