I Need You

I Need You
Di Luar Prediksi



Happy reading 😍📖


Keesokan harinya....


Saat fajar baru menyingsing indah di langit kota D,nyaris menampakkan garis putih di batas timur cakrawala,saat mentari mengulum malu-malu memendarkan cahaya di satu titik fokus,belum sempurna menerobos masuk ke jendela kamar Perumahan Premium.


Sang bocah menggeliat sembari mencari dan memanggil nama kesayangan,"Bunda,"di setengah kesadarannya yang belum utuh,bersamaan dengan kemunculan bibi Nunung dari balik pintu kamar.


Sementara itu di detik yang sama,di rumah besar Permata Renon.Saat mentari baru saja naik sepenggalah,Hilya mengerjap berkali-kali demi menyesuaikan pencahayaan lampu yang memantul menyilaukan kelopak matanya.Sesaat ketika separuh nyawanya masih ingin berkelana ria,namun tubuhnya malah menggeliat bebas manakala kupingnya memaksa mendengar suara berisik yang bersumber dari balik ranjang pasien.


"Mengejutkan."


"Kemajuan yang bagus,di luar prediksi."


"Pupilnya,merespon rangsangan."


Hilya baru bisa menangkap maksud dari beberapa orang membentuk tim tersebut.Orang yang akhirnya ia pastikan sebagai seorang dokter ahli dan juga beberapa perawat yang tengah asyik berbicara sesaat setelah memantau perkembangan Dimas.Suara sang dokter lebih mendominasi,sementara dua perawat yang lainnya mengangguk dan membenarkan ucapan sang dokter.


Tapi tunggu dulu,Hilya bergumam ria....,"Bukankah semalam,bibi Riska bilang Dimas tidak mengalami perubahan meski sudah melewati berbagai macam pengobatan?Lalu pagi ini,dokter ahli itu bilang....,Dimas merespon semuanya,Dimas merespon cahaya dari rangsangannya?"Sebuah kebetulan yang menyenangkan,bukan.


Di waktu yang sama pula,suasana lorong penghubung antar ruangan,area Wayans Group nan lengang,seorang pria paruh baya melenggang gesit dengan wajah ditekuk,buru-buru memasuki ruang owner sembari bibir yang rada tipis ikut berkomat-kamit,namun tidak jelas kedengaran.


Sesekali matanya yang dibaluti kacamata minus khas rata-rata pria paruh baya,melirik ke arah berkas yang tersemat rapi dalam map yang dipegangnya.


Kembali ke Perumahan Premium,Bibi Nunung yang sejak semalaman tidak bisa terlelap,memilih tidur di kamar Juna demi menemani sang bocah yang kerap meracau memanggil nama sang bunda.Usai menyediakan sarapan pagi untuk dirinya,Juna,paman Madi dan juga pak Rudi,ia kembali ke kamar dan memastikan Juna masih belum terjaga,mengingat azan subuh baru saja berlalu.


"Sudah bangun,nak?"Bibi Nunung berseru kaget.


"Heeum...."Juna mengangguk malas dengan mata yang masih memejam.


"Mandi air hangat,yuk....,biar segar.Nenek sudah siapkan baju gantinya."Bibi Nunung berucap sembari menggendong tubuh padat sang bocah yang tampak masih malas-malasan di kasur.


Saat Juna sudah disulap dengan tampilan rapi,wanita paruh baya itu segera mengajaknya ke dapur untuk siap menikmati sepotong roti dan juga segelas susu.


Manakala bibi Nunung tengah sibuk menyuapkan roti selai kepada Juna,dan bocah itu asyik menikmati kunyahan roti sembari menyesap susu hangat.Nikmat tiada duanya di lidah sang bocah.Tampak dari caranya menikmati kunyahan dengan sangat lamban dan lembut.


"Juna,makan yang banyak ya,nak."


"Emm....,baik nek."


"Kapan bunda pulang,nek?"


"Apa bunda ikut papa ke luar kota juga,nek?"


Bibi Nunung menatap dalam,wajah bocah yang tampak sendu.Sorot matanya menunjukkan kerinduan yang mendalam terhadap sang bunda.


"Sayang,bunda kita itu,sekarang ada kerjaan di luar sana."


