I Need You

I Need You
Tentang Kita



Happy reading😍📖


Danang memeluk erat tubuh langsing yang baru dijamahnya.Menenggelamkan wajahnya ke ceruk leher jenjang yang serasa sangat menggoda.Merengguk wangi lembut yang menguar dari tubuh dan kulit mulus isterinya.


Hatinya menerawang dan jiwanya melayang.


Rasa haru dan bahagia bercampur aduk menjadi satu.Menyeruak begitu indah,sementara perasaan egonya seakan sedang menertawakan dirinya yang selama ini lemah.Andai awalnya dia sudah mengetahui penyebab utama yang menjadi alasan mengapa mereka sampai terjebak didalam satu kamar.Mungkin ceritanya akan berbeda dari saat ini.


Atau bahkan mungkin hatinya akan tertutup selamanya kepada makhluk berhati lembut seperti ini.Berkali-kali ciuman ia daratkan pada tempat-tempat terjangkau sesuai posisi tidur sang isteri yang membelakanginya.


Perlahan ia turun dari ranjang lalu menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri.Kemudian kembali lagi dengan penampilan yang basah kuyup.Bulir-bulir air yang memercik masih menetes dari rambutnya yang basah dan membekas di bagian otot kekarnya.


Usai mengenakan piyama,Danang kembali mengambil posisi tidur disamping isterinya yang sudah berbalik menghadapnya.Danang menatap lekat wajah yang tampak lelah.Jemarinya turun merapikan sulur rambut yang menutupi sebagian wajahnya,menyentuh lembut pipi yang beberapa hari belakangan tampak semakin menirus.


Ingin menyentuhnya lebih lama,namun khawatir terjaga.Danang akhirnya memilih mengecup singkat pucuk kepalanya,'Selamat tidur sayang,'bisiknya pelan hingga membawa matanya juga ikut terlelap ke dunia mimpi.


Di sepertiga malam terakhir,gadis itu terbangun dari lelapnya.Letih,lelah dan haus.Itu yang ia rasakan saat pertama kali seluruh nyawanya mulai terkumpul.Hilya tertegun menatap wajah tenang itu sedang terlelap namun tampak tengah memeluknya begitu erat seakan tidak ingin melepas.


Bedanya saat ini adalah pemuda yang tidur menghadapnya itu sudah berpakaian lengkap sedang dirinya,"oh tidak."Hilya bergumam pada dirinya sendiri,"Ini tidak betul,aku ketiduran."lagi-lagi bergumam.Keributan kecil yang tidak sengaja ia ciptakan justeru membangunkan Danang yang sudah terlelap sejak tadi.


"Ada yang bisa kubantu?"Danang menawarkan bantuan.


Hilya yang masih berusaha melonggarkan pelukan sang suami justeru mendapat pelukan yang lebih erat lagi.


"Emmhh....,longgarkan dulu.Ini sesak,"pintanya memelas.


Danang menarik bibir membentuk senyum sempurna,"Baiklah,"melonggarkan pelukannya,"Tapi tidak untuk dilepas."lanjutnya manja.


Hilya tertegun mendengar suara maskulin sang suami yang menggelegar namun lembut dan manja.Kedengarannya sangat menyentuh dan menggoda hati,serasa bagai melayang terbang di udara.Pikirannya tiba-tiba saja mengingat kembali rentetan kejadian yang berawal di penghujung senja.Sangat jelas terekam,membuat gadis itu seketika tersipu malu.


Hilya menenggelamkan wajahnya ke dada bidang yang tengah memeluknya erat,"Aku mau ke kamar mandi,"mengangkat kembali wajahnya memandang sang suami yang juga sedang menatapnya,"Aku mau mandi."lanjutnya rada sungkan.


Danang memperhatikan geliat sang isteri yang terbatas dan matanya memicing serta wajahnya meringis seakan sedang menahan rasa sakit.Pemuda itu paham betul dengan apa yang sedang dialami oleh isterinya saat itu,"Tunggulah sejenak,aku akan kembali beberapa menit."


Hilya mengangguk pasrah.Beberapa menit kemudian ia kembali dan membopong gadis itu menuju ke kamar mandi dan membiarkannya berendam di air hangat yang sudah dipersiapkan secara istimewa.


"Mau kutemani?"


Hilya tampak berpikir sejenak kemudian mengangguk pelan,"Boleh....,tapi janji jangan macam-macam,"mengangkat telunjuknya memberi peringatan,"Awas kalau aneh-aneh."lanjutnya mempertegas.


