
Tok tok tok
ceklek
"Maaf,tuan muda.Ini pesanan bubur yang anda minta,"ujar bibi Nunung yang muncul membawa nampan berisi semangkuk bubur ayam dan segelas air putih.
"Ah,ya.Terima kasih bi.Letakkan di sana ya."mengarahkan telunjuknya ke meja yang berada tidak jauh dari Hilya.
"Baiklah."jawab bibi Nunung santun,melangkah menuju arah meja yang ditunjukkan,
"Silahkan nona,"ucapnya setelah meletakkan nampan di atas meja.
"Baik,bi.Terima kasih."Hilya mengangguk sopan sembari menarik senyum manisnya.
Danang yang muncul setelah kepergian bibi Nunung,mengambil posisi duduk di atas sofa,
"Makanlah,kau butuh tenaga,"meraih sebuah buku bacaan dari atas meja,
"buat hadapi tukang urut yang sebentar lagi akan datang."lanjutnya sembari membuka lembar per lembar buku tersebut.
Mendengar penjelasan Danang,Hilya tersentak kaget,
"Hah?!"terbelalak,'Duh!...,sakitnya diurut.'gumamnya panik.
Danang manggut-manggut seraya menipiskan bibirnya,sengaja untuk menakut-nakuti isterinya.
"Sini biar aku suapkan."pintanya sembari ancang-ancang mendekati sang isteri.
"Ah,tidak usah.Biar aku sendiri,"sanggahnya.
"Kenapa,kau takut padaku?"kembali ke tempat semula.
"Tidak,aku hanya curiga karena kau tiba-tiba lembut hari ini."
"Kau saja yang aneh.Dikasari,menangis diam-diam.Giliran dilembuti,malah takut."Danang melengos.
'Ya,takut dekat-dekat,lalu jatuh cinta,kemudian siap-siap patah hati.'batin Hilya jengkel.
Gadis itu memberengut,wajahnya ditekuk sembari menyendok beberapa suap bubur,melesat ke dalam mulutnya,"Kalau tidak kasar,mana mungkin aku takut apalagi sampai pegang-pegang tubuhku sembarangan...,ya mana maulah.Kan,malu."lebih tepatnya berbicara kepada dirinya sendiri.
"Lagi pula apa yang kau sembunyikan di balik tubuh kurusmu itu?"seakan mendengar ucapan gadis tersebut,
"Sudahlah kurus,tidak menggiurkan lagi."ledeknya sembari tersenyum samar.
'Dasar monster mulut ganas!'batinnya kesal.
"Siapa juga yang suka sama sifat jelekmu itu.Kasihan papa dan mama harus punya anak seburuk dirimu,"celetuknya geram.
"Hhah,yakin tidak suka padaku?"menarik tubuh Hilya hingga jatuh ke pangkuannya,"Perlu pembuktian ini."Danang sigap menancapkan bibirnya ke bibir sang isteri.Meraup manisnya,kenyalnya,dan nikmatnya.
Seakan tidak ingin membiarkan sang isteri lepas begitu saja,satu gigitan kecil berhasil membelah bibir ranum itu.Danang lebih gencar lagi bermain di dalam rongganya,menangkup,menggelitik,dan ******* nikmat.Hingga disatu kesempatan,Hilya mendorong dada suaminya.Deru napasnya yang tersengal-sengal meronta untuk segera di atur kembali.
"Tatap aku."desah Danang pelan.
Hati-hati Hilya memberanikan diri membuka mata yang memejam pasrah,perlahan menelusuri dada bidang suaminya,menyisir naik ke leher,mendapati jakun suaminya bergerak naik turun,justeru memancing hasrat birahinya kian menggebu.Kini tatapan keduanya saling bertembung,mendamba menyelami rasa yang menguar hingga ke dasar hati.
"Benar kau tidak menyukaiku?"dengusnya lemah lembut.
Sorot elang nan nyalang itu menerobos ke dalam pupil indahnya,melesat ke relung hati,mengetuk-ngetuk seakan tidak ingin membiarkan setiap detiknya berlalu begitu saja.
