
Di kamar....
Hilya merebahkan kepala ke atas meja belajarnya.Gadis itu tidak habis pikir soal ucapan Prisil Amanda di kampus siang tadi.Entah dari mana Prisil mendapat tahu jika dirinya sempat digeret Danang ke pojok toilet waktu itu.Seakan setiap ucapan Danang saat itu bisa sangat jelas diulang kembali oleh gadis bar-bar tersebut.Apa mungkin Prisil ada di sana waktu itu.
Belum juga selesai memikirkan ucapan Prisil tentang pertemuan di galeri seni itu,tiba-tiba Danang muncul dari balik pintu.Pemuda itu melangkah panjang mendekati dirinya yang lagi malas-malasan di meja belajar.Sesaat semuanya tampak biasa-biasa saja.Danang yang memiliki kebiasaan suka mengajaknya adu urat di setiap ada kesempatan,membuat Hilya sudah tidak terkejut lagi dengan kehadirannya saat itu.
Satu tarikan saja di lengan berhasil menyentak dan membawa tubuh gadis itu berdiri menghadap suaminya yang kini menatapnya tajam.Hilya terkesiap.Ada masalah apa lagi yang membuat suaminya ini tampak perlahan mulai membekukan wajah di depannya.Tangannya masih mencekal lengan sang isteri.
"Lepaskan aku,kau sungguh tiada capek-capeknya menyakitiku."
Sentakan Hilya membuat Danang kehilangan kesabaran.Belum juga sempat ia berbicara,Hilya sudah menyekatnya dengan ucapan membela diri.Menyadarinya,pemuda itupun mendengus kasar.
"Kau mulai melawanku?"
Danang menyeringai sinis,menghujam tatapan penuh amarah ke arah Hilya.Menangkup erat kedua lengan isteri cantiknya dan mencekalnya begitu saja.Semakin erat dan menambah rasa sakit di tubuh gadis itu.Tatapan elangnya seketika menghujat menjadi gelap.
Danang sukses mengertakkan rahang,
"Kenapa?!...,apa karena kekasih pecundangmu di kampus tadi,hah?
Hilya masih berusaha memberontak,
"Aku hanya ingin menghindar dari cekalan kasarmu,itu saja."Hilya berusaha melepaskan dirinya.
"Apa dia yang mengajarkanmu supaya menolak jika aku berkontak fisik denganmu,hah?"
"Kau ini,bicara apa?"
"Oh,rupanya kau lebih menikmati jika tubuhmu ini diramas dan didambakan...,"tangannya ikut meramas area sensitif bagian dada.
"oleh lelaki yang sama liarnya dengan dirimu seperti di kampusmu tadi kan?"lanjutnya menyentakkan tangannya ke udara.
"Jawab Hilya!"Kembali mengguncang keras tubuh langsing gadis yang masih mematung di depannya.
Lagi-lagi Hilya terperangah.Bagaimana mungkin Danang bisa semarah ini kepadanya.Sampai mengasari tubuhnya seperti yang baru saja terjadi.Lalu kejadian di kampus tadi,siapa yang membocorkan kepadanya.Padahal setahu Hilya,mobil Danang langsung melesat begitu saja setelah ia keluar dan benar-benar menutup kembali pintu mobilnya.
Seakan mampu membaca pikirannya,pemuda itu menyeringai sinis,
"Hhh....,kau pikir aku sebodoh dirimu yang licik ini?"
"Aku bahkan punya bukti perbuatan mesummu dengan lelaki bejat itu."Danang beranjak sesaat ke atas nakas dan meraih benda pipih miliknya yang ia letakkan sebelum pergi menghadap sang mama di balkon tadi.Lalu kembali lagi dengan membawa sebuah bukti berupa foto di mana Joshua menangkap jemarinya dan menatapnya lekat penuh cinta yang memendam.
'Matilah anak ayam.'batin Hilya merutuki dirinya sendiri.
"Jangan berlagak sok polos,seakan kau seorang gadis virgin,"tukasnya penuh amarah,
"Cih!..,padahal kelakuanmu di luar sana tidak sesuai ketentuan agama."
Hilya merasa benar-benar terpojok.Kali ini ia tidak bisa melawan seperti biasanya.Karena kemarahan Danang telah memuncak melebihi hari-hari sebelumnya.Gadis itu hanya bisa meluapkan kemarahannya dengan derai air mata yang tak terbendung.Baru saja ia ingin beranjak dari hadapan suaminya,mendadak lengannya ditarik paksa oleh Danang.Satu dorongan kecil sukses membuat tubuh langsing itu terhuyung.
"Katakan,berapa dia membayarmu untuk sekali tidur?"Menangkapnya kembali ke dalam pelukannya,
"Aku akan membayarmu lebih dari itu agar aku bisa meminta hakku sekarang juga,"bisik Danang lirih ke telinga Hilya sembari meniupkan aroma birahi yang kian menguar.Membuat gadis itu seketika menggeliat.Danang semakin gencar mengunci kepala isterinya lalu menyerang bibir ranum itu dengan sebuah kecupan hangat penuh napsu.******* kenyal bibir indah dan merekah yang hanya bisa ia pandang setiap harinya.
Hilya yang masih mematung,juga ikut merasakan sensasi luar biasa yang menyengat rasa.Melesat masuk melalui pembuluh nadi,menerobos ke liang jiwa yang kosong.Seakan membakar jiwa itu hingga panasnya ikut menjalar ke sekujur tubuh yang menerima respon secara normal.
