I Need You

I Need You
Senyum Sekali Saja



Hotel Puteri Dania....


Danang membawa Hilya ke Puteri Dania ballroom hotel,disusul oleh segenap keluarga dari kedua belah pihak.Danang dan Hilya kini sudah berada di kursi pelaminan.Beberapa kerabat dan kolega juga sudah mulai berdatangan.Satu persatu tamu undangan menyalami kedua mempelai dan mengucapkan selamat,semoga menjadi keluarga sakinah mawaddah warahmah.


Di acara ramah tamah itu,tampak keluarga Jayahadi dan juga keluarga Farhan Haditama yang turut hadir.Masing-masing datang bersama isteri dan anak-anak mereka.Keluarga Jayahadi terlihat lebih dahulu melenggang masuk ke arena pelaminan.Disusul oleh keluarga Farhan Haditama.


Tuan dan nyonya Jayahadi memandang intens gadis yang bernama Hilya.Senyum semringah memancar di wajah mereka saat mengetahui Hilya yang menjadi mempelai wanitanya,


"Hay!....,akhirnya.Puteri tante ini,ada yang jagain."ucap nyonya Jayahadi turut berbahagia.


"Terima kasih tante."jawab Hilya tersipu malu.


"Om malah sempat pangling lihat mempelai wanitanya.Rupanya kamu nak,semoga langgeng ya."timpal tuan Jayahadi tertawa kecil,setelah usai bercengkerama ria dengan Danang.Pria itu tidak pernah menyangka jika Danang sampai menyunting anak gadis yang menjadi sahabat dekat puterinya Nuha Izz.


"Danang,selamat ya nak."suara tuan Farhan Haditama ikut meramaikan suasana.Tampak sang isteri juga ikut disamping suaminya.


"Ya,paman,bibi.Terima kasih banyak karena sudi mampir."balas Danang santun.


"Ihh....,sayang.Semoga SAMAWA ya...,aku rindu berat Hilaf."serang Nuha Izz berjingkrak kegirangan.


Ia bahkan lupa kalau disampingnya ada pemuda monster yang pernah mengancamnya hanya gara-gara membela Hilya.Gadis itu tersenyum lebar merentangkan kedua tangannya,meraih sahabatnya yang tampil cantik dan anggun itu kedalam pelukan hangat.


"Kau tahu Hilaf,apa saja yang kau kenakan di tubuhmu,akan terlihat sangat cantik."decit Nuha Izz.


Hilya mengurai pelukan setelah cukup lama mereka saling melepas rindu.Gadis itu tersenyum malu sembari memberi isyarat kepada sahabatnya,bahwa tidak hanya mereka berdua di sana,melainkan ada Danang juga yang tengah memandang datar ke arah mereka.Nuha Izz seketika menoleh.Ia baru menyadari jika Danang memang sedang memperhatikan dirinya dan juga Hilya.Nuha tersenyum ragu rada salah tingkah.


"Hilya sayang,kalau aku perhatikan baik-baik,suamimu itu bukan cuma imut saja,tapi juga sangat tampan,Hilaf.Semoga saja dia bukan seorang monster yang berkedok pria tampan."bisik Nuha Izz ke telinga Hilya sembari melirik ke arah Danang yang sedang tersenyum menyambut beberapa tamu yang menyambanginya.


Mendengarnya,Hilya sukses terbelalak.Ia bahkan tidak menyangka,bagaimana mungkin Nuha sampai memuji Danang yang kasar,angkuh dan juga temperamen.Entah dilihat dari sisi mana jenis tampannya,Hilya sendiri tidak mengerti.


"Hhh...,kau puji saja dia.Aku bahkan tidak tertarik."


"Hushy!...,gitu-gitu suamimu juga Hil.Kau harus tunduk padanya.Aku doakan semoga malam pertamamu berjalan mulus."


"Ck,Kau?!"sentak Hilya dengan tatapan menerkam.


Nuha Izz tergelak riang,


"Oh ya,Hilya.Aku kemari demi kau dan Juna.Kau tahu kan kalau aku belum pernah bertemu dengan Junamu itu.Apa dia juga kemari?"tanya Nuha Izz ingin tahu.


Ya,Hilya memang selalu menceritakan perihal Juna kepada sahabatnya itu.Entah kenapa,Nuha seakan tertarik dengan kisah anak angkat sahabatnya.Hilya memang tidak pernah membeberkan permasalahan yang terjadi di antara ayah dan ibu Juna.