"Kenapa sayang,hmm kenapa?"bisik birahinya lirih,jakunnya terus bergerak naik turun memancing suasana hati Hilya yang terpana mengawasinya.Deru napas yang memburu meniup nakal ke hidung dan kuping isterinya.Membuat gadis itu menggelinjang merasakan sesuatu yang berbeda dari sebelumnya.
Danang tidak menyia-nyiakan kesempatan.Kali ini ia menyerang pada titik sensitif yang lainnya.Ceruk lehernya menjadi sasaran empuk membuat sang isteri tidak sanggup menahan desahan lirih yang semakin jelas ..,emhss..Satu tanda kepemilikan berhasil menempel indah di sana.Danang dan Hilya sudah benar-benar hilang kendali,hingga suara ketukan mengagetkan dari balik pintu memaksa Danang menghentikan aksinya.
Hilya sigap membuang pandangan jauh ke sisi yang berbeda.Tidak sanggup lagi menatap mata elang yang nyalang milik suaminya,
'Oh....,tatapan itu,benar-benar bikin melayang.'batinnya lirih.
Danang segera melepas jemarinya yang telah meramas kuat pinggang isterinya.Kemudian membawanya kembali ke ranjang,
"Ck!....,lolos kau,"decaknya menyeringai.Bangkit dan beranjak untuk membukakan pintu.
Hilya merasa seperti sedang ditarik ulur hatinya.Gadis itu mendengus kecil,
'Cerewetnya ni orang,untung manusia,kalau kerang sudah kutusuk buat sate.'batinnya sembari memandangi punggung suaminya yang sigap membuka pintu.
Bibi Nunung mengantarkan seorang tukang urut wanita yang sudah dihubungi oleh Danang.Tukang urut tersebut mulai memeriksa kaki Hilya yang terkilir.
Sementara itu,di halaman depan rumah...
"Kita sudah sampai tuan."
Sebuah mobil silver berhenti di depan pintu pagar.Tampak tuan Jayahadi tengah duduk mematung di bagian belakang.Seakan tidak mendengar ucapan sang supir,pria paruh baya itu hanya memandang jauh ke depan pintu yang ditutupi oleh gerbang yang megah.Lima menit,sepuluh menit,dua puluh menit,masih dalam keadaan serupa.
"Maaf tuan,apa perlu saya bukakan pintu?"
Tuan Jayahadi yang baru sadar dari lamunan tampak kaget,
"Ah,ya.Tidak usah,biarkan saja."
Gerbang megah yang dipandanginya sedari tadi tiba-tiba saja terbuka.Seorang asisten rumah tangga berperawakan manis keluar sembari membawa tumpukan sampah.Siap dibuang ke tong sampah.
"Bibiii...."
Lenting suara mungil yang ikut muncul dari belakang.
"Ya,Juna.Ada apa nak?"sang bibi yang tidak lain adalah Nunung,menyahuti.
"Itu pesawat jangan dibuang,"rengekan khas anak kecil,menunjukkan ke arah kantong besar yang sudah dibungkus rapi.
"Juna sayang,mainannya rusak.Jadi di buang saja."Berlutut mensejajarkan diri,"nanti papa Danang akan belikan Juna mainan yang baru ya."lanjutnya membujuk.
"Tapi pesawat Juna cuma itu,bi."Juna merengek dengan tampang memelas.
"Bunda yang suruh,nak.Kata bunda,nanti papa akan belikan pesawat yang lebih bagus."
Tuan Jayahadi menatap jauh ke dinding pembatas dengan tatapan sendu.
'Ah,Arjuna...., kau menghukumku...,sampaikan cucuku sendiri saja serasa susah untukku dekati.'pikirnya nelangsa.
Pria itu akhirnya mengarahkan jemarinya kepada sang supir untuk segera beranjak dari sana.
Sore harinya....,kediaman Jayahadi...
