
Happy reading 😍📖
Dimas Yusdhistira...., si pemuda jangkung pemilik mata cokelat dengan tampang oriental seiras aktor Thailand, Mario Maurer, tampak tercenung memandangi punggung gadis bernama Nuha yang baru saja ia jahili. Gadis itu tampak memberengut kesal sebelum benar-benar meninggalkan dirinya. Kini ia merasa lumayan puas dengan kemenangan berada di pihaknya.
"Menarik!"
Satu hal yang membuatnya merasa tertarik dengan gadis itu adalah kepolosannya yang mencapai tingkat tinggi. Kesahajaannya menggambarkan sifat aslinya yang tidak dibuat buat. Kharakter centil dan super cerewet membuat ia tampak berbeda dari wanita yang pernah ia kenal. Jujur, kata 'cinta' itu memang sudah terkubur cukup dalam bagi hati seorang Dimas, lantaran pernah gagal di masa lalunya, namun dirinya juga tidak boleh egois karena walau bagaimanapun, kedua orangtuanya sangat mengharapkan kehadiran seorang wanita di dalam hidup anak mereka. Maka ia perlu berdamai dengan hatinya agar bisa kembali melancarkan perjuangannya. Targetnya, gadis itu.
"Aku suka kharakter yang unik," lirihnya menelengkan kepala.
Baru beberapa saat yang lalu ia habis berdebat ria dengan gadis itu setelah akhirnya sang gadis memilih mendekati meja snack demi meraih segelas jus segar di meja hidang beserta sekotak makanan ringan khas kota D.
"Aku harus mendapatkannya." gumamnya miring.
Belum puas menjahili, Ia pun sengaja mendekati kembali sang gadis yang tangannya baru saja akan menyentuh kotak tersebut, "Ini punyaku," sigap menyambar kotak tersebut dari posisi sebelumnya, "Sepertinya kau suka sekali mengganggu barang milikku." ucapnya datar penuh maksud.
Nuha yang terkesiap mendadak menjauhkan tangannya, bergumam ria, "Sepertinya duniaku semakin sempit sejak bertemu dengannya," yang sudah pasti masih didengar oleh Dimas, sebelum akhirnya gadis itu merasa perlu merebut kembali kotak yang dirasa seharusnya menjadi milik sahnya, "Kembalikan, itu punyaku!" sentaknya terdengar ketus, "Kau sengaja merebutnya dariku, kan?" berjingkrak sana-sini, berupaya menggapai kotak yang sengaja di angkat tinggi-tinggi oleh Dimas demi mendapatkannya kembali.
"Siapa bilang aku merebutnya? Kau saja yang ge-er! Atau kau ini, memang sengaja mencari perhatian dariku, bukan begitu perawan ting-ting?" melambung kotak tersebut ke atas membiarkan Nuha dengan susah payah menyambutnya dari posisi yang amat sulit, dan hasilnya...,
Bukkk!
Kotak tersebut jatuh menimpa lantai hingga isinya ikut berserakan di sana.
"Kau menyebalkan! Kau juga perjaka ting-ting, bukan?" pekik Nuha kesal, namun berusaha menekan suaranya demi tidak menarik perhatian orang lain yang tampaknya pada sibuk dengan obrolan hingga larut dalam kesenangan masing-masing.
Wajahnya yang kian memerah menahan dongkol malah tampak begitu menggemaskan di mata Dimas. Merasa memiliki mainan baru yang wajib untuk dinikmati, pemuda itu akhirnya memilih untuk merespon lebih jauh ucapan sang gadis yang sudah tersulut emosi, "Kau yang menyebalkan." sanggahnya mengukir senyum samar di bibir beku yang jarang senyum, "Jomblo apes! Cantik-cantik amnesia, kau lupa ya? Aku pernah punya kekasih dan calon isteri. Nah, kau? Awas jadi perawan tua." tambahnya meledek.
"Pergi! Kau pikir kau siapa, seenaknya menghinaku, huh?" sentaknya belum menyerah, "Aku benci padamu!"
"Awas! Nanti malah beneran cinta." usik Dimas lagi, tak mau kalah.
