I Need You

I Need You
Mendapat Undangan Khusus



Ada raut kecewa yang terpampang di wajah pemuda berahang kokoh itu.Atau bahkan puas karena telah membuat gadis itu terpancing dengan tatapannya,tidak ada yang mengetahuinya secara persis.Yang jelas adalah seringai tipis itu selalu saja menghiasi wajah mix-nya.


Di mobil Dania mendapati sang kakak dengan kacamata hitam yang bertengger ria di hidung bangirnya.Gadis itu tertawa geli melihat tingkah sang pelindung yang membuat pagar gelap di matanya,


"Astaga!Kakak,apa para gadis itu kecentilan lagi?"usik Dania yang menyadari Danang tengah memandangi atap mobil.


"Ck!..,sedikit."decaknya singkat.


Dania menggeleng-geleng,untuk sesaat ia melupakan apa yang baru saja terjadi di antara dia dan kakaknya.


Di Kampus Xx.


Hilya menatap penuh gedung universitas yang telah menerima dirinya sebagai salah satu mahasiswi terbaik yang dengan nilai menjulang.


Sorot mata berkabut meratapi nasib buruk yang menimpa dirinya,dan bahkan mungkin saja akan menjadi pemicu yang menyebab riwayat perkuliahannya ikut tamat.


Sejenak pikirannya berkelana kembali ke masa-masa indahnya di mana kampus inilah yang menjadi alasan utama mengapa ia menginjakkan kaki di kota ini untuk pertama kalinya.


Gadis itu tersenyum getir,mencoba menepis semua rasa yang berkecamuk.Berharap agar kemungkinan terburuk tidak menimpa dirinya.


Perlahan ia melangkah masuk pintu gerbang dengan wajah yang dipermak sedemikian rupa agar tidak terbaca oleh siapapun kecuali Nuha Izz sahabat karibnya.


'Kamu bisa Hilya Afiyana!' batinnya menyugesti diri sendiri.Kali ini ia melangkah pelan menuju ke kantin.


"Pagi Hil,kau kenapa tidak menjawab panggilanku?Aku jadi mengkhawatirkanmu." ucap Joshua Adie Farhan sahabat dekat yang sedang gencar-gencarnya melakukan PDKT kepada Hilya.


"Pagi juga Joshua,maaf aku hanya kurang enak badan."jawabnya tidak bersemangat.


"Kau pasti kelelahan akibat pekerjaanmu itu kan,"ucap Joshua merasa iba.


Hilya menggelengkan kepala,"Tidak,aku hanya terkena flu biasa,Jo."


Joshua manggut mengerti,"Oh ya,apa kau masih bekerja di hotel restoran itu Hil?" tanya Joshua ingin tahu.


Hilya menggeleng,"Aku sudah berhenti dari sana."jawabnya datar.


Joshua mengernyitkan kening, "Maksudmu,kau sudah tidak kerja lagi dan ingin mencari pekerjaan baru,begitu?"


"Bukan Jo,aku hanya ingin fokus kuliahku saja,itu sebabnya aku memilih untuk berhenti dari sana."


Joshua mengangguk mengerti,"Oh baiklah,apa kau tidak berniat mencari pekerjaan lain yang lebih mudah?"


"Aku belum kepikiran Jo,sekarang aku hanya ingin fokus pada kuliahku saja."ucap Hilya berkelit.


"Emm..,okelah.Oh ya,nanti malam kau dan Nuha datang ke gedung galeri seni Jafie Group ya,"ucapnya seraya menggenggam jemari gadis itu.


"Aku akan menggelar pameran karya seniku yang pertama kalinya,aku harap kau datang."ujarnya pelan seraya menatap intens gadis yang kini mendapat tempat di hatinya itu.


Hilya yang awalnya pernah berpikir untuk menerima Joshua sebagai pria istimewa di dalam hidupnya kini terpaksa ia kubur dalam-dalam semua perasaan tersebut.


Sudah seharusnya ia berbesar hati menerima kenyataan pahit yang telah menimpa dirinya itu.


"Emm..,baiklah.Akan kuusahakan Jo."balas Hilya pelan seraya mengerjap.


Joshua memindai sekujur tubuh dan wajah Hilya.Menurutnya ada yang salah dengan gadis itu.Hilya yang periang,ramah,dan juga penuh semangat,selalu tampil bugar.Akan tetapi Setelah tiga hari menghilang kini ia hadir dengan kharakter yang lemah dan bermuram durja.


'Hilya tidak pernah sekusut ini.' batinnya.


Joshua terlihat mengernyitkan kening,


"Kau kenapa Hil?Apa kau masih sakit?"ucapnya seraya menempelkan telapak tangannya ke dahi gadis itu.


"A_aku baik-baik saja Jo,jangan khawatir." balas Hilya gagap.


Manakala Hilya dan Joshua tengah duduk berbincang ria,dari sisi lain muncul beberapa gadis yang menghampiri,salah seorang di antara mereka yang lebih dominan terlihat menyapa Joshua,


"Jo."ucapnya singkat.