"Papa,Nuha pamit dulu ya,"ucap Nuha Izz kepada sang papa yang sedang asyik membaca koran di teras depan rumah.Gadis itu berpamitan pergi ke rumah tuan Imran untuk menjenguk sahabatnya Hilya.
"Boleh papa titipkan sesuatu,nak?"tanya tuan Jayahadi ragu.
Nuha mengangguk,
"Boleh,pa.Apa ada sesuatu buat om Imran?"tanya Nuha dengan mimik semringah.
Tuan Jayahadi menggeleng pelan,
"Hanya sebuah mainan...,"meletakkan koran di atas meja,"...pesawat untuk Juna."meraih gelas dan menyeruput teh hijau miliknya.Sejenak pria paruh baya itu bangkit dan beranjak ke dalam rumah untuk mengambilkan sesuatu yang baru saja ia jelaskan kepada puterinya.
Nuha menatap punggung sang papa yang kian menjauh,"Menarik."
Ada ekpresi tidak percaya tergambar jelas di wajahnya.Gadis itu memicingkan matanya sesaat setelah sang papa kembali membawakan sebuah bungkusan yang cukup besar untuk ukuran Nuha yang jarang menenteng sesuatu saat berpergian,
"Papa kenal Juna?"melemparkan tatapan menyelidik,"Sejak kapan?"lanjutnya penasaran.
Tuan Jayahadi mendesah pelan,"Sejak dia tidak sengaja menabrak papa,"meraih kembali koran di atas meja,"dan menumpahkan minuman ke jas kesayangan papa,"lanjutnya tersenyum menerawang.
"Jangan bilang papa juga jatuh hati padanya,"memicingkan mata,
"karena dia mirip mendiang kak Arjuna sewaktu kecil,pa."sembari memainkan telunjuknya ke arah sang papa.
Lagi-lagi tuan Jayahadi menghela napas berat,
"Bukan cuma mirip,nak."Jayahadi tampak menerawang,"tapi dia memang anak kandung kakakmu."lanjutnya berkaca-kaca.
"Appa??"
Nuha terbelalak tidak percaya mendengar ucapan sang papa.Gadis itu menatap dalam ke bola mata sang papa untuk mencari kebenaran di sana.Dan memang hanya ada sebuah kebenaran yang tidak bisa dipungkiri dari balik sorot mata redup itu.
"Jangan kau beberkan hal ini kepada siapapun,termasuk Hilya,"mengambil posisi duduk,"kita akan melakukan pendekatan secara kekeluargaan kepada ayahnya Hilya."menarik napas berat.
"Baik,pa.Apa tidak sebaiknya cari tahu dulu alasannya mengapa kesalahpahaman itu bisa terjadi?"
"Papa sudah mencari tahu semuanya,"ucapnya pelan,"dan ternyata selama ini,Ferdi telah berbohong kepada papa."lanjutnya datar.
Tuan Jayahadi juga sudah membuat panggilan kepada mantan manager di perusahaan miliknya itu.Ia bahkan memberinya ultimatum agar pria itu segera menunjukkan diri di hadapannya,agar lekas mempertanggungjawabkan kesalahannya tersebut.Namun jika dalam jangka waktu dua hari,pria itu tidak menunjukkan batang hidungnya,maka ia akan segera bertindak tegas kepadanya.
Nuha menghela napas berat,amat sulit untuk dipercaya kalau ternyata selama ini keponakannya masih hidup dan tumbuh membesar di tangan Hilya sahabatnya.Ternyata anak angkat yang selama ini ia ceritakan suka dukanya yang menyedihkan itu tidak lain adalah anak dari kakak kandungnya sendiri.Gadis itu seketika ikut berkaca-kaca.
Pantas saja ketika Hilya menyebut nama Juna,Nuha merasa seakan memiliki ikatan batin dengan bocah tersebut.Ingin sekali bertemu dengannya.Sedikit gambaran ketika dua kali ia mengunjungi rumah Hilya,Nuha berharap bisa bertemu dengannya.Namun sayang,Juna tengah berlibur ke rumah Helmy.Dan ketika acara ramah tamah pernikahan sahabatnya itu,Nuha baru bisa bertemu dengan Juna.