Nuha melengos tajam. Gadis yang terlanjur kesal dengan sikap Dimas, memilih meletakkan kembali gelas jus sudah sempat ia pindahkan dari tempat semula ke tempat asalnya. Niatnya untuk menikmati minuman ringan sore itu, sengaja ia batalkan lantaran jengah pada pemuda yang telah menyulutkan emosi yang kian membakar hatinya, "Dasar pengacau! Lalu ke mana perginya wanita yang kau banggakan tadi, huh? Kau bahkan tergeletak sendirian di ranjang pasien berbulan-bulan." mengangkat jari telunjuk dan jari tengah mengarahkan ke manik mata pemuda itu dengan gaya sarkas, "Aku berdoa, semoga kau segera melepas gelar jomblo akutmu itu pada wanita yang tepat, biar tahu rasanya dicintai hingga tidak lagi menjadi pengacau sepanjang masa." menatap nyalang dengan sorot mata penuh permusuhan sebelum akhirnya ia memilih mengambil langkah lebar menjauhi pemuda yang terlolong menatapnya. Untuk sesaat halusinasinya berjalan, gemuruh geledek-kilat kian menyambar, menimbulkan rasa ngilu di benaknya.
"Kenapa dia marah-marah?" Dimas menggeleng tidak percaya, "Bukankah baru saja itu, kita bercanda?" mengintropeksi kembali setiap ucapan yang sempat ia lontarkan, hingga ia mendadak merasa bahwa ucapannya tadi memanglah sedikit berlebihan.
"Hei, tunggu!" menyejajarkan langkah lebar sang gadis, "Apa aku perlu memohon sesuatu kepadamu?" berupaya menarik lengan sang gadis demi menghentikan langkahnya. Namun Nuha lebih sigap menepis tangan pemuda itu.
Gadis itu hanya menoleh sejenak, "Menjauhlah! Aku tidak ingin berhubungan dengan pengacau sepertimu." lalu kembali fokus ke depan.
"Hei, kau sangat pemarah. Padahal aku ingin bilang maaf, tadi aku hanya bercanda, tapi kau berlebihan merespon godaanku." jelasnya panjang lebar, dan mendadak membuat langkah si gadis benar-benar terhenti.
Sementara itu, di posisi yang tidak terlalu jauh, tampak si bocah Juna tengah memekik manja menggaungkan nama sang gadis, "Tante Nuhaa...!" sembari melambaikan tangan mungilnya meminta untuk segera didatangi. Sungguh tindakan yang sempat membuat si pemilik kehilangan fokus.
Kepalanya menoleh sejenak ke arah sumber suara demi melayani panggilan sang bocah dengan sebuah lambaian kecil, lalu kembali menatapnya tajam, "Baik, aku terima maafmu, tapi satu syarat, menjauhlah dariku, anggap kita tidak pernah bertemu sebelumnya. Dan aku akan terus berdoa semoga kedepannya, aku tidak pernah bertemu denganmu lagi. Lebih baik tiada daripada harus berdebat dengan pria gila sepertimu." kutuknya lagi penuh penekanan sesaat sebelum ia kembali mengambil langkah lebar mendapati sang bocah yang berlari kian mendekat, dan membiarkan Dimas yang sukses mematung.
"Tante, Juna mau Bunda sama Papa...," rengekan manja menggema di seluruh ruangan sontak ikut membuyarkan lamunan Dimas yang berdiri tidak jauh dari sana.
"Sayang, Bunda dan Papa sedang sibuk. Nggak boleh diganggu, oke." memeluk sang bocah yang sudah mendekam di dalam pelukan hangatnya.
"Tapi, Tante. Juna bosan diabaikan begini terus oleh Bunda."
"Kalau begitu, ikut Tante main ke taman belakang, yuk!"
"Aanggak mau! Juna mau Bunda!" Juna membanting paksa badannya ke belakang, sementara Nuha masih setia menangkup punggung sang bocah dengan ke sepuluh jemari lentiknya.
