I Need You

I Need You
Gunting Bunga



Danang mengerti apa yang dimaksudkan oleh sang isteri.Ucapan ambigunya itu menandakan dirinya ada di ruangan tersebut sejak dari tadi.Bahkan dari tatapan gadis itu saja,seakan mengatakan kepadanya bahwa,"Kau suami bejat!"Danang yakin jika isterinya pasti melihat adegan kedekatan dirinya dengan wanita yang tidak lain adalah Karin.


(Di karya pertama author,sosok Karin adalah gadis yang diincar oleh Danang sekaligus dijodohkan oleh oma mereka,oma Hasnah Setiawan.Namun Danang memilih untuk menghargai pilihan Karin yang jatuh kepada sahabat kecilnya,Diego.Melalui sebuah penantian yang sangat panjang.Bisa disimak kejelasannya di karya pertama author 'CASK' ya.)


Danang mencoba mengekori Hilya yang berjalan keluar dari ruang owner membawa sekeping hati yang penuh tanda tanya.Andai bisa diungkapkan,ia akan berkata kepada isterinya bahwa,"Kau salah paham"atau "Maaf,tidak bermaksud melukaimu"atau bahkan dengan penuh percaya diri menarik lengan isterinya dan memperkenalkan sosok Karin kepadanya,"Perkenalkan dia sahabat karibku."


Akan tetapi ia juga tidak sanggup melakukannya lantaran dilema di hati yang cukup berat.Antara perasaan bersalah karena telah membuat isterinya terluka,dan perasaan tidak percaya diri,apakah Hilya tulus menganggap dirinya seorang suami ataukah tidak.Buktinya sudah beberapa kali gadis itu menolaknya melakukan hubungan yang seharusnya dilakukan suami isteri.


Lalu haruskah ia lega karena secara tidak langsung telah membalas dendam kepada isterinya karena masih sering berhubungan dengan mantan kekasihnya itu.Ya,seharusnya ia tertawa licik,atau bahkan tawa semringah karena telah berhasil melakukannya.


Namun sebaliknya ia malah merasakan luka yang cukup menusuk di relung hatinya.Entahlah,untuk apa itu.Yang jelas rasanya begitu sakit bagai dihantam ribuan jarum tak kasat mata,dan menyemburkan darah segar yang menyirat ke seluruh urat nadinya.


"Kakak,kakak ipar,kalian di sini?"Dania yang baru saja tiba langsung menyapa saat melihat kedua orang dekatnya hadir di depan mata.Bukankah mereka seharusnya sudah berada di ruang ganti kostum tradisional,pikir Dania.


"Ee'...,Nia...,tolong kau antarkan Hilya ke ruang ganti kostum ya,"ucap Danang yang masih rada gugup dan Dania mengangguk.


"Ayo,kakak ipar.Jangan sungkan,ini juga hotel milik keluarga Adhytama."Dania memperkenalkan santun.Saat Hilya dan Dania berjalan beriringan,barulah ada senyum dan sapa dari beberpa karyawan yang saat pertama kali Hilya temui,serupa batu karang yang tidak bergeming sedikitpun.


Hilya yang masih kecewa dengan kenyataan yang baru saja ia lihat,memilih untuk diam selama perjalanan menuju ke ruang ganti kostum.Ah,kenapa pelayanan hotel ini terlalu lemah.Seharusnya saat pertama kali ia kemari tadi,petugas yang ia temui tadi sudah mengarahkan dirinya untuk segera berganti pakaian.Dengan begitu,mungkin ia tidak akan memiliki kesempatan untuk keliling hotel lalu melihat pemandangan yang menyayat hatinya.Gadis itu merutuki dirinya sendiri dan juga kelemahan si pegawai resepsionis tadi.


'Bukankah seharusnya aku puas melihat kenyataan itu,lalu mengumpulkan alasan berikutnya untuk segera hengkang dari hadapannya?'batin Hilya galau dan bimbang.


Di ruang ganti....