"Tidak,nak....,bunda tidak ikut papa,jadi akan segera pulang ke rumah kalau kerjaannya sudah selesai,oke."


Juna manggut-manggut mengerti,"Kalau begitu,habis ini Juna mau bantu opa Rudi beri makanan ikan di kolam saja."


"Boleh,sayang."


Hening....


"Assalamualaikum,Juna sayang."


"Tante...."Pekik Juna kegirangan setelah menyadari kemunculan Nuha dari balik pintu utama.Setelah bocah itu sempat menghening cukup lama.


"Main ke rumah tante yuk,mau?"Sejenak kemudian,bibi Nunung ikut mengangguk manakala menyadari sang bocah sedang menatap,meminta persetujuan darinya.


"Ta_api,"ucapnya ragu.Namun sorot matanya masih setia mengerling malu-malu ke arah bibi Nunung yang juga tengah menatapnya lembut.


"Juna sudah berjanji mau bantu opa Rudi beri makan ikan...."


"Biar nenek yang gantikan tugas Juna pagi ini,nak.Pergilah bersama tantemu,bunda pasti senang mendengarnya."Potong bibi Nunung menyanggupi.


"Emm....,benar,nenek?"


"Benar,sayang."


Hore,makasih,nek."


"Nah,kalau begitu,tunggu apa lagi,cepatlah siap-siap sana."


"Ashiaapp boss."


Nuha tersenyum memandang Juna,jemarinya sigap menangkup kedua bahu keponakan yang sangat dirindukannya,jelmaan dari sang kakak,Arjuna Wijaya,"Anak pintar,tante akan ajak jalan-jalan ke wahana,"


"Asalkan,Juna mau menginap di rumah tante."


"Oke,siapa takut."Juna meloncat kegirangan sembari beranjak ke kamar.


Nuha mengambil posisi duduk di samping bibi Nunung,"Bibi,aku akan mengajak Juna main ke Puri Gading,dan menginap di sana beberapa hari,dan Hilya sudah memberi izin."


"Baiklah,nak....,kalau begitu,bibi akan siapkan perlengkapan untuk Juna."


Bibi Nunung mengangguk setuju,setelah Nuha memberi alasan yang menurutnya akan lebih baik untuk menghadapi situasi beberapa hari ke depan.Sebelum akhirnya ia menyusul Juna ke kamar untuk mempersiapkan beberapa potong baju dan celana untuk ganti selama beberapa hari di rumah Nuha.


Nuha tersenyum lega mendapati Juna yang tampak ceria.Tangannya sigap meraih benda pipih dari dalam tas selempang yang menyampir di badan.Jemarinya sigap mengutak-atik sesuatu di sana sebelum akhirnya ia memilih untuk menekan tombol sent.


Chat terkirim ke Hilya.


"Juna,aman bersamaku."


"Terima kasih,Nuhizz."


"Kau tidak keberatan,kuajak Junamu ke Puri Gading(Kediaman Tuan Jayahadi)?"


"Asal Juna mau,sama sekali tidak."


"Baiklah,akan kubujuk."


Sementara dari ujung anak tangga,Juna menyalami tangan bibi Nunung diikuti peluk cium dari sang nenek yang sudah sangat menyayangi dirinya,"Nenek,Juna berangkat dulu,ya."


"Oke,Juna hati-hati di sana,ya."


"Sip,nek....,da da..a.a."


Bibi Nunung menarik napas berat setelah membalas lambaian tangan Juna kepada dirinya.Pandangannya rada nanar memandangi punggung Nuha dan Juna menghilang di balik pintu utama.Semoga semuanya baik-baik saja,pikirnya.


Baru saja ia akan memulai rutinitas hariannya,tiba-tiba ada ketukan nyaring dari luar pintu utama,


Tok tok tok


"Siapa ya?"


"Apa jangan-jangan Juna berubah pikiran lalu membatalkan perjalanan?"gumamnya pelan.


Ceklek


"Nunung?!"Seru suara nyonya Andin sesaat mendapati wanita paruh baya di depannya itu tampak terlolong menatapnya.


"I_iya,nyonya.Silakan masuk,nyonya."Bibi Nunung tergagap.


