
Kediaman keluarga Imran...
Sinar pagi menerobos tirai kamar,memantul ke wajah yang tampak lelah meski dalam keadaan nyenyak.Gadis itu menggeliat,menyesuaikan pandangan hingga separuh nyawanya mulai terkumpul.Jemarinya bergerilya meraba kepala,tengkuk,turun hingga ke sekujur tubuh yang bisa ia raba,
'Pegal,'menggeliat perlahan,'Aahww!'gumamnya lirih.
Matanya melirik,tertuju kepada detik menit yang berdetak di dinding.Pukul 09.00 waktu setempat.
'Lapar.'gumamnya lagi.
Hilya berusaha turun dari kasur,namun rasanya tidak kuat berjalan.Gadis itu terhenyak di lantai.Sekujur tubuhnya memang terasa sakit.Ia baru menyadari kalau semalam ada pertengkaran antara suaminya dengan seniman Joshua.Lalu dia yang meleraikannya.Kemudian dia terkena imbasnya akibat menahan pergererakan tubuh suaminya saat menyerang pemuda tak berdaya itu.
Oleh karena kakinya yang susah digerakkan,Hilya mencoba merangkak pelan menuju ke kamar mandi dengan kedua tangannya menjadi tumpuan.
"Bertahanlah di sana."
Gelegar suara Danang yang baru muncul dari balik pintu,
"Tunggulah,kusiapkan air hangat dulu."
Seperti biasanya,Danang akan selalu memenuhi tugas dan tanggung jawabnya sebagai seorang suami dalam menjaga dan merawat isterinya yang sedang sakit.Hilya sudah paham akan sifatnya yang satu ini,jadi dia tidak melakukan perlawanan.Apalagi dalam kondisi begini,bagaimana mungkin ia membiarkan dirinya dimarahi lagi.Toh,Danang orangnya kasar dan temperamen.
"Terima kasih,biarkan aku sendiri,"ucapnya setelah berada di dalam kamar mandi.
"Kenapa?Bukannya_"ucapan Danang terhenti.
Baru saja ia ingin mengatakan kalau ini bukan pertama kalinya ia menolong membukakan pakaian isterinya.Namun ia baru menyadari kalau beberapa kali ia lakukan itu pada saat Hilya dalam keadaan tidak sadarkan diri.
"Ya,sudah,"ucapnya garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal,
"Tapi kau tidak akan bisa sendirian masuk ke dalam bathub,"ungkapnya ragu.
"Akan kucoba."Hilya bersikeras.
"Ah,atau begini saja,"meraih handuk yang tergantung,"Kau ganti bajumu,lalu kenakan ini,"menyerahkan handuk kepadanya,"setelah itu,aku membawamu ke dalam bathub."lanjutnya dengan tatapan serius,membuat Hilya salah tingkah.
"Hmm."Hilya menuruti apa yang diarahkan suaminya.Sesaat kemudian Danangpun merendamkan dirinya di busa hangat.Usai melakukan ritual mandi,Danang kembali lagi untuk menjemput isterinya,lalu dibiarkan duduk di atas kasur.
Sejenak ia beranjak ke ruang ganti,lalu kembali lagi dengan membawa sesuatu di tanganny,
"Kenakan bajumu."Danang menyerahkan setelan pakaian kepada isterinya lengkap dengan dalaman.
Hilya menyambutnya,lalu membolak-balikkan pakaian tersebut hingga beberapa detik,
"Keluarlah."pintanya serius.
Danang menatap intens wajah isterinya yang ditekuk.Tiba-tiba muncul idel jailnya,kali ini ia perlu mengusiknya,enak saja main usir-usir,
"Tidak mau,aku ingin di sini,"ucapnya ketus sembari mengambil posisi duduk disampingnya.
Hilya terkesiap memandang suaminya yang bersikeras ingin tetap diposisinya,malah semakin dekat nyaris tidak berjarak.Gadis itu melengos,
"Kau menyebalkan,"cebiknya kesal.Mendorong tubuh suaminya,namun tidak bergeser sedikitpun.
Danang sengaja menjitak dahi gadis itu,
"Kau yang menyusahkan,"tukas Danang,"jika saja kau tidak sok pahlawan menolong pecundang itu,maka kau akan baik-baik saja."lanjutnya kesal.
Hilya pasrah,kali ini ia terpaksa mengenakan pakaiannya di depan pemuda monster miliknya.
Sambil berusaha mengenakan dalaman,Hilya melotot tajam ke arah suaminya,
"Habis,kau buat dia babak belur,jadi aku tolonglah."balas Hilya tidak terima.
Danang pura-pura memicingkan sebelah mata sembari mengintip aktivitas isterinya,iapun mulai membalas ucapan Hilya,
"Menolong dengan cara memeluk erat tubuhnya, begitu?"
Hilya mendengus kesal,
"Iyalah,aku kan gadis liar.Jadi mau tolong siapa, dan dengan cara apapun,itu urusanku."
Di balik senyum samarnya,Danang masih gencar menyerang Hilya dengan kalimat memancingnya,
"Tapi dia bukan suamimu,"meraih piyama dan menempelkan ke tubuhnya,"dan bukan muhrimmu."lalu membiarkan sang isteri menyarungkan jari jemarinya ke lengan piyama.
