I Need You

I Need You
Segelas Air Putih



Happy reading 😍📖


Suasana pagi yang indah.....,


Sinar surya menyambangi kota kecil B.Suara khas gerobak penjual sayur keliling perumahan,membawa langkah sigap para ibu rumah tangga berkumpul.Membentuk kelompok kecil,sarat rumpi.Jadinya no secret seperti kata kunci sebuah acara yang dipandu oleh pembawa acara kondang'Feny Rose'di salah satu chanel televisi nasional kesayangan.


Kalau di acara sana,yang dibahas tentang pojok rumpi,fitnah atau fakta soal permasalahan para selebriti secara terbuka dan positif tanpa ditutup-tutupi di depan orangnya.Nah,yang ini pula,para ibu rempong yang malah mengupas tuntas tentang permasalahan miring,bisik-bisik tetangga yang sengaja ditutup-tutupi dari objek rumpinya.


"Eh,dengar-dengar puteri Pak Yadi akan menikah hari ini ya?"bisik salah seorang ibu tukang bual biasa dipanggil bu Peli.


Dia yang datang dari gang paling belakang,langsung memulai forum.


"Ah,masa.."balas bu Tia yang tinggal di blok paling ujung.


"Ya,ampun.Jauh-jauh dari gang sebelah kemari,hanya untuk ikutan nimbrung."timpal salah seorang tetangga bapak Haryadi bernama bu Mirna.


"Lha?!...,kenapa buru-buru nikahnya,diam-diam lagi?"tambah bu Sati penasaran.


"Tauk lah....,udah bunting kali?"serang bu Feti miring.


"Ah,ibu.Itu hal biasa.Namanya juga ABG labil,sama kayak mendiang ibunya Juna.Tujuan ke kota buat sekolah,eh....,malah kawin dan punya anak."nyinyir bu Esi.


"Iya,ya...,anak zaman sekarang memang gitu."balas bu Feti lagi.


"Eh,tapi ini beda lho buk-ibuk....,yang bakal nikahi anak pak Yadi itu cucu buyutnya mantan orang nomor satu kota D,almarhum tuan Adhytama Setiawan."sanggah bu Mirna.


"Oh...,anaknya tuan amanah toh?!"ibu Peli manggut-manggut.


"Husyh!...,bukan.Tapi tuan Imran Setiawan."tukas bu Mirna.


"Ya,apa bedanya,dia pernah dinobatkan menjadi pemimpin paling jujur dan amanah se kota D.


"Wah,bagus itu,bisa numpang tenar si bapak Yadi sama ibu Iza....,hhhh."bu Peli tak mau kalah.


Nah,ini para ibu-ibu,jika tidak dihentikan,maka pembicaraan mereka akan berjalan terus ibarat rel kereta api.Bebas melesat tanpa rem karena rata-rata ibu yang berkumpul di sana mempunyai mental yang sama.Jago rumpi.


Masjid Agung kota D...


Arak-arakan sederhana kedua mempelai memasuki ruang masjid Agung.Hilya yang tampil dengan balutan baju pengantin yang cantik dengan warna copy paste kebanyakan pengantin yang lainnya,yakni warna putih,menambah kesan anggun di diri Hilya.


Putih Melambangkan sesuatu yang sakral. Tentang kemurnian,kesucian,dan juga membuka lembaran baru.Pembukaan acara nikah diawali dengan pembacaan ayat suci al-quran,dilanjutkan dengan khutbah nikah.Baik Danang maupun Hilya sama-sama menyimaknya dengan saksama.Ada raut sendu memancar di wajah keduanya.Masing-masing menggambarkan rasa yang berbeda.


Meski semuanya jauh dari kata mewah,akan tetapi Hilya menikmati jalannya pernikahan dengan khusyu.Disamping Hilya,Danang mengucapkan kalimat sakral ijab kabulnya di depan penghulu.Berlangsung khidmat.


SAYA NIKAHKAN DAN KAWINKAN KAU WAHAI ANANDA DANANG DANUARTA SETIAWAN BIN IMRAN SURUDDIN SETIAWAN DENGAN PUTERIKU HILYA AFIYANA ABIMANYU BINTI HARYADI ABIMANYU DENGAN MAS KAWIN SEGELAS AIR PUTIH DIBAYAR TUNAI.


SAYA TERIMA NIKAHNYA DAN KAWINNYA HILYA AFIYANA ABIMANYU BINTI HARYADI ABIMANYU DENGAN MAS KAWIN TERSEBUT TUNAI.


Hilya menghayati lafal ijab kabul dari Danang dengan perasaan sedih sekaligus haru.Sedih karena bakal meninggalkan keluarganya dan haru karena pemuda yang baginya seorang monster telah bersedia menyelamatkan nama baik keluarganya.


Terlepas dari rasa benci yang ia simpan di dalam hatinya lantaran sikap ego dan temperamen,dia masih tetap menaruh secuil perhatian kepada dirinya meskipun hanya dalam hitungan detik.Bagi Hilya itu saja sudah cukup.Toh,pernikahan mereka terjadi bukan atas dasar rasa cinta di antara keduanya,melainkan berawal dari sebuah kesalahan yang tidak diingini oleh mereka berdua.


Hilya pasrah dengan keadaan,menyimak doa akad yang dibacakan dan berharap agar perjalanan rumah tangganya bisa semulus doa yang dipanjatkan saat ini.....,aamiin.Hilya menyapu wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


Danang tidak lupa menyerahkan segelas air putih kepada isterinya sebagai mahar yang diminta Hilya.Gadis itu menatap sendu ke wajah sang suami,saat menerima mahar pernikahannya setelah usai penandatanganan buku nikah.