"Ya,ya....,aku kan hanya memandikanmu saja,"menggosok dan memijat punggung seperti yang pernah ia lakukan ketika Hilya sedang sakit,"Bukannya mandi bersama denganmu,kan."tambahnya tertawa miring.


"Apa bedanya,kan sama-sama kontak fisik,"memijat badannya sendiri,"Siapa tahu kau menyakitiku lagi."lanjutnya bergidik.


Danang terkekeh,"Sayang....,percayalah padaku,hmm.Setelah ini tidak akan ada lagi rasa sakit,"masih setia memijat punggungnya,"Setelah ini kau akan merasakan kenikmatan yang tiada penghujung."lanjutnya memindahkan tangan ke bawah untuk menggosok dan memelintir ke dua titik di bagian dada yang menyembul ke depan.Tatapan mata dan tangannya seirama,sama-sama nakal.


Hilya terbelalak,"Tuh kan,benar kau macam-macam,mesum lagi."


Lagi-lagi pemuda itu tertawa menampakkan deretan gigi putihnya,"Aku tidak macam-macam atau mesum kepada orang lain,"melanjutkan bilasan air ke tubuh isterinya,"Hei,aku melakukannya kepada isteriku sendiri,tidak salah,kan."tambahnya tersenyum licik.


Hilya yang cemberut manyun hanya memutarkan bola mata pertanda tidak ingin berdebat.Melihatnya,Danang terkekeh sembari bergerak cepat mengecup bibir ranum yang sudah terlanjur manyun dua senti ke depan,"Bagaimana mau diam kalau banyak umpan yang manis-manis di sini."tambahnya membuat Hilya semakin mencebik,namun akhirnya iapun ikut tertawa melihat tingkah suaminya yang seperti baru menyadari keindahan yang melekat di tubuh mulusnya.Ada perasaan bahagia yang menjalar begitu saja.


"Bantahlah aku sebanyak-banyaknya,maka kau akan merasa kehilangan dan semakin merindukanku di saat aku tidak bersamamu."Danang melemparkan kalimat menohok yang sebenarnya ia tujukan buat dirinya sendiri.


Mengejek hatinya kemudian menampar jiwanya.Menyesali semua perlakuan kasar yang selama ini telah ditujukan kepada makhluk lembut yang tidak berdosa di hadapannya itu.


Gadis polos yang diterimanya dalam keadaan terpaksa dan dilukai hatinya begitu saja.Dibiarkan tidur malam tanpa belaian dan kasih sayang.Kini semua perlakuan yang dirasa tidak manusiawi itu berbalik lalu menghantam jiwa dan raganya sendiri.Bagai menerima pukulan ribuan palu tak kasat mata,begitu sakit dan menyiksa.


Diam-diam tatapannya mulai nanar dan tampak berkabut.Sebuah pemandangan yang luput dari penglihatan isterinya karena sedang sibuk membersihkan dirinya.


"Selesai....,"ucapnya menangkup bahu sang isteri.


"Biarkan aku menuntaskannya,"ucap Hilya mempersilahkan Danang untuk mengakhiri bantuannya.


"Baiklah,asalkan....,"menatap nakal,"cium dulu."lanjutnya tersenyum sembari menunjukkan pipinya dengan telunjuk.


"Baiklah.....,Emmmuuahh"mendaratkan ciuman manis ke pipi sang suami.Danang tersenyum penuh arti sembari mencubit gemas pipi sang isteri lalu memilih meninggalkan kamar mandi.


Danang meraih piyama dari dalam lemari lalu di bawa ke kasur.Sembari menunggu Hilya keluar dari kamar mandi,pemuda itu memilih duduk berselonjor di kasur dan mengambil ancang-ancang siap,namun arah matanya tiba-tiba bertembung pada bercak darah yang bertebaran menempel di balik alas kasur.


"Ahh."Danang terpana,"Suami macam apa aku ini,"desahnya lirih.


Kini ia baru menyadari sepenuhnya akan kemurnian isterinya.Ditariknya seprei itu kemudian diramasnya bekas bercak tersebut dengan penuh perasaan.Rasa sesak di dada kembali membuatnya harus luruh dalam air mata yang lolos begitu saja.


Danang menghubungi room service untuk segera mengganti seprei tersebut dengan yang baru.Saat petugasnya datang,Hilya masih berada di kamar mandi.


"Maaf,permisi tuan."Petugas tersebut menyapanya ramah.


"Ya,silahkan."


Usai mengganti seprei itu,petugas tersebut memberikan saran kepada Danang agar merendam seprei tersebut dengan air panas.


