I Need You

I Need You
Menyentuh Bagian Masa Lalu



Saat mentari pagi mulai menyapa kota D.Gadis langsing itu tampil dengan kemeja putih berbalut semi jas berwarna hitam,celana panjang tisu berwarna senada dan sepatu heels hitam menambah kesan profesionalisme seorang karyawan kantoran.Wajah orientalnya tampak cantik berpoleskan make up natural,dan sanggul rambut khas dandanan seorang sekretaris.


Senyum semringah menghiasi bibir cherry miliknya.Gadis itu tampak hati-hati menuruni anak tangga rumah besar milik ayahnya,


"Selamat pagi mama-papa,kakak-ipar,dan Juna sayang."


Lenting suara manja yang khas milik Dania memecah ruang makan.


"Selamat pagi,"jawab semuanya hampir bersamaan.Hari ini,Dania yang selalu tampil fresh,menjadi lebih menawan karena akan bertemu dengan sepupu jauhnya yang sangat ia rindukan.Karin jauh-jauh datang dari tanah Tun Mat Saleh dalam rangka menggelar doa selamatan untuk mendiang oma tercinta,oma Hasnah Setiawan.


Selain itu,berkat dirinya jugalah,Dania jadi menemukan Haidar si pemuda absurd yang telah berhasil mencuri hatinya.Kini iapun bekerja di bawah atap perusahaan milik sepupunya itu dan menjadi partner sejati dari pria yang selalu mengubah moodnya itu.


"Sayang,hari ini tolong pulang cepat ya."


Mama Andin mengingatkan puterinya agar tidak lupa.Berhubung pekerjaan puterinya itu memakan waktu,menguras tenaga dan juga pikiran.Dania sedikit mengernyitkan kening pertanda belum mengerti maksud dan tujuan sang mama,


"Ada apa itu mama?"


Mama Andin menghela napas pelan,


"Kita akan buat doa selamatan satu tahun kepergian oma Hasnah,nak."jawabnya sembari melemparkan senyum terindahnya.Cantik sempurna.


Dania baru teringat jika hari ini Karin juga akan melakukan hal yang sama di hotel milik mendiang omanya.


"Oh ya,ya.Baiklah ma,"memasukkan potongan roti ke dalam mulutnya,


"Sebentar,Adhytama Star Hotel juga akan ada hari berbagi yang digelar langsung oleh kak Karin."jelasnya sembari tersenyum.


Ucapan Dania yang menyertakan nama Karin,seketika membuat Danang segera membuang kasar pandangannya.Wajah sang kakak sontak berubah menjadi datar,sedatar padang bola Kapten I Wayan Dipta,markasnya Bali United.Dania menangkap sesuatu yang berbeda dari sorot mata sang kakak.


"Emm...,ya,itu wajib sayang.Kita juga punya persiapan untuk itu.Kakakmu yang akan melakukannya,"timpal papa Imran sembari tersenyum memandang Dania dan Danang yang wajahnya sudah terlanjur gersang,segersang gurun tandus ikonik negara-negara Timur Tengah,


"Hilya,kau akan membantu suamimu di kantor ya,nak."Imran melanjutkan ucapannya tanpa menghiraukan ekspresi puteranya yang berubah-ubah bagai bunglon.


"Baiklah,pa."Hilya mengangguk setuju dan melanjutkan kunyahannya dalam diam.


Mama Andin menambahkan,


"Hari ini,mama juga akan ikut papa ke kantor,jadi Juna ikut oma dan opa saja."Tujuannya adalah untuk mematahkan niat Danang yang ingin mengajak Juna bersamanya.Padahal sang mama sudah punya rencana lain di balik itu.


"Dania,biar bantu Karin saja ya.Kasihan dia sendirian,harus bergabung di antara Diego dan Haidar,"seloroh papa Imran menebar tawa kecil.


Mama Andin terbelalak,


"Jadi Karin ada di sini?Jadi ingat celoteh riangnya."menautkan kesepuluh jemarinya,


"Ah,rindunya...,sudah lama mama tidak bertemu dengannya semenjak dia punya bayi,"ucap sang mama tertawa geleng-geleng.


