
Happy reading 😍📖
Dimas Yudhistira Setiawan.
Setahun belakangan hidupnya seakan mundur kebelakang.Alur cintanya terasa begitu menyesakkan dada.Bagaimana tidak,wanita yang begitu dicintainya ternyata bukanlah tipe wanita setia yang patut diperjuangkan.
Berawal dari kalimat iseng yang dilemparkan nyonya Mira kepada nyonya Joana,ibunda Vania sahabat dekatnya semenjak masih di bangku SMP.
"Kita jodohkan anak-anak kita,yuk."
"Kau yakin?....,puteriku lebih tua dari puteramu lho."
"Ya,nggak apa-apalah,orang cuma beda dua tahun,bukan."
"Baiklah,tunggu apa lagi?"
Maka beberapa kali pertemuanpun mereka sengajakan demi mengikat hubungan di antara keduanya.Hingga akhirnya Dimas merasa sreg di hati lantaran sikap sang gadis yang terbuka dan menerima dirinya,intinya gadis itu tampak memberi harapan yang jelas kepadanya.
Vania,wanita cantik berparas ayu dengan lekuk tubuh seksi bak gitar Spanyol,bertubuh tinggi semampai dan sangat menawan di mata seorang Dimas.
"Kaulah wanita yang kucari selama ini,"ujarnya di awal pertemuan singkat mereka.Jika tidak salah menebak,kemungkinan sewaktu akhir masa putih abu-abu gadis itu,menurutnya.Sementara Dimas sendiri mengambil pendidikan di luar negeri dan baru selesai di satu tahun setelahnya.
"Kita hanya menjalani permintaan,"ucapnya santai berhasil mengundang kerut dikening Dimas,"perjodohan dari orangtua kita."Vania memberi pemahaman standar kepadanya.Namun Dimas yang hatinya sudah terjerat tidak berniat sama sekali untuk mencerna.Apalagi mengurai benang merah dari kalimat sederhana sang gadis yang sebenarnya bermakna dalam.
Tatapan berbinar,dan wajah nan bersemu merah dari si gadis,serta jawaban 'ya' saja sudah cukup membuktikan perasaan yang sama untuk dirinya.Bahkan Vania juga sering mengagumi kelebihannya di sela momen berdua mereka,bukan?
"Kalian masih muda,"menepuk punggung batang mudanya,"Jalani saja ikatan pertunangan hingga kalian benar-benar matang,barulah menikah."lanjutnya dengan sorot menuntut.
Dimas yang tipikal dingin dan cuek sama sekali tidak keberatan mendengar titah yang mulia ibunda ratu dari sang gadis.Baginya,sudah sewajarnya seorang ibu merasa khawatir dengan masa depan puterinya.
Apalagi di usia transisi yang masih belum paham betul,bakal dibawa ke mana masa depannya,bagaimana menjalaninya,dan seperti apa jadinya nanti,belum ada bayangan meski hanya numpang lewat.Lalu siapa yang paling bersalah dalam hubungan yang sudah terlanjur dibina ini,tidak ada yang mengetahuinya secara persis.
Singkatnya,Dimas dan Vania saling menerima dan saling mencintai.Keduanya belajar untuk memadukan hati dan pikiran di usia yang masih sangat belia.
Meski terkadang Vania terkesan lebih menuntut kesempurnaan akibat sikap Dimas yang rada dingin dan cuek selalu membuat Vania jengah,namun sikap dominan gadis itu juga tak kalah ajaibnya membuat pemuda itu sukses terjebak dalam permainan cintanya.
Setahun yang lalu,Vania dengan sengaja menyusul ke tanah Mat Saleh demi memantapkan jalinan yang sudah terbentuk.Gayung bersambut.Rencana pernikahanpun siap dibahas,termasuk penetapan tanggal pernikahan.
Namun anehnya,rencana sakral itu justeru kerap menemui hambatan tidak terduga.Entah itu dari pihak keluarga di kedua belah pihak,maupun Vania dan Dimas sendiri.Padahal keduanya sudah sangat kompak.
Berawal dari permintaan tuan Amran selaku ayah kandungnya yang berniat menunda pernikahan mereka lantaran ada masalh keluarga yang patut diselesaikan agar semuanya berjalan mulus.
"Maaf,nak.Pernikahannya ditunda dulu."
"Oma Hasnah sedang koma,kita urus kepentingan yang lain dulu sambil menunggu beliau sadar."
"Ditambah sepupumu Karin juga mengalami kecelakaan parah."