"Pasti akan pudar untuk noda yang masih baru,"ucapnya sopan sembari tersenyum.


"Baik,terima kasih."balas Danang ikut menyunggingkan senyum.


Hilya yang baru keluar dari kamar mandi mendapati petugas tersebut masih berbicara dengan suaminya.Gadis itu melirik ke arah seprei yang membuntal di atas lantai dan sebagiannya berlumuran darah.Ada rasa kikuk dan malu di saat mendapati petugas tersebut memberikan saran kepada suaminya tentang cara membersihkan noda darah tersebut.


"Tenanglah,itu sudah menjadi tugasnya."Danang menenangkan isterinya sesaat setelah petugas tersebut keluar dari kamar.


"Kenapa tidak membiarkan saja,"meraih pakaiannya,"Aku bisa melakukannya."lanjutnya sembari mengenakan baju piyama.


Danang berjongkok meraih seprei yang membuntal,"Ini ulahku,"membawanya ke kamar mandi,"Jadi akulah yang akan membereskannya."pekiknya dari kejauhan membuat Hilya menggelengkan kepala,pasrah.Jika memang itu kemauan suaminya maka siapa yang bisa membantah.


Beberapa menit kemudian ia kembali lagi dan memilih duduk di sofa.Sementara Hilya yang baru usai berpakaian ikut bergabung.Gadis itu lantas mengambil posisi duduk bersebelahan dengan sang suami.Di tangannya telah menggenggam sebotol kemasan air mineral.Membuka segelnya,"Sudah dapat kabar dari rumah,"menempelkan ke bibir,"Soal Dania Puteri."lanjutnya lalu meneguk isi dari botolnya.


Danang membuka sebungkus wafer snack yang sudah ia letakkan di atas meja sejak tadi,"Makanlah,kau pasti lapar."menyodorkan bungkus snak tersebut tanpa langsung menjawab pertanyaan isterinya.


Hilya menyambutnya.Memang benar,rasa lapar yang menderanya sejak tadi membuatnya terpaksa meneguk beberapa kali minumannya.Namun Danang lebih siaga pada kebutuhan sang isteri.Hingga ia sudah menyiapkan makanan ringan itu jauh sebelum sang isteri merapat kepadanya.


"Aku suapkan juga ya,"pinta Hilya.


Danang mengangguk,"Boleh."


"Aaakk....,"ucapnya memberi aba-aba.Danang menyambut suapan isterinya.


"Coba buatkan yang lebih romantis."Danang menyarankan.


Hilya tertawa kecil dengan kening yang mengerut,"Ada yang lebih romantis dari itu?"


"Ada."


"Tunjukkan caranya."menyodorkan wafer ke mulut Danang.


Danang tersenyum nakal,"Yakin?"


Hilya dengan wajah polosnya,"Em,emh."tanpa curiga.


Danang tersenyum penuh kemenangan,"Baiklah," menggigit wafer yang dipegang Hilya,"Siap-siap ya,"sigap mengunci kepala gadis itu lalu menangkup bibirnya sembari mentransfer gigitan wafer tersebut dari mulut ke mulut.


"Emmhh....,kalau ini kau pemenangnya."Hilya berkomentar dengan mimik pasrah.Pipinya yang merah merona semakin menggelitik gemas hati pria yang sudah menjahilinya.


Danang terkekeh,"Terima kasih sudah menjadi isteriku seutuhnya,"desahnya lirih sembari meraih tubuh Hilya ke pelukan hangat.


"Terima kasih juga sudah tulus menerimaku sebagai isterimu."membalas merangkul pinggang kekar yang membuatnya selalu merasa nyaman.


"Maafkan aku,"ucapnya pelan.


"Dimaafkan."balasnya lirih.


Danang barulah menjawab pertanyaan awal yang dilemparkan Hilya soal Dania,"Aku belum dapat kabar apapun dari papa,"menambah intim suasana dengan membawanya ke pangkuan dan mendekap hangat.


Hilya mendongak menatap sang suami dengan tatapan tidak percaya,"Bahkan aku saja sudah melupakan pertanyaanku itu,"decitnya gemas.Danang tertawa tipis,"Ini momen hanya tentang kita."


Hilya yang baru mengerti maksud suaminya segera menyadari keteledorannya.Gadis itu hanya menanggapi ucapan sang suami dengan menarik bibir tipis sebagai pertanda ia mengakui kesalahannya.


'Maaf,aku hanya ingin membuatmu mengerti dengan mengutamakan tentang kita ketimbang yang lainnya.'batin Danang lirih.


•••••


Bersambung....


🤗🤗🤗