I Need You

I Need You
Eratkan Simpulnya



Happy reading 😍📖


Sore akhir pekan yang cerah,Danang menyempatkan diri untuk pulang ke rumah lebih awal.Mengingat sudah tiga hari ini,janjinya kepada Juna yang belum sempat terlaksana.Ia akan menemani Juna mencarikan mainan pesawat tempur yang dimaksud oleh sang bocah.


"Wadduh!Terlewat tiga hari,ini."Gumamnya merutuki diri sendiri karena baru teringat akan janjinya,"Semoga tu benda masih ada di tempat."Harapnya cemas.


Danang sengaja pulang tanpa mengabari Hilya terlebih dahulu karena niatnya selain untuk memenuhi janjinya kepada Juna,ia juga sengaja ingin membuat kejutan kepada sang isteri tercintanya,berhubung ini adalah momen akhir pekan yang menyenangkan.


"Happy weekend,sayang."


Gelegar suara maskulinnya memenuhi ruang keluarga yang tampak lengang.Sejenak ia melirik ke arah dapur.Bahkan bibi Nunung yang setia mengurus dapur saja tidak kelihatan batang hidungnya.


"Ke mana mereka semua?"


Ucapan tidak menyerahnya membuat langkah kaki yang semakin mendekat ke arah taman belakang serta merta menembus pemandangan yang cukup menyenangkan hati.


Dan ketika dunia telah berpihak kepadanya,maka sang pengembarapun kembali kepada keluarganya yang sudah tidak utuh lagi.


Mengapa demikian?Karena ibu,ayah dan juga adik-adiknya yang telah berada di antara bintang di langit.


"Salah bunda,"Protes Juna.


"Kenapa salah,sayang?"


Bocah itu tampak serius menggelengkan kepalanya,"Kata papa,ayah dan ibunya bukan berada di antara bintang,"mengangkat tangan kanannya menyentuh dada kiri,"Tapi berada di sini."Menunjukkan tepat di organ hatinya.


Sejenak Juna melirik ke arah bibi Nunung yang juga tengah duduk bersama dirinya di atas tikar yang digelar khusus untuk acara mendongeng mereka,"Aku benar kan,nek?"Meminta pendapat sang bibi yang di sapa nenek.Wanita paruh baya itupun mengangguk mantap,"Ya,kau benar,sayang."


Hilya tertegun,Juna yang sekecil itu memiliki daya ingat yang cukup kuat.Kejadian di beberapa bulan lalu yang akhirnya membawanya ke kota ini masih saja segar diingatannya.


Padahal dirinya saja nyaris melupakan proses kejadian di mana untuk pertama kalinya Danang menobatkan dirinya sebagai papa bagi puteranya tersebut.


Sejenak kemudian iapun menarik napas dalam,"Oh,iya,ya.Bunda baru ingat....,maaf sayang,bunda keliru."Ralatnya sembari tersenyum haru.


Juna mengangguk senang,sementara Danang yang masih menepi menatap haru momen yang sedang berlangsung.Kini sang bunda sebagai pendongeng kembali melanjutkan ceritanya,


Sedangkan teman sejati yang selalu menemani dirinya dalam suka maupun duka telah memutuskan untuk berkelana dalam kurun waktu yang sangat lama....


*Maka sang pengembarapun siap menghibur gusarnya dengan cara berkumpul bersama keluarganya yang sangat menanti kehadiran dirinya....


Dan sang pengembara sangat bersyukur karena di sana ia masih memiliki kakek,nenek,dan juga tante yang sangat menyayangi dirinya,melebihi apapun di dunia ini....


Tidak lupa juga orang-orang baik di sekelilingnya yang sangat peduli terhadap kelayakan hidup tuan pengembara*....


Secara refleks Danang menampakkan dirinya sembari bertepuk tangan yang berirama penuh arti,mengagetkan semua yang ada.Senyum haru menghiasi wajah maskulinnya yang tampak sedikit kusut meski sudah diredam sedemikian rupa.


Sontak Juna berhambur ke pelukan pria hebat yang tidak tanggung-tanggung menerima dirinya sebagai anak dan juga teman sejatinya,"Juna sayang papa,"ucapnya menggebu-gebu,"Juna nggak mau kehilangan papa."rengeknya manja.


