
Happy reading 😍📖
"Kehadiranmu kemari adalah jawaban mutlak yang tidak bisa dibatalkan....,kau telah setuju membantuku."
Hilya tertegun menatap wajah pria paruh baya yang tampak bersikukuh dengan ucapannya.Tak ada gurat senyum di raut wajah tegas namun rada kusut tersebut.
Baru saja ia hendak melayangkan protes atas tindakan semena-mena sang bapak yang tidak dikenalnya sama sekali,pria itu telah lebih dulu melangkah maju sembari mengisyaratkan jemarinya agar Hilya segera mengikuti langkahnya.
"Sial apa,aku sepagi ini."Hilya berguman kesal, merutuki diri sendiri sebelum akhirnya ia memilih pasrah dan mengekori pria tersebut.Setidaknya untuk menjawab semua pertanyaan yang mencuat ria di kepalanya sejak detik awal kemunculannya di tempat aneh itu.
Hingga akhirnya langkah mereka terhenti di sebuah pintu kamar yang bertuliskan 'Kamar Utama' di bagian depan daun pintu itu.Sang pria sigap membalikkan tubuh menghadap dirinya seraya menatapnya lekat dan penuh arti,setelah berhasil membuka daun pintu tersebut.Membuat dirinya kaget setengah mati.
Kamar Utama....
Hilya memandang ragu pada penampakan di depan mata.Dari balik daun pintu,seorang anak muda yang tampak tertidur pulas lengkap dengan selang yang menancap di tangannya ditambah dengan alat bantu pernapasan yang terpasang rapi.
Seorang wanita paruh baya yang diyakini sebagai ibu kandung,tengah duduk disampingnya sembari bercerita hal seru kepada anak muda yang sedang tertidur pulas.Kesan pembicaraan satu arah seakan sang pasien sedang terjaga dan merespon suara yang hanya berasal dari sang mama.
"Masuklah,aku yakin kau bisa."Pria tersebut mempersilakan dirinya manakala mereka sudah berada di depan pintu.
"Tapi tuan,apa yang harus kulakukan terhadap pasien yang tidak....,"ucapnya ragu,namun terputus begitu saja manakala menyadari pria tersebut tengah menatapnya penuh harap.
"Percobaan tiga hari,dan batas akhir satu minggu."Kekeh suara sang pria seakan sedang memberi pesan tidak ingin dibantah oleh siapapun,
"Jika memang tidak ada perubahan,maka kau boleh memilih pergi dari sini."lanjutnya menjelaskan.
Hilya berjalan gontai mendekati dua orang tersebut sembari tersenyum getir.Meski ragu,ia tetap maju demi membuat pria paruh baya yang baru dikenalnya tadi tidak tersinggung.
Bukan soal setuju atau tidak,tapi setidaknya ia perlu berembuk atau meminta persetujuan sang suami terlebih dahulu.Bagaimana jika Danang mencarinya,lalu bagaimana pula cara menjelaskan kepadanya jika ia terlanjur mengambil keputusan itu sendirian.
"Siapa?"Sapa wanita yang menyadari kehadirannya dengan pertanyaan singkat.Seketika membuyarkan lamunannya.
"Hilya,"jawabnya singkat.
"Oh,perawat pribadi yang dimaksudkan bapak,ya?"
"Silakan duduk,dari penyalur mana?"
"Sudah berapa lama bergelut dalam pekerjaan seperti ini?"
Hilya mengatur napas berat.Dirinya tampak mulai jengah dengan pertanyaan bertubi-tubi dari wanita itu namun sedikitpun tidak membuatnya mengerti arah pembicaraannya,"Baik,tante."Meski bingung Hilya tetap menganggukkan kepalanya,"Saya..."
"Dia gadis yang papa maksudkan sewaktu pulang dari Tanjung Benoa Water Sport beberapa minggu lalu."Suara berat pria paruh baya itu tiba-tiba saja memotong bicaranya.Tampak jelas gurat penuh beban di wajahnya yang bersih namun kusut.
"Oh,tenaga sukarela,rupanya.Baiklah silakan saja,nak.Nanti dipandu sama perawat senior yang lainnya."Wanita minim senyum tersebut tampak berucap sembari manggut-manggut.
"Ya,dia akan bekerja selama kita sedang berurusan di luar rumah."Tambah sang pria tersebut kepada isterinya.
Kini dirinya hanya bisa terpana dan pasrah menanggapi pembicaraan kedua orang tua tersebut.
"Whattt?....,bagaimana bisa merawatnya kalau dia saja seorang pria,dan bukan muhrimku?"gumamnya penuh protes namun tidak kedengaran.