"Sayang, jangan keras kepala, kasian Bunda yang lagi sibuk jaga calon dedek, lalu direpotkan pula sama Juna yang udah gede." lagi-lagi mencium gemas pipi gembul sang bocah yang masih dengan rengekan tajam berbuah tangisan.
"Oh, ya? Calon dedek bisa nangis juga, Tan?" tanyanya polos.
"Iya, donk! Kalau Juna terus-terusan mengusik Bunda." Nuha menyarkas seraya memicingkan kedua matanya.
"Hemmm..., oke, deh! Kalau gitu Juna mau main sepeda saja."
"Sepeda? Boleh." merasa telah memenangi hati sang bocah, "Tante temani main sepeda di taman belakang, ya?" ajaknya penuh semangat.
"Jangan, ah! Juna maunya ke taman komplek saja, Tante." Juna dengan gaya loyo menurunkan kedua lengannya, malas.
"Lho! Kenapa sayang?" desisnya bingung.
"Biar bisa jauh-jauh dari Bunda," menarik bibir mungilnya hingga beberapa senti ke depan, "takutnya calon dedek malah nangis keras-keras," membuang pandangan resah, " kan kasihan, Bunda pasti kerepotan, Tante." lanjutnya penuh rasa khawatir.
"Nggak ada ide lain, sayang?" tanyanya ragu. Merasa berkendara dalam suasana hati yang kacau bukanlah ide bagus, meskipun hanya bersepeda.
"Nggak, mau. Pokoknya Juna mau main sepeda!" balasnya bersikukuh.
"Mati kau Nuha,"
"Oke, siapa takut!" pekikkan girang menyertai langkah gesitnya berlari ke arah Oma Andin dan Oma Iza yang tengah bercengkrama ria.
Nuha menghela napas dalam, "Hhh...! Ada baiknya juga ide si bocil." menarik bibir miring, "Setidaknya bisa menghindari si pemuda gila itu. Rupanya dia benar hilang waras akibat kecelakaan masa lalunya." gumamnya sendirian.
"Jaga ucapanmu." gema suara datar seseorang diikuti gerakan gesit menarik lengannya. Ya, gerakan tangan pria jangkung yang entah kapan sudah berdiri di belakangnya, "Aku bisa menuntutmu kapan saja." lanjutnya kesal. Namun Nuha sigap menarik lengannya dan menjauh.
"Tunggu!" seru Dimas yang tertinggal selangkah di belakang.
Sejenak sebelum berangkat ia sempat melirik singkat ke arah Dimas yang tiba-tiba berupaya menahannya, sepertinya pemuda itu ingin mengatakan sesuatu namun terurung oleh sikap Nuha yang serta-merta melayangkan senyum devil dan tatapan permusuhan.
Ck!
decaknya kesal.
Siapa sangka setelah kepergian dua orang yang menyita perhatiannya sejak tadi itu, cuaca di luar tiba-tiba memburuk. Hujan badai tiba-tiba saja menghantam bumi kota D. Pemuda itu tampak murung di ujung pintu sembari tangannya tidak lepas memilih kancing bajunya seperti seorang bocah yang tengah resah menunggu kepulangan ibunya dari pasar. Sementara tangannya yang lain, tampak sibuk mengutak-atik benda pipih yang sedari tadi ia genggam erat. Ingin menghubungi seseorang, sayangnya tidak punya nomor ponsel. Padahal tadinya saat sebelum gads itu pergi, terbesit di hati ingin meminta nomor ponsel miliknya. Namun, demi gengsi, mana mungkin ia berani meminta nomor ponsel sang gadis yang tengah dalam keadaan amarah masih meliputi gadis itu.
"Kenapa tidak pulang saja?" gumamnya resah.
Terakhir kali beberapa menit yang lalu ia melihat senyum manis yang mengusik hatinya itu melebar, kian menambah gundah di jiwa yang tengah meratapi kebodohannya sendiri. Bukankah seharusnya ia tidak perlu tindakan berlebihan jika ingin mengenal lebih jauh si gadis cantik bernama Nuha yang sebenarnya telah menyita perhatiannya sejak lama? Toh, dari dulu mereka sudah dipertemukan oleh takdir, meski dalam situasi yang tidak tepat. Ya, takdir sudah berbaik hati menunjukkan jalan, kini saat yang tepat untuk menjajaki orangnya. Kini tanpa disadarinya, ia sendirilah yang malah membuat jarak itu kian menganga lebar untuk mereka berdua.
