I Need You

I Need You
Menjenguk



Happy reading 😍📖


Dania sibuk menggoyang-goyang tubuh kekar sang kakak, yang tidak bergeser sedikitpun dari posisinya. Gadis cantik itu tidak menyerah dan terus menerus berupaya mencari perlindungan untuk Haidar.


Sementara itu, di ujung pintu rahasia, tuan Imran sudah siap begerak menuju ke ruangan di mana Haidar diadili. Namun manakala pintu lorong tersebut dibuka, seketika itu juga dirinya berdiri mematung saat mendapati pemandangan tidak biasa dari biasan amarah puteri semata wayangnya.


Puteri kecilnya itu begitu kekeh menyerang sang kakak dengan pertanyaan bertubi-tubi,


"Kakak, apa kau juga telah berubah menjadi pria berhati dingin seperti para mafia yang kau bicarakan itu, hah?"


"Apa papa juga sama bekunya seperti mafia yang kalian takuti itu?"


"Tidakkah kalian melihat sisi baiknya Haidar sekali saja, bahwa dia hanya seorang pemuda yang terjebak dalam dunia pemberantas mafia. Tapi dia bukan seorang mafia. Hanya level sosialitanya saja yang membuat dia terkenal di tingkat mafia."


"Tidakkah kalian berpikir sedikit saja, bahwa tindakan kalian mencederai raga seseorang itu sama halnya dengan mencelakai nyawanya, dan melenyapkan nyawa orang lain itu sama halnya perbuatan mafia? Apa bedanya kalian dengan para mafia itu, huh?"


Tuan Imran memandang tanpa kedip, kini ia melihat sang gadis manja yang selama ini dianggapnya sebagai puteri kecil, kini telah berani menentangnya, dengan memperjuangkan keadilan bagi nyawa dan hidup orang luar yang tidak pantas untuk diperjuangkan.


Prinsip hidup yang ia tanamkan sejak dini itu kini menguar dengan sendirinya dari seorang puteri kecil yang selama ini ia anggap tidak bisa mengambil keputusan sendiri. Ya, puterinya kini telah dewasa.


Haruskah ia bangga kepada hasil didikannya di dalam ketidaksetujuannya sendiri akan hubungan pasangan kekasih yang menurutnya tidak sehat itu? Yang pastinya, sebagai seorang ayah, tuan Imran tentu tidak ingin puterinya itu mengambil jalan yang beresiko untuk hidup dan masa depannya, bukan?


Dalam hatinya sedikit membenarkan apa yang diucapkan puterinya, "Sesungguhnya bukan ini yang kuinginkan," batinnya nelangsa.


Ya, bukan masa depan yang beresiko untuk puterinya yang ia inginkan, bukan cekcok berkepanjangan dengan pria asing tersebut, juga bukan pertumpahan darah sebagai hubungan timbal balik dari ketidaksetujuannya terhadap jalinan kasih puterinya bersama pria yang sangat asing di matanya.


Tapi dirinya hanya ingin memberi peringatan kecil kepada pemuda asing itu agar ia tahu batasannya, dan bukan untuk mencelakainya. Hanya memberinya ultimatum agar segera menjauhi puterinya.


Namun siapa sangka jika respon balik dari puterinya malah segencar ini. Lalu tindakan mencelakai nyawa seseorang demi memutuskan hubungan kasih sayang sepasang insan yang saling mencintai, bukankah itu berlebihan?


"Hentikan!" pekiknya refleks.


Membuat semua aktivitas berbahaya di dalam ruangan tersebut terhenti seketika. Kini semua mata tertuju kepada dirinya yang tampak tegak di atas tumpuan kakinya, padahal di lubuk hatinya yang terdalam, ia sedang benar-benar rapuh.


Rapuh melawan gejolak yang menggerogoti sanubari dan juga menguji imannya. Antara memandang cintanya kepada puterinya dari sisi kacamatanya saja. Mempertahankan tekadnya untuk memisahkan kedua anak-anak itu, lalu puterinyapun bebas dari segala jebis ancaman.


Ataukah memandang cinta dari sisi pandang puterinya, dengan membiarkan hubungan kedua anak-anak tersebut mekar dan menguntum, namun sebenarnya ia telah membuka jalan derita bagi puterinya sendiri yang kini mulai keras kepala.


