
Happy reading 😍📖
Danang yang menyadari kehadiran isterinya di tengah suasana yang tidak seharusnya sontak menolak kasar tubuh gadis yang sedang menggebu-gebu memeluknya erat.
Danang bergumam,"Jadi benar kau kemari?"
Hilya tampak tersenyum manis meski rada salah tingkah di depan suaminya.Wajah putih bersih itu tampak samar-samar menyeringai getir,
"Ee....,m_maaf.A_aku dan juna kemari hanya untuk mengantarkan makan siang.K_karena kau merespon baik pesan whatsappku tadi,kan"Hilya berusaha menjelaskan.Gagap.
Ucapannya sontak tercekat di tenggorokan.Namun tatapan sendu itu seakan mewakili ucapan yang tidak sanggup ia lontarkan,"Lagipula belakangan ini kau tampak kusut dan tidak pernah makan di rumah,karena alasan sibuk.Dan kini aku tahu apa alasan yang membuatmu sibukkkk."
Danang tertegun.Ia baru menyadari kalau sejak mereka pindah ke rumah baru,dirinya memang tidak pernah pulang ke rumah tepat waktu.Lalu dua malam terakhir ini dia juga tidak pulang ke rumah.Dia memilih menginap di apartemen milik sang papa dan juga VIP room milik restoran DS.Ah,dia benar-benar lupa tanggung jawabnya sebagai suami dan ayah di rumah.
'Hebat.'batinnya nelangsa.
"Ah,maaf.Sepertinya ini saat yang tidak tepat.Aku dan Juna pamit dulu,kami akan datang lain kali,"ucapnya getir seraya membalikkan badannya siap melangkah keluar pintu tanpa peduli apa dan siapa wanita yang baru saja terlihat memeluk suaminya itu.
Ya,ini bukan pertama kalinya kan,kenapa harus bersedih memikirkannya.Toh,Danang juga tidak menganggap dirinya ada.Percuma berjuang menjadi isteri yang baik buat dia.
"Tidak ada yang tidak tepat,Hilya.Kemarilah,kita akan makan bersama,"ucapnya sembari berusaha menarik lengan Hilya.
Hilya menepisnya,"Ah,tidak usah repot-repot.Kau saja....,dan kau bisa cari makan di kantin sini,kan."
Gadis itu memilih pergi dan membawa pulang bekal yang sudah ia siapkan untuk suaminya.
"Hilya,Hilya,Hilyaa,ayolah,kumohon bersikap yang seharusnya,"menggeleng pelan kepalanya,lantas menarik tubuh langsing itu kedalam dekapan eratnya sembari berbisik lirih,"setidaknya demi Juna."
Danang menekan bisikan terakhirnya membuat Hilya tersadar kalau saat ini dia tidak sendirian.Melainkan ada Juna yang selalu memuji-muji sosok papa angkatnya.Padahal dalam pikirannya dia sempat mengira bahwa Danang menahannya dan memeluknya karena ingin meminta maaf.Ah,bodohnya.Hilya menyentak,melepas pelukan Danang,lalu turun menangkup bahu Junanya,
"Sayang,papa sedang sibuk,kita akan kemari lain kali,ya."Hilya memberikan isyarat anggukan agar Juna menerima permintaannya.
Juna mengangguk,"Baiklah bunda....,papa,kami akan kemari lain kali,"mendongak memegang tangan papanya yang tinggi menjulang,"Papa kan sibuk,kami ikut maklum."lanjutnya tersenyum polos seraya menunjukkan ke arah wanita yang duduk enteng di sofa sana.
Danang berjongkok meraih punggung Juna lalu membawanya kedalam gendongan,"Baiklah,jagoan papa boleh pergi sekarang,"mencium gemas pipi montoknya,"Tapi jaga bunda di rumah ya,sampai papa pulang."lanjutnya sembari membopong tubuh mungil tersebut ke depan pintu.
"Oke pa,jangan telat pulang ya,Juna dan bunda tunggu."Juna mengingatkan.
"Siap bosskue!Hehe.."Danang menyanggupinya penuh semangat.
Saat Hilya dan Juna siap-siap melangkah pergi,Danang sigap merebut rantang makanan yang dipegang oleh isterinya.Hilya mencoba merebutnya kembali,namun gagal.Yang ada malah Danang menemukan kans baik untuk mencuri satu kecupan manis di bibir ranum miliknya.
Hilya yang terlanjur kecewa,malah meresponnya dengan sebutir bening yang lolos begitu saja ke pipinya,sebak.Kaki jenjang itu akhirnya memilih menarik gagang pintu lalu pergi begitu saja sembari menahan rasa yang teramat,sakitt....
Di lobi,Hilya tidak sengaja berpapasan dengan seorang pria paruh baya yang wajahnya seiras dengan seseorang yang pernah ialihat sebelumnya.Pria itu tampak tersenyum ramah ke arahnya.Hilya hanya berusaha tersenyum kecil meski hatinya sedang terluka.
"Bunda,jadi ke tempat hiburan anak,kan?"Juna membuyarkan lamunannya.
Ah,janji yang nyaris terlupakan gara-gara peristiwa tadi.Hilya menghela napas panjang,"Oh jadilah sayang,"membelai rambut tipis sang bocah,"Apa yang tidak buat Juna."lanjutnya tersenyum.
"Andai papa tidak sibuk ya,bunda."Juna mengandaikan sesuatu yang menembah moodnya jadi semakin hilang.
