I Need You

I Need You
Bantu Aku



Happy reading๐Ÿ˜๐Ÿ“–


Nyanyian suara jangkrik memecah kesunyian malam.Di ujung kamar sepi,pemuda itu baru saja terjaga dari tidur lelap.Perlahan matanya mengerjap.Menyesuaikan pandangan dan mulai mengumpulkan sisa nyawa yang masih berkelana.


Bayangan masa lalu tiba-tiba datang mengelayut,membawa suasana hati yang tiba-tiba gundah.


"Kita harus membahasnya,"pinta Vania saat mendatangi apartemen miliknya.


"Tidak ada lagi yang perlu dibahas,"ucapnya datar,"Pergilah,aku sudah mengikhlaskannya."Tanpa basa-basi.


"Jangan seenaknya Dimas,dia cuma teman dekatku."Protes Vania tidak terima.


"Teman dekat,yang mengajak tidur berdua di kamar hotel berminggu-minggu?"Dimas tertawa sumbang,"Kau anggap apa aku ini?"Menghunus tatapan membunuh,"Kau pikir hubungan kita ibarat drama di atas panggung?"Masih tertawa sinis.Tawa yang sebenarnya ia tujukan untuk kebodohan dirinya sendiri.Terlalu percaya pada rayuan wanita hingga ia lupa menata hatinya sendiri.


"Aku tidak akan pergi,aku sedang hamil anakmu."


"Hhhh....,hamil....,"tertawa sarkas,"Seorang wanita yang memiliki harga diri tidak akan mempermalukan dirinya sendiri di depan tiga pria bersaudara."


"Apa maksudmu?"Vania mengernyit bingung.


"Kau pikir dengan menjadi pengemis untuk sekian kalinya padaku,lalu aku mau bertanggung jawab atas hasil perbuatanmu bersama pria lain?"


"Kau menjebak diriku demi melindungi pria bejat itu?"Mengeraskan rahang,"Sorry,aku bukan Danang ataupun Jefry."Mengepalkan tangannya.


Vania sempat terperangah,namun secepat kilat bisa menyesuaikan diri,"Hei,itu masa lalu Dimas,tidak ada hubungannya dengan kita sekarang."Lenting suaranya meninggi.


"Beri aku kesempatan,Dimas.Aku akan membuktikan kalau janin ini milikmu."Vania masih belum menyerah.


Namun Dimas tetap bergeming,hingga akhirnya ia memilih pergi dari hadapannya dengan perasaan kecewa dan membenci.Sejak itu,Dimas memutuskan untuk tidak melanjutkan rencana pernikahannya,dan menutup diri dari wanita yang bernama Vania.


Berkali-kali ia kembali mencoba menghubungi Danang namun nihil.Tujuannya tidak lain hanya untuk meminta maaf atas kesalahpahaman yang telah terjadi di masa lalu.


Masih ingat waktu pertama kali Vania mendatangi kota K,di mana dirinya dan sang sepupu sedang asyik bermain catur di taman belakang rumah,Danang memilih untuk tidak melanjutkan permainannya.Pemuda itu mendadak pergi dari rumah dan menginap di rumah sepupu mereka Adhytama hingga berhari-hari.


Beberapa kali ia sempat menangkap gelagat mencurigakan dari Vania yang mencoba mendekati Danang yang tengah berbaring santai di dalam kamar pribadinya,"Aku merindukannya,"ucap Vania pelan namun masih terdengar jelas.Akan tetapi saat itu ia malah mengira jika Danang telah lancang menggoda calon isterinya.


"Kau ingin merusak tali persaudaraan kita,bro?"Serang Dimas kesal.


Danang menatapnya dengan tatapan beku,"Sebaiknya kau kendalikan calon isterimu itu sebelum semuanya terlambat."


"Ya,aku akan mengendalikan kekasihku dari gangguan pria pecundang sepertimu."Sindiran tajam sengaja ia lontarkan penuh penekanan demi membuat Danang sakit hati.