Akan tetapi Hilya hanya menceritakan garis besarnya saja,bahwa sepupunya meninggal saat melahirkan puteranya itu.Sedangkan ayah sang Juna meninggal dalam sebuah kecelakaan.Satu hal yang miris di pendengaran Nuha.Ia bahkan penasaran dan ingin sekali melihat bocah malang itu.Dua kali mengunjungi rumah Hilya,tidak membuatnya berhasil menemui bocah tersebut karena di saat kehadiran Nuha di sana,Juna pergi berlibur ke kota bersama pamannya Helmy Afindra.


Hilya mengangguk,"Ya,Junaku ada bersama ibu."


"Ah,ya.Aku ingin bertemu dengannya sekarang juga."balas Nuha sembari melangkah pergi setelah bersalaman sekenanya saja dengan Danang.Entah kenapa keinginan hati gadis itu untuk bertemu dengan bocah kecil Juna sudah menggebu-gebu sejak pertama kali mendengar namanya.


Sikap Nuha Izz yang acuh tak acuh padanya ini sukses membuat Danang terpancing.Sorot matanya menunjukkan ketidaksukaannya terhadap Nuha.Padahal kebenarannya adalah,saking menggebunya keinginan gadis itu untuk segera bertemu dengan Juna membuatnya lupa kalau ia sedang berhadapan dengan pemuda yang pernah bermasalah dengan dirinya dan Hilya.


"Ck!"


Hilya melirik ke arah Danang yang berdecak menatapnya tanpa ekspresi.Gadis itu menjadi salah tingkah,merasa sudah berlebihan kelakar dengan sahabatnya Nuha,membuat mereka lupa pada aturan mainnya yaitu tentang peringatan yang pernah diberikan pemuda itu sebelumnya,


"Maafkan temanku."ucapnya gugup.


Danang menyorot mata gadis itu dengan sebuah tatapan menohok,


"Sepertinya kau harus me_"


"Hei,bro!....,akhirnya kau menikah juga."suara berat seseorang di antara barisan para kerabat menggelegar memecah ruang.Secara tidak langsung telah menyelamatkan Hilya dari mulut pedas Danang.


"Karin tidak ikut kemari,kami bahkan tidak mengetahui jika kau akan menikah.Aku saja baru mendapat undangan khusus dari paman Imran setelah aku mengunjunginya tadi malam."jelas Diego menyesal.


Diego datang bersama sepupunya Haidar.Namun Haidar sudah lebih dulu muncul sebelumnya karena Diego sengaja ingin membuat kejutan kecil kepada sahabatnya itu.


Danang mendengus kecil,


"Ya,maaflah bro.Soalnya semua serba dadakan."


"Oh ya,iparku sangat santun.Aku melihat kemurnian di balik sorot matanya."


"Ya,aku tahu kalau pilihan kita selalu sama,tapi jangan yang ini.Stop lama-lama memandanginya.Awas kalau sampai kau mengalihkan perhatiannya."


"Shit!...,kau pikir aku ini apa?....,perebut isteri orang,begitu?"


"Apa yang tidak mungkin bro,sama halnya kau merebut Karin dariku bukan?"


Kedua pemuda itu akhirnya tertawa pecah.Bahkan sampai mengusik Hilya yang tengah sibuk bercengkerama ria dengan beberapa tamu,termasuk seniman Joshua.Hilya melirik ke arah dua pria yang tertawa lepas.Satu hal yang menjadi perhatiannya saat ini adalah tawa dari suaminya.


Gadis itu tertegun,baru kali ini ia melihatnya tertawa lepas begitu.Ah,andai tawa itu ditujukan kepadanya,atau minimal sekali senyum saja tidak menjadi masalah buatnya.Terbesit di hatinya akan sebuah harapan bahwa suatu saat nanti,pria akan tersenyum untuknya walau sekali saja.


Hilya baru tersadar jika kesenduan matanya itu sedang disoroti oleh pemuda asing penuh kharismatik yang bernama Diego itu.Maka segesit mungkin ia mengalihkan pandangan ke sembarang arah,untuk menghindari adu tatap dengan pemuda asing tersebut.


