
Happy reading 😍📖
Malam itu,Hilya membuka grup whatsapp satu jurusannya.Matanya saja yang tertuju kepada tugas kuliah,namun hatinya melayang ke mana-mana.Dalam pikirannya hanyalah bagaimana caranya agar ia tetap melanjutkan kuliahnya seperti sedia kala.
Hanya saja,mulai sekarang ia sudah harus membagi sedikit waktunya untuk melayani suaminya.Berangkat dari permasalahan yang ada,maka jika pada kenyataannya sang suami tidak membutuhkan dirinyapun dia pasti akan tetap meluangkan waktu untuk meladeni sikap kasarnya.Ya,setidaknya biar gelar seorang isteri jadi bermanfaat.
Hilya sengaja menyudahi pekerjaan menyimak pembicaraan grupnya.Kini ia melirik nomor ponsel milik Danang yang belum ia simpan.Gadis itu tersenyum geli menatap ujung kaki jenjang suaminya yang terpajang di profil whatssapp nya itu.Idepun mulai bermunculan begitu saja.Hilya sengaja menyimpan nomor suami tercintanya itu dengan dengan nama 'Morgans'alias monster ganas,hingga akhirnya ia terkikik sendirian.
"Ada orang gila,malam-malam cekikik sendirian."Danang yang sibuk dengan benda pipih di tangannya melemparkan sebuah ejekan tanpa memandang ke arahnya.
Hilya yang masih terkikik geli,sontak mengatupkan bibirnya.Gadis itu sengaja merebahkan diri ke atas sofa.Tujuannya agar ia bisa bersembunyi dan dapat menghindar dari pengamatan Danang.
"Kenapa tidur di sana,apa guna kasur sebesar ini jika kau memilih tidur di tempat lain?"
"A_aku,di sini_"
"Kemari sekarang juga,atau aku yang menjemput kasar."
"B_baiklah,aku yang ke sana."
Hilya bangkit.Tubuh langsing dengan balutan piyama berwarna cream itu membawa langkah ragunya kian mendekat.Mengambil posisi duduk disamping ranjang.Wajahnya tampak bersemu merah akibat hormon jantungnya bekerja sangat cepat.Napasnya yang menderu,seakan tertahan di balik tenggorokan,sukses membuatnya semakin salah tingkah.
Danang menyeringai,
"Jangan sok polos,bukannya kau sering dibayar untuk melakukan hal seperti ini?"
"Jangan menuding sembarangan."sanggah Hilya kesal.
"Oh,atau karena kau tidak ingin rahasia jago mainmu di ranjang terbongkar kan,"sambung Danang nyinyir.
"Kau terlalu berlebihan."balas Hilya ketus.
Entahlah....,bagai mendapat kekuatan dari mana,gadis itu terlihat mulai melawan.
"Kalau tidak demikian,lalu bagaimana bisa Junamu sudah sebesar itu?"Danang menatapnya miring.
Gadis itu terkesiap.Kini ia merasa perlu mengambil satu kesempatan untuk mejelaskan kebenarannya di saat itu juga.
"Dia itu_"
"Dasar kau gadis aneh,pria hidung belang yang hanya bisa membayar lelahmu sesaat dengan harga kecil saja,kau terima dan menikmatinya.Lalu bagaimana bisa aku yang memberimu jaminan seumur hidup namun kau menolaknya?"potong Danang cepat.
Hilya memberengut kesal.Dadanya mulai sebak.Ia nyaris kehilangan kata-kata.
Melihat kondisinya,Danang malah semakin gencar,
"Padahal jika kau mau, kau juga bisa meminta agar kuberikan mahar seharga milyaran rupiah.Tapi kau malah meminta segelas air putih yang bisa kudapatkan dari mana saja."serangnya bertubi-tubi,
"Kau itu dasarnya memang polos atau sok polos?Sekarang,mintalah sesuatu padaku,akan kutunaikan."titah Danang membuat Hilya seketika membelalakan mata.
Meski rasa sakit begitu mendera hatinya,namun Hilya masih tersenyum menanggapi ucapan Danang.Jelas terbaca binar penuh harap di balik sorot mata bening itu,
"Benarkah itu?....,baiklah aku akan memintanya jika memang kau memaksaku."
"Apa,cepat katakan."
"Aku meminta kau memberiku izin untuk membawa Juna tinggal bersama denganku di rumahmu."
Danang terbelalak,memandang intens wajah gadis yang terlihat ragu saat mengungkapkan keinginannya.Pemuda itu memindai tubuh gadis itu dari ujung kaki hingga ke ujung rambut,
"Pfftt....,Kau saja belum tentu kuizinkan untuk tinggal bersamaku.Lalu bagaimana mungkin keyakinanmu bisa seteguh itu,sampai ingin mengajak puteramu untuk ikut tinggal bersama di rumahku?"pungkas Danang mengejek.
Hilya tertegun,Lagi-lagi gadis itu terluka akibat ucapan pedas pemuda yang kini telah menjadi suaminya.Kini ia hanya tersenyum getir menahan rasa kecewa yang kian mendera.
Hilya tertunduk malu,
Danang mematung menatap gadis yang mulai meraih bantal ke dalam pelukannya,kemudian mengambil posisi tidur membelakanginya.Cukup lama ia memindai sekujur tubuh gadis itu di dalam diam,hingga akhirnya ia turut mengambil posisi tidur yang sama.Saling membelakangi.
