
Happy reading 😍📖
Di sepertiga malam terakhir, wanita cantik itu baru saja terjaga dari tidur lelapnya tepat di saat si kampung tengah mulai mengamuk. Sesaat matanya bertembung dengan jam dinding yang jarum pendeknya menunjukkan angka dua, sementara si jarum panjang berada tepat di angka sebelas.
"Akh! Lamanya aku terlelap, pantas saja aku lapar," batinnya gamang. Sementara sorot matanya ikut menyapu bantal yang tersusun acak di sampingnya, berlanjut kepada seiisi ruangan, berupaya mencari sesuatu, atau bahkan seseorang di sana. Keadaan ruangannya masih sama, penuh dengan aksesoris berbau romantisme dan juga wangi-wangian lembut aroma terapi ikut menguar menusuk di indera penciumannya. Lembut dan menenangkan,
"Pantas saja, aku sangat pulas," gumamnya beropini. Sekilas bayangan indah yang dilalui bersama sang suami lewat begitu saja membuat ia refleks menarik kedua ujung bibir ranumnya membentuk lengkungan sempurna, bukankah itu juga menjadi alasan utama mengapa malam itu ia begitu lelah hingga terlelap begitu lama?
"Ke mana dia? Apa dia pulang sendirian ke rumah?" gumamnya lagi, "Bukankah semalam ada hujan deras dan angin kencang?" menimbang ragu kira-kira pastinya ke mana pergi sang suami.
"Lalu Juna? Sudah berapa lama aku mengabaikannya? Akh! Rindunya," menyapu kasar wajah cantiknya yang tiba-tiba pias, ada perasaan tidak nyaman menyeruak begitu saja di benaknya, "Aku bahkan tidak punya waktu sama sekali buat menyapanya sehari penuh," keluhnya menyesal.
"Aku harus segera menemuinya, dan mengisi waktu yang banyak untuknya," gumamnya lagi.
Tanpa menyadari sesuatu, dirinya langsung bangkit menuju ke kamar mandi dan bersiap untuk melakukan ritual membersihkan diri. Butuh waktu yang cukup singkat, mengingat dirinya yang tengah berbadan dua, tidak ingin berlama-lama di air hangat. Belum lagi dirinya yang mulai terusik dengan perutnya yang mulai keroncongan.
"Sayang, maafkan Mama. Makan malam kita terlewatkan," bisiknya pelan membelai lembut perutnya yang datar, "Kita cari makan ke dapur, yuk!" lanjutnya seraya membanting langkah pelan keluar kamar, menyusuri lorong pembatas ruangan dan hati-hati menuruni anak tangga.
Langkah pelan membawa tubuhnya menuju dapur, yang ternyata di kejauhan meja makan sana tampak Bibi Nunung dan juga Mama Andin masih bercengkrama, pelan dan tidak terdengar. Hanya saja beberapa mimik terpancar nyata membuat rasa penasaran di hatinya kian melangit.
"Sayang, kau sudah bangun?" Mama Andin yang sedari tadi lebih siaga sontak menyapa dirinya yang masih tampak berupaya menyesuaikan keadaan.
"Kampung tengah mengamuk, Ma." balasnya tersipu.
"Maaf, semalam Mama sudah mencoba mengontak untuk makan malam, tapi sinyalmu lemah, nak," timpalnya menyesal.
"Entahlah, Ma. Mungkin karena kelelahan saja," balas Hilya mengernyit bingung, namun sesaat kemudian ia menoleh ke arah wanita paruh baya yang selalu ia percayakan untuk mengurus putera angkatnya itu, "Juna ada bersama Bibi, kan?"
Pertanyaan Hilya yang tidak langsung dijawab oleh Bibi Nunung, malah sebaliknya mendadak dipotong oleh sang mertua, "Ya, sudah. Kemari dan duduklah," menggandeng lengan sang menantu agar mengambil posisi duduk di sampingnya, "Mama akan menemanimu makan," kilahnya berupaya untuk tetap memamerkan senyum terindah. Apalagi kalau bukan demi menutupi keadaan. Secara refleks, Hilya pun ikut tersenyum lebar, meski suasana hatinya sedang tidak bersahabat.
