
Happy reading 😍📖
Saat memasuki pintu pertama area hotel,Hilya kehilangan jejak suaminya.Gadis itu melangkah sangat hati-hati menuju ke meja resepsionis.Ia memutuskan untuk bertanya tentang sesuatu di sana.Siapa tahu ada pertanda yang menunjukkan keberadaan sang suami.
"Maaf,apa tadi ada seorang pria jangkung yang lewat di sini?"
"Ya,banyak bu.Apa ada tanda pengenal untuk seseorang yang ibu cari?"
"Hanya sebuah foto,boleh?"
Resepsionis mengangguk,lalu Hilya menyodorkan ponselnya kepada gadis resepsionis tersebut.
Petugas resepsionis itu tampak memindai wajahnya sesaat,lalu berpikir sejenak.Kemudian iapun mengangguk,
"Dia putera salah satu pimpinan dewan direksi kami,bu."petugas itu menerangkan,"Jika ibu ingin bertemu dengannya,"menunjukkan arah jalan lift,"bisa langsung ke lantai 25,gedung ini,"lanjutnya sembari tersenyum ramah.
Hilya mengangguk mantap,dan bergegas menuju ke lift setelah mengucapkan terima kasih.Tidak berapa lama kemudian,Hilya melangkah keluar dari lift dengan hati-hati.Suasana yang tadinya penuh keramaian dan lalu lalang,kini berubah menjadi sepi,seakan tak berpenghuni.
Gadis itu berjalan melewati petakan meja karyawan divisi personalia dan juga HRD yang masih sepi.Hanya beberapa pegawai yang tampak sibuk memandang layar komputer milik mereka.Seakan tidak terpengaruh dengan kehadiran dirinya di sana.
Ah,begini rupanya suasana kerja di kantoran.Semuanya rada sibuk,tiada waktu buat hura-hura,tenaga dan pikiran terkuras hanya untuk memikirkan beban pekerjaan.Sepertinya asyik juga jadi karyawan hotel,pikirnya sembari tersenyum sendirian.
'Ah,tapi bakal tersita juga nih waktu buat keluarga.'gumamnya dengan ekpresi bergidik ngilu.
Untuk sejenak,ia melupakan niat awalnya mencari keberadaan sang suami.Kini matanya tengah bergerilya mengamati cara kerja karyawan hotel yang menggunakan sistem pemaksimalan ruangan.
Maka demi untuk mencapai kesinambungan dan sependek-pendeknya waktu penyelesaian pekerjaan,pihak hotel menetapkan urutan rangkaian kerja secara vertikal dari atas ke bawah dengan didukung oleh alat-alat kantor yang dirunut sesuai fungsi.
Membayangkannya saja,membuat gadis itu rada meringis.Apalagi jika mendapat atasan yang temperamen dan arogan seperti...,suaminya itu,pikirnya.Hilya bahkan tidak pernah bermimpi untuk menjadi pegawai kantoran.
Ia justeru bermimpi ingin menjadi seorang master chef yang ingin membuka restorannya sendiri.Dengan segenap kelebihan memasak yang ia miliki,ia berharap bisa menciptakan menu-menu baru yang rasanya khas dengan mempertahankan bumbu tradisional yang ia racik sendiri.
'Jadi penikmat dapur,sepertinya lebih baik.'batinnya tertawa geli.
Entah itu bentuk dari cita-cita ataukah hanya sekedar mimpi anak kampung seperti dia,yang jelas harapan dan usaha Hilya tidak pernah surut untuk satu hal ini.Buktinya dia rela bekerja di dapur restoran DS milik papa Imran hanya untuk mencuri ilmu tentang dapur internasional.
Langkah Hilya terhenti di depan pintu ruang owner yang tertutup.Ada satu ruang yang hanya dibatasi sekat.Tampak deretan rak arsip yang menjadi ciri khas dari ruang sekretaris,
'Jadi ini meja kerja Dania Puteri.'gumamnya takjub.
Belum hilang rasa penasarannya,Hilya memilih memasuki ruang owner yang menurutnya akan lebih seru mendapatkan informasi dari sana.Suasana di ruang istimewa itu tidak jauh berbeda dengan ruang milik papa mertuanya di Adhytama Star Group.
Ya,ruangan dengan pemilik yang pertama kali menjeratnya dengan sanksi menikahi puteranya sebagai bentuk konsekuensi dari kesalahan fatal yang tidak sengaja ia lakukan.Dari segi penataan letak dan dekorasi ruangan,dan juga perlengkapan yang ada,semuanya nyaris sama.
Hanya satu yang terlihat berbeda dan membuatnya sukses terpana adalah di ujung ruangan sana,ia melihat sosok yang sangat ia kenal sedang mendekap hangat seorang wanita asing yang tidak ia kenal.Sosok yang tidak lain adalah suaminya sendiri.Hilya mendapati Danang tengah mendaratkan ciuman ringan di pucuk kepala wanita muda tersebut.Dan yang lebih menakjubkan adalah suaminya malah sampai terisak di bahu wanita itu.