Hilya sengaja memejamkan matanya yang tidak bisa terlelap.Satu jam....,dua jam berjalan,ia masih saja tidak bisa menjelajahi dunia mimpinya.Gadis itu mencoba mengintip suaminya yang tampaknya sudah tertidur pulas pada posisi terlentang.
Sejenak ia menghela napas berat,menggeliat lalu mencari posisi nyaman.Lamat-lamat tatapannya mulai nanar hingga dengan sendirinya memilih berpindah ke alam mimpi.
•
•
Suasana pagi,sarapan sudah siap di antar oleh petugas hotel.Danang yang bangun lebih awal,sengaja meminta petugas untuk mengantarkan sarapan pagi ke kamar,mengingat gadis itu masih tenggelam di dunia mimpinya.
Sejenak iapun terjaga manakala mendengar dentang bel berbunyi,
ting tong
Hilya bergegas menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri.Mandi sepuasnya,lalu berganti pakaian serta berdandan seadanya seperti kebiasaannya sehari-hari.
"Sarapanlah,kita akan segera ke kampung untuk berpamitan kepada bapak dan ibu,"titah Danang tanpa menoleh ke arahnya.Jemarinya tetap fokus ke ponsel miliknya dan Hilya menuruti ucapan itu.
Kediaman bapak Haryadi,
Di kamar Hilya...,ibu Elmiza memeluk erat puterinya,dan dibalas oleh gadis itu dengan pelukan yang sama eratnya,
"Ibu,maafkan Hilya sudah banyak salah sama ibu."ucapnya sambil menangis.
"Tenanglah sayang,puteri ibu yang cantik ini tidak pernah melakukan kesalahan apapun."
Sementara itu,di ruang keluarga....
Bapak Haryadi tengah asyik duduk bersama Danang.Pria paruh baya itu tampak menghela napas berat,
"Nak,sesungguhnya hubungan ini berawal dari sebuah kesalahan,jadi cobalah untuk memanfaatkan kesalahan itu,sebagai alasan untuk memperbaiki tindakan kalian."
"Jangan saling menyalahkan,jangan saling menyakiti dan jangan saling membenci.Tapi cobalah untuk saling menerima kekurangan itu agar kamu bisa menciptakan kelebihan yang mendatangkan bahagia."
Danang mengangguk mantap,
"Baiklah,aku akan selalu mengingat setiap ucapan bapak,dan berjanji untuk menjalankan tugas dan tanggung jawabku,sebagai suami dengan baik."
Bapak Haryadi perlahan mengangguk,
"Menyatukan dua isi kepala yang berbeda itu gampang sulit.Jika ada celah perbedaan yang sedikit mulai tampak,maka segeralah disatukan kembali,agar tidak mengundang celah yang lebih besar lagi.Karena semakin besar celah perbedaannya,semakin sulit pula upaya untuk menyatukannya."
Danang menyimak setiap petuah dari ayah mertuanya dengan saksama.
Dari ucapannya saja,Danang bisa membaca kharakter sungguhan bapak Haryadi,sebagai cerminan pria yang rendah hati dan selalu mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan.Sementara gurat ganteng di raut wajahnya,memaparkan kalau bapak Haryadi adalah sosok pria yang bertungkus lumus,dan rela berkorban demi isteri,anak dan cucunya.
Lalu bagaimana dengan sifat Hilya di luar sana yang menurutnya,sangat bertolak belakang dengan pribadi sang pemilik warung makan sederhana,yang telah melahirkan dirinya itu.Menurut Danang,Hilya hanyalah seorang gadis bunglon yang pura-pura lugu dan polos di depan semua orang,agar bisa menarik simpati dari mereka.Semuanya itu ia lakukan hanya untuk menutupi masa lalunya yang gelap.
Sekali lagi bayangan itu melintas di pelupuk matanya.Ya,bayangan soal mendiang mantan calon isterinya dahulu.Gadis bernama Lian yang memiliki masa lalu gelap dan fokus menggunakan alkohol,sebagai pelampiasan hatinya yang kesepian.Danang yang berjiwa besar,tetap menerima kekurangan itu sebagai suatu kekuatan yang akan membuatnya membawa Lian kembali ke jalan yang benar.
Manakala hatinya perlahan mulai menerima kekurangan dan siap mencintai wanita itu,tiba-tiba imbas dari masa lalu yang kelam datang merenggut nyawa calon isterinya itu,dan membawa pergi kebahagiaannya begitu saja.Lalu bagaimana dengan Hilya saat ini.Gadis itu juga memiliki kharakter yang nyaris sama dengan mendiang Lian.
Danang mulai memikirkan kemungkinan terburuk yang bakal menimpa rumah tangganya,jika ia bertindak gegabah.Yang menjadi kekhawatiran terbesarnya saat ini ialah,bagaimana jika dirinya yang perlahan mulai menerima kekurangan Hilya,kemudian mencintai isterinya itu dengan segenap hati dan perasaannya....,lalu tiba-tiba seseorang di masa lalu isterinya,datang dan merenggut semua kebahagiaan ini begitu saja.
Seperti halnya yang pernah ia alami bersama mendiang Lian.Ia bahkan tidak rela jika kebahagiaan yang baru terbina itu direnggut begitu saja oleh seseorang dari masa lalu gadis itu.Danang tidak ingin terjebak dalam kesalahan yang sama lagi.Ia tidak sudi terluka hanya karena mencintai seorang wanita yang bukan seharusnya menjadi miliknya seutuhnya,seakan hatinya saat ini sedang takut kecolongan.
•••••
Bersambung...
🤗🤗🤗