Nyonya Andin melangkah masuk ke dalam rumah sembari mengedarkan pandangan mengeliling,"Lho,sepi ini,di mana Juna....,Hilya ke mana?"Langkah pelannya membawa tubuhnya menghempas di atas sofa ruang keluarga.


"Ah,ya.Pergi bermain ke rumah teman Hilya di Puri Gading."Bibi Nunung yang masih berdiri berusaha menetralkan suaranya yang rasa gelagapan.


"Oh,siapa tuh,si Nuha kan ya,tantenya Juna,bukan?"Nyonya Andin manggut-manggut.


"Ya,benar nyonya."


"Oh,baiklah.Biarkan Juna belajar untuk menerima keluarga itu.Kasihan aku melihatnya."


"Oh,ya.Padahal aku sengaja kemari untuk membujuk Hilya agar mau menginap di rumah besar selama Danang berada di luar kota."


"Tapi ya sudahlah,biarkan saja,mereka sudah punya aktivitas sendiri,kan."


"Apa perlu saya hubungi nona Hilya untuk mengatakan hal ini,nyonya?"


Hening....


"Tidak usah,tolong kau perhatikan saja menantu dan cucuku baik-baik,sampaikan salamku untuk mereka,dan aku akan pulang sekarang."


"Baik,nyonya.Hati-hati di jalan."


"Oke,tidak masalah.Terima kasih."


..


Perumahan Permata Renon


Pria muda dengan jas putih khas kebesaran'dokter' tengah melenggang mendekati meja dan meraih sebingkai kertas dan pena di atasnya,


"Siapa yang bertanggung jawab,kepada pasien untuk pagi ini?"Gelegar suara tegas sang dokter sontak membuyarkan lamunannya.


Hilya mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan,berharap ada suara seseorang yang menjawab pertanyaan sang dokter tersebut.Beberapa detik kemudian,suasana masih tetap hening karena suara bibi Riska yang begitu diharapkannya tak kunjung bergema.


"Ada orang di sana?"Sang dokter masih melemparkan pertanyaan,kali ini diikuti sorot mata yang mengarahkan kepada dirinya yang masih mematung di posisi duduknya.


"A_ah,ya.Saya tuan."Hilya tergagap.


Sejenak,sang dokter menatapnya begitu intens hingga akhirnya ia bersuara,"Apa anda keluarganya,atau seseorang yang istimewa buatnya?"


"S_ssaya,hanya asisten barunya,tuan."


"Tapi pengaruh anda terhadap kondisi pasien sangat bagus.Pasien telah mendapat respon yang jauh lebih baik dari sebelumnya,"ujar sang dokter,"Seakan anda adalah seseorang yang sangat istimewa bagi pasien."


"Ah,mungkin hanya kebetulan saja,tuan."Hilya meringis dengan hati yang tidak enak.


"Apa anda asisten yang ditunjuk langsung oleh nyonya Mira?"


Hilya mengangguk singkat,"Ya."


"Baiklah,silakan menandatangani list hasil test untuk hari ini."


"Baik,tuan."


Usai menandatangani daftar hasil pemeriksaan pasien,Hilya memutuskan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri setelah memastikan kemunculan bibi Riska di sana.


Di kamar mandi,jemarinya sigap menyambar ponsel miliknya sembari menyambungkan kepada sahabatnya Nuha,


"Aku butuh bantuanmu."


Hilya menceritakan permasalahan yang tengah dialaminya saat itu.


"Aku sama sekali tidak mengenal keluarga itu."


"Sudah kau ceritakan ini kepada suamimu?"


"Belum...,aku khawatir,Danang salah paham padaku."


"Baiklah,kalau begitu,kau uruslah masalahmu,dan biarkan Juna bersamaku.Saranku,segera beritahu Danang atau dia akan marah jika sampai mendengarnya dari orang lain."


"Oke,tapi aku butuh waktu yang pas.Terima kasih atas bantuannya,Izz....,titip Juna,sampai aku kembali."


Sejam berlalu....


Chat masuk dari Nuha,


"Juna,aman bersamaku."


"Terima kasih,Nuhizz."


"Kau tidak keberatan,kuajak Junamu ke Puri Gading(Kediaman Tuan Jayahadi)?"


"Asal Juna mau,sama sekali tidak."


"Baiklah,akan kubujuk."


..