"Emm....,kak Karin semakin cantik saja ma.Apalagi putera William yang sudah tiga bulan dan lagi lucu-lucunya,bikin ramai."Dania menimpali sang mama dengan pujian yang tanpa ia sadari semakin menyakitkan gendang telinga Danang.


"Ya,kau benar nak.Karin memang pantas mendapat kebahagiaan setelah semua masalah ia lewati dengan cara yang tidak biasa,"ucap sang mama ikut memuji kesabaran keponakan suaminya tersebut.


"Kak,Karin memang benar-benar jelmaan oma Hasnah lho ma...,iyalah!...,orang cucu kandung,darah dag_"


"Apa sih,ngomong Karin,Karin terus dari tadi?Rubah topik!"sentak Danang kepada adiknya.Tatapan tidak biasanya menghunus gadis yang tengah menikmati potongan roti panggang selai strawberry di tangannya.Dania terdiam.Dia sudah menduganya sejak awal.Sang kakak membuang pandangan saat pertama kali ia menyebut nama Karin.


"Danang,adikmu itu cuma menjawab apa yang mama tanyakan,"meletak kasar pisau dan garpu ke piring,


"Bukan keinginan dia buka-bukaan soal Karin."


Danang meneguk kasar susu dari gelasnya,


"Ya,maaf ma....Ayo,Hilya...,berangkat sekarang juga."Danang bangkit dan menarik lengan Hilya yang masih belum selesai mengunyah sarapan paginya.


Danang menatap tajam ke arah adiknya lalu mendengus kesal.Dania yang tatapannya mulai berkaca-kaca,tertunduk sedih.Baru kali ini sang kakak berbicara kasar terhadapnya.Pakai membentak lagi.Hilya yang terpaksa menuruti kehendak suaminya,tanpa sempat minum sesuatu.Dari sorot matanya tampak perasaan malu sekaligus bersalah akibat perilaku tidak sopan suaminya di depan papa,mama dan juga adiknya.


"Hufftt!Ternyata masa lalu masih sangat mempengaruhinya!"Mama Andin mengeluh kesal.


"Kakak terlalu berlebihan,kasihan kakak ipar."Dania ikut menimpali.Sorot matanya masih tampak sendu.


Papa Imran meleraikan,


"Biarkan dia mengeluarkan semua uneg-uneg masa lalunya.Dia juga butuh pelampiasan.Papa yakin,Hilya tahu cara meredakan amarahnya,"ucapnya datar,diikuti tatapan penuh makna,


"Oh,ya.Di mana Juna?Jangan lupa ajak dia juga ma.Biar terhibur."lanjut tuan Imran yang selalu santun dan tersenyum meski di hatinya sedang kacau balau memikirkan sikap putera semata wayangnya.Hatinya cukup terbebani karena walau bagaimanapun dialah yang membuat Hilya bertemu dengan Danang.Jika Danang asih saja dikungkung oleh kenangan masa lalunya maka tidak menutup kemungkinan Hilya akan menanggung akibat dari pelampiasan puteranya itu.


"Ada di belakang bersama Nunung,baiklah pa."


Mama Andin menerangkan.


Usai sarapan pagi yang berlangsung cepat dan tidak tuntas,Danang dan Hilya berangkat bersama seperti biasanya.Sedangkan Dania yang biasanya di antar sang supir,pagi ini di antar langsung oleh sang papa bersama dengan mama Andin dan juga Juna,berhubung papa Imran juga akan hadir di sana untuk mengikuti acara pembukaan hari berbagi.


Tuan Imran menghargai undangan keponakannya itu.Ia bahkan tidak pernah menyangka Karin masih memiliki rasa penghormatan dan penghargaan yang tinggi kepada dirinya yang biasa ia panggil om ini.Ya,katakanlah karena dirinya yang amanah dalam menjaga hak orang lain.


