I Need You

I Need You
Pengakuan



Hilya berucap pelan,"Aku tidak suka padanya....,"menahan ucapannya seraya menundukkan kepalanya tajam.


Danang mengunci dagu runcing isterinya,membuat gadis itu seketika mendongak menatapnya.Pemuda itu mencoba menyelami dasar hati sang isteri melalui bola mata bening yang siap basah akibat tidak bisa dibendung,"Kau cemburu padanya?"


Hilya tertegun,tidak berani mengutarakan isi hatinya,


'Aku bahkan iri melihatmu begitu dekat dan akrab dengan mereka.Saling memeluk dan bercanda ria dengan mereka,saling berbagi dan tertawa bersama....,apa karena kau adalah bagian dari mereka,dan mereka adalah bagian darimu dirimu,sedangkan aku?Hanyalah orang asing yang terjebak didalam hidupmu lalu terpaksa meniti hari bersamamu bak seorang pengemis yang berharap menjadi bagian darimu hidupmu.Lalu hanya akan kau dekati di saat amarah telah mengalahkan akal sehatmu.Apa salahku padamu hingga kau hanya akan mendekatiku di saat ada maunya saja.Kau tidak pernah tulus bersamaku.Kau juga tidak pernah lembut kepadaku,jika tanpa maksud tertentu,kau abaikan aku.Sementara rasa sakit itu kian lama semakin menyiksa jiwa dan ragaku.Apa itu yang disebut cemburu?Ah,percuma juga bicara panjang lebar.'


"Apa dia mengatakan sesuatu?"Danang masih fokus dengan pertanyaannya.


Hilya menggeleng,"T_tidak,eh....,i_ya,aku hanya tidak suka pada ucapannya."


Danang mengerutkan kening tajam,"Dia mengatakan sesuatu kepadamu?"


"Ah,tidak apa-apa.Aku hanya terbawa perasaan saja,maaf."Hilya berkelit dan memilih untuk bungkam.Sedangkan Danang yang kehilangan mood terpaksa membiarkan Hilya melanjutkan makannya sendiri.


"Makanlah,aku akan segera kembali,"ucapnya seraya bangkit dan beranjak dari hadapan Hilya.


Sementara itu di sebuah perumahan kavling,seorang pria paruh baya sedang berdiri tegak di pekarangan depan rumah berukuran minimalis sembari menghunus tatapan tajam nan membunuh,


"Keluar kau,Ferdy Zamhir!"


Beberapa asisten pribadi bertampang sangar tampak menggedor pintu rumah tersebut tanpa peduli seberapa besar kekacauan yang telah mereka ciptakan.Sedangkan di luar pagar tampak sebuah wheel loader sudah siap eksekusi.


Tampak seorang wanita paruh baya yang muncul dari balik pintu yang digedor dengan wajah ketakutan,"Maaf,suami saya sedang tidak ada di rumah,"ucapnya ketar-ketir.


"Apa aku harus mempercayainya setelah ia sukses menciptakan kebohongan besar selama lima tahun?"


"Katakan padanya keluar,atau kekayaannya kugusur."Pria yang tidak lain adalah tuan Jayahadi berucap datar dan penuh penegasan.


Tek


Sekali petikan jari saja,wheel loader sudah siap melambai-lambaikan bucketnya sembari menggusur sebagian tanah pekarangan dalam jarak dekat.Pagar permanen nan indah membentengi kavling berukuran standard lot,setengahnya porak-poranda akibat ulah dari wheel loader yang diperintahkan tuan Jayahadi.


"Tolong tuan,jangan rusakkan barang-barang kami."pekik wanita yang tidak lain adalah isteri dari bapak Ferdy Zamhir.Wanita itu bertekuk lutut di bawah kaki tuan Jayahadi sembari menangis meraung meminta belas kasihan.