Dan kini di saat langit menggelap, dan hujan badai menghantam dahsyat alam kota D, gadis yang sempat beradu mulut dengannya tadi malah tidak sedang di depannya, melainkan sedang berada di luar sana, entah di mana posisinya, dan sedang apa dia di sana. Lalu bocah yang bersamanya tadi, bukankah dia anak angkat kakaknya? Lalu kenapa ia pergi tanpa berpamitan terlebih dahulu dengan sang Papa? Kini mereka terjebak di luar sana.
Cukup lama ia menunggu, hingga kesabarannya mulai menipis, "Aku susul," batinnya gusar.
Baru saja dirinya akan menuju ke mobil, tiba-tiba suara gaduh yang muncul dari dalam rumah. Para manusia yang tadinya tengah sibuk dengan aktivitas masing-masing, kini berhamburan keluar bagai disengat segerombolan lebah yang mengamuk. Ada yang memekik panik, ada yang menangis pilu, ada pula yang meratap sendu, menggaungkan nama kedua orang yang sejak tadi sedang terkurung dalam resah hatinya itu. Ya, tebakannya tepat! Sesuatu yang buruk telah menimpa kedua manusia malang tersebut, meskipun kebenaran persisnya seperti apa belum diketahui, ia amat yakin dengan radar hatinya yang bergetar sejak ucapan angker sang gadis menggema dipendengarannya....,
"Semoga aku tidak pernah bertemu denganmu lagi, lebih baik tiada daripada harus berdebat dengan pria gila sepertimu." kalimat itu terngiang lagi.
Bilamana otaknya mencerna kalimat angker tersebut, getaran aneh berbau resah itu muncul dan sukses membuatnya bergidik ngeri. Bahkan kalimat itu malah terus-menerus menghantuinya, menghujamnya dengan teriakan menghakimi, begitu nyaring seperti ikut mengejek ketidakmampuan dan kebodohan lahiriahnya. Sangat lekat seakan enggan beranjak dari otaknya yang rada menegang.
Langit malam kota D.
"Kakak, tunggulah sampai suasana mereda." pintanya lembut. Dimas menyorot sang kakak yang baru saja ingin menyentuh pundak wanita bernama nyonya Amanda.
"Bukan salahmu, hanya keadaan yang membuat semuanya jadi begini." tambahnya bijak kepada sang kakak yang sebenarnya masih dalam kebingungan yang nyata.
Danang yang tatapannya berkabut, terpaksa menuruti ucapan sang adik sepupunya, meski dalam hatinya masih terbalut ragu nan mencekam jiwa. Di otaknya masih penuh tanda tanya besar tentang awal kejadian sebelum peristiwa naas itu. Dimas tahu betul akan pribadi sang kakak, hingga ia memutuskan untuk menahan pergerakannya sebelum semuanya terungkap sebelum waktu tiba.
Setelah berhasil membuat sang kakak Danang menjauh untuk sementara dari nyonya Amanda yang mengalami guncangan hebat, baru saja dirinya yang memutuskan untuk menemani wanita paruh baya yang kini belum lepas dari sesenggukan nan menyayat hati.
"Kenapa kau biarkan Puteri dan keponakanku pergi sendirian, padahal aku sempat melihatmu begitu akrab dengan mereka tadi?" ucapan nyonya Amanda membabi buta. Jelas kian menambah gundah di hatinya yang merapuh.
"Maaf Bibi, aku mengaku salah."
"Tapi aku tidak bermaksud membiarkannya pergi. Hanya saja semua di luar dugaan. Andai sedikit saja dia mau mendengarkan aku...,"
"Kau Dimas yang berhasil membuat Puteriku kerap menyebut namamu dengan perasaan berbunga-bunga itu kan? Jika kau memberinya harapan, lalu kenapa kau malah membiarkan dia berjalan sendirian?"
deg!