"Jelas ini perhatian seluruh keluarga besar hanya akan terpusat kepada dua makhluk yang menjadi inti dari garis keturunan darah Setiawan itu,"timpal sang mama Andin.
"Sementara kita hanyalah anak cucu yang patut menghargai jasa dan pengorbanan mereka kepada nenek moyang kita."lanjut sang papa membuatnya merasa perlu menertawakan kelemahan keluarganya yang tidak bisa mengambil keputusan sendiri.
"Kalau om Imran dan sepupumu Danang saja bisa bersabar dan mengalah,lalu mengapa kita tidak?"Papa Amran dengan gaya khas menuntut,"Maka bersabarlah,kita hanya perlu sedikit waktu lagi sampai semuanya membaik."
Ucapan tak terbantahkan membuatnya tidak bisa melawan.Sekilas matanya melirik singkat ke arah calon isterinya.Sang gadis tampak begitu tenang seakan tidak pernah terjadi sesuatu di sana.Meski sudah beberapa kali ia meminta maaf,namun Vania tetap mengatakan kalau dirinya baik-baik saja.
Beberapa waktu berlalu,saat semuanya mulai berjalan mulus.Dimas berniat membahas rencana penetapan tanggal pernikahan itu lagi.Namun jawabam mengejutkan justeru datang dari pihak Vania.
"Maaf,aku tidak bisa menyesuaikan waktuku denganmu,saat ini papaku sedang sibuk mengurus tender besarnya di Belanda."
"Mama akan ikut ke sana.Mereka baru akan kembali lima bulan mendatang."
Lalu lima bulan berikutnya....,
"Maaf,aku akan mengambil cutiku dan pergi ke Belanda,"ucap Vania tertunduk,"Hanya satu bulan,karena sepupuku akan menikah bulan depan dan kami akan membuat persiapan yang matang."lanjutnya penuh penyesalan.
Dimas menghela napas berat.Ya,akhirnya ditunda lagi.Entah apa jadinya hubungan ini kalau hanya akan mengikuti arus mudik dan arus balik dari permasalahan masal ataupun kesibukan keluarga masing-masing.
Jika di saat itu,ada kemungkinan Vania memang sengaja mengulur waktu demi membalas dendam akibat rencana pernikahan awal mereka batal gara-gara permintaan dari pihak keluarga Dimas,maka dengan segenap kekuatan hati ia berusaha menepis semua pikiran buruknya itu.
Hingga suatu ketika,manakala Dimas sedang dalam perjalanan dinas memenuhi undangan sepupu jauhnya,yang tidak lain adalah Karin.Di mana suaminya,Diego telah berhasil melebarkan sayap usaha mereka dalam bidang pariwisata ke satu lagi negara di Asia Selatan.
Dan saat itu,Karin bersama dengan suaminya akan melakukan peresmian hotel berbintang yang baru dibangun di Maladewa.Namanya Resort Grand Park TF.Group Maldives.Dengan senang hati Dimas mendatanginya.
"Welcome to my paradise,buddy."Sambutan hangat Karin diikuti sebuah pelukan singkat sebagai ciri khas wanita itu,"You're invited his here?"Seketika membuat Dimas tertawa kecil."Di mana Vania?"Karin yang masih belum yakin,terus saja berceloteh gemas.
Meski sikapnya yang tak acuh,dan tidak seperti sepupu panutannya,Danang.Dimas tetap ramah kepada semua orang termasuk Diego dan Karin yang dengan senang hati menerima keberadaannya di tengah mereka.
Apalagi Karin,si wanita lincah yang super ramah itu.Karin bahkan senang memperlakukannya secara istimewa serupa ia memperlakukan Danang di kala itu.Hanya saja,beda porsi,beda suasana.Kalau Danang dulu,mereka berdua sama-sama masih lajang dan sempat dijodohkan.
Sementara dirinya kini,Karin sendiri malah sudah berkeluarga dan dirinya pula,pada kenyataan hubungannya dengan Vania masih gantung.
"Terima kasih sudah jauh-jauh kemari."
"Ah,apa yang tidak untuk kakak ipar yang cantik sepertimu."Dimas membalas dengan candaan yang membuat semuanya tertawa.Tidak terkecuali Diego,suami sah Karin yang baru saja ikut bergabung setelah usai menyambut beberapa tamu yang mulai berdatangan.
"Tuhan terlalu bijak,dengan memisahkanku dari Danang lalu mempertemukanku denganmu yang setali tiga uang dengannya,dalam suasana baru,"ujar Karin dengan masygul.