Hilya yang lumayan bingung saat mendapati meja makan sudah terhidang menu masakan sehat, segar nan hangat. Ada kuah bening kesukaannya, juga ada roti lapis rendah lemak. Tambahan bubur ayam yang siap disajikan oleh Bibi Nunung setelah ia berhasil mendaratkan punggungnya ke kursi.
"Bibi, ada apa ini? Jam segini sarapannya sudah pada siap?" menyoroti wajah Bibi Nunung yang tampak kelabakan.
"Ya, Nona. Atas permintaan nyonya besar...."
"Eh, sayang. Kebetulan semalam Mama juga ketiduran," meraih mangkuk bubur yang telah dihidangkan lalu menyendok, "Itu sebabnya Mama meminta Bibi Nunung menyiapkan sarapan lebih awal dari biasanya. Silakan nak, dicicip." menyodorkan suapan pertama kepada sang menantu yang masih belum lepas dari rasa ingin tahu yang tinggi.
"Emm..., baik, Ma. Terima kasih," menyambut satu suapan langsung dari tangan sang mertua yang tampak begitu perhatian pada dirinya, "Oh, ya. Apa Danang pulang ke rumah, Ma?" tanyanya lagi demi menutupi rasa penasaran. Namun hasilnya masih sama.
Nyonya Andin lebih fokus pada kondisi kesehatan dirinya, "Gimana rasanya nggak makan semalaman, nak?" melempar pertanyaan tanpa ingin menjawab pertanyaan sang menantu.
"Aku baik-baik saja, Ma." jawab Hilya tertawa kecil, "Sama sekali nggak ada masalah," lanjutnya meyakinkan, "Apa ayah dan Ibu sudah pada pulang juga?" tanyanya penuh harap, namun jawaban sang mertua masih tetap ambigu,
"Oh, ya. Nung, ke kamar Hilya sekarang, ya. Itu vitamin ibu hamil tolong dibawa kemari," Lagi-lagi pernyataan Nyonya Andin berhasil mengabaikan pertanyaan Hilya.
"Baik,Nyonya." jawab Bibi Nunung seraya beranjak.
"Sayang, kau sudah melewatkan gizi penting buat cucu Mama," membiarkan Hilya mengambil alih suapan berikutnya.
"Ya, maafkan Aku, Ma."
"Ini tidak akan terulang lagi."
"Emm, bagus itu. Mama sangat mengkhawatirkan kesehatanmu dan juga bayimu, sayang." Nyonya Andin lagi-lagi menyatakan kepeduliannya, "Danang nggak boleh kecolongan begini lagi, dia harus ekstra perhatian padamu."
"Danang nggak salah, Ma. Aku saja yang kebablasan tidur semalaman." Hilya berupaya menerangkan, sementara Nyonya Andin masih saja berakting ria hingga Bibi Nunung benar-benar kembali dari lantai dua membawakan vitamin ibu hamil milik Hilya.
"Ini obatnya, silakan diminum, nona Hilya." Wanita paruh baya itu menyodorkan bungkusan suplemen digenggamannya kepada si pemilik.
"Terima kasih, Bi."
"Oh, ya. Apa Juna rewel selama Aku tidak bersamanya, Bi?" Hilya yang merasa ada kesempatan, kembali melayangkan pertanyaan kepada Bibi Nunung sesaat setelah dengan susah payah berhasil meminum sebutir tablet penambah darah, tablet pereda mual muntah dan juga sebutir tablet putih yang berukuran lumayan besar. Tampak gurat perjuangan yang mengukir ria di wajahnya yang ditarik sedemikian rupa hingga bola matanya ikut memerah menahan air mata yang siap merembes.
"Eh, anu, i_itu...."
"Ada apa, Bi? Juna baik-baik saja, kan? Ceritakan padaku."
"Ehm! Sayang, akan Mama jelaskan," potong Nyonya Andin seraya menangkup kedua bahu menantunya, "setelah kita di kamar, oke." lanjutnya dengan tatapan memelas, membuat Hilya kian terseok dalam kebingungan yang semakin memuncak.
