I Need You

I Need You
Jalani dengan Serius



Sesuai permintaan Haidar,siang itu Dania menemaninya makan siang di resto Adhytama Star Hotel.Dania memilih bungkam hingga pramusajinya mengantarkan pesanan makan siangnya ke meja.


"Silahkan dicicipi,tuan puteri."suara berat Haidar membelah hening.


Dania menyambutnya dengan senyum tipis.Gadis itu menikmati makan siangnya dengan lahap,tanpa mempedulikan sekelilingnya.Termasuk pemuda yang duduk di depannya.Haidar memperhatikan cara makan gadis langsing nan cantik di depannya.Satu hal yang membuatnya tertarik dengan gadis itu adalah kepercayaan dirinya yang tinggi.


Dania memang ditakdirkan menjadi seorang calon pemimpin sesuai kharakter sang papa.Dia tipe gadis yang tidak terpengaruh sedikitpun dengan usikan-usikan kecil yang tidak berguna.


Terkecuali ketika seseorang merebut sesuatu yang ia miliki darinya.Maka ia akan berjuang dan merebutnya kembali.Tidak terkecuali lapak favorit yang biasa ia datangi di pagi-pagi tertentu.Tapi bukan Haidar namanya jika ia kalah dari seorang gadis belia.


Pengalaman telah mengajarkan pemuda itu untuk bertahan.Hidup dalam lingkungan mempertahankan kebenaran dan membasmi mafia tingkat elit membuatnya tidak lernah takut dengan siapapun,termasuk masalah hati.


Pemuda berlabel playboy kelas mafia itu tidak pernah salah sasaran dalam menaklukkan setiap wanita.Istilahnya sekali lirik,pasti langsung lengket.Namun entah apa yang membuatnya merasa agak susah memdekati gadis yang satu ini.


Selain memiliki kepercayaan diri yang tinggi,gadis ini juga memiliki aura yang tidak biasa ia temui dari setiap wanita yang pernah ia gaet.Merasa sedang diperhatikan,gadis itupun bersuara tanpa menoleh dari piring dan sendoknya,


"Kenapa memperhatikanku dari tadi?"ucapnya datar.


"Untuk menikmati pesona gadis cantik yang lagi makan...,sayang kan,kalau dilewati."jawab Haidar sekenanya.


Trik gombalnya terasa di setiap ucapannya.


"Berani sekali menggodaku."gumamnya pelan seakan berbicara kepada dirinya sendiri.


"Bukan menggoda,tapi memang aku tegoda dengan kecantikanmu yang luar biasa,cara bicaramu yang ketus,cara makanmu yang lahap,dan cara tatapmu yang menantang.Semuanya aku suka."sahut Haidar sembari menatap intens ke bola mata gadis yang sukses terbelalak memandangnya.Kali ini Haidar merasa tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk menjailinya,


"Are you okay,honey?"ucapnya kalem.


Dania tersentak.Merasa dipermainkan.Kini giliran ia melotot tajam ke arah pemuda yang semakin menunjukkan pesona maskulinnya.Mulutnya masih dengan ritme kunyahan yang cepat.


Tring


Bunyi sendok dan garpu yang ia geletakkan begitu saja,berbenturan dengan piring.


"Kau manusia paling menyebalkan,yang pernah aku temui."sahutnya ketus.


"Hhh...,masa gadis secantik dirimu dibiarkan manyun begitu saja,mau ditaruh di mana muka playboyku ini?"tukas Haidar melucon.


"Baguslah,akhirnya kau mengakui juga kalau kau itu playboy.Mana ada wanita yang mau diurutkan kesekian nomor di hati seorang perayu sepertimu."tandas Dania sinis.


Haidar cengar-cengir.Merasa berhasil mempermainkan emosi gadis itu.Bukannya mundur,malah semakin gencar menyentuh hatinya,


"Kau tahu kan,aku perayu....,jadi jangan pernah menantangku dengan pesona yang membuatku merasa tertantang."ucapnya menyeringai,


"sayang,secara tidak sadar kau telah melakukannya,jadi jangan menghalangiku untuk menjadikan dirimu sebagai milikku."lanjutnya penuh penekanan.


Dania menatap tajam pemuda yang terlanjur membombardir sarang cinta di hatinya itu,meski sebenarnya sekujur tubuhnya bergidik ngilu mendengar ancaman yang jelas-jelas bakal mempersulit niat di hatinya untuk segera menjauh dari pemuda tersebut.


Dania meneguk kasar air di gelas,lalu meletakkan kembali gelasnya,lebih kasar daripada tegukkannya tadi.


Dania bangkit meraih sling bagnya,


"Kau cari saja wanita yang pantas kau permainkan untuk menjadi milikmu,karena aku tidak tertarik denganmu,apalagi memilikimu,walau hanya sesaat!"ucapnya ketus sembari menampar hati pemuda itu dengan sebuah tatapan yang sulit ia baca,kemudian berlalu meninggalkannya begitu saja.


Haidar mengedarkan pandangan mengikuti punggung Dania,


'Hhhh....,menarik.Jangan panggil aku Haidar jika tidak bisa membuatnya bertekuk lutut di atas ranjangku.'gumamnya menyeringai.