"Papa juga sangat sayang pada Juna,"bisiknya pelan ke telinga sang bocah,"Selamanya kita tidak akan terpisah,nak."lanjutnya dengan nada yang bergetar.Padahal ia tahu,yang sebenarnya tidaklah mungkin karena Juna masih memiliki keluarga kandung dari ayah biologisnya.Ragukah ia?


"Awal hari ini,kenapa tidak kabari dulu?"Hilya bersuara memecah hening.


"Ya,aku sengaja membuat kejutan,"desahnya pelan,"Aku masih berhutang kepada jagoan kita ini,untuk menemaninya ke gudang mainan anak."lanjutnya tersenyum ramah.


"Ayo tunggu apalagi,gerak cepat jagoan papa,ditunggu,ya."


"Ashiaapp boss!"Pekik Juna kegirangan.


Sementara bibi Nunung sigap menuntun langkah Juna untuk masuk ke dalam rumah,dan bersiap diri.Danang tersenyum menatap punggung mungil Juna yang melangkah setengah berlari menyetarakan langkah lebar bibi Nunung sembari bernyanyi ria.


Sejenak iapun mengedarkan pandangannya kepada Hilya yang masih setia duduk di atas tikar yang terbentang.Dengan tanaman hias merambat yang menyerupai hutan buatan sebagai latarnya.


Gadis itu tersenyum manis sembari memeluk kedua kakinya.Sementara di depannya Ikut menemani camilan puding susu serta jus buah segar menambah kesan tualang nan seru.


"Ikut,ya.Hitung-hitung weekend di luar rumahlah,"ucapnya pelan seraya ikut mendudukkan diri di samping wanita yang kini telah merebut jiwa dan raganya.


"Apa tidak mengganggu acara ayah dan anak?"Hilya melayangkan keraguannya.


Danang tertawa ringan,"Sangat menganggu."


Hilya terbelalak,"Lalu kenapa diajak?"Melotot dengan nada protes.


"Ya,mengganggu pikiranku jika kau tidak ikut bersama,"jelasnya sembari menahan tawa,


"Aku butuh sesuatu buat refreshing....,dan itu adalah dirimu,oke."lanjutnya mendesah manja.


Hilya tertawa renyah,"Apa aku sesuatu buatmu?"


Danang mengangguk mantap,"Hmm,emm...."Merangkul erat tubuh yang masih betah memeluk kedua kakinya tersebut,"Sesuatu banget,sayang,"desahnya parau.Hilya beralih membalas rangkulan sang suami dengan pelukan hangat sembari menyandarkan kepala ke dada bidangnya.


"Emm....,enak.Kayak orangnya."


"Gombal."


Danang terkekeh,"Kau tahu....,aku sedang merayu nyonya Danang yang tengah merajuk,"ucapnya seraya kembali mendekatkan wajah ke arah isterinya.Namun Hilya kembali sigap menyuapinya sepotong puding manis.


Danang menerimanya lagi sembari tersenyum menawan,"Nyonya Danang merajuknya,lama."Serunya sembari tertawa renyah,menahan gejolak yang sudah tidak terbendung lagi akibat tarik ulur sang isteri.


Kini sekali lagi ia berusaha lebih gesit mencondongkan wajahnya ke arah wajah wanita pujaannya itu,namun lagi-lagi sepotong puding berhasil melesat ke dalam mulutnya.Ah,baiklah kita ikuti permainannya sembari mencuri kans yang tepat,maka saat itu juga Danang mengunci kepala dang isteri sembari menancapkan bibirnya ke yang lebih ranum milik sang isteri,lama dan dalam.Bisa dipastikan wanitanya tersengal-sengal akibat ulahnya yang mulai kehilangan kesabaran.


"Curang,ih."Sentak Hilya tidak terima,membuatnya terkekeh geli.


"Kau mempermainkanku,maka pantas kuhukum."


Ucapan yang sukses membuat Hilya mendadak kesal lalu memukul-mukul gemas dada bidang sang suami.


"Sudah kuperingatkan,jangan pernah menolakku,sayang."Mencubit gemas pipi tirus yang tampak mulai padat berisi.