"Ada apa ini?" batinnya resah.
"Sebenarnya Juna dan Nuha ditabrak saat bermain sepeda ke taman komplek." kata-kata Mama Andin di kamar beberapa menit yang lalu, membuat Hilya merasakan detak jantungnya seakan berhenti memompa. Rasa sakit di sekujur jiwa dan raga ikut menusuk tajam bagai diserang ribuan jarum tak kasat mata.
"Apa?!" bagai tersambar petir di siang bolong, begitu gambaran perasaan wanita yang mulai menyadari bahwa belakangan ini dirinya telah terpisah begitu jauh dari putera angkatnya sendiri. Jarak yang telah ia buat sejak keberadaan janin di dalam perutnya meminta perhatian ekstra.
"Aku harus ke sana sekarang, Ma." pintanya dalam kedukaan yang tak tertahankan.
Air mata luruh begitu saja tanpa tahu caranya untuk berhenti. Jiwa yang tadinya sempat berharap tidak terluka lagi, kini kembali rapuh membawa raganya ikut ambruk seketika saat mendapati sang anak dalam kondisi terkapar tak berdaya dengan bantuan alat pernapasan di ruang ICU.
Sementara sorot matanya mengedar mencari-cari keberadaan sang suami yang belum muncul di hadapannya, Hilya bergegas menemui sahabatnya Nuha di ruang ICU yang berbeda. Akan tetapi kondisi tubuhnya yang tidak memungkinkan, membuat ia terpaksa mengambil langkah lamban.
Tok tak tok tak,
bunyi high heel seseorang yang tidak lain adalah Nyonya Amanda, membanting kasar membentur lantai rumah sakit Maulana Medika kian mendekat ke arah Hilya yang juga tertatih maju, berniat menyambangi kamar sahabatnya, Nuha Izz. Tepat di titik mana mereka harus berhenti dan saling berhadapan, Nyonya Amanda menghunus tatapan penuh permusuhan, "Kau telah menunjukkan siapa dirimu sebenarnya," Nyonya Amanda berdecih datar, "Kau bilang, Kau ibunya?" semakin tajam dan menohok.
Hilya menggeleng pelan tanpa suara. Hanya ada air mata luka yang berurai.
"Ke mana Kau di saat cucuku membutuhkanmu?" sulut Nyonya Amanda lagi, "Katakan! Ibu macam apa, Kau ini?" melayangkan protes keras,
Hilya gelagapan mencoba untuk meredam amarah wanita yang kian tersulut, "Tante, tenangkan dirimu dulu, ini salah pah..._"
Hilya gagap, "Tan, Tante, maafkan Aku mengaku salah, Aku...,"
"Kaulah penyebab cucu dan Puteriku ditabrak!" mengangkat tinggi sebelah tangannya, "Kau harus bertanggung jawab atas nyawa mereka!" siap melayangkan sebuah tamparan keras ke wajah Hilya.
Namun pergerakannya tertahan oleh tangan kekar seseorang, "Nyonya Amanda," gema suara maskulin yang tiba-tiba muncul dari arah yang berlawanan, "Turunkan suaramu." lanjutnya datar. Tampak garis tegas di nadanya yang tidak ingin dibantah, meski raut wajah oriental itu tetap teduh dan tenang. Orang itu tidak lain adalah Danang.
Nyonya Amanda menarik kasar lengannya seraya melepaskan diri, "Jangan membela isterimu, tuan Danang! Dia telah membuat kesalahan besar, karena dialah, anak dan cucuku jadi sekarat."
Pria itu menghunus tatapan yang tidak terbaca, "Nyonya Amanda, Aku menghormatimu sebagai orang tua," namun masih bisa mengontrol suaranya, "Tapi perlu Anda ketahui bahwa isteriku sedang hamil muda dan tidak seharusnya Anda menyalahi dia, apalagi sampai membentak."
Nyonya Amanda tertawa sinis menunjukkan tampang sarkas. Namun tidak berhasil memengaruhi emosi pria itu.
Lagi-lagi pria muda memandang lurus ke depan, "Jika memang isteriku bersalah, Anda boleh menegurnya dengan cara baik-baik."