"Berdirilah,bu.Jangan mencari simpati demi melindungi suami anda."menangkup bahu wanita tersebut dan memaksanya bangkit,"Suami anda memaksa berurusan denganku,dan semua kekacauan ini adalah tanggung jawab suami anda."Tuan Jayahadi menukas.


"Hentikan!"


Gelegar suara seseorang yang baru keluar dari dalam rumah seketika menghentikan gelegak alat berat.Pria yang dicari tuan Jayahadi akhirnya muncul di depannya.Raut wajahnya memerah menahan rasa malu akibat kekacauan yang diciptakan akibat perlawanan yang tidak seimbang terhadap mantan majikannya.


"Maaf."


Tampak beberapa asisten siap menyergap dan memboyong pria tersebut dari kedua sisinya.Membawa tubuh tersebut menghadap tuan Jayahadi di jarak satu meter.


"Jika kau tidak mangkir dari panggilanku,maka kupastikan kekacauan ini tidak akan terjadi."menghujam sebuah tamparan keras ke wajah yang tampak pasrah,"Bawa dia dari sini!"Tuan Jayahadi kembali menitah sembari beranjak dari sana.


"Baik,tuan."


"Pak,pak,pak....,tolong jangan hukum suamiku,pak.Kumohon...."


"Tenang,bu.Tuan Jayahadi tidak sekejam yang ibu kira.Dia hanya akan memberikan pelajaran kepada orang yang sudah berani menentangnya,"jelas salah seorang asisten pribadi sebelum akhirnya iapun ikut beranjak dari sana,meninggalkan wanita paruh baya itu sendirian meratapi nasib keluarganya.


Kembali ke Paradise Loft Villas,Danang yang baru saja keluar menuju ke pekarangan villa,tampak sedang menyambungkan suara dengan seseorang di seberang sana,


Sudah kau cari tahu kenapa Vania tiba-tiba muncul kembali di kota ini?


Sudah tuan,menurut informasi yang kami dapat,tuan Dimas dan nona Vania tidak jadi menikah karena tuan Dimas baru mengetahui kalau nona Vania memiliki cerita masa lalu yang tidak baik dan masih berhubungan dengan pria di masa lalunya.


Lalu,kabar kehamilan Tania?


Nona Tania memang hamil,tapi dia memiliki suami dan mereka sangat akur.Jadi besar dugaan,tuan Dimas tidak memiliki hubungan apa-apa dengannya.


Baik,terima kasih atas informasinya.


Danang menutup ponsel,memutuskan sambungan suaranya.Sejenak pemuda itu tampak menghela napas berat dan beberapa kali ia menyugar rambutnya.Raut kesal menyeruak begitu saja di wajah bersihnya.


Danang memilih duduk bersantai di pekarangan villa sembari memandang panorama alam di bawah bukit.Pemuda itu tampak termenung memikirkan sesuatu,


'Pantas saja sewaktu paman Amran mendatangi papa di kantor,wajahnya tampak murung dan bersedih.Bahkan Vania main menghilang begitu saja setelah kehadiran paman Amaran ke kantor.'


'Kenapa cinta begitu mudah menciptakan luka hingga kebahagiaan yang secuil ini harus dikacaukan lagi dengan sesuatu yang sudah lama terkubur.Toh bukan salahku meninggalkan cinta di masa lalu melainkan dia juga yang memilih pergi.Lalu mengapa ia meminta kembali lagi di saat cinta seorang gadis polos sudah masuk dan mengusik hidupku.Ah,masa lalu hanyalah sebuah proses pendewasaan,bukan untuk dibiarkan kembali.'


Cukup lama Danang termangu,hingga akhirnya ia menemukan ide bagus untuk kembali dan merayu isterinya di ujung petang yang indah.


"Sayang,aku ingin mencicipi sesuatu dari masakanmu,boleh?"Danang meminta persetujuan Hilya setelah memastikan sang isteri sudah kembali bugar seusai mandi.