Ucapan nyonya Amanda jelas membuat dirinya nyaris tersungkur. Seperti itukah perasaan seorang Nuha yang sebenarnya terhadap dirinya? Gadis yang selalu cuek dan keras kepala di depannya itu menaruh rasa padanya? Benarkah? Atau memang dunia sedang berbohong kepadanya?
Getar aneh yang muncul di tengah kepanikannya yang berbungkus kehilangan, seakan ikut meminta agar si gadis segera kembali untuknya, "Kembalilah demi aku." kira-kira demikian, tapi mengapa?
Entah apa yang membuatnya demikian, yang jelas kini ia merasa sangat membutuhkan gadis itu. Senyum yang sempat terbit sedetik sebelum akhirnya kembali sirna bagai ditelan pekatnya bumi kota D. yang baru reda dari badai besar yang menimpanya. Jiwa rapuhnya ikut terombang-ambing bak diterpa badai siklon yang pernah terjadi beberapa tahun silam hingga meluluhlantakkan sebagian gedung pencakar langit.
"Bibi, aku pamit keluar sebentar." lirihnya di sela Isak tangis nyonya Amanda, dan hanya dijawab dengan anggukan pelan darinya.
Perlahan langkah kakinya terseok di tengah gelap pekatnya malam tanpa bintang, menuju mushola kecil di sebuah bangunan milik Maulana Medika, lantas mengambil air wudhu sejenak setelah melewati proses bersuci. Kini dirinya dengan segenap kekurangannya telah benar-benar bersujud di mihrab, melantunkan ayat-ayat suci yang sudah begitu lama tidak ia hidupkan dalam ucapannya.
Entah kenapa, dalam bayangannya saat ini hanyalah nyawa sang gadis dan keponakannya itu sedang dalam bahaya. Reflek gerak bibirnya melafalkan sebentuk kalimat doa yang tersulut dari hati, begitu menuntut tiada kesudahan, memohon kepada sang Khalik demi keselamatan dua anak manusia yang mendadak familiar di benaknya, seakan ia memiliki ikatan batin yang kuat sejak lama dengannya.
Dimas lirih di dalam sujudnya, "Ya, Allah, sudah lama hamba tidak pernah mendekatkan diri kepadaMu, ampuni kelancanganku ini. Namun saat ini, karena kesalahanku dan perbuatanku, gadis ini terlanjur menyumpah hidupnya, maka hamba mohon sudilah Engkau tarik kembali ucapannya, selamatkan jiwa dan raganya bersama bocah kecil itu tanpa kurang satu apapun, kembalikan dia, sekalipun kebahagiaanku sendiri yang menjadi taruhannya." lirihnya di dalam khusu.
"Seperti hasil pemeriksaan dokter, Nuha mengalami benturan yang cukup keras di bagian tubuh dan kepalanya. Karena sudah berupaya sebaik mungkin demi menyelamatkan nyawa dan keselamatan sang bocah. Tabrakan yang membuat tubuhnya terpental jauh itu mengakibatkan keretakan pada tungkainya. Diperkirakan si gadis bakal mengalami kelumpuhan dan lupa ingatan untuk sementara. Butuh waktu lama untuk penyembuhan." begitu penjelasan dokter kepada pihak keluarga pasien membuat semua yang ada mendadak pecah tangis termasuk dirinya yang baru saja pulang dari musholah.
Dirinya merasa punya salah terhadap gadis itu, "Jika saja aku tidak berlebihan mengusiknya," membuang padangan sembarang arah, lalu menunduk tajam, "maka mungkin saja kecelakaan ini tidak pernah terjadi." batinnya menyesal. Matanya ikut berkaca-kaca menahan gejolak di dada, sebak.
Sementara di seberang sana, tampak beberapa orang yang dikenal tengah sibuk membahas perihal Juna, si bocah malang yang rajuknya secara tidak sengaja telah menyeret sang Tante dalam bahaya besar.
••••
Bersambung....
🤗🤗🤗