"Tapi tidak dengan menudingnya sembarangan, Anda punya bukti apa atas kesalahan isteriku, Nyonya Amanda?" ujarnya seraya berjalan kian mendekat.
Hilya menahan pergerakan sang suami dengan menangkap lengannya, "Sayang, biarkan Tante Amanda melampiaskan amarahnya padaku, aku ikhlas." menatap memelas, "Dia tidak punya siapa-siapa untuk berbagi."
Danang memandang iba wajah sang isteri, "Sayang, tidak dengan cara seperti ini," mengusap lembut matanya yang masih berurai air mata, "Dia boleh berbicara baik-baik, bukan?" lanjutnya posesif.
"Sayang, aku mohon, semuanya akan baik-baik saja oke." Hilya masih dengan wajah memelasnya.
Danang menghela napas berat, "Tidak, sayang. Ucapannya sangat menggangu kondisi psikismu." menyelipkan sulur rambut sang isteri yang membingkai wajahnya, "Aku mengkhawatirkan dirimu dan anak kita."
"Tante, maaf jika Aku lancang." muncul seseorang lagi yang tidak lain adalah Dimas, "Sebaiknya Tante beristirahat dulu, nanti kita akan membahasnya lagi." meraih lengan wanita yang masih belum bisa mengendalikan amarahnya itu agar menjauh dari hadapan Hilya dan Danang.
Pemuda itu mencoba meleraikan keadaan yang sudah terlanjur memanas, "Kakak ipar, maaf Aku tidak berniat membela siapa-siapa di sini, Aku hanya menyarankan agar tidak berada di sini sampai semuanya terkendali." menautkan kedua telapak tangannya seraya menunduk penuh hormat. Danang mendengus kesal seraya membuang pandangan ke sisi yang berbeda, sementara Hilya hanya mematung menatap punggung sang adik ipar yang siap melangkah bersama Nyonya Amanda yang masih menatap musuh padanya sebelum akhirnya mereka memasuki ruang ICU di mana Nuha berada.
Hilya menangis pilu dalam dekapan sang suami.
"Sayang, kuatkan hatimu," Danang mengeratkan pelukan untuk Hilya, "Tenanglah, ada Aku bersamamu," bujuknya seraya menyentuh lembut pucuk kepala sang isteri dengan bibir.
Kini Hilya berhasil diajak oleh Danang kembali ke ruang Juna, setelah sang isteri berhasil mencerna baik-baik ucapan Dimas yang memintanya untuk tidak mendatangi kamar Nuha. Wanita hamil itu melangkah gontai dipapah oleh sang suami yang hanya bisa membalas tatapan cemasnya dengan perasaan cemas dan takut terjadi sesuatu pada isteri dan calon bayinya itu. Hilya paham betul akan makna tatapan dalam sang suami yang menyirat doa agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan terhadap orang-orang terdekatnya.
Wanita itu membalasnya dengan tatapan bungkam namun cukup mewakili kalimat, "Percayalah, Aku baik-baik saja." membuat Danang terpaksa harus mengangguk pelan meski hati kecilnya tidak begitu yakin.
Hilya menatap sendu wajah Juna yang masih kritis. Pikirannya menerawang ke masa di mana dirinya dan sepupunya, ibu dari sang anak tengah melewati hari-hari indah bersama, tanpa sebarang beban, tanpa sebarang masalah yang menimpa.
"Kau tahu, Hilya? Aku punya mimpi menjadi seorang desainer hebat." ujar Luna di suatu malam penuh bintang, saat kedua sahabat itu memutuskan untuk berbaring ria di balkon rumah, menatap indahnya gemintang yang gemerlapan.
"Wah! Bagus itu, Luna. Kurasa Kau memang pantas mendapatkannya." pekik Hilya kegirangan. Hatinya ikut bahagia mendengar perkataan sang sepupu.
"Makasih, Hil. Selain itu, Aku juga ingin seorang Arjuna yang bakal membuat hidupku menjadi lebih indah dan berbunga-bunga." tambahnya seraya menerawang jauh ke batas cakrawala.