"Baiklah,kau tunggu di sini,akan kumasakkan sesuatu untukmu."Hilya yang tengah duduk bersantai di sofa,siap beranjak menuju ke dapur.


Danang mencegatnya,dan membuat gadis itu duduk di pangkuannya,"Tapi kau tahu seleraku apa?"


Hililya mengangguk singkat,"Ya,semua jenis seafood yang diolah dengan rasa gurih pedas dan manis."membentangkan sebuah informasi yang pernah ia dengar dari mama Andin,ibu mertuanya.


"Eh....,emm....,ya.Karena mau tidak mau aku harus melayani dirimu sebagai seorang isteri yang taat dan patuh,"mencekak pinggangnya,"Lambat laun aku juga harus terbiasa dengan sikap galak dan temperamenmu itu."lanjutnya menghunuskan tatapan meledeknya dan siap bagkit dari pangkuan sang suami.


"Kau meledekku?"Danang sigap mencekal pinggang Hilya yang sudah siap beranjak.Hilya hanya tertawa dan berlari menghindar,sedangkan Danang berusaha mengejarnya dari belakang,"Kau semakin berani kepadaku ya,"memeluk posesif tubuh yang ingin mengenakan apron.Di bibirnya menyungging senyum samar karena mendapati sang isteri sudah mulai semangat kembali.


"Tidak,aku hanya bercanda."Hilya berkelit dan berusaha melepaskan diri dari cekalan sang suami dan apa yang ia dapatkan,malah sebuah kecupan panas di bibir ranumnya.Lagi-lagi membuat napasnya tersengal dan untuk sejenak beban hati yang menumpuk terlupakan begitu saja.


Danang menunjukkan lobster berukuran besar kepada isterinya,"Aku ingin kau masak menu ini, spesial ala cheff restoran DS."


Mendengar nama restoran DS,Hilya tiba-tiba mematung.Sejenak ia memikirkan sesuatu kemudian bersuara,"Ah,restoran Ds.Apa kabar mereka semua,aku jadi merindukan Alfyn dan Sifa.Mereka sangat baik."


Mendengar nama Alfyn disebut oleh Hilya,Danang mendelik,"Aku juga,minta kau rindui."


"Heuem....,kau juga."


"Siapa itu Alfyn dan Sifa?"


"Mereka seniorku sekaligus sahabatku.Suka dukaku di restoran itu cuma mereka berdua yang memahaminya."


"Apa Alfyn itu pacarmu juga?"


"Hahh?!"Pekik Hilya dengan kening berkerut dan bibir miring,"Kau itu....,mana ada sahabat jadi pacar."menampiknya sembari menampar pelan pipi Danang yang sedari tadi sengaja disejajarkan dengan wajahnya.


"Ada."


"Kau saja yang mengada-ada."


Hilya mulai melancarkan aksi memasaknya dan Danang siap membantunya.Berawal dari menanak nasi,kemudian menyediakan semua keperluan dan bumbu yang dibutuhkan,termasuk melumuri lobster dengan jeruk nipis dan mencucinya kembali lalu dilumuri bumbu lengkap kemudian menyimak dengan saksama teknik pematangan yang digembar-gemborkan oleh kedua sahabat Hilya,Alfyn dan Sifa.


Danang memperhatikan aksi gesit sang isteri membuatnya mengakui bahwa apa yang dikatakan oleh Alfyn dan Sifa itu benar adanya.


'Pantas saja,mereka semua merasa kehilangan.'batin Danang mengakui kelebihan isterinya.


"Taraaaa....,sudah jadi.Aku suap ya,"pinta Hilya setelah menghidangkan menu yang sudah dimasaknya.


"Hehmm....,kelihatannya sangat enak.Boleh,aaakk."Danang sengaja membuka mulutnya terlebih dahulu sebelum Hilya menyodorkan suapan pertama kearahnya.Sementara Hilya tertawa renyah melihat tingkah manja sang suami.