Hilya gadis normal yang tidak mampu menahan gejolak yang tersulut begitu saja.Ia bahkan sempat terseret ke dalam arus birahi yang disulut oleh suaminya sendiri.Serasa bagai dihujani rintik salju dan membuat semua dunia halusinasinya melayang terbang menghiasi jiwa dan raganya.Nikmat.
Entah kenapa malam itu aroma maskulin yang menguar dari dada bidang suaminya tersebut mendadak begitu menggoda.
Padahal aroma khas milik suaminya itu sudah terbiasa ia rasakan di setiap harinya termasuk saat satu ranjang bersama dengannya.Ah,ada apa ini,kenapa rasanya begitu menyatu dengan pusaran napas hangat dan wangi segar yang menggetarkan jiwa.
PLAKKK
Satu tamparan keras mendarat begitu saja di pipi Danang.Pemuda itu tampak meringis memegang pelipisnya yang kesemutan.Sorot mata elangnya nyalang seakan ingin menerkam tubuh gadis itu dan membawanya ke ranjang.Namun seketika itu juga ia urungkan.
"Kau ingin hakmu?...,ambil!...,aku tidak melarang."Hilya memukul kasar dada bidang suaminya yang telah berhasil memporak porandakan jiwa dan raganya itu.
Gadis itu serta merta menghunuskan tubuhnya kepada Danang dan memksanya untuk menjalankan kewajiban suami isteri.
"Tapi apa kau pernah memikirkan ucapanmu sebelum kau lontarkan?"
"Aku benci sifatmu yang tidak peka.Kau sengaja membuat diriku tampak hina di matamu.Kau kasar dan arogan.Kau mengubur hatimu dengan alasan tertentu yang hanya kau sendiri yang mengetahuinya,"menyelami tatapan sorot elang itu,
"Aku benci kau!"
Hilya melampiaskan amarahnya kepada sang suami dengan menghujam pukulannya ke dada bidang itu berkali-kali.Danang membiarkan hantaman yang tidak seberapa dengan rasa sakit yang melanda di hatinya itu terjadi tanpa ekspresi apapun,hingga akhirnya gadis itu lemas tidak berdaya,dan memilih berlari ke kamar mandi dan mendekam di sana berjam-jam.
Berkali-kali Danang menyugar rambutnya,frustrasi.Bibir itu tak henti-hentinya mengumpat kesal.
"Ck!"
Sejak awal,Danang memang sering mengancam Hilya untuk segera membuktikan kesalahannya.Hal itu yang menjadi salah satu alasan mengapa Hilya menolak untuk menerima nafkah batin.Karena mengingatnya saja hanya akan membuat hatinya perih bagai teriris sembilu berbisa.
'Perasaan apa ini,salahkah jika ia muncul?'gumamnya sembari memeluk kedua kakinya.
Sebak..
Malam kian larut...,
Danang duduk termenung di sebuah night club milik salah satu teman dekatnya bernama Jefry,yang juga adalah sepupunya sendiri.Tempat itu memang sudah tidak pernah ia kunjungi semenjak peristiwa tragis yang menimpa calon isterinya,Lian.
Bukan karena tidak menyukainya,tapi Danang hanya ingin membuang semua kenangan yang pernah ia lalui bersama dengan mendiang Lian.Entah kenapa,malam ini ia ingin sekali mendatanginya,paling tidak untuk menenangkan hatinya yang sedang terluka.
Teringat kembali kenangan bersama mendiang Lian saat mereka duduk bersama bercengkerama ria membahas masa depan mereka sembari menikmati segelas cocktail.Danang sudah terlanjur tidak mempermasalahkan kebiasaan mendiang calon isterinya itu.Tapi peristiwa tragis itu membuatnya takut untuk menerima kekurangan Hilya.Justeru melihat Juna memanggilnya bunda saja ia sudah merasa terluka.
Ucapan terakhir Hilya membuat dirinya gagal fokus.Diam-diam pemuda itu membenarkan ucapan sang isteri,'Kau mengubur hatimu dengan alasan tertentu yang hanya kau sendiri yang mengetahuinya.'
"Sekali ini saja,minumlah."
Suara Jefry menggelegar melawan bunyi musik yang meledak-ledak.
Danang bungkam.Matanya tidak beranjak dari gelas berisi minuman cocktail yang sengaja ia pesan.Untuk mengenang Lian kah,ia sendiripun tidak mengerti dengan hatinya saat ini.
"Kenapa tidak kau cari saja bukti di kamar hotel itu?"
Gelegar suara Jefry lagi-lagi menghantam gendang telinganya.Jefry mengtahui banyak soal masalah dirinya dengan Hilya.Meskipun jarang ke tempat itu,Danang dan Jefry masih sering berjumpa di kafe langganan sekedar untuk menikmati kopi hitam kesukaan mereka.
Dari sinilah Jefry mengetahui permasalahan yang terjadi di antara sepupunya itu dengan Hilya.
Menurut Jefry,pernahkah sekali saja Danang berusaha mencari tahu apa yang menjadi pemicu yang membuat mereka terjebak di kamar terkutuk itu lalu akhirnya memaksa mereka untuk menikah.
"Pernah kau berniat untuk mengusutnya?...,tidak kan.Itu karena kau puas melimpahkan semua kesalahan itu kepada isterimu."menepuk punggungnya,
"Karena pada dasarnya kau memang membenci dirinya dengan alasan yang sengaja kau ciptakan sendiri.Dia tidak salah.Hanya perasaanmu itu saja yang diam-diam telah melukai kalian berdua."lanjutnya bijak.
•••••
Bersambung...
🤗🤗🤗