I Need You

I Need You
Kendalikan dan Pupuk Kekuatan



Happy reading 😍📖


Danang menatap tidak percaya pada apa yang baru saja dilihatnya,


'Jadi papa ada di balik kasus insiden itu?'


Pemuda itu sengaja membuat salinan video berdurasi pendek tersebut ke dalam laptop miliknya.Malam itu,Danang mengambil posisi istirahat setelah masuk awal sepertiga malamnya.


Perlahan ia menyisir lorong di mana Hilya pernah memboyong dirinya dalam keadaan hang over.Langkah hati-hati membawa tubuh yang rapuh itu memasuki kamar yang penuh kenangan pahit dengan perasaan sebak di dada.


Pikirannya bergelayut,menerawang pada sosok seorang gadis lugu yang telah begitu tulus menolong dirinya,malah berbalik mendapat perlakuan kasar darinya.Tudingan miring yang ia layangkan begitu saja,dan juga hinaan serta pelecehan terhadap fisik maupun psikisnya.Hingga gadis itu tampak begitu hina di matanya.


Ingat betul kejadian di waktu Hilya berusaha menutupi tubuh setengah polosnya dengan selimut,namun karena tersulut emosi,ia malah menelanjangi dada gadis itu lalu menatap mesum dan meramas ***********,sakit.


Air mata penghinaan,air mata pelecehan,dan air mata harga diri,juga luka batin yang dideritanya menjadi bentuk trauma tersendiri yang lahir begitu saja akibat ulahnya.Sungguh tak sanggup ia mengenangnya.


Dan lebih trenyuh lagi,saat ia mengingat kembali Hilya menyambut baju dan bra yang sengaja ia lempar kasar ke wajahnya.Berharap agar rasa malu di hati gadis itu kian membumbung.


Namun satu hal yang membingungkan hatinya kala itu,Hilya malah menerimanya dengan menyembulkan sebuah senyum lega sembari memeluk dan mencium pakaiannya itu.Ya,senyum di balik derita yang ia gores.Lalu luka dan derita yang entah kapan dan di mana akan ia bayar atau menggantinya dengan kebahagiaan jenis apa,entahlah.Ah,berdosanya.


Tanpa terasa butiran bening itu menetes begitu saja tanpa ingin dibendung.Danang menangis sesenggukan.Pria setangguh dirinya masih bisa menangis menyesali perbuatan yang tidak seharusnya ia lakukan kepada seorang gadis baik-baik bak seorang malaikat penyelamat bagi dirinya.Gadis yang sepantasnya untuk di jaga hatinya,dan bukan untuk menerima perlakuan buruk secara tidak manusiawi seperti yang pernah dialami saat bersamanya.


'Pantas....,dia bahkan menolak memberiku hak sampai saat ini.Bisa saja dia berpikir bahwa menjalani **** bersamaku itu menyeramkan.Atau aku akan memperlakukannya kasar seperti di malam itu.Tidak ada kelembutan,dan tidak ada kasih sayang,juga tidak ada cinta.'


Ah,Hilya....,aku bahkan tidak bisa memaafkan diriku sendiri atas kejadian itu.Lalu bagaimana kau bisa memaafkanku.Akankah rasa cinta itu tumbuh bersemayam di hatimu walau secuil,lalu


adakah ruang di hati kita untuk bisa saling membutuhkan....?


Keesokan harinya,Danang memilih berangkat lebih awal ke kantor pusat,Adhytama Star Group.Di lantai gedung tertinggi inilah ia mulai mengamuk dan membongkar kedok yang selama ini tersimpan rapat-rapat.


"Apa ini pa,apa?"meletakkan kasar flash disk ke meja kerja sang papa,"Kenapa kalian tega menjebakku dengan gadis polos yang masa depannya masih terlalu panjang?Apa salahku,apa salah dia pada papa?"lanjutnya menggebu-gebu.Tatapan nyalang membakar hati kian memanas.Genggaman jemarinya ikut gemetar dengan buku-buku yang memutih,lantaran amarah yang membuncah.


Tuan Imran,tersenyum mendongak.Menatap manik amarah puteranya.Sorot matanya begitu tenang setenang air yang mengalir.Itulah ciri khas seorang papa Imran.Perlahan ia menarik kursi lalu mengarahkan puteranya untuk duduk disampingnya.Danang menurut pasrah.Tuan ramah itupun menarik napas pelan lalu membuangnya,juga pelan.


"Jadi kau sudah tahu,baiklah.Saatnya untuk memperbaiki semua sikapmu padanya,"ujar sang papa kalem.


"Hhhh....,hanya aku?"Danang mengernyit bingung dan sang papa hanya menatapnya teduh.Wajah oriental yang memerah,nyaris tidak bisa mengontrol amarahnya,kemudian memilih mendengus penuh sarkas,"Lalu papa tidak merasa berdosa sedikitpun,begitu?"masih dengan amarah yang berkobar.


Tuan Imran menggeleng pelan,"papa sudah memperbaiki sebagian kesalahan papa....,"menopang tangannya ke atas meja dengan menggunakan kedua sikunya sebagai tumpuan,"menikahkan dia denganmu,mengangkat nama baiknya di mata publik,menjadikan dia menantu kesayangan,menyayangi dan mencintai dia sebagai puteri setara dengan Dania Puteri,memberinya nama belakang Setiawan sebagai hak pewaris generasi ke dua Adhytama Star Group,papa sudah melakukan semuanya."lanjutnya menjelaskan.