"Susah bicara pada orang yang sedang jatuh cinta,"ujar Danang datar sebelum akhirnya memilih untuk mengusir Vania keluar dari kamarnya demi menghindari perdebatan lebih jauh.


"Apa maksudmu,bro?"Menarik kerah baju Danang.Tidak mau terima calon isterinya diperlakukan demikian.


Namun Danang bergeming dan memilih pergi dari hadapannya.Bukti nyata bahwa sang kakak tidak pernah bersikap buruk kepada siapapun termasuk dirinya sendiri,maupun wanita yang pernah melukai hatinya.


Juga pernah waktu itu,ketika sedang di pantai.Ia dan Vania tengah mendatangi senja di kaki langit Tanjung Aru Beach.Dirinya sempat melihat Danang dan Karin juga ikut bersama,namun mereka tidak ingin ikut ataupun mengajak bergabung lantaran sikap Danang yang dingin meskipun diam-diam melirik aktivitas mereka.


Logikanya,seorang kakak yang sudah pernah dipermainkan seorang wanita,mana mungkin akan membiarkan adiknya ikut terjebak dalam permainan wanita itu lagi.Mana mungkin ia rela mengulang kesalahan yang sama dalam sekali mendayung.Kakak dan adik sama-sama dipermainkan oleh orang yang sama.


Namun ia terlalu bodoh untuk memahami niat baik kakak sepupunya yang pernah berupaya membongkar kedok gadis itu padanya.Ia malah salah menilai sang kakak.


"Padahal bukan begitu cerita sesungguhnya."Ya,Danang tidak berniat buruk kepadanya ataupun Vania,tapi lebih tepatnya ia hanya ingin menyelamatkan dirinya dari perbuatan wanita binal selevel Vania.


"Pantas saja Danang selalu menolak dan menjauh bila aku dan Vania mengajaknya bergabung bersama....,"


"aku kira dia cemburu,padahal lebih dari itu,dia sangat terluka telah diperlakukan buruk oleh wanita binal itu."


Dentang jam dinding untuk kesekian kalinya membuyarkan lamunan.Saat ini waktu telah memasuki sepertiga malam terakhir.Entah sudah berapa lama ia memikirkan masa lalunya yang hanya membawa luka.


Sebuah perpisahan yang menyakitkan hingga kepada runutan masalah baru saat ia harus terjebak dalam sebuah kecelakaan mobil.Rem mobil yang dikendarai tidak berfungsi.


Sementara kecepatan di atas rata-rata yang sudah terlanjur diambilnya,sangat keliru hingga akhirnya dengan terpaksa ia menabrak tebing curam.Meski selamat dari sana namun justeru itulah yang membuatnya mengalami koma selama tiga bulan.


"Tiga bulan?"Gumamnya lirih.


Tiba-tiba bayangan gadis cantik penuh senyum natural itu berkelebat dalam pikirannya,seketika membuat hatinya kedap-kedip dengan bibir tersenyum samar,"Kalau bukan karena dia,mana mungkin cuma tiga bulan."lanjutnya sembari menghela napas pelan.


Ah,rasanya ingin segera sembuh agar bisa membereskan semua masalah yang membelit. Ia perlu menyelesaikan masalah utamanya bersama Danang.Kakak sepupunya itu berhak memarahinya,dengan catatan,ia wajib menerima permintaan maaf darinya.


Sementara itu,di ranjang kamar utama Premium Elite....,


Keduanya sama-sama terjaga di ujung sepertiga malam terakhir,lantaran kampung tengah yang mengamuk,"Aku lapar,"gumam Hilya.


"Sama,"balas Danang singkat.Keduanya bersitatap dan saling melemparkan tawa kecil.


"Cari makan,yuk."


"Kita cari makan."Ucapan yang dilontarkan secara bersamaan membuat keduanya sontak terkekeh.Danang meraih kepala sang isteri,mengecup ringan lalu membawa tubuhnya kedalam pelukan,"Terima kasih sudah merayuku, semalaman,"ucapnya penuh penghayatan.


Hilya mengangguk kecil,"Berkat bimbingan darimu juga."


"Tergantung dari mampu dan inginmu juga,kalau tidak,pasti bakal gagal."