Sebuah pemandangan yang terbilang asing, membuat beberapa hadirin ikut berdecak kagum menghayati kemurnian dan kepolosan seorang gadis yang tidak gelap mata kepada harta sang suami.


Hal tersebut tidak luput dari penghayatan tuan Imran dan nyonya Andin.Kedua orangtua ini tidak dapat menyembunyikan air mata mereka.Terutama sang ayah mertua yang merasa diri paling bersalah di atas segalanya.


Mencoreng nama baik seorang gadis,hingga menimbulkan pransangka yang tidak-tidak dari semua orang.Padahal inilah tampang kemurnian gadis ini yang sesungguhnya.Terbukti di saat ijab kabul.Namun satu keyakinan yang dimiliki tuan Imran saat ini adalah,jika ia tidak melakukan hal itu,maka puteranya juga otomatis tidak akan mau jika disinggung soal pernikahan.


Dia bahkan sudah bertekad bulat untuk tidak menikah seumur hidupnya.Mengubur luka lamanya dengan melajang seumur hidup,itu sama saja dengan membunuh generasi,dan mengebiri anak cucunya sendiri.Sang papa tidak ingin membiarkan hal itu terjadi.


Kini saatnya bertukar cincin,Danang mulai menyarungkan cincin ke jemari lentik Hilya yang polos tanpa sarung tangan.Dibalas dengan hal serupa oleh sang isteri.Saat lidah melafazkan kalimat sakral,hati ikut berdesir,darah juga menyirat ke urat nadi laksana arus listrik melesat,menegang sekujur tubuh,menahan hawa dingin mendera tengkuk,serasa bagai berada di hamparan salju.


Itulah yang dirasakan oleh sepasang pengantin ini.Tanpa disadari,keduanya sama-sama tulus menikmatinya,lalu hanyut dalam kemurnian rasa yang entah datang dari mana.Semuanya mengalir begitu saja bagai air yang mampu meresap ke celah-celah kecil dan selalu menyesuaikan diri dengan tempatnya.Danang tergugu.Satu ciuman ringan sebagai ucapan terima kasih mendarat begitu saja di kening gadis itu.Refleks dilakukan oleh Danang membuat Hilya tertegun.


Lengkap sudah rentetan acara pernikahan sederhana yang dilalui oleh sepasang suami isteri.Danang menyembunyikan butiran bening yang lolos dari pelupuk matanya,sesaat setelah bayangan mantan calon isterinya Lian,yang berjanji akan pulang dan menjalani ritual pernikahan suci dengannya.Namun semuanya kandas begitu saja.


Lian pergi membawa setumpuk harapan bahagia yang Danang bina setahun yang lalu.Harapan yang direnggut oleh kebiasaan liar masa lalu Lian yang berujung duka dan maut.Kini hanya luka yang ia rasakan,menguar menyiksa hati,mencekam batin.Pemuda itu kini melirik ke arah gadis yang telah menjadi isterinya.Wanita yang dipertemukan dengannya lewat sebuah kesalahan di sebuah kamar hotel.


Entah bagaimana latar belakangnya,masa lalunya,dan juga pergaulannya.Lalu bocah lima tahun bernama Juna yang memanggilnya dengan kata bunda,sedang mempertanyakan sosok ayahnya....,siapa Hilya sebenarnya?Apakah dia seorang bidadari berwujud manusia yang dititipkan sang khalik untuk dirinya,ataukah ia hanya seorang perusak yang bertopeng di balik kepolosan dan keluguannya saat ini.


Kini di mata seorang Danang,semua bukti tidak baik,dan permasalahan secara kasat mata yang ia lihat pada diri gadis itu telah memberatkannya.Danang terlanjur menilai Hilya sebagai seorang gadis perusak yang masa lalunya kelam.Dia sengaja hadir untuk mengacaukan hidunya.


Lalu haruskah Danang menerima kenyataan pahit untuk kesekian kalinya.Jika memang Hilya adalah seorang janda muda yang memiliki anak sebagai hasil dari hubungan gelap di masa lalunya,haruskah ia menyalahi takdirnya saat ini.


Mampukah ia membawa gadis disampingnya ini bersama mengarungi bahtera rumah tangga, sementara hatinya masih terkungkung oleh trauma masa lalu.Andai saja Lian tidak melukai hatinya,maka pasti kenyataannya juga tidak serumit ini.


'Ah....,amat lelah memikirkannya.'


Pemuda profesional yang selalu berpikir rasional dan selalu mengedepankan cinta dan kasih sayang kepada makhluk lembut yang bernama wanita.Pemuda yang hadir sebagai pecinta kaum lemah,dan sangat menghargai mereka dengan memberi dukungan rasa sebagai motivasi terbesar dalam hati para kaum lemah itu,kini kehilangan segala rasa cinta dan kasih sayang yang ia miliki selama ini.


Yang ada hanyalah perasaan ingin meleburkan diri di ruang yang kosong.Membawa kepingan hati yang luka bersama tubuh yang rapuh,menjauh dari cinta dan kasih sayang yang seolah tengah mengejek kelemahannya saat itu.


Perlahan,ia menggandeng tangan lembut itu keluar dari pekarangan masjid menuju ke mobil dan melesat jauh menuju ke hotel Puteri Dania sebagai tempat ramah tamah tamu undangan.Para tamu kebesaran yang sudah dikhususkan oleh sang papa.


•••••


Bersambung...


🤗🤗🤗