Keduanyapun larut dalam derai tawa yanf menyenangkan.Hilya menangkap seraut wajah sendu yang tengah berusaha disamarkan oleh tawa riang di sore itu.


'Apa yang telah terjadi?'batinnya bingung.Sepertinya Danang menyembunyikan sesuatu darinya,"Tapi kenapa?"


..


Di gudang mainan anak....,Juna bergerak kegirangan saat memasuki arena.Namun seketika senyumnya mendadak sirna manakala pesawat tempur incarannya telah lenyap dari pajangan seperti saat ia dan paman Helmy mendatanginya.


"Juna kenapa,nak?"Suara Hilya memecah di tengah hiruk pikuk suara para pengunjung yang berdatangan.


Danang yang baru saja bergabung ikut menanyakan perihal diamnya Juna.


"Mainannya sudah nggak ada,"jawabnya datar.


"Oh,ya.Baiklah.Juna tunggu di sini sama bunda,biar papa tanyakan stoknya ke kasir,oke."Solusi terbaik yang langsung disetujui oleh sang bocah.


Beberapa menit kemudian,Danang kembali dengan tangan hampa.


"Juna,stoknya kosong,nak."


"Papa ganti dengan merk otomatis,mau?"


"Tapi Juna mau mainan yang itu,pa."Rengeknya tak mau kalah.


"Jagoan papa,ngambeknya sampai gitu?"Danang melirik ke arah sang bocah yang masih tidak bergeming setelah berbagai macam bujukan ia tempuh,namun nihil.Sementara Hilya sudah tampak membungkam deretan gigi putihnya sebagai dampak dari menahan tawa.


Melihat Danang yang hampir menyerah pada tingkah polah Juna,membuatnya ingin meledakkan tawa begitu saja.Namun ditahan sedemikian rupa demi menjaga kestabilan suasana hati sang suami dan juga puteranya.


Danang tampak menekuk memandang Juna yang terlanjur kabur lebih dulu meninggalkan mereka,"Sayangg....,simpulkan talinya,please."Pintanya dengan wajah memelas kepada Hilya yang sedari tadi terkesan cuci tangan.Kini wajah kusutnya jadi tampak menguar menari-nari di permukaan.


"Emm....,baiklah.Sekarang giliran bunda beraksi,"ucapnya dengan wajah yang masih menahan tawa,"Doakan bunda ya,pa."lanjutnya tertawa ringan.


Dari kejauhan Danang mengamati Hilya yang tengah berusaha meredakan rajuk Juna yang terlanjur membumbung.Bocah itu sempat tantrum beberapa menit.Namun bukan Hilya namanya jika tidak bisa menaklukkan sang bocah kesayangannya itu.


Sebuah tarikan napas berat terhembus begitu saja setelah mendapati sang bocah sudah mulai menurut dan mau diajak bermain di arena.


Lantas,salah dirinya kah yang lalai dalam menepati janji,hingga mainan incaran sang bocah terlanjur raib di pajangan karena sudah terbeli oleh pembeli lainnya.Mungkin sudah waktunya ia belajar untuk lebih mengeratkan lagi tali simpulnya demi menghadapi aksi para Juna,calon Danang berikutnya di masa depan.


"Talinya sudah tersimpul,"bisik Hilya pelan sontak membuyarkan lamunan terindahnya manakala ia mendekati dirinya,tengah berdiri menemani Juna yang asyik menunggang kuda putih,icon kendaraan sang pangeran antah berantah.


"Nggak lucu."Gerutunya tanpa senyum membuat gelak tawa Hilya mendadak pecah,


"Stoknya kosong,nak."


"Papa ganti yang merk otomatis,ya."


"Jagoan papa,ngambeknya sampai gitu?"


bla bla bla....


Desis Hilya serak sok tegas ala-ala dirinya.Meniru gaya bicaranya yang sebenarnya absurd untuk memenangi hati bocah tipe stok terbatas seperti Juna.Mau tidak mau,iapun harus tertawa renyah melihat tingkah polah sang isteri yang menurutnya sangat lucu dan menggemaskan.


"Papa....,lihat Juna sini."Pekik Juna riang tanpa dosa.


.....


Bersambung....


🤗🤗🤗