"Ehmm....,benar-benar enak."Danang memuji hasil karya sang isteri dengan tulus,"Isteriku sangat pandai memasak."lanjutnya mengunyah sembari mencuri kecupan bibir isterinya.Mengunyah makanan pedas sembari mengecup bibir sang isteri,bukankah itu sesuatu yang menggemaskan.


Ya,tingkah Danang membuat sang isteri pasrah pada keadaan.Namun yang jelasnya,malam itu menjadi makan malam yang paling spesial buat mereka berdua.


Danang jadi paham di mana letak perbedaan rasa lobster yang dicicipnya sewaktu berkunjung ke restoran DS beberapa hari yang lalu dengan buatan sang isteri.Lagi-lagi ia mengakui kelebihan isterinya.


"Jadi karena aku,kau terpaksa meninggalkan restoran DS."Danang membuka suara setelah acara makan makan malam romantis mereka selesai.Dan kini mereka berdua tengah berada di sofa ruang tengah.


"Ya,begitulah....,tapi lupakan saja karena itu tidak penting lagi buatku."


"Mintalah sesuatu soal pekerjaanmu,akan kukabulkan."


"Benarkah?"


"Ya,asal jangan meminta untuk kembali ke restoran itu lagi."


"Hah?!Tapi kenapa,padahal memang itu yanf ingin aku minta padamu."


"Kalau begitu,kubatalkan."


"Hah,sudah menjadi kebiasaan,kau ini....,efek kebanyakan makan pedas kan,"mencubit pinggang pria yang memasang wajah datar disampingnya,"maka suka-suka membatalkan sesuatu sebelum kuminta."sambungnya menyeletuk.


"Habisnya,kau sangat menggemaskan kalau minta sesuatu.Mana mungkin aku kabulkan begitu saja sedangkan permintaanmu itu jelas-jelas merugikanku."


Hilya tampak bingung dengan ucapan suaminya.Keningnya sukses mengerut tajam,"Aku tidak meminta yang aneh-aneh,kan."


"Tidak bagimu,tapi aneh bagiku,"memeluk gemas tubuh sang isteri,"Kau boleh meminta untuk ikut mendampingi tenaga trainer yang baru masuk agar siap bekerja sesuai keahlian yang kau miliki atau apalah,yang penting bukan kau sendiri yang turun ke lapangan."sambungnya masih mencium gemas pipi sang isteri.


Hilya menyimak setiap ucapan sang suami sembari menikmati geliat sensual dari gerakan tangan suaminya yang mejelajahi sekujur wajah dan tubuhnya,"Jadi kau ingin aku bekerja di kantormu?"


Danang mengangguk tanpa menghentikan aktivitas sensualnya,"Ya,mana mungkin aku membiarkanmu bekerja di perusahaan papa yang lainnya sedangkan aku sanga membutuhkanmu setiap detiknya.I need you Hilya....,because I love you...."menatap nyalang ke bola mata bening yang tampak mematung,tidak berkutik.Hanya degupan jantungnya yang berpacu semakin kencang.


Hening....


"I love you sayang....,aku ingin kau segera menjadi ibu dari anak-anakku."lanjutnya meniupkan bisikan birahi ke telinga sang isteri,"Maka menurutlah jika aku meminta hakku."semakin intim.


Danang yang juga merasakan kegugupan yang sama di saat menyatakan perasaan sesungguhnya membuat dirinya semakin kehilangan kontrol.


"Aku tidak memintamu untuk membalas cintaku sekarang.Apa yang ada padamu,ikuti saja dulu.Dan kuharap ianya bisa menolongku,sebagai bentuk penghapusan dosa-dosaku padamu di masa lalu,yang suka menyakitimu."Danang lagi-lagi membuat Hilya terkesima dengan bentuk pengakuannya.


•••••


🤗🤗🤗