Alangkah terkejutnya dia ketika itu.Sosok Juna yang ingin sekali ia temui selama ini,ternyata punya kemiripan dengan mendiang sang kakak sewaktu masih kecil dulu.Nuha ingat betul ketika sang kakak selalu mengajaknya jalan-jalan sore sambil lari-lari keliling taman.Sebiji macam sikecil Juna.
Itu terbukti juga dari foto-foto masa kecil sang kakak yang terpajang di dinding kamarnya,sebagai pendukung.Ya,Juna memang benar-benar jelmaan dari Arjuna Wijaya.Padahal waktu pertama kali bertemu,Nuha tidak menaruh curiga karena menurutnya kesamaan wajah di antara sesama anak kecil itu wajar.
Ah,Tuhan terlalu bijak mengukir takdir seseorang.Hingga begitu mudahnya Tuhan mempertemukan orang-orang yang telah lama berpisah,bahkan masih dalam bentuk janin sekalipun.
Kediaman keluarga Imran...
"Hei....,lihat apa yang tante bawa,sayang."pekik Nuha manakala melihat Juna yang tengah bermain di taman belakang rumah,bersama salah seorang asistem rumah tangga.
"Apattu,tante?"Juna ikut memekik kegirangan.
"Kalau minat,ya tebak...,hehe."Nuha memberikan aturan mainnya.
"Emm....,mobil-mobilan,robot,bajak laut,ah..,pesawat sajalah tante,"ucapnya menyerah.
"Tepat sekali,ponakan tante memang paling jago!"puji Nuha Izz sembari menghadiahkan pelum cium kepada bocah yang menggemaskan tersebut.
"Sejak kapan,tante Izz jadi punya sifat keibuan?"ledek Danang yang baru muncul dari belakang,
"Juna,tanyakan pada tante,tahu dari mana Juna lagi ingin pesawat?"lanjutnya tertawa kecil.Membuat Nuha seketika tersipu malu.
'Tumben nih horang pandai bercanda.Biasanya juga lihat haku macam lihat mangsanya.Yeelah...,musuhan sama Hilya,sahabatnya malah jadi ikut kena imbas.'batin Nuha Izz.
"Kenapa bengong di sana,mau kuantar apa tidak?"ucapan Danang seketika membuyarkan lamunannya.
"Ah,ya.Aku ke sana sekarang."Nuha mengekori langkah Danang dari belakang.Gadis itu semakin tidak percaya saat mendapati Danang bisa bertegur sapa dan tersenyum manis ke arahnya.
'Monster ini tidak sedang kesambet kan,'gumamnya pelan.
Di kamar...
"Hilaf,kau apakan suamimu hari ini?"Nuha menghunuskan tatapan menyelidik ke arah sahabatnya yang tampak bingung.Memang dia apakan suaminya,dia sendiripun tidak mengerti.Hilya hanya mengedikkan bahu sebagai jawaban terbaiknya.
"Hei,dia bahkan tersenyum manis kepadaku dan mengajakku bercanda,"mengambil posisi duduk bersila di depan sahabatnya,"bukankah itu suatu kemajuan?"lanjutnya menggoyang-goyang kedua bahu sahabatnya yang sudah ia tangkup sebelumnya.
"Tauk ah!...,"Hilya menampik,"Nah,yang kau kemari ni,dengar dari mana kalau aku sedang sakit?"menepis tangkupan tangan sahabatnya sembari memicingkan kedua matanya,tanda tanya.
"Prisil."
"Hahh?"
Menurut Nuha,Prisil menyatakan kepadanya kalau semalam Danang memukul Joshua hingga babak belur lalu Hilya ikut pingsan dalam insiden tersebut.Hilya terbelalak mendengarnya.Apa mungkin Prisil berada di tempat kejadian itu semalam..
•••••
Bersambung...
🤗🤗🤗