
Tok tok tok
Ceklek
"Assalamualaikum,ibu."ucap Hilya menatap gugup wajah wanita paruh baya yang telah melahirkan dirinya itu.
"Waalaikumsalam,nak."jawab sang ibu yang menatap kosong ke arahnya.
Hilya meraih kedua tangan sang ibu lalu menciumnya dengan lembut dan penuh rasa hormat.Alangkah terkesiapnya Hilya manakala mendapati sang kakak Helmy Afindra juga ikut berdiri di belakang ibunda tercinta.Pria dua anak itu ikut menyoroti wajah sang adik dengan tatapan menyelidik.
Lalu menatap tajam penuh amarah ke arah Danang yang juga sukses mematung di belakang sana.Pemuda itu tidak menyangka akan bertemu dengan kaki tangan Jaya Group yang belum lama ini telah menjadi sasaran amarahnya di ruang meeting saat pihak mereka meminta menjalin kerja sama dengan pihaknya.
"K_kakak..."ucap Hilya pelan dan manja.
Helmy sigap merangkul tubuh sang adik yang limbung.Menyandarkan kepala gadis itu ke dada bidangnya.Lalu membawa tubuh itu menuju ke sofa ruang tamu,diikuti langkah sang ibu dari belakang setelah mempersilahkan kepada Danang untuk ikut masuk ke dalam rumah.Kakak semata wayang itu rada khawatir manakala mendapati wajah sang adik yang memucat.Pria muda yang satu ini memang sangat menyayangi adik semata wayangnya. Helmy tidak pernah membiarkan sang adik bersedih walau sedikitpun.
"Kenapa tidak menjawab pesan kakak?"tanya Helmy mulai mereda.Secara tidak langsung Hilya telah menyelamatkan Danang dari terkaman mata elang sang kakak yang menggelap.
"A_aku sudah berniat ingin b_bertemu langsung dengan kakak."ucapnya gelagapan.
"Sayang,sebesar apapun masalahmu,jangan pernah sembunyikan kepada kami.Siapa yang akan meringankan bebanmu,jika kau tidak ceritakan kepada kami...,hmm?"ujar ibu sembari membelai rambut puterinya dengan penuh kasih sayang.
"Maafkan Hilya bu."jawabnya pelan dengan tatapan berair yang nyaris tidak terbendung.
Belum juga lenyap rasa syoknya,tiba-tiba muncul dari balik ruang tengah wajah seorang gadis cantik yang tidak lain adalah Daniah adik Danang.Hilya yang gugup tidak sanggup beradu tatap.Gadis itu mengenggelamkan wajahnya ke dasar bumi.Suasana ruang tamu serasa begitu mencekam.Udaranya ikut memanas.
"Mau sampai kapan anak orang dibiarkan berdiri di sana?"suara ibu mencuit lengan puterinya,menyadarkan kepada semua jika Danang masih mematung di depan pintu.
"A_ah,ya.....,s_silahkan masuk tu_"
"Ah,ya.Hilya kau pasti kelelahan kan,ayo ikut denganku ke dalam,"potong Dania cepat,
"biarkan saja kak Helmy yang menemani kakakku ya."lanjutnya sembari menarik lengan gadis itu dan membantunya membawakan setumpuk barang belanjaannya.Matanya tidak luput melirik wajah sang kakak Danang yang menatapnya
datar.Dania mengerti akan maksud dari tatapan sang kakak.Akan tetapi ia malah masa bodoh dan membiarkan semuanya berjalan sesuai dengan keadaan.
"Baiklah kalau begitu,ibu juga pamit ke dalam ambilkan minum dulu.Nak Danang beristirahatlah sejenak.Helmy tunjukkan kamar untuknya."ucap ibu.
"Baik,bu."balas Helmy.
Sementara Danang menyambutnya dengan sebuah anggukan dan senyuman yang dipaksakan.
Helmy menatap tajam ke arahnya setelah sosok sang ibu menghilang di balik dinding ruang keluarga.Sorot mata elang itu jelas menampakkan amarah yang tidak bisa ia bendung.Seringai sinis ikut menyungging di bibir saganya.Kelihatan sekali pria ini tidak merokok.
"Ikut aku!"serunya sembari bangkit dan menarik kasar kerah baju pemuda yang belum lama duduk di hadapannya.
Danang terpaksa menuruti gerakan Helmy yang mengungkung dirinya.Berjalan ke arah mana sesuai arahan pria muda yang tengah dibalut amarah itu.
"Lepaskan,aku bisa sendiri!"sentak Danang membela diri setelah Helmy menggeret tubuhnya menuju ke pekarangan rumah.