"Jadilah temannya,sampai aku kembali."Suara berat sang bapak kembali terdengar menggema,"Perawat ahli yang menangani semua kebutuhannya akan membantumu menyelesaikan segala hal yang menyangkut dirinya."
"Kau cukup menemaninya,sebentar saja."
"Dan kau baru akan diperbolehkan pulang setelah aku kembali."lanjutnya panjang lebar dengan mimik yang susah ditebak.
Jadi,sang bapak paruh baya itu secara sepihak telah menjadikan dirinya sebagai asisten pribadi untuk menjaga puteranya.Ya,anak yang pernah ia ceritakan kepadanya sewaktu mereka bertemu di pantai.
Sementara Hilya yang awalnya mengira bahwa,dari cerita sekilasnya waktu itu,anak sang bapak adalah seorang gadis seperti dirinya.Itu sebabnya ia memantapkan keputusannya untuk menyetujui ajakan pria tersebut,sekedar untuk mengunjungi kediamannya.
Ya,minimal demi menyenangkan hati sang bapak.Akan tetapi kenyataannya saat ini,sang anak adalah seorang pria muda yang seumuran dengan dirinya atau malah sebelas duabelas dengan suaminya,Danang.
Apesnya lagi,Hilya tidak bisa melayangkan bantahan atau sekedar berpendapat untuk meminta kesediaan bernegosiasi.
Lidahnya terasa kelu,bagai terbelit ikatan tak kasat mata,manakala melihat sang bapak yang tampak ngotot dan menyebalkan namun penuh permohonan,begitu juga sang ibu yang tampak minim senyum namun penuh harap.
Apalagi saat melihat sosok tidak berdaya dengan mata yang memejam sempurna.Seakan memiliki daya tarik yang luar biasa dan meminta segera disapa oleh bibir ranumnya.
"Cukup kau kabarkan kepada orangtuamu bahwa kau akan merawat salah seorang temanmu yang lagi sakit,di rumahnya."
"Tapi,tuan."
bla bla bla....
Hilya menghela napas berat.Harapan untuk mendapatkan belas kasihan dari sang bapak ternyata hasilnya'jauh panggang dari api'.Bukannya mendapat respon baik,malah dicecar dengan kalimat pedas yang menohok hati dan jantungnya secara manusiawi.
"Jika seseorang dalam kesulitan lalu meminta pertolongan,maka tidak butuh kompromi di saat itu,"
"Karena suasananya,gen-ting.Tolong pahami,itu."
"Di mana letak naluri kemanusiaan anda,jika masih saja tawar-menawar pada orang yang sudah tidak berdaya di depan mata?"
Wuuuzzzzzz!
Bagai gemuruh menyambar di siang bolong.Bukan soal tawar menawar lalu banting harga,atau bahkan sekedar basa-basi penolakan demi melepas beban,akan tetapi soal dirinya yang bukan berstatus gadis dan bebas menentukan jalannya sendiri.Dia punya suami yang tengah berpergian jauh yang patut dijaga kesetiaan janjinya.
"Jika ke mana-mana,jangan lupa kabari aku."Danang mengingatkan sebelum berangkat.
Dari pelaksanaan awalnya saja,sudah jauh berseberangan dengan pesan sang suami.Hilya telah melanggar perkataan suaminya dengan keluar rumah secara diam-diam lalu mulai menambah dosa baru di saat ia mulai melangkah masuk ke rumah asing yang tidak dikenal siapa penghuninya,tanpa sepengetahuan pria yang bertanggung jawab penuh terhadap hidup dan matinya,yaitu suaminya sendiri.
Ah,sungguh.Apa ini hukuman yang harus ditanggung akibat kualat pada suami sendiri,pikirnya frustrasi.
"Ingat satu hal,jangan pernah mengatakan keberadaanmu di sini kepada siapapun,apalagi mengajak orang lain masuk ke rumah ini."Ucapan pelan namun bisa di pastikan sebagai sebuah peringatan keras.'Ah,bisa mati berdiri haku kalau gini,'gumamnya kesal,"Untung dalam masa liburan semester,kalau tidak bisa kacau."lanjutnya merutuki diri sendiri.
Hufftt
Hilya masih uring-uringan sendiri hingga menjelang siang.Entah apa yang bisa ia lakukan dengan pengetahuan yang minim soal merawat pasien tidak berdaya seperti ini.Kini ia benar-benar terjebak dalam kesalahannya sendiri,mengiakan suatu perkataan sebelum bertanya terlebih dahulu.