Lagi-lagi keduanya saling melempar tawa lepas.Semburat merah merona kian menghias di wajah Hilya.Rasa bahagia yang menyelimuti,tidak bisa disembunyikan lagi.Danang benar-benar merasa tereksplor oleh servis isterinya yang sedikit mulai terbiasa saat dipandu.


"Terima kasih,sayang."Impian yang membawa angan melayang,menjelajah seluruh atmosfer cinta nan melambung jiwa,menguar rasa yang tak berkesudahan hingga mencapai pelepasan yang indah berkali-kali.


"Kali ini biarkan aku yang membopongmu ke bawah mencari makan."Danang sigap meraih tubuh langsing itu membopongnya menuruni tangga menuju ke lantai dasar.


"Bukannya sedang sakit?"Hilya was-was.


Danang mengangguk,"Nanti juga akan mereda,"Memeluk erat tubuh langsingnya.Seketika membuat Hilya pasrah tanpa perlawanan.


"Makanlah,akan kusuapkan."Tangannya sigap menyuapkan sesendok nasi kedalam mulut sang isteri sembari tersenyum penuh arti.


Menatap takjub kepada wanita tercintanya ini tiada henti seraya membayangkan aksi pahlawan yang tak pernah ia duga.Perlahan-lahan Hilya telah berhasil membawa sesuatu yang istimewa untuknya.


"Terima kasih,sayang."balas Hilya sembari menyambar sendok dari tangan suaminya,lalu bergantian menyuapi pria yang selalu saja membuat jiwa dan raganya terasa hidup dan tenteram.


Danang mendengus pelan,"Om Amran memintamu membuat Dimas tersentuh pada wanita?"Hilya mengangguk cepat dan berkali-kali.Mulutnya masih penuh dengan kunyahan makanan.


"Itu artinya Om Amran menangkap sesuatu yang berbeda darimu untuk Dimas."


"Hanya kau yang memilikinya.Kau bisa melakukannya de....,"


"Tidak,aku tidak akan melakukanya,"potong Hilya cepat,"kau carikan aku solusinya,biar bebas dari aturan yang dibuat om Amran itu."


"Lakukanlah,sekali saja."Mencubit gemas pipinya,"Setidaknya demi aku."lanjutnya tertawa miring.


Hilya mengerutkan kening,"Ada masalah?"


Danang menggeleng,seakan sedang menutupi sesuatu,"Buat Dimas mengerti bahwa tidak semua hal harus dihadapi dengan cara melarikan diri."


"Tapi aku tidak bisa_"


"Bisalah,bahkan lebih dari itu."


"Ah,masa?"


"Heeum,kau punya kemampuan untuk itu."


"Baja seperti diriku saja bisa kau lunakkan,lalu apalah dengan si bocah tengil itu,huh."


Hilya yang sedari tadi masih sibuk mengambil alih menyuapkan makanan sendiri,mendadak terhenti.Ia mendongak singkat ke arah Danang sebelum mulai berbicara,"Kau yakin tidak masalah,firasatku buruk."Hilya tersenyum usil.


"Maksudnya?"Giliran Danang yang mengerutkan kening.


"Firasatku mengatakan Dimas bakal jatuh hati pada caraku dan memintaku membagikan separuh hati ini untuknya."Candanya sembari terkikik geli.


Danang tertawa sumbang.Ucapan Hilya membuat hatinya seketika bergemericik,"Kau mengkhawatirkan sesuatu yang belum tentu terjadi."Menggeleng-geleng di sela tawa ringannya,"Tolonglah,dia adikku yang sangat membutuhkan kita."lanjutnya sembari menuntaskan sisa makanan di piringnya.


"Hmm....,baiklah kalau begitu."


"Tapi jika candaanmu tadi kejadian,"Menatap tajam ke mata wanitanya dengan sorot elang mematikan,"Maka aku yang bertindak."Tekannya penuh tegas.Seketika membuat hati wanitanya berjingkat.


.....


Bersambung....


๐Ÿค—๐Ÿค—๐Ÿค—