"Memangnya kenapa,nak?"tanya Hilya penasaran.
"Ya,papa tidak perlu repot-repot bekerja sama tante genit tadi itu."terangnya membuat Hilya ikut terbelalak.
Gadis itu cepat-cepat memeluk tubuh puteranya,"Hushy....,jangan bilang begitu,nak."mencium lembut pucuk kepalanya,"papa sibuk bukan karena siapa-siapa sayang,tapi demi masa depan kita berdua,nak."mencoba meluruskan apa yang dipikirkan oleh Juna.
"Tapi,tantenya genit.Juna tidak suka."
Juna memasang wajah cemberut.
"Emm....,baiklah bunda."
'Awas saja kalau sampai merebut papa Danang dari bunda.'batinnya geram sembari mengepalkan tinju mungilnya.Sorot elang junior itu ikut menyala seakan ingin memangsa.
Kembali ke lantai tertinggi gedung Adhytama Star Group....
Danang yang kembali ke mejanya seraya menenteng kotak makan milik isterinya,dengan mimik yang sulit ditebak.Meletakkan benda tersebut di atas meja sembari mendengus kesal.Baru saja ia ingin berbalik,tiba-tiba Vania sudah mencegatnya dengan sebuah pelukan dengan kedua telapaknya telak menangkup punggung lalu menempelkan kepala ke dada bidangnya,manja.
Gemuruh rasa di dada pria. itu,berkecamuk.Bahkan Hilya,isteri sahnya saja tidak pernah melakukan hal demikian kepadanya.
Seketika membuatnya sukses menggeliat.
"Hhh..,pacarmu seorang janda?"Vania melemparkan pertanyaan sinis,"Sungguh tidak pantas,Danang.Kau pria berbobot,kenapa pacaran sama janda anak satu?"membelai mesra belahan punggungnya.
Danang kehilangan kesabaran lantas mendorong wanita yang masih memainkan telapak tangan ke punggungnya itu,"Berhenti merendahkan isteri dan anakku,"ucapnya geram.Tatapannya semakin tajam menghujam.
"Appaa?....,isteri dan anak?"
"Hhh....,kau punya anak sebesar itu?Hei,daripada dengan dia,lebih baik kau kembali kepadaku.Kita akan membina rumah tangga dan hidup bahagia,sayang."Vania menentang berapi-api.
Danang berdecak kesal,menangkup rahang gadis iti dan mencekaalnya,"Ck!Biar dia janda tapi dia tidak murahan seperti dirimu."bentaknya berang.Kemarahannya nyaris tidak terbendung.
Vania menyeringai sinis,
"Danang,kau berlebihan.Hanya karena wanita tidak jelas itu,lalu kau menghinaku?"celetuknya geram.
Danang melengos,sontak menarik kasar pergelangan tangan Vania lalu membawanya ke depan pintu,Sepertinya gadis ini harus di kasih pelajaran,
"Ini jalan keluarnya,"membuka pintu lalu menariknya keluar,"pergi dari sini dan jangan pernah kembali lagi ke hadapanku,"lanjutnya datar namun penuh penekanan.Sorot matanya kian gelap.Sesaat kemudian ia kembali ke dalam ruangan sembari menutup kasar daun pintu.
Vania tampak jengkel dengan perlakuan Danang.Gadis itu menghentakkan kakinya beberapa kali sebelum akhirnya ia memilih untuk pergi,
'Awas saja kau Danang,aku akan kembali lagi untuk merebut hatimu.'
Di dalam ruangan,Danang menghempas kasar duduknya di kursi kebesarannya.Membanting punggungnya,bersandar dan menyugar kasar rambutnya yang rapi,
TAKKK!
Bunyi hantaman telapak tangannya mengenai daun meja.Ekspresi kesal jelas terpampang di wajahnya yang bersih.Sejenak sorot matanya menumpu kepada kotak bekal yang baru direbut dari tangan isterinya.
Danang meraih rantang tersebut dan membuka lalu meneliti isinya,intens.Tampak nasi pulen dengan beberapa jenis menu seafood yang menggugah selera.Ia kembali meraup kasar wajahnya,
'Dia tahu menu kesukaan yang aku tolak untuk konsumsi?'mengacak rambutnya frustrasi.
Dengan sangat terpaksa ia menyendok makanan tersebut dan memasukkan ke mulutnya.Satu kunyahan....,dua kunyahan....,dan....,tiga kunyahan....,persis dengan rasa yang ingin ia lupakan selama ini.Sontak jemarinya mengetuk keras daun meja,
TUKKK
'Apa maksudnya ini?....,ketentuan nasib macam apa ini?Kenapa cinta terlalu memaksa hadir jika hanya untuk mempermainkan perasaan seseorang sepertiku?'gumamnya stress.
Sementara itu di dalam sebuah mobil yang sedang melesat,tampak seorang gadis cantik tengah mengucurkan air mata yang sudah tidak sanggup ia bendung.Melampiaskan rasa sedihnya, sakit,derita dan juga lukanya yang menguar menjadi satu rasa yaitu kecewa sembari memangku puteranya yang terlelap.
Bahkan supir pribadi yang mengendarai mobil di depan saja tidak tega untuk sekedar menyapanya.Dalam pikiran sang supir tua itu,pasti tuan dan nonanya baru habis bertengkar.
•••••
Bersambung....
🤗🤗🤗