"Ah, yang benar Lun? Memangnya seperti apa arjuna impian mu itu?" usik Hilya dengan tatapan menggoda.
"Orangnya baik, pengertian, bertanggung jawab, dan punya segalanya."
"Orang kaya, maksudmu?" tanya Hilya belum puas menggoda.
"Kira-kira begitulah," menatap tersipu wajah Hilya yang tiba-tiba menaik turunkan alis matanya penuh sarkas, "Aaahh, jangan memandangiku begitu, kan cuma impian, Hilaf!" decitnya cemberut.
Hilya tergelak ria, "Ya, ya, ya. Aku tahu itu cuma mimpi." menutup deretan giginya yang sudah terlanjur menggelitik hati kecil sahabatnya itu, kemudian mendadak wajahnya berubah serius, "Tapi aku ikut mendoakan agar semua mimpimu terwujud."
"Aamiin...,"
"Aamiin..." koor keduanya kompak, nyaris bersamaan.
Ingatannya kembali menggelayut pada hari di mana mereka harus berpisah dan memilih jalan hidup demi masa depan sediri-sendiri. Sang sepupu pindah ke kota atas permintaan sang paman.
"Aku pamit, tetap rindukan Aku, Hilya." cicit sang sepupu penuh kesedihan.
Hilya menyambut pelukan hangat dari sepupunya, "Itu pasti, Kau baik-baik di sana, ya. Jangan lupa beri kabar."
"Pastinya, sayang." balasnya haru, "Kuharap suatu saat bisa kembali menjalani hari-hari bersamamu," decitnya sewot.
Hilya tersenyum menatapnya penuh makna, "Tentunya setelah cita-cita dan impian kita tercapai," menangkup erat kedua bahu mungil tersebut.
"Insya Allah, Hilya. Begitu juga harapanku."
Hingga hari itu tiba. Hari yang telah mengubah segala keindahan di dalam hidup mereka menjadi duka nestapa yang tidak tertawarkan. Hari di mana ia menitipkan Juna dan pergi untuk selama-lamanya....,
"Aku titip Juna, jadikan dia puteramu." ujarnya gagap di sela napasnya mencapai titik nadir. Senyum getir mewakili ketidakberdayaan Luna yang malang hingga ia benar-benar menghembuskan napas terakhir.
Mengenangnya, Hilya hanya bisa menangis getir. Kini duka itu kembali hadir, setelah sekian tahun lamanya ditinggal sahabat sekaligus sepupu paling baik di dalam hidupnya. Kini nyawa Juna pula yang nyaris raib dari genggamannya.
Luna, Ibu dari anak yang kini telah ia anggap sebagai putera kandungnya sendiri itu telah menitipkan putera kandungnya sendiri kepadanya, lalu apa yang telah ia perbuat? Sang anak yang sudah menjadi bagian dari jiwa dan raganya itu kini sedang terancam nyawa lantaran ketidakberdayaannya sendiri. Ya, ketidakmampuan Hilya membagi waktu senggangnya untuk Juna selama berapa minggu belakangan ini telah menjadi bumerang terdahsyat bagi perjalanan bocah tersebut.
"Jadi dia, yang mengaku sebagai Ibu, tapi malah rela mengabaikan perasaan puteranya demi kepentingan dirinya sendiri?" komentar salah seorang kerabat dekat Tuan Jayahadi yang kebetulan membesuk Nuha dan Juna, sesaat setelah Hilya keluar dari ruangan Juna.
Hilya yang berjalan gontai, mendadak menoleh ke arah sumber suara. Kemudian berbalik menatap sang suami yang setia mendampingi, menggenggam erat jemarinya, lalu mendapati sorot mata tegas sang prianya mengadili, menyapu tepat pada sekumpulan kerabat Tuan Jayahadi tersebut. Rasa lemas tiba-tiba menjalar merasuki tulang sum-sum, membuat wanita muda ini merasakan pandangannya ikut menggelap, dan cahaya di sekeliling ikut memudar.
••••
Bersambung....
Jumpa lagi di tahun yang baru, teman-teman sekalian...., selamat menikmati perjuangan baru.
🤗🤗🤗