Di mobil Dania menghempas kasar ke dudukannya.Mulutnya tidak habis-habis mengumpat panjang pendek,


'Ampun!...,gombalnya enggak ketulungan.'gumam Dania kesal.


Baru saja hatinya mulai berbunga-bunga mendengar pujian pemuda yang dikiranya tulus,ternyata sama saja seperti pria-pria yang lain yang suka mempermainkan hati.Dania seharusnya sadar bahwa pria itu playboy yang taunya hanya menyaikiti hati wanita saja.Entah kenapa ia malah terpancing dengan semua guyonan ganas pemuda gila itu.


Memasuki hari ke lima masa pingit,Hilya tengah menjalani ritual pingitnya.Gadis itu lebih banyak mendekam di kamar sembari membereskan tugas kuliah yang sempat ia tinggalkan begitu saja.


Hilya mendapat kabar dari sahabatnya Nuha Izz bahwa bapak dosen tampan mata kuliah digital marketing tengah menanyakan dirinya.Karena Hilya tergolong mahasiswa yang cerdas dan aktif dalam setiap mata kuliah yang ia geluti.Hal ini yang membuatnya lebih gampang dikenal oleh para dosen pembimbingnya.Ditambah pula seniman Joshua yang gencar-gencar mencari keberadaan dirinya.Baik bertanya langsung pada Nuha maupun komunikasi lewat ponsel miliknya.


Selama satu minggu lebih di kampung,ia baru berani membuka aplikasi whatssapp yang notifnya sudah masuk sejak kepulangannya ke kampung halaman.Hilya menghela napas berat setelah membaca pesan masuk dari Nuha Izz.


Mata Hilya tertuju kepada notif masuk dari Joshua yang sengaja ia abaikan beberapa menit setelah membacanya.Bukan maksud mengabaikan,tapi entah bagaimana caranya ia membalas pesan tersebut mengingat setiap pertanyaan Joshua sangatlah sensitif menyangkut perasaannya.


Hari pertama,


Hilya,kau di mana??????


Hari kedua,


Hilya,kau menghilang sejak malam itu,di galeri seni.Apa kau marah kepadaku?


Hari ke tiga,


Hilya,balas chatku.Aku mengkhawatirkanmu.


Hari ke lima,


Hilya,Jika tindakanku di galeri seni waktu itu sudah menyakiti hatimu,aku minta maaf.Aku melakukannya karena aku mencintaimu.Jadi tolong balas chatku.Memasang emoji dua tangan ditautkan sebagai permohonan maaf.


Hari ke tujuh dan seterusnya,


Hilyaaaaa.....


Sayang,aku tulus mencintaimu,kenapa kau tidak mengerti juga?


?


Seorang Joshua yang terkesan dingin dan misterius,bisa membubuhi isi chat sepanjang itu.


Kali ini Hilya harus mengambil tindakan.Ia harus membalas chat pemuda ini,agar tidak terjadi kesalahpahaman di antara mereka.


Maaf Joe,aku baru baca chatmu ini.Terima kasih sudah mengkhawatirkanku.


Terima kasih juga sudah mencintaiku dengan tulus.Tapi aku tidak bisa membalas cintamu.Dan mulai detik ini tolong lupakan aku.Karena sebentar lagi aku akan menikah.


Hilya mengirim chat balasan kepada Joshua.Hanya dalam hitungan detik langsung terlihat centang biru di layar sana.Joshua begitu tidak sabarnya ingin membaca balasan pesan dari Hilya.


Joshua membalas,


Bercandamu kelewatan,sayang...,memasang emoji menyeringai dan ketawa sambil menangis.


Aku serius.


Sudah selesai bercandanya?Aku tetap tidak percaya.Kapan masuk kuliah lagi Hil?


Benar,aku sudah di lamar.Entah ke depan masih kuliah di sana atau tidak,tergantung dari persetujuan suamiku.Aku minta maaf kepadamu Joe,tolong maafkan aku,dan ikhlaskan kepergianku.


Centang biru terlihat di sana namun tidak ada balasan apapun dari seberang.Hilya masih menunggu balasan dari Joshua,namun sia-sia.


Hilya menggulir ponselnya kembali ke layar siaga.Baru saja ingin meletakkan ponselnya tiba-tiba ada notif yang baru masuk.Hilya sigap membukannya berharap ada pesan balasan dari Joshua menerima permintaan maafnya.


Ah,sayangnya bukan pesan dari seniman Joshua melainkan chat dari nomor baru yang tertera di layar sana.Hilya bingung membaca isi pesannya,


Enam hari yang lalu,


Besok masa pingit dimulai.Jadi jalani sesuai dengan ritualnya.Awas kalau sampai sekali saja kau melanggarnya!(Memasang emoji setan yang lagi tersenyum.)


Saat ini,


Kalau lagi pingit,ya jalani yang serius.Bukannya on time online! diikuti emoji menyeringai sinis.


Kini gadis itu semakin yakin bahwa nomor baru itu berasal dari Danang.Hilya bergidik ngilu.Membayangkan wajah arogan sungguhan yang biasa dipamerkan oleh orang itu,muncul begitu saja menghiasi layar ponsel miliknya.Gadis itu memilih menutup ponselnya tanpa mau membalas pesan pemuda yang dinding pojoknya tertera online.


•••••


Bersambung...


🤗🤗🤗