Sementara itu di dalam rumah,Hilya disambut ramah oleh tuan Imran dan juga isterinya.Bapak Haryadi hanya bisa menatap sendu wajah puterinya tanpa sepatah katapun yang terucap dari bibirnya.Pria paruh baya itu masih memiliki rasa menghargai terhadap sesama.Mana mungkin ia bertindak ceroboh di hadapan orang lain yang sedang berkumpul bersamanya.
Di kamar....,Hilya yang mengajak Dania masuk ke dalam kamar miliknya,mempersilahkan gadis itu melihat-lihat ruang pribadinya.Dania mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan yang tertata rapi.Sederhananya desain interior dari ruang tidur Hilya mencerminkan kesederhanaan yang terpancar dari dalam diri gadis itu sendiri.
"Jadi kau masih semester lima ya Hil?"Dania memecah hening menyambut Hilya yang muncul dari kamar mandi.
Gadis itu baru usai membersihkan diri dan berganti pakaian rumahan yang membuatnya tampil semakin sederhana dan apa adanya namun semakin semakin segar dan cantik.Hatinya juga lebih lega dari yang sebelumnya.
"Ya....,apa kau sudah mendengar banyak tentangku dari bapak?"tebak Hilya yang sangat yakin.
Dania mengangguk.
Hilya mendengus kecil.Sang ayah memang demikian.Beliau memang suka menceritakan perihal anak-anaknya kepada orang lain yang sudah dianggap akrab olehnya.
"Bapak,memang begitu."desahnya pelan.
"Paman Yadi menceritakan. banyak hal tentangmu,dan aku pikir itu tidak terlalu buruk."jawab Dania sembari tersenyum menampakkan deretan gigi putih miliknya.
"Ayo,ceritakan kepadaku,kenapa kalian terlambat.Padahal tadi kami berangkat sama-sama dari rumah."desak Dania menyelidik.
"Aku mampit ke kampus dulu."jawab Hilya sekenanya rada cemberut.Namun kebohongannya itu jelas terbaca oleh gadis yang sangat mengenal dekat pribadi sang kakak yang sekarang terkenal temperamen.Dania melirik kantong belanjaan yang berserakan di lantai.Kantong yang di bawa pulang oleh Hilya tadi.Untuk sesaat iapun langsung mengerti jalan ceritanya.
"Hil,maafkan sikap kasar kakakku ya,dia sebenarnya orang baik.Hanya saja masa lalu itu yang membuatnya....,"ucapannya terpotong,sambil menarik lengan Hilya membawanya duduk di atas ranjang,
"ah..,sudahlah,jangan dibahas.Intinya sekarang ini,kau adalah satu-satunya calon kakak iparku...,dan mulai sekarang kau harus belajar untuk menerima kekurangan kakakku,"
"Ya,meskipun umurku setahun lebih tua darimu.Tapi kau harus rela menerima kenyataan sebagai bakal kakak iparku."lanjutnya menyikut lengan Hilya.
Hilya menyambutnya dengan anggukan masam.Meskipun baru berinterkasi namun antara Hilya dan Dania seolah sudah tidak ada pembatas lagi.Hilya yang rada keibuan dan banyak menerima masukan,sedangkan Dania yang manja dan lincah selalu membuat suasana menjadi lehih hidup.Kedua gadis belia itu memang lihai menyesuaikan diri dengan orang baru.Ya,sama-sama baru berkenalan maksudnya.
Dania juga baru mengetahui secara jelas bahwa Helmy Afindra si manager Jaya Group adalah kakak semata wayangnya Hilya.Padahal kesan perkenalan pertama mereka di dalam ruang meeting Adhytama Group belum lama ini tidak terlalu ramah.Semua itu akibat sikap sang kakak Danang yang berlebihan dalam mempimpin rapat.Gara-gara kesal terhadap keputusan sang papa,imbasnya ia melampiaskan amarahnya kepada para klien Jaya Group,dan itu tidak lain adalah manager Helmy Afindra.
Dania menceritakan kepada Hilya perihal awal pertemuan dirinya dan kakaknya dengan Helmy Afindra,komplet beserta dengan kejadian mencekam di ruang meeting waktu itu.Mendengarnya,bola mata Hilya membulat penuh,serasa ingin mencuat dari pelupuknya.
"Wuahh?!...,lalu kau biarkan mereka berdua saja di ruang tamu?"ucapnya seraya melompat dari duduknya,lantas berlari mencapai pintu.Dania ikut terlonjak dan mengekori langkah Hilya yang gesit.Hilya tahu betul akan sikap sang kakak Helny yang pendendam.
"Hilya,ada apa,kenapa terburu-buru?"
Gerakan gesitnya tiba-tiba dicegat oleh suara sang bapak di ruang keluarga.
•••••
Bersambung...
Teman-teman sekalian,semoga kita semua diberi nikmat kesehatan dan rezeki yang melimpah..Salam semangat berkarya dan saling dukung ya..
🤗🤗🤗