Ada gurat cemburu di wajahnya manakala memandang Hilya yang duduk berhadapan dengan pemuda yang ditaksirnya.


Joshua sedikit mendongak namun setelah itu ia kembali berekspresi kalem.


"Ya."balasnya singkat.


Siapa yang tidak mengenal Prisil Amanda si pemimpin geng itu.Prisil adalah wanita tercantik sejagat kampus.Dia juga anak orang paling berpengaruh di kampus ini.


Ayahnya,ayah Joshua dan ayah Nuha Izz sama-sama memiliki saham terbesar di universitas Xx yang membuat si gadis merasa di atas segalanya.Dan lebih jelasnya lagi,Joshua dan Prisil berteman sejak kecil.


Gadis itu menyorot tajam ke arah Hilya dengan tatapan tidak suka,lantas beralih menatap Joshua,


"Apa karena dia,lalu kau menghindariku?" tanya Prisil sendu.


Joshua menggeleng,"Kau salah sangka Sil, aku menghindarimu bukan karena dia."


Prisil mendengus kasar,


"Lalu apa Jo?"cetusnya kesal,"Dua orang berlawanan jenis saling berdekatan di setiap kesempatan dan mengabaikan yang lainya,apalagi kalau bukan pacaran." lanjutnya Prisil tidak terima.


"Sudahlah Sil,aku lagi sibuk.Kau tahu sendiri kan,kalau sebentar malam juga aku akan menggelar pameran tunggalku jadi," menjeda sejenak,


"tolong jangan mengacaukan pikiranku dengan pertanyaan gilamu itu."lanjutnya seraya menarik tangan Hilya dan berlalu dari hadapan kumpulan wanita cantik itu.


Prisil merasa sangat marah melihat Joshua menggandeng tangan Hilya.Gadis itu memilih pergi dari sana seraya mengghentakkan kakinya berkali-kali.


"Sil,bagaimana dengan acara makan kita?"tanya Mila salah satu personil kumpulan wanita cantik.


"Batal."cetusnya geram.


Akhirnya keempat gadis itu pun pasrah mengekori langkah Prisil Amanda.


"Kenapa kau menghindarinya Jo?"tanya Hilya polos.


"Aku kan sudah pernah bilang bahwa aku tidak menyukai dia yang keras kepala," cetusnya,


"Apa perlu aku mengulangnya lagi Hil?"lanjutnya tidak suka.


"Emm..,maafkan aku."balas Hilya.


Joshua berpura-pura merajuk dan meninggalkan Hilya sendirian.


"Jo,tunggu aku,jangan marah gitu ah!Jelek tau."kejar Hilya seraya meraih lengan pemuda seniman itu.


"Bukan marah,tapi kesal harus mengulang kalimat yang sama."balasnya ketus,


"Ingat ya,sebentar malam kau wajib datang di pesta pameran karya seniku,karena kau adalah tamu istimewaku."lanjutnya menangkup jemari Hilya dengan senyum menyeringai.


Kini Hilya tahu bahwa Joshua sengaja merajuk untuk menarik perhatiannya.Hilya pun menghela napas lega.


"Kau!"cetusnya kesal mencubit lengan pemuda yang cengar-cengir di depannya.


"Auww!"Joshua pura-pura merintih kesakitan.


Kedua anak muda itu pun larut dalam derai tawa yang menyenangkan.


Malam ini keluarga Imran mendapat undangan sebagai tamu terhormat di pesta pameran karya seni putera tunggal rekan bisnisnya bernama tuan Farhan Hadinata.


Beliau adalah sahabat karib dari tuan Imran Surudin Setiawan.


Malam itu aula gedung Jafie Group dipenuhi dengan pernak-pernik karya seni milik putera tunggal tuan Farhan Hadinata sang pemilik perusahaan Jafie Group.Perusahaan selevel dengan milik keluarga Imran.


Hilya yang mendapat undangan istimewa dari Joshua mau tidak mau terpaksa menghadiri acara tersebut.Ia datang bersama Nuha Izz sahabat centilnya yang super cuek itu.


"Kau harus memakai gaun istimewa ini."ucap Izz beberapa jam yang lalu ketika mereka masih di rumah mewah tuan Jayahadi.Ayah kandung dari Nuha Izz Jayahadi,tuan pemilik Jaya Group.


"Apapun pilihanmu aku ikut."balas Hilya tertawa lebar.


Gadis itu sengaja diajak oleh sahabatnya itu ke rumahnya agar mempermudah mereka berangkat bersama.Hilya Afiyana mengenakan gaun cantik selutut yang sopan dan tertutup di bagian dada.Rambut lurus sebahunya dibiarkan tergerai begitu saja.


Polesan make up tipis dan rona merah di pipi yang samar serta lipstik berwarna pink merekah di bibir ranumnya membuat aura kecantikan gadis itu kian memancar dari dalam.


•••••


Bersambung...


🤗🤗🤗