'Ah,chemistrynya dapat,'gumamnya nelangsa.
Siapa wanita itu,mengapa Danang begitu lengket bersama dengannya,dan kenapa Danang terlihat sangat berbeda saat bersama dengan wanita itu.Hilya menangkap kelembutan yang terpancar dari dalam diri suaminya yang sedang rapuh di hadapan wanita asing itu.Sekilas terlihat wanita itu sangat cantik dan sempurna tanpa cela sedikitpun.
Danang tidak habis mendaratkan ciuman bertubi-tubi di kepala dan kening wanita itu.Begitu tulus dan mengalir bagai air yang tenang.Sangat intim di mata Hilya.Tidak seperti yang pernah ia lakukan kepadanya.
Setahu Hilya Danang pernah melakukan sesuatu kepadanya,seperti ciuman bibir,tapi dalam keadaan yang terpaksa dan disengajakan.Lebih tepatnya hanya untuk membalas dendam atas tudingan kesalahan yang ditujukan kepadanya itu.
Jujur,sakit juga hati ini.Lebih tepat dibilang terluka.Di depan suaminya sendiri oa merasa terabaikan.Hilya mencoba kuat dan membujuk hatinya sendiri,bahwa pernikahannya dengan Danang bukan atas dasar cinta.Jadi tidak seharusnya ia merasa sakit hati,apalagi sampai terluka melihat pemandangan tersebut.
Toh,suaminya hanya mempertahankan dirinya sampai semua bukti kesalahannya itu terkuak,lalu ia bakal diusir dari ikatan keluarga Imran yang sangat diharapkan oleh para gadis di luar sana.Hilya pasrah dengan keadaan.
Gadis itu sadar dirinya laksana kuntum layu yang tidak diharapkan kehadirannya.Sepenting itukah sosok wanita ini bagi Danang hingga kehadiran Hilya di ruang tersebut seakan tidak dihiraukan sama sekali.Bahkan derit pintu yang begitu keras saja tidak mempengaruhi momen intim mereka.
'Ada apa dengan hatiku,tidak seharusnya aku merasa sesakit ini,'gumamnya nelangsa.
Selama lima menit Hilya menyaksikan momen kedekatan suaminya dengan wanita asing itu.Perlahan Danang mengakhiri pelukan dan ciuman ringan itu.Tampak keduanya saling bercerita.Hily memilih untuk menutup kuping karena tidak ingin merasakan kenyataan yang lebih sakit lagi.Hingga akhirnya seseorang berdehem keras di samping Hilya dan mengagetkan aktivitas suaminya itu.Danang sontak menoleh melihat siapa yang sudah berada di sana.
Ada ekspresi kaget dan tidak percaya,terpancar jelas di wajah suaminya itu.Tampak wanita asing itu juga tersenyum menatap Hilya.Gadis yang masih mematung seakan tidak bertenaga untuk ikut menoleh ke samping.Lalu suara yang berdehem itu pula yang akhirnya menyapa dirinya.
"Nona Hilya."
Hilya menoleh.Yang ia dapati adalah sosok pria asing yang sama dan pernah ia lihat sebelumnya dalam acara ramah-tamah pernikahannya di hotel Puteri Dania.Sosok yang pernah memergoki dirinya berusaha menyembunyikan air matanya dan saat ini juga sama.Sosok kharismatik itu juga memergoki dirinya tengah menahan sebak yang tak tertahankan.
"Perkenalkan,namaku Diego,"ucap pria yang raut wajahnya terpahat sempurna itu dengan sebuah senyuman meneduhkan jiwa.Pria yang mengaku bernama Diego itu mengulurkan tangannya sebagai pertanda ingin menjabat tangan.Hilya yang mencoba kuat,ikut menyambut hangat tangan pria itu,meski dalam suasana canggung.
Diego mengangguk santun,lalu beranjak mendekati Danang dengan wanita yang baru saja ia sapa dengan sebutan 'honey'.
"Sisakanlah sedikit kebahagiaan buat kami,"ucapnya sembari melemparkan sebuah senyuman yang memukau,"Jangan berlagak seakan kami ini tidak peka."lanjutnya penuh sarkas.
'Siapa mereka semua ini?'Hilya membatin bingung.
Danang bergerak mendekati Hilya dengan tatapan yang sulit dibaca.Sementara Hilya sudah siap membuang pandangan dan berpura-pura untuk mengamati hiasan unik di dinding ruangan.
"Kau sudah lama di sini?"Danang bersuara pelan.
"Lima menit yang lalu,"jawab Hilya datar.
Danang memposisikan dirinya sama seperti yang Hilya lakukan,"Apa yang kau lihat,"memandang miring,"di sana?"lalu kembali menatap intens wajah isterinya.
Hilya berbalik memindai wajah suaminya,
"Hiasan dindingnya itu,"tersenyum getir,"kebalik."lanjutnya dengan bibir yang bergetar.Hilya kemudian memilih beranjak meninggalkan Danang yang masih menatap gugup mata sang isteri.
•••••
Bersambung...
🤗🤗🤗