Ruang Owner Wayans Group


"Hah,semakin ribet saja,"gumam pria yang kacamata masih bertengger ria di hidung bangirnya.Nada suaranya kian meninggi bersamaan dengan tubuhnya yang terhempas kasar ke kursi kebesaran milik direktur utama.


Dialah tuan Amran Suruddin Setiawan,adik kandung dari tuan Imran.Pria pemilik Wayans Group yang dipercayakan langsung oleh sang ayah,mendiang tuan Wayan Suruddin kepadanya.


Bukan tanpa alasan anak bungsu diberi hak memegang kendali perusahaan inti keluarga Wayan tersebut.Itu disebabkan tuan Imran sebagai putera tertua,mendapat mandat dari sang ayah untuk memegang amanah di mana sepupu jauh tuan Wayan bernama nyonya Hasnah Setiawan menyerahkan kendali perusahaan berlevel dunia,Adhytama Group untuk dikelola hingga pada batas waktu yang ditentukan.


Kejadiannya berawal dari keputusan yang dicapai dari hasil rembukan pasca kecelakaan maut yang menimpa keluarga besar Adhytama Setiawan.Puteri satu-satunya yang tersisa, dengan ikhlas menyerahkan hak kelola,kepada dirinya untuk menjaga amanah tersebut.


Hingga akhirnya ia menurunkan amanah tersebut kepada putera pertamanya,bernama Imran,dan demi menjaga amanah tersebut sampai suatu saat para ahli waris dari Adhytama Group mencapai usia yang layak mengambil alih.


"Morning,uncle."Gelegar suara Danang berseloroh,"Lama tidak jumpa."


Danang baru saja mengendap-endap memasuki ruang owner.Sesuai dengan petunjuk dari sang papa,ia harus datang lebih awal sebelum jam kerja,sebagai tamu istimewa sang paman.Seperti tuan Imran yang sangat penyayang dan penuh pengertian,maka tuan Amran juga memiliki sifat yang tidak jauh berbeda dengan sang kakak.


"Pagi juga,"mendongak sejenak dan mendapati dia yang dinantikan,"Hai,insinyurnya papa Imran,senang bertemu denganmu....,silakan duduk."lanjutnya sembari mengarahkan telapak tangannya ke arah kursi yang ada di depan meja kerjanya.


Sekilas jabat tangan tegaspun terjadi di antara keduanya.


Perbedaan antara tuan Amran dengan sang papa Imran adalah pada kharakter dasar tuan Imran yang lembut dan mengalah,sedangkan tuan Amran tampak lebih keras kepala dan sedikit penuntut.Namun keduanya sama-sama penyayang dan berjiwa kebapakan.


"Akhirnya kau datang juga."Tuan Amran berdecih senang.


"Apa yang tidak untukmu,om."Balas Danang riang.


"Sudah kau dengar cerita dari papamu,nak?"


"Sudah,om.Tinggal eksekusi."


Tuan Amran tampak mendengus kesal,"Tolong kau carikan siapa orang yang sudah benar-benar lancang pada perusahaan keluarga Wayan ini."


"Om benar belum tahu siapa dalangnya?"Danang mengerutkan kening tidak mengerti.


"Lebih tepatnya masih ragu."


"Berarti om sudah mencurigai beberapa orang,begitu?"


Tuan Amran mengangguk pasrah,"Om terlalu percaya kepada mereka,hingga kesulitan membaca siapa pelaku sebenarnya,"ujarnya sembari menyodorkan sebuah map yang berisi daftar nama-nama petinggi Wayans Group secara keseluruhan.Namun ada tiga nama yang diwarnai dengan spidol pewarna.Danang meneliti dengan saksama tiga nama tersebut dengan kening yang mengerut.Sejenak kemudian matanya ikut melotot,kaget.


"Bukannya dia....,"


"Hmm....,cukup kau jadikan penunjuk arah dulu.Sampai kau benar-benar membuktikannya."


"Mereka tidak menyadari kalau perbuatannya sudah terbaca oleh om."


"Baik,om.Aku siap bekerja."


"Baiklah,insinyur.Selamat menjalankan tugas,"ujar tuan Amran mempersilakan,"Semoga berhasil."lanjutnya penuh harap.


.....


Bersambung....


🤗🤗🤗