Danang masih dengan gaya mengintimidasi,sedangkan Hilya yang semakin kesal,nyaris tidak bisa mengontrol emosinya,wajahnya yang ditekuk tampak mulai sendu dan nyaris menangis,memberanikan diri untuk menyerang balik,
"Apa bedanya sama kau di ruang owner waktu itu,main peluk isteri orang,pake nangis-nangis lagi,ihh..."gerutunya jengkel.Tampak dari gerakan hidungnya yang kembang kempis,dan napasnya yang memburu.
Danang menyeringai,umpannya kali ini berhasil,
"Pfftt....,dan kau cemburu karena aku memeluknya?"Danang melemparkan pertanyaan yang langsung menohok ke jantung hatinnya.membuatnya tersadar dari terbawa perasaan yang tidak ingin ia tunjukkan.Hilya sukses terperangah.
Gadis itu refleks membelalakkan matanya,
"Hah?!...,t_tidak.A_aku hanya meluruskan tudinganmu kepadaku tadi,"ucapnya gelagapan.
Hilya mencoba meluruskan tudingan suami usilnya itu.
Danang menatap intens bola mata Hilya yang sudah siap ia alihkan ke sisi lain,namun gadis itu kalah gesit dari pemuda yang sudah berpindah posisi duduk berhadapan dengannya itu,
"Apa susahnya untuk mengakui itu."balas Danang setelah mendapati Hilya mulai salah tingkah.Wajahnya yang semringah sukses membuat Hilya jadi bertambah grogi.
Namun begitu,Hilya masih tampak kesal dengan ucapan suaminya.Dalam hatinya menggerutu panjang pendek tentang kelakuan suaminya yang suka mencari-cari celah buat menghina dirinya,
'Dasar pria gila,dia yang responnya berlebihan,aku yang dibilang cemburu.'gumamnya kesal.
"Apa kau bilang?"serang Danang yang masih mendengar ucapan isterinya meski sangat pelan.
Lagi-lagi Hilya dibuat salah tingkah,
"Ah,tidak.Ada kecoa yang baru saja lewat,"jawaban sekenanya lolos begitu saja dari mulut gadis itu.Duh,asyiknya pamer kebodohan.
'Tuh,kan ambigu lagi.'batinnya tersenyum.
Danang meraih jemarinya,lalu menggenggam erat sembari tersenyum licik,
"Hhhh...,tapi aku melihat rona cemburu di matamu saat itu,"menempelkan bibirnya ke kuping sang isteri,"bahkan di saat kau baru saja mengucapkannya tadi."bisik Danang lirih ke telinga Hilya.
Hilya merasa semakin terpojokkan,gadis itu sudah tidak tahan dengan ledekan suaminya,
"Iiihhh...,menyebalkan!"pekik Hilya sembari mencubit gemas pinggang suaminya dengan rona wajah yang kian memerah bak tomat segar.Ingin rasanya ia menangis meraung-raung meminta agar Danang segera menjauh.Ia tidak ingin digoda dengan usikan suaminya yang dianggap hanya menarik ulur suasana hatinya.
"Pergi sana,aku tidak ingin berdebat."gerutunya kesal,"kenapa kau tidak kerja,malah di sini mengejekku?"sembari memukul-mukul tubuh kekar yang telah membuat hatinya babak belur.
Aakkkhh!
"Sehari saja,aku ingin bersamamu,"ucap Danang cengar -cengir.
Danang sengaja menghindar ditempat saja,mengingat isterinya yang tidak kuat berdiri.Beberapa kali ia lolos,namun Hilya juga gencar menyerang dan tidak mau kalah.Hingga akhirnya gadis itu pasrah dan menyerah,cemberut samar.
Danang yang menyadarinya,merasa perlu menghibur isterinya saat ini.Iapun segera menangkup wajahnya,meneliti sudut bibir yang sedikit lebam,lalu pemuda itupun sigap membawa gadis itu kedalam pelukan hangat yang cukup lama.Lalu mendaratkan kecupan-kecupan manis di bagian-bagian yang pernah ia berikan sebelumnya.Hatinya ikut berdesir.Getaran indah menyirat kedalam darah,melesat hingga ke pembuluh nadi.Menghayati perjalanan rumah tangga mereka yang hampir empat bulan berjalan,namun belum membuahkan hasil apapun.Mungkin sudah saatnya ia mulai menata hati untuk menumbuhkan cinta itu di tengah rasa yang mulai terkuak.
Ah,andai cinta tidak sepayah itu.Ingin rasanya diluapkan sekarang juga.Tapi apa daya,hati lebih memilih untuk tidak ingin terluka di sekian kalinya.Jiwa juga tidak ingin kehilangan lagi di saat sedang sayang-sayangnya.Maaf,perlu pembuktian diri untuk memantapkan hati agar tidak mengorbankan siapa-siapa di sini...Aku,kau dan kita hanya perlu sedikit waktu untuk saling menyelami hingga ke dasar hati.Sejatinya,bibit cinta itu akan membiarkan tumbuh dan menguntum pada lahan gersang,hingga saatnya kembali menjadi hijau..Maka cinta juga tidak akan membiarkan siapapun yang berani mengambil kesempatan untuk mematahkannya di saat hati sedang goyah.
•••••
Bersambung...
🤗🤗🤗