Dosa apa,sampai harus menanggung penderitaan sebesar ini.Bukankah niat baiknya hanya untuk memenuhi ajakan pria tak dikenalnya itu,sekedar berkunjung demi menghibur anak gadisnya yang sedang sekarat.Akan tetapi kesalahan terbesarnya itu,malah membawanya pada sebuah tugas berat yang ia sendiri sangat ragu,apakah ia mampu menjalaninya atau tidak sama sekali.
Kini kesabarannya tengah diuji.Seperti kata orang,menyerah sebelum berbuat sama artinya dengan kalah sebelum berperang.Ah,masa bodoh dengan penilaian tidak bermutu serupa itu,rutuknya kesal.
"Maaf,nona.Tuan dan nyonya berpesan agar saya mengantarkan makan siang untuk anda,"ucap seorang asisten yang baru muncul dari balik pintu.Namun bukan orang yang pernah ia temui sebelumnya.
"Jangan takut,nona.Di sini,semua makanannya halal dan steril tanpa keraguan."tambahnya seakan memahami kegusaran hati Hilya,"Tuan besar menerapkan pola makan sehat setiap hari buat keluarganya."lanjutnya setelah beberapa saat mendapati gadis itu hanya melongo menatapnya tanpa kedip.
Hilya bersusah payah menelan saliva yang sebentar lagi akan melukai tenggorokannya sendiri.Baginya saat itu saliva berasa batu.Ingin menolak pemberian orang ini,perutnya sudah terlanjur keroncongan.Ingin menerimanya,takut diracuni.Tepat posisinya bak buah simalakama.
Ah,daripada mengambil resiko menahan lapar lalu penyakit lambungnya kumat,lebih baik makan saja.Toh jika ia keracunan gara-gara menu beracunpun pasti orang-orang ini juga akan mendapat karma yang setimpal dari Tuhan,pikirnya pasrah.
"Selamat makan."Sapanya ragu.Untuk pertama kalinya ia menyapa pasien yang tengah terbaring sunyi di depan matanya dengan wajah sendu.Hilya menyantap makan siangnya dengan lahap sembari memperhatikan wajah pemuda yang terbujur itu dengan saksama.
"Kayak pernah lihat,"gumamnya penuh seringai candaan sekedar menghibur perasaan hati nan gundah gulana.
Usai makan siang,Hilya memilih memindai seisi kamar yang kini hanya ada dirinya dengan sang pasien.Sejenak matanya bertembung pada huruf kaligrafi indah terpajang di salah satu sisi dinding kamar yang menyerupai huruf Arab,"Ya,memang huruf Arab,"gumamnya memperbaiki kesalahan berpikirnya sendiri sembari terkikik geli.
Beralih ke pajangan dinding kamar di sisi yang lain,di mana foto-foto zaman bocah tampak terpajang apik di sana.Ada foto orangtua yang diyakininya sebagai pasangan masa muda orang tua tak dikenalnya tadi.Lalu dua orang tua lagi yang tidak dikenal atau lebih tepat seperti pernah melihatnya namun masih samar dalam ingatannya.
Lalu berdiri di depan mereka dua orang bocah lelaki yang salah satunya diyakini sebagai pemuda yang kini tengah pulas.Lalu yang lainnya mungkin kakak atau adiknya.Lalu seorang lagi bocah perempuan imut yang tampak lucu dan menggemaskan.Pasti adik bungsu mereka,tebaknya asal.
Berbagai macam aktivitas pengusir rasa bosan telah ia lakukan seharian suntuk.Kini waktu telah menunjukkan matahari mulai terbenam.Sementara dirinya masih saja terkurung di dalam kamar asing bersama pasien tak dikenalnya.Sementara pasangan tua misterius tadi tak kunjung menunjukkan batang hidungnya.
Padahal dirinya sudah meninggalkan rumah sejak pagi.Apakabar Juna dan bibi Nunung.Wanita itu pasti sudah sangat khawatir pada ketidakpulangan dirinya,karena Juna pasti sudah bertanya-tanya perihal dirinya sejak tadi.
Lalu apakabar suaminya saat ini.Dia bahkan belum sempat bertukar kabar dengan Danang seharian ini.Sekedar menyapa saja tidak sama sekali.Pasti Danang bakal kesal jika mengetahui dirinya sedang tidak berada di rumah saat ini.
Hilya memejamkan mata penuh frustrasi.Sesaat yang lalu,ia mengecek ponsel miliknya,dan mendapati tulisan angker yang tertera di layar siaga,lima panggilan tak terjawab dari 'My Hubby'.
"Tamat riwayatmu,Hilya!"Gerutunya stress sembari meninju angin.
.....
Bersambung....
🤗🤗🤗