Sementara ketika Danang dan Diego tengah asyik becanda ria,Joshua yang tiba-tiba muncul di depan Hilya,menatap sendu wajah cantik yang disolek dengan riasan pengantin.Tampak hatinya sangat teriris.Matanya juga kelihatan sembab.Mungkin saja ia sedang kelilipan,menurut Hilya.Pemuda itu tak kuasa menahan rasa di dada hingga akhirnya sebutir air mata ikut lolos begitu saja saat ia menyapa Hilya dengan nada serak dan lirih.


Joshua menghela napas pelan,


"Kenapa Hil,kenapa kau tidak cerita kepadaku, soal kejadian yang memaksamu menjadi pengantin dadakan?"


"M_maafkan aku Joe,aku tidak bermaksud menyembunyikannya darimu.Aku hanya tidak ingin membuatmu terluka jika mendengarkan itu."


"Lebih baik kau membenciku karena aku menolakmu dengan alasan aku tidak mencintaimu."


"Itu sama saja dengan bohong.Nuha sudah memberitahuku,dan meminta kepadaku agar tidak lagi berharap kepadamu.Ya,aku mengerti.Tapi satu hal yang membuatku merasa berat melepasmu....,"


"itu ketika aku mengetahui bahwa ternyata perasaanmu kepadaku juga telah tumbuh bersemi di hatimu.Kenapa cinta sangat tidak adil bagi kita yang siang malam selalu menanti kehadirannya,mengapa pula cinta begitu menyiksa kita Hilya?"


"Joe,jangan dibahas lagi.Semuanya sudah terlambat.Ikhlaskan kepergianku.Aku yakin setelah ini kau akan menemukan wanita yang lebih baik dariku.Dan paling utama adalah dia itu cinta sejatimu."balas Hilya bijak dengan tatapan berkaca-kaca.


Joshua hanya mengangguk patuh,


"Aku doakan semoga kau bahagia.Jika tidak maka aku,tidak akan segan-segan merebutmu kembali.Aku tidak peduli meski statusmu telah menjadi seorang isteri."ucapnya memberi peringatan,


"Maka berjanjilah kepadaku untuk selalu bahagia."lanjutnya lirih sembari menggenggam kepalan tinjunya sendiri.Sesaat sebelum beranjak dari hadapan Hilya,pemuda itu menyempatkan diri untuk memeluk tubuh gadis itu.Pemandangan kali ini tidak luput dari sorot mata elang milik Danang.


Menjelang senja,acara ramah tamahnya telahpun usai karena sesuai dengan jumlah tamu yang sudah dikhususkan.Para tamu mulai beranjak dan keluarga besar Hilya juga pulang ke rumah.Termasuk tuan Imran bersama nyonya Andin dan juga Dania.Mereka memilih untuk tidak menginap di hotel tersebut karena ingin memberi waktu kepada sepasang pengantin itu bisa menyesuaikan diri tanpa gangguan apapun.


Danang dan Hilya sudah kembali ke kamar untuk berganti baju dan membersihkan diri.Hilya kini tampil cantik dengan balutan cocktail dress yang simpel namun memberi kesan elegan di tubuh langsing Hilya.Seperti kata sahabatnya Nuha Izz,postur dan kulit tubuh gadis itu memang cocok dengan pakaian jenis apapun.


Awalnya,Danang menyuruh gadis itu untuk berdandan agar mereka segera berangkat ke rumah bapak Haryadi,namun karena mengingat hari telah malam dan perjalanan yang memakan waktu cukup lama,maka ia terpaksa membatalkan perjalanan mereka dan memilih untuk beristirahat semalam di hotel.


Malam itu Danang dan Hilya melewati makan malam bernuansa romantis yang sudah dipersiapkan oleh pihak hotel atas perintah dari sang papa.Kedua anak muda itu tetap menjalani apa yang sudah ditetapkan oleh orangtua mereka,tanpa perlawanan ataupun keluhan.Keduanya tampak menikmati momen tersebut.Namun dalam rasa yang berbeda meski masing-masing tidak menunjukkan sikap membangkang.


Malam pertama suami isteri itu dilewati dengan biasa-biasa saja.Danang memilih bergelut dengan benda pipih di tangannya.Sedangkan Hilya memilih membongkar tugas kuliahnya melalui whatsapp group sesama jurusan.


••••


Bersambung...


🤗🤗🤗