"Tidak semudah itu papa,"menyapu kasar wajahnya,"Apa beban psikis yang dialami akibat peristiwa tersebut bisa dibayar seharga itu,pa?"cetus Danang tidak terima.


"Itu maksud papa tadi,hanya cinta dan kasih sayang darimu sebagai suaminya,yang bisa mengobati luka yang sempat tertoreh di hati.Beri dia hak yang seharusnya sebagai seorang isteri,"menepuk pelan bahunya,"maka kau akan mendapatkan kekuatan baru untuk memupuk semua itu,langsung darinya."lanjutnya tersenyum.


Tok tok tok


ceklek


"Maaf tuan,rapat koordinasi antar divisi dan managemen akan segera dimulai sepuluh menit ke depan."Sekretaris Sani melaporkan agenda tuannya.


"Baiklah,Sani.Serahkan semua agenda kepada Danang."titah tuan Imran yang tak terbantahkan.


Danang mendengus kesal,menahan amarah yang masih belum reda sepenuhnya.


"Nak,persiapkan dirimu untuk memimpin rapat,"bangkit dari duduk,"Kendalikan dirimu,dan ketepikan dulu masalah pribadimu,"menepuk bahunya,"Jadilah yang profesional."lanjutnya sembari melangkah keluar dari ruang tersebut.


Danang menghela napas kasar.Berusaha berdamai dengan hatinya,lalu ikut sang papa keluar menuju ruang meeting.


Danang menyandarkan tubuhnya di sofa.Tatapannya nanar mengingat kembali kejadian sore tadi di kediaman Jayahadi.Insiden itu,telah menguak semua yang terselubung dari seorang Hilya Afiyana Abimanyu yang ia nikahi empat bulan lalu.


Ya,Juna.Bukanlah putera kandungnya.Melainkan anak dari sepupunya bernama Aluna Handani.Hilya memegang janjinya untuk melindungi Juna dan menjadikannya sebagai puteranya.Sementara pikirannya selama ini tentang Juna dan Hilya....,merupakan satu kebenaran yang miris.


Kesannya bahwa ia hanya akan menerima Hilya sebagai seorang gadis yang berstatus perawan.Padahal kebenaran dalam dirinya adalah,Danang hanya takut mencintai orang yang masih terikat dengan masa lalunya.Kemudian suatu saat akan pergi begitu saja meninggalkan dirinya seperti yang sudah pernah ia alami.Ada Vania,Karin,lalu Lian.


Cinta datang membuat hati seakan menemukan kekuatannya,menguar mengharapkan rasa yang ikut merengguk wangian segar nan menguncup.Kemudian cinta memilih pergi begitu saja dan memaksa hati untuk merasakan kehilangan,menghambar,memudar,hingga menguar rasa di hati bagai raga tak bernyawa.


Danang baru tersadar dari aktivitasnya manakala waktu sudah mencapai dinihari.Seperti pintanya sewaktu di kediaman Jayahadi,Danang memilih pergi ke kamar dan menghabiskan sisa waktu istirahatnya dengan membawa sang isteri kedalam pelukan yang hangat.Hingga iapun ikut larut ke alam mimpi indah dan berharap hari esok akan lebih baik.


Pagi harinya....,


'Ah,dia pulas begitu.'gumam Hilya berusaha meloloskan diri dari pelukan suaminya.


"Siapa yang pulas?"mengeratkan kembali pelukan dan sebelah kaki yang mengungkungnya.


"Eh,kau.Aku pikir kau masih tidur."Hilya merasa berat tubuh suami menindihnya,"Longgarkan,aku sesak."pintanya memelas.


"Tidak akan kubiarkan kau pagi ini."Danang mengendorkan sedikit kungkungannya.


Hilya melengos,"Aku akan beraktivitas,dan kau harus bekerja."


Danang memicingkan matanya,"Hari ini,papa sudah memberiku hak libur."


"Tapi,Juna belum mandi,"sergah Hilya cepat.


"Sudah kuarahkan bibi Nunung untuk mengurus Juna kita."mencium pipinya yang lembut.


Hilya menepis,"Aku mau ke kamar mandi."


"Oh,ya.Aku ikut."melepaskan tubuh isterinya,"Kita mandi bersama."menggeliat lalu bangkit mengambil posisi duduk.


"Haish....,kau menyebalkan.Aku tidak mau."Hilya bergegas pergi dan mengunci rapat kamar mandi.Khawatir Danang akan mengekorinya dari belakang.


"Jangan dikunci pintunya,aku mau masuk."pekik Danang tersenyum usil.Mungkin saatnya ia akan memulai semuanya dari awal.


Merayu,dan mengajaknya pacaran agar bisa menjajaki hati gadis itu,mungkin.


Sementara itu,di kamar mandi.Hilya hanya bingung memikirkan sikap suaminya sejak kemarin sore.


'Apa benar yang dikatakan Nuha,Danang membenciku selama ini karena ada Juna di antara kami?'


'Buktinya dia tiba-tiba baik setelah mengetahui Juna bukan anak kandungku.'


'Jika demikian,berarti dia tidak bisa menerima kekuranganku.'


'Monster menyebalkan....,ah,aku harus bisa membatasi diri agar tidak sampai jatuh hati kepadanya.Aku bahkan tidak sanggup menerima kenyataan andai perasaan ini sudah membumbung lalu dibanting begitu saja.'


Berbagai macam rasa yang berkecamuk didalam benaknya.Berharap rasa itu bisa mengalir pergi bersama guyuran air shower yang membasahi rambut dan sekujur tubuhnya,sebak.


•••••


Bersambung...


🤗🤗🤗