I Need You

I Need You
Mengeruhkan Hati



Happy reading 😍📖


Adhytama Star Group....


Pria paruh baya berwajah bersih itu tengah melenggang memasuki lobi perusahaan sang kakak.Ya,tuan Amran sengaja mengunjungi kantor kakaknya demi melaporkan hasil perkembangan perusahaan keluarga Wayans Group.


Senyum mengembang di wajah separuh bayanya.Ingat betul saat pertama kali dirinya menyapa seorang gadis yang tengah berjalan bersama seorang anak kecil.Ada kemurungan yang sempat terbaca di wajahnya saat itu.


Berangkat dari sebuah usikan kecil,mampu membuat gadis itu ikut tersenyum meski tampak dipaksakan.Tak disangka pertemuan sesingkat itu juga yang telah membawa titik terang untuk keluarganya.


Perlahan langkah kaki membawa dirinya memasuki ruang owner.Di mana sang kakak,tuan Imran sedang asyik memandangi layar laptop miliknya.


Masih ingat,ketika ia dalam suasana tak berdaya datang kepada sang kakak dalam hanya untuk meminta pertolongan,"Perusahaan dalam bahaya,anakku terjebak kecelakaan tunggal tiga bulan lalu dan kini masih koma."Tuan Imran terlolong menatap sang adik tanpa kedip.Ucapan terakhir Amran berhasil membawa perubahan kaget di wajah sang kakak.


"Tiga bulan lalu....,"Termangu,menatap, menerawang,"dan kau baru cerita sekarang?"Kini saatnya ia yang mengangguk pasrah sembari menunduk tajam.


Selanjutnya hening....,tidak ada pembicaraan lagi di antara keduanya,melainkan saling tatap dalam diam hingga akhirnya tuan Imran bersuara datar,"Aku akan menengok Dimas,mau ikut?"Meski rada gugup,akhirnya ia pun menuruti langkah tuan imran.Mereka berdua sepakat mendatangi Permata Elite demi memastikan keadaan Dimas kala itu.


"Kenapa sebelumnya tidak cerita,kalau Dimas sekarat?"Sergah tuan Imran datar sesaat setelah mendapati keponakannya terbaring tidak berdaya.


Menatap nanar ke wajah yang tengah terbujur kaku.Hatinya bak teriris sembilu berbisa.Amat merasa bersalah lantaran tidak mendapat firasat apapun atau sejenisnya mengenai petistiwa naas yang menimpa keponakannya.Dan kini ia baru mengetahui setelah sang adik menemui dirinya dan menceritakan apa yang sedang menimpa keluarganya.Miris,kesibukan dan ego telah menggadaikan rasa cinta menjadi rasa tak acuh dalam rantai kekeluargaan.


"Maaf,tidak brrniat menyembunyikan."Tapi lebih kepada menjaga agar rahasia tidak bocor sebelum permasalahan inti berhasil ditangani.


"Ah,aku sudah seperti orang asing di matamu."Menyesalkan apa yang sudah menjadi keputusan bulat adiknya.


Andai sebelumnya ia sudah mendapat kabar tentang musibah yang menimpa keponakannya itu,maka sudah barang tentu ia mengambil keputusan lebih awal dengan mengirim Danang ke Wayans Group demi menghandle tugas yang ditinggal Dimas,"Mungkin masalahnya tidak melebar sebesar ini."lanjutnya sedih.


Amran menunduk pasrah merasa bahwa selama ini ia sama srkali tidak punya keberanian ataupun kekuatan walau sekedar angkat bicara kepada sang kakak,atau hanya dengan memberi kabar,"Maaf aku kehilangan arah."


Dan ketika ia merasa semakin tidak berdaya lantaran Dimas divonis menderita kelumpuhan saraf otak dan tidak bisa memberinya harapan hidup,tiba-tiba perusahaan Wayans Group ikut tertimpa masalah besar.Denis,mantan suami adik nyonya Andin telah menggelapkan sejumlah besar dana perusahaan demi kebutuhan pribadinya.


Maka tidak ada solusi terbaik selain daripada mendatangi sang kakak di Adhytama Star Group.Mungkin inilah petunjuk agar ia tidak sungkan meminta bantuan dan membuka diri kepada sang kakak.Ini juga yang membuatnya menyadari bahwa dukungan moril dari keluarga besar sangat dibutuhkan.