Hilya dan Dania sama-sama berganti kostum adat tradisional khas Bali.Pemakaian seragamnya disesuaikan dengan status pernikahan.Hilya yang sudah bersuami diberi seragam Payas Agung sebagai pelengkap acara berbagi yang akan digelar oleh cucu keturunan bangsawan ini.


"Kakak ipar,kau cantik sekali."Dania memecah hening yang tercipta di antara mereka.


Hilya hanya tersenyum,"Kau malah lebih cantik, sayang."


"Benar kakak ipar,itu kostum sangat cocok dengan auramu."Dania menambahkan,diikuti oleh anggukan dari perias yang bertugas merias mereka berdua saat itu,


"Benar nona,ini melambangkan kesucian dan kemurnian hati seorang isteri terhadap suaminya."Perias tadi menerangkan,membuat Hilya dan Dania tertawa lepas bersama.


Sementara Dania mengenakan payas yang riasannya disesuaikan dengan status lajangnya.Rambut gadis itu dibiarkan separuh tergerai sebagai pertanda kegadisannya. Sedangkan Hilya,rambutnya disimpul erat lalu dikenakan gelungan di kepala serta beberapa aksesoris wanita bangsawan yang telah menikah.


Baru saja usai dirias,tiba-tiba muncul dari balik pintu seorang pemuda tampan dengan sorot mata tajam ala playboy.Seperti biasanya akan melirik dan memuji kecantikan para wanita yang auranya mengusik mata dan hatinya.Sorot elangnya yang berbinar membawa langkahnya kian mendekat,


"Hai sayang,kau sangat sempurna,"gumamnya seraya mendaratkan ciuman ke kening Dania,dan berhasil membuat raut wajah Dania yang sangat cantik seketika merona merah.


"Terima kasih,sayang."Dania membalas manja.


Pemuda yang tidak lain adalah Haidar si General Manager ASH itu kemudian mencuri kecupan kecil di bibir ranum Dania.Tampak begitu tulus dan lembut.Dania tampak begitu menikmatinya.Semua itu tidak luput dari pengamatan kakak ipar Hilya yang hanya melongo dengan mulut berbentuk huruf O.Beberapa detik kemudian,seakan baru menyadari jika ada seseorang lagi di dalam ruangan tersebut,lantas membuat pemuda itu bereaksi cepat setelah beberapa detik memindai wajah Hilya,


"Boleh aku mengatakan sesuatu,kau bahkan sangat cantik,"ungkap pemuda itu sembari menghunus tatapan takjubnya.


Hilya hanya tersenyum samar memandang pemuda itu dengan kening yang berkerut.


"Kakak ipar,jangan digubris.Dia absurd."Dania meluruskan sembari tertawa kecil,mencubit gemas perut Haidar yang gagal menghindar,


"Sana pergi,sebelum kakakku datang dan memergoki kita.Kau tahu kan apa akibatnya?!"Dania menyentak pemuda itu agar segera menjauh darinya.


"Baiklah,baiklah sayang.Aku akan pergi."Haidar tersenyum gemas memandang gadis yang tengah mengusirnya itu.Sesaat kemudian ia berlalu sembari melemparkan tawa ke arah Hilya.


"Ee....,kakak ipar.Tolong jangan dibeberkan ke kakak ya,pliiss!"Dania berbisik pelan dengan tampang memelas.


"Emm....,baiklah.Apa dia kekasihmu?"


Dania mengangguk,"Ya,tapi tidak direstui oleh kakak dan juga papa,mungkin."


Hilya manggut-manggut.


Dania tampak tersenyum simpul setelah mendapat tahu Hilya berpihak kepadanya.


Ballroom - Adhytama Star Hotel


Hilya tampil sangat cantik dan menawan.Sosok yang kesehariannya sangat melekat dengan adat dan tradisi turun temurun itu,kini membawa aura yang terpancar nyata di saat ia mengenakan kostum tersebut.Innerbeauty yang tiada duanya.


Sempurna!