Ya, kini ia sedang kecewa. Kecewa dengan dilema besar yang tengah dihadapinya saat itu.


"Bubarkan semuanya," ujarnya datar, sebelum akhirnya ia memilih berbalik dan melangkah pergi.


Akan tetapi, belum juga sempat ia melangkah, tiba-tiba suara Danang menggelegar menyebut nama, "Dania!" Gadis itu seketika ambruk ke lantai namun sang kakak sigap menangkap tubuh langsingnya.


"Segera panggilkan dokter, pastikan puteriku baik-baik saja." Tuan Imran dengan perintah tegasnya kepada sekretaris Sani, "Aku harus mengikuti meeting dewan direksi." Tampak gurat kecewa yang mendalam di wajah bersihnya.


"Baik, tuan." Sekretaris Sani dengan gaya kalemnya memberikan bow. Padahal baru saja ia habis bertungkus lumus menyerang Haidar yang tidak kalah kuatnya, namun entah ke mana hilangnya semua rasa lelah dan penatnya. Kini ia kembali sigap menjalani tugas hariannya.


Sementara Haidar si pemuda asing kini mendapatkan perawatan khusus dari pihak Adhytama group. Pemuda itu akhirnya dilarikan ke rumah sakit terdekat karena kehabisan banyak darah akibat serangan anak buah tuan Imran yang patuh, sekretaris Sani.


Danang membopong tubuh sang adik menuju ke ruangan privat Adhytama Group. Membaringkan sang adik di pembaringan, lalu merapikan pakaiannya yang sempat berantakan, kemudian segera menemui Hilya yang masih tertahan di sofa ruang owner.


"Ini kesalahanmu," ucapnya datar seraya menghempas tubuhnya ke atas sofa di samping sang isteri,


"Kau menyembunyikan kebenaran ini dariku." lanjutnya membeku.


Hilya hanya tertunduk lesu, "Maafkan aku," ucapnya sangat pelan,


"Tidak bermaksud menyembunyikan apapun dari_"


"Jika kau mengatakannya lebih awal, aku dan papa pasti akan bertindak sedini mungkin, maka Dania mana mungkin bisa jatuh cinta sedalam ini dengan pria hidung belang itu," potong Danang cepat, namun masih dengan nada datarnya.


"Maaf," balas Hilya singkat. Wajahnya melirik singkat ke arah Danang, namun mendadak dialihkan lantaran tidak kuasa menantang sorot elang sang suami yang memindai dalam ke manik matanya,


"Aku hanya menghargai privasi orang lain, dan aku tahu batasanku di kala itu," ucapnya menunduk tajam.


Danang menghela napas dalam, diamnya kali ini membenarkan posisi isterinya. Jika saja saat pertama kali menikah ia memperlakukan isterinya dengan baik dan memberinya hak yang seharusnya, maka mungkin Hilya tidak akan tertutup seperti ini.


"Ya, kau benar," batinnya berbisik.


Akan tetapi rasa kesal yang masih saja membumbung, membuatnya memilih mengambil sikap siaga untuk segera beranjak dari sana, "Pulanglah, aku ada urusan penting," ujarnya menarik bibir miring, "Kau bisa kemari sendirian, maka sudah pasti bisa pulang sendirian kan," lanjutnya menekan seraya berlalu.


Hilya hanya bisa menarik napas dalam, lalu menghembusnya pelan.


Di ruang ICU Hospital Healthy


Wanita itu melangkah gontai membawa tubuh lelahnya akibat pikiran yang kacau. Menerobos ruang yang dijaga ketat oleh beberapa orang lelaki dewasa berbadan kekar dan berwajah teduh.


"Anda siapa? Tidak diizinkan sembarang orang memasuki kamar ini."


"S_saya, temannya pasien," ucapnya pelan.


"Anda tidak memiliki bukti apapun tentang itu, nona. Silakan pergi dari sini sebelum kami bertindak dengan cara kami."


"Emh, baiklah. Aku akan pergi," ucapnya pasrah.


Wanita yang tidak lain adalah Hilya Afiyana, tengah berniat mengunjungi Haidar yang sekarat di dalam ruang ICU. Namun kehadirannya ditolak mentah-mentah oleh para pendamping pasien yang tidak lain adalah bodyguard milik Diego Spirit.