Sebuah pembuktian bahwa kharakter terkuat dari sepupu kandungnya yang satu itu,telah memberi kesan persahabatan sangat kukuh di hati semua orang yang pernah bergaul dengannya termasuk wanita cantik nan molek yang tengah berdecit riang di depannya itu.
"Itu menandakan kalau kau masih punya ikatan batin dengan kakakku,"timpalnya masih mengguyon.
Lalu Vania,baru seminggu yang lalu,gadis itu berangkat ke Belanda demi membuat persiapan pernikahan sepupunya di kota kincir tersebut.Tentunya saat ini iapun tengah asyik berlibur di kota dam,bukan.
"Alangkah baiknya jika Vania ikut bersama,"gumam Karin yang masih kedengaran olehnya.Bahkan sangat jelas.
"Lah,bukannya sudah di sini sejak seminggu yang lalu?"Diego yang berdiri di sampingnya mementahkan ucapan isterinya itu.Masih dengan suara terendah yang menurut mereka Dimas tidak akan mendengarnya.
Dimas menangkap kerutan tajam di kening Diego.Kedua alisnya yang simetris tampak saling bertautan,"Di Grand Park Kodhipparu."
Karin bertanya ragu,"Pulau Resort?"Diego mengangguk yakin,namun sejenak kemudian ia kembali bersuara,"Bisa jadi aku yang salah orang."
Mendengarnya,Dimas tidak langsung percaya begitu saja,hingga malam itu ia memutuskan untuk menginap di Grand Park,Pulau Resort.
Apa yang didapatinya di sana?Kenyataannya adalah Vania tidak sedang di Amsterdam sebagaimana yang ia dengungkan beberapa hari sebelum keberangkatannya ke Amsterdam dalam tanda kutip "Maldives",perlu dicatat.
"Kenapa kau melakukannya padaku?"
"M_aaf,karena aku kecewa dengan sikapmu yang tidak bisa mengambil keputusan sendiri."
"Kau tidak bisa membantah ketetapan orangtuamu walau sekedar bilang tidak pada mereka,kau lemah.Dan aku benci itu."
"Lalu siapa dia....,bukankah dia sepupumu yang sebentar lagi menikah....,lalu kenapa bermesraan berdua di pulau terpencil?"Dimas kalap.Memindai wajah pria berotot timbul di depannya bak roti bantal.Tampak dari baju tipis yang ia kenakan menampakkan sisi maskulin yang tak terbantahkan.
"Dia....,dia adalah Riko,teman dekatku."
"Whatt?!"Tertawa sumbang,"Kau bercanda."Mencoba menyangkal demi menghibur dirinya sendiri.
"Aku serius."Vania berubah ngotot.
"Jangan bohong."Masih menyangkal.
"Aku berkata benar."Tidak mau kalah.
Mendadak irisnya menggelap.Jemari kekarnya kian gemetar membentuk kepalan tinju.Wajahnya memerah menyorot dengan tatapan membunuh. Sontak tangannya melayang menghujam dua pukulan telak tepat mengenai wajah pria yang diakui Vania sebagai teman dekatnya.
"Shit!"
"Kau pecundang!"Geramnya sembari menatap pria bernama Riko itu,perlahan menyapu sudut bibirnya yang berdarah,namun tidak melakukan perlawanan sedikitpun.
Sebulan berlalu....,
"Maaf....,aku menyesal tidak berpikir sebelum bertindak.Aku telah menyakitimu."Vania datang dengan wajah pias,meminta perlindungan kepadanya.Riko telah menelantarkan dirinya.Menikah dengan wanita pilihannya adalah cara terbaik untuk membalas Vania.Punya dendam kah dia pada calon isterinya itu?
"Aku berjanji tidak akan melakukan kesalahan lagi."Demikian janji Vania.
Namun Dimas yang terlanjur kecewa karena sebelumnya telah berhasil mengumpulkan bukti baru bahwa Vania pernah punya hubungan istkmewa dengan sepupu kandungnya,Danang.
Posisi di saat mereka bertunangan,Vania masih berstatus kekasih sang kakak yang tinggal menunggu waktu untuk segera dipersunting.
Dan yang lebih mengejutkan adalah,Vania sudah melakukan hubungan terlarang yang tidak seharusnya dilakukan oleh remaja labil seusia mereka.Lalu siapakah pelakunya,Danangkah itu,hingga ia bersikeras akan melamar Vania setelah masuk ke jenjang kuliah?Tak seorangpun yang bisa menjawab pertanyaan konyol tersebut.
....
Bersambung....
🤗🤗🤗