Sementara di mobil Danang,Hilya menatap diam ke depan mobil sembari mengunyah kasar roti di mulutnya yang masih penuh.Hatinya terluka dan malu akibat sikap tidak sopan suaminya pagi ini.Sudahlah tidak habis rotinya,susunya juga belum sempat diminum.Kini kunyahannya semakin kasar karena tenggorokannya mulai mengering.Dengusan kecil turut memperkuat gambaran kekesalannya saat itu.Tanpa ia sadari,Danang tengah melirik ke arahnya.Ada seringai sinis yang menghiasi wajahnya,


"Kau kenapa?"


Hilya menggeleng kuat.


"Kekeringan?...,tuh ada air kemasan,ambillah."


Hilya bungkam,tidak ingin menghiraukan tawaran suaminya.Hatinya masih sakit,ditandai dari lubang hidungnya yang tampak kembang kempis.


Danang meraih botol kemasan air mineral,"Kau itu,seharusnya lebih pandai mengontrol amarah,"membuka segel kemasaannya,"bukannya ikut-ikutan marah."sembari menyodorkan botol tersebut kepadanya,"minumlah."lanjutnya tersenyum samar.


Hilya meraih botol kemasan dari tangan Danang lalu meneguknya kasar,


'Untung dia suami.Kalau seseorang,sudah kugampar biar kapok!'batinnya kesal.


"Apa kau bilang?"Danang balik bertanya seakan batin isterinya didengar oleh pemuda itu.


"Eh,tidak bilang apa-apa."Hilya menatap gugup ke arah suaminya.


Danang melajukan mobilnya semakin jauh ke depan,sembari bersiul-siul irama musik yang ia ciptakan sendiri.Sesekali ia melirik ke arah Hilya yang mematung seraya menahan dongkol di hati.Kemudian pemuda itu mengukir seringai samar di wajah orientalnya.


Depan gedung Adhytama Star Hotel...


Danang menghentikan mobilnya di area parkiran.Namun pemuda itu tidak memberikan aba-aba kepada isterinya untuk segera keluar dari mobil.Ia malah memilih memainkan jemarinya di atas setir sembari menatap kosong ke depan sana.Menerobos kaca gelap yang menyekat pandangan hatinya.


Hilya memperhatikan dengan saksama sikap suaminya yang seakan tidak menghiraukan sekelilingnya.Dia benar-benar tenggelam dalam dunianya sendiri.Bahkan Hilya yang mencoba berdehem dan menggeliat beberapa kali,tidak mempengaruhi posisi enak dunia suaminya.Gadis itu akhirnya memilih untuk tetap menunggu di tempat.


Cukup lama keadaan ini berjalan.Sepuluh menit,dua puluh menit,tiga puluh menit,hingga di hitungan ke empat puluh lima menit barulah Danang bergeser dari tempat duduknya.Matanya kelilipan saat menyadari sejak tadi Hilya tengah mengawasinya.


"Kau!...,kenapa tidak keluar?"serangnya dengan nada meninggi.


"Keluar bagaimana,dan ke mana,...,ini kan tempat asing bagiku?"Hilya menjawab pertanyaan suaminya dengan sebuah tatapan yang tidak biasanya.


"Ya,sudah.Kita keluar sekarang,"ucapnya melunak.Kemudian bergegas keluar dari dalam mobil.Hilya menatapnya bingung.Ada apa dengan suaminya.Kelakuannya pagi ini sangat aneh.Dia yang biasanya hanya bersikap kasar dengan isterinya,pagi ini malah kasar dengan semua keluarganya.Danang sangat berbeda.


Hilya mengikuti pergerakan suaminya dari belakang dengan rasa ragu dan canggung.Bagaimana tidak,pemuda itu memilih berjalan sendirian dua langkah di depan daripada berbalik menggandeng dirinya seperti yang sering ia lakukan selama ini dan di manapun mereka berada di tengah keramaian.


'Ada apa ini?'gumamnya bimbang.


••••


Bersambung...


🤗🤗🤗