"Maafkan aku,kak."Lagi-lagi kalimat singkat mengandung penyesalan melesat dari bibir keringnya.Ekspresi tidak berdayanya membuat sang kakak semakin trenyuh.


"Baiklah,aku akan meminta Danang untuk segera menanganinya."Itu janji sang kakak saat keduanya saling berembuk di dalam kamar milik Dimas.Hanya ada satu rasa yang bergelayut di dalam pikiran keduanya,"Semoga Dimas lekas sadar dan kembali bersama kita."


"Kuatkan hatimu,aku yakin,ini ujian yang tersisip rencana terindah yang sengaja disusun Allah untuk kita semua,terutama buat Dimas."Ada benarnya ucapan sang kakak,pantaskah ia mengakuinya bahwa gadis itu....,Hilyakah rencana terindah yang dititip Allah kepada Dimas?


"Masih mau mematung di sana,atau kemari dan kita rayakan keberhasilannya saat ini juga?"Desis tuan Imran seketika membuyarkan lamunannya.Senyum canggung tiba-tiba menyungging manakala dipergoki sang kakak, dirinya sedang melamun.


Perlahan langkahnya kian mendekat saat melihat sang kakak berdiri dan merentangkan kedua tangan menyambut kehadirannya.Ah,ingatan zaman remaja kini menggelayut mesra diingatan tuan Imran.


Rasanya baru kemarin dirinya memeluk remaja Amran saat keduanya terlibat dalam perlombaan jet sky kebanggaan utusan sekolah menengah atas dan memenangkan ajang perlombaan bergengsi Water Sport Beach,"Kau menang dek!"Pekiknya girang dan saling menepuk punggung.


Dirinya harus menerima kenyataan bahwa sang adik yang memenangi perlombaan dengan babak skor 48+60+60 dengan total point seratus enam puluh delapan sementara dirinya harus puas menerima selisih dua angka di bawah sang adik.


Dan kini keduanya saling berpelukan dalam rangka mendapat kabar kutu loncat dalam perusahaan mereka telah tumbang.


"Terima kasih sudah menyelamatkan perusahaan papa kita."Menyambut rentangan tangan sang kakak kedalam pelukan hangat.


"Sudah menjadi kewajiban kita,sebagai anak-anak papa,"timpalnya sembari menepuk hangat bahu sang adik.


"Kapan tindak lanjutnya?"


Amran menghela napas berat,"Denis masih kubiarkan mendekam di pernjara sembari menunggu Dimas kuat."


Tuan Amran memberi ruang kepadanya,lalu sama-sama mengambil posisi duduk di sofa,"Apa Dimas sudah sadar?"Pelan namun semangat.


Amran mengangguk pelan,"Seorang gadis telah menyelamatkannya,"ucapnya gamblang.


Di taraf kursi roda,"Hanya menunggu waktu,"menatap lekat ke wajah sang kakak,"Ini mengejutkan,kak."Tuan Imran mengerut kening tajam,masih mencerna namun gagal.


"Seorang gadis belia telah berhasil menolong kita."Terangnya antusias,"Sepertinya dia dan Dimas memiliki imatan batin yang kuat."Tuan Imran baru mengerti maksud sang adik.


"Ada niat untuk menjodohkan keduanya?"Sang kakak transparan.Amran mengangguk pelan,"Tapi....,"


"Kenapa tapi,bukankah niat baik akan lebih baik jika dipercepat."


Amran menggeleng pelan,"Bukan begitu,tapi gadis itu.Sifatnya yang teguh membuatku khawatir jika ia menolak."


Tuan Imran tersenyum,"Percaya atau tidak,aku malah berhasil menikahkan Danang setelah lolos menjebaknya bersama seorang gadis cantik di DS hotel VIP room."Terangnya membuat Amran membelalakkan mata,"Meski awalnya Danang protes keras,tapi sifat gadis yang teguh pendirian,keibuan dan tanggung jawab,telah membuat hatinya melunak."lanjutnya tersenyum geli mengenang perbuatan masa lalunya.


"Awalnya aku sempat pesimis karena Danang telah memutuskan untuk menutup diri dari wanita manapun,dan aku nyaris menyerah karena tiap hari cekcok dengannya,"ucapnya menerawang,"Tapi lewat situlah rencana indah yang disusun Allah kepadanya,lalu ide konyol itupun terwujud dan berhasil."lanjutnya masygul.