Baru saja ia berbalik badan dan hendak pergi dari sana, tiba-tiba muncul seseorang dari balik pintu yang baru dibuka, "Sepertinya kita pernah bertemu, nona?" tanya pria tersebut penuh rasa ingin tahu.


Ucapan pemuda itu sontak mematahkan langkahnya, Hilya melirik singkat ke arah suara tersebut.


Beberapa jam kemudian....


Pria muda itu tampak tercenung memikirkan nasib sepupunya yang kini terbaring lemah dengan selang menempel di bagian hidung dan pergelangan tangannya. Pria itu tidak lain adalah Diego Hedy, suami dari nona Karin, sepupu jauh Dania, si gadis yang tengah diincar oleh Haidar.


Diego menggeleng tidak percaya, "Seorang pejuang handal seperti dirimu, rela babak belur hanya demi seorang wanita seperti Dania?" sergahnya ragu, "Hei, apa yang ada di pikiranmu itu, huh?" lanjutnya memainkan naik turun, kedua alisnya yang simetris.


Haidar tampak mendengus kecil, sebelum akhirnya ia angkat bicara, "Dia sungguh menakutkan," ujarnya parau, bibirnya ikut menyungging senyum getir, "Gara-gara dia aku dibuat babak belur oleh asisten pribadinya," lanjutnya terbata-bata seraya meringis kesakitan.


Tubuh dan kepalanya yang terbalut perban dan darah mengering di beberapa bagian wajahnya, tampak luka lebam di sekujur tubuhnya, menandakan sakit yang dideritanya cukup serius.


Diego tertawa sumbang, lebih tepatnya pada kelemahannya sendiri. Ia merasa tidak berdaya karena terlambat mengetahui kalau ternyata sepupunya itu sedang terpikat pada anak dari pria yang pernah merelakan segalanya untuk dirinya.


Ya, pria yang pernah mengorbankan perasaan putera kandungnya demi kemanusiaan, ketimbang harus mempertahankan wanita pilihan sang anak semata wayangnya itu.


Puteranya yang tidak lain adalah Danang, juga terlibat dalam urusan perjodohan dengan wanita yang sama dengan dirinya, Karin.


Luka lama itu, kini berpindah kepada dirinya dan juga sepupunya tersebut. Kini ia terjebak dalam sebuah pilihan yang sulit, antara menyerang balik perlakuan sekretaris Sani yang telah berhasil meluluhlantakkan pertahanan mantan petinggi Diego Spirit tersebut?


Ataukah pasrah pada keadaan, dan bersedia menerima kekalahan dengan lapang dada, seperti yang pernah dilakukan oleh tuan petinggi Adhytama Group kepada pihaknya saat putera mereka Danang juga ikut sama-sama memperjuangkan gadis seperti Karin.


Haruskah ia membalas semua perbuatan pria bernama Imran? Paruh baya yang pernah mengorbankan kebahagiaan puteranya demi kebahagiaan keponakannya di mana dirinyalah yang menjadi akar dari permasalahannya, karena Karin lebih memilih dirinya.


Lalu kini malah puteri semata wayang tuan Imran pula yang terjebak di dalam gejolak perasaan dengan generasi dari kaum Fatih.


Ia juga baru menyadari bahwa menempatkan Haidar di posisi General Manager Adhytama Star Group saat ini adalah keputusan yang amat salah. Dia telah memberikan pilihan sulit kepada sepupunya, dan secara tidak langsung isterinya, Karin juga dengan sendirinya ikut terjebak di dalam masalah tersebut.


Sementara itu, beberapa menit yang lalu, ia baru saja menerima kehadiran seorang gadis cantik penuh pesona yang mendatangi ruang ICU. Wanita itu tidak lain adalah Hilya, menantu dari pria yang bersikeras untuk memisahkan puterinya dengan Haidar.


"Sepertinya kita pernah bertemu, nona?"


"Ya, itu benar. Aku Hilya." Begitu jawaban gadis tersebut.


"Hilya? Siapa?" Ia bertanya kembali.


"Menantu dari tuan Imran," jawabnya tenang.


"Anda isterinya Danang?" kali ini Diego melempar pertanyaan yang justeru membuat wajah gadis itu memerah seakan tengah menahan aneka rasa di dada.