Ucapan refleks yang keluar begitu saja dari para hadirin.Keluguan dan kepolosan yang tergambar di wajah Hilya membuat siapapun berdecak kagum memandangnya.Tidak terkecuali sepasang pewaris Adhytama Star Hotel yang baru saja ia temui di ruang owner tadi dalam suasana canggung,Diego dan Karin.


Sesuai tradisi keluarga besar Adhytama,tuan Imran menyandingkan puteranya dengan isterinya untuk turun langsung dan berbagi kebahagiaan secara simbolik kepada perwakilan seribu warga dari golongan menengah ke bawah.


Danang tampak menggandeng Hilya dalam acara gunting bunga.Meski suasana hati mereka yang berbeda rasa,namun sandiwara mesra itu tetap mereka amalkan.


"Tersenyumlah,setidaknya untuk para tamu kita,"bisik Danang lirih ke telinga isterinya.di sambut dengan tatapan berkaca-kaca yang menghunus ke bola mata elang milik suaminya.


Sorot sendu yang menerobos jauh ke dalam dan mengetuk-ngetuk keras relung hati pria berhati batu di depannya itu.Danang tergugu.Sontak memilih untuk mengakhiri pandangannya terlebih dahulu.Ya,tindakan yang tidak pernah ia lakukan karena memang dialah penantang yang tak terkalahkan.Danang mengubah pegangan tangannya dengan sebuah genggaman erat pada jemari isterinya seakan sedang mengatakan kepadanya bahwa,"Jangan biarkan kusendiri melangkah dalam ketidakpastian,"begitu erat hingga tidak ada keinginan untuk melepasnya.


Acara peringatan satu tahun meninggalnya mendiang oma bangsawan,sengaja dilakukan di Adhytama Star Hotel karena hotel ini merupakan jerih payah aset pertama dan tertua milik mendiang nyonya Hasnah Adhytama Setiawan.Itu sebabnya semua acara pembukaan bertumpuk di sini.


Maka dari itu,baik Danang sebagai pewaris Adhytama Star Group maupun Tuan Adhytama Haikal Jolly(kakak kandung Karin Dhiyana Haikal Jolly)si pewaris tunggal Adhytama Group sendiri sama-sama tampil dengan seragam payas Agung yang serupa bersama dengan pasangan mereka masing-masing.


"Jangan sungkan,lihat di sana,masih ada menantu lain yang memakai seragam yang sama denganmu."menunjukkan ke arah kakak Farah,isteri Tama yang tampak sedang terseyum manis ke arah mereka.


Hanya itu ucapan yang bisa Danang lontarkan setelah suasana canggung dibiarkan berlangsung cukup lama,detik,menit,bahkan hingga beberapa menit.


Hilya bungkam.Jika bisa memilih,ia akan memilih untuk menyumbat pendengarannya daripada harus mendengar ocehan 'tidak bernyawa' seperti saat ini.Namun ia paksakan juga untuk tersenyum demi citra suami dan juga keluarga besar suaminya.


Bisa dibilang bahwa mendiang nyonya Hasnah Setiawan sengaja melakukan pembagian waris sedemikian rupa agar proses pelaksanaan memperingati momen-momen penting seperti saat ini,para anak cucunya tidak pecah belah dan selalu tampak bersatu dalam satu tim yang sangat kuat.


"Bro!...,saatnya dokumentasi.Kau harus banyak bergandeng dengan kak Tama dan juga kak Farah."sentak pria yang bernama Diego.


"Ah,baiklah bro!"jawab Danang tertawa kecil sembari meninju jemari Diego yang diganti dengan tangan mungil bayi laki-lakinya yang lucu dan menggemaskan.Pria itu kini tampak sedang menggendong seorang bayi berusia kurang lebih tiga bulan,


"Kau benar-benar jagoan sejati,baby boy!"


Danang menyapanya dengan nama Putera William.


Hilya yang masih malu-malu menyambut bayi itu dari gendongan Diego.


Cup!


•••••


Bersambung...


🤗🤗🤗-