Tuan Amran manggut-manggut mengerti.Satu hal yang ia tangkap dari maksud sang kakak,yaitu bertindaklah jika itu menurutmu benar,meski tidak semua keinginan bisa terwujud sesuai harapan.Jalani masalahnya lalu temukan solusinya,oke fix.


"Jika sudah nyangkut,atur saja."Seloroh tuan Imran membuat Amran terkekeh.


"Aku butuh kejelasan dulu,kak.Sangat khawatir kalau sampai gadis itu menolak karena alasan yang tidak bisa dibantah."Jelasnya menerawang.


"Baiklah,aku tunggu kabar selanjutnya.Jika sudah mantap,serahkan semua urusan pernikahan kepadaku.Biar Danang yang mengurusnya."Tawar tuan Imran tulus dan disambut anggukkan mantap dari sang adik,"Okelah,kak."


Detik berlalu,hari berganti.Kini tepat seminggu Hilya menjalani tugasnya di Permata Elite.


Merangsang kesembuhan seorang pasien akut seperti Dimas,bukanlah hal mudah.Namun berkat keteguhan hati dan perjuangan yang tulus,gadis itu berhasil membuat Dimas melakukan pergerakan yang lebih baik dan lebih intens dari sebelumnya.


Kini pria itu sudah bisa berjalan dengan kaki meski masih melalui bantuan orang,atau lebih tepatnya dipapah oleh orang lain.


"Kau sudah punya pacar?"Dimas bertanya di suatu sore saat Hilya baru selesai memapahnya berjalan lalu membuatnya kembali duduk di kursi roda.


Hilya mendongak sesaat membuat keduanya saling beradu tatap.Wanita itu menangkap sorot ingin tahu yang cukup tinggi.Lagi-lagi ia harus tersenyum demi membuat Dimas merasa nyaman berkomunikasi dengannya.


Sejenak ia menggeleng sebelum akhirnya ia mulai bersuara,"Tidak,tapi punya suami."Sembari melirik singkat ke arah Dimas.Ada raut sendu yang mendadak muncul dari sorot redup itu.Namun seketika itu juga berubah menjadi tawa sumbang yang menohok perasaan,"Sebelia ini sudah punya suami,kau sengaja menghindar dari seorang pria sepertiku?"Menatap tajam ke arahnya,"Bagaimana jika aku memaksa untuk melamarmu karena mengetahui kau telah berbohong?"Perntanyaan yang membuat hatinya terhenyak.


Blurrrr


Bagai tercebur kedalam sekolam air,dingin.Kini ia harus berjuang meyakinkan pemuda di depannya bahwa dirinya benar-benar telah bersuami,dan Danang adalah suaminya,"Tidak."


Namun yang menjadi pertanyaan saat ini,apakah Dimas percaya semua itu,lalu bagaimana menjelaskan perihal suaminya,sementara Danang saja belum pernah menampakkan batang hidungnya di depan Dimas.Khawatir nanti Dimas mengira dirinya mengada-ada,"Aku berkata jujur."


"Oh,ya....,bisa kau kenalkan suamimu kepadaku?"


"Baiklah,aku akan meminta kesediaannya untuk datang menemuimu."


Dimas tercenung usai Hilya berpamitan untuk pulang.Tidak ada senyum di wajah pucat itu seperti hari-hari sebelumnya.Baru saja secercah harapan muncul,tiba-tiba harus dipatahkan oleh jawaban yang paling mengeruhkan hatinya.


Hal yang paling ditakutinya sejak mulai menyadari hatinya bertaut kepada gadis itu,ternyata menjadi kenyataan.Jawaban gamblang yang tak terbantahkan,"Aku sudah menikah."


Memangnya siapa dirinya,lalu apa haknya memperjuangkan sesuatu yang tidak ingin diterima kehadirannya,"Ini terlalu sakit jika tak terbalaskan,"pikirnya getir.


Seharusnya ia sadar dari awal dan tidak membiarkan tamu tak diundang itu berkunjung ria kedalam hatinya,"Sudah kuduga,kenyataan tak sesuai harapan....,"bisik hatinya,"gersang."


....


Bersambung....


🤗🤗🤗