Ya, itu pantas karena Diego sengaja melempar ekspresi penuh tudingan pedas yang ditujukan kepada Danang, suami gadis tersebut.


"Untuk apa anda menemui kami? Bukankah tindakan suami dan mertua anda sudah cukup mempermalukan kami? Apa anda ingin menambahnya lagi dengan penghinaan dari dekat?" cetus Diego dengan pertanyaan mencecar kepadanya, sesaat setelah ia membawa wanita itu masuk ke dalam ruangan ICU di mana Haidar di rawat.


"Biarkan dia duduk," ujar Haidar terbata-bata kepada Diego yang tengah terpancing nada datar, sesaat setelah mengetahui bahwa Hilya memang sengaja datang untuk menjenguknya.


Diego akhirnya memberi ruang dan waktu kepada wanita tersebut demi adim sepupunya. Kali ini ia merasa perlu lebih bijak dalam menanggapi sesuatu yang berhuhungan dengan masalah tersebut.


"Ada apa kemari?" tanya Haidar pelan, tampak garis sendu di matanya.


"Maaf, tidak bermaksud apa-apa," jawabnya tenang, "Tujuanku kemari hanya atas dasar kemanusiaan dan tidak lebih dari itu," jelasnya lugas.


"Ketahuilah, mertuaku tipe pecinta damai. Beliau tidak pernah salah dalam mengambil tindakan perlindungan terhadap anak gadisnya," Hilya masih berbicara, maka baik Diego maupun haidar dengan sendirinya memberi ruang dan waktu kepadanya.


"Dia hanya sedang khawatir pada masa depan dan hidup puteri semata wayangnya, dan jika anda berada di posisinya, maka sudah pasti anda juga akan melakukan hal yang sama."


"Tidak ada yang lebih penting bagi orangtua selain melihat anak-anaknya bahagia."


"Aku harap anda tidak membesarkan lagi masalah ini, maka berbesar hatilah, jika pada kenyataan takdir tidak berpihak pada hubungan kalian berdua, dan biarkan semuanya berjalan sesuai yang diatur oleh sang khalik."


"Allah maha bijaksana dalam memberi keputusan, maka memohonlah kepadaNYA. Dan jika anda mencintai adik iparku, buktikan kepada ayah kami kalau anda bukanlah pria pembuat masalah seperti yang dikahwatirkan oleh beliau dan juga suamiku."


Sebuah gambaran nyata yang ditangkap oleh Diego bahwa wanita tersebut tidak sedang main-main dengan ucapannya. Kali ini ia merasa menemukan seorang wanita mandiri yang berani melakukan apa saja demi membela harga diri keluarganya.


"Pantas saja, Danang berhasil kembali setelah terpuruk begitu lama, semua itu karena gadis hebat ini," batinnya berbisik.


"Hai, sayang. Aku datang." Diego yang berjalan beriringan dengan Hilya keluar dari ruang ICU, tiba-tiba mendapat kejutan akan kedatangan sang isteri yang baru saja menyusul ke rumah sakit.


"Hai juga, sayang. Terima kasih sudah kemari," balas Diego seraya menghadiahkan sebuah pelukan hangat dan juga kecupan ringan di pucuk kepala wanita bernama Karin tersebut.


"Sayang, kau tahu, setelah ini aku akan menemui Danang Danuarta Setiawan di kafe terdekat," ucap Karin manja namun penuh semangat.


"Oh, ya? Bagus itu," jawab Diego ringan, "Tapi ingat, ada aku di sini sedang menantimu," lanjutnya memasang wajah cemburu yang disengajakan.


Sementara itu, si gadis bernama Hilya tersebut yang tampak masih betah berbincang dengan salah seorang asisten Diego Spirit yang sedang berjaga di depan, refleks menoleh ke arah wanita tersebut lantaran merasa nama suaminya baru saja disebut olehnya. Jadi itu urusan penting yang dimaksud oleh Danang tadi, pikirnya.


Bersambung....


Teman-teman sekalian, jumpa lagi setelah author mangkir beberapa lama...., mohon maaf dan terima kasih karena masih tetap betah pada karya recehku ini, salam saling dukung.


🤗🤗🤗