I Need You

I Need You
Tanyakan Sesuatu



Happy reading 😍📖


Hilya rebahan di kasur sembari menunggu kehadiran sang suami yang menjanjikan hidangan sup bening untuknya,"Lama begini,padahalkan tinggal menjemput saja?"Menguap malas untuk sekian kalinya.


Matanya mulai mengecil,"Kenapa jadi malas begini,"gumamnya pasrah tidak bertenaga.


Di sela penantian panjang,jemari lentik itu sengaja memainkan benda pipih di tangannya demi mengusir rasa jenuh.


Menongkat kelopak matanya dengan membuka galeri ponsel,sekedar menjelajah kenangan indah yang dilalui bersama suami,sahabat dan kerabat,"Ih,rindunya."


Ya,momen indah yang tidak akan sama walau diulang kembali.Lalu beralih ke foto dirinya,dan Dania saat berada di kamar ganti kostum,berhasil menyita perhatian,"Dania,apa kabar anak itu?"


Memorinya bertualang ke masa di mana dirinya dan Dania harus mengenakan pakaian adat dan bersanggul sesuai dengan status lajang dan menikah.


"Sebaiknya kutanyakan sekarang,ya?"Menarik bibir,membentuk senyum sempurna.


Baru saja ingin mengetik sesuatu untuk dikirim ke iparnya tersebut,tiba-tiba derit ponsel yang berasal dari nakas kembali merusak konsentrasinya.Sudah bisa dipastikan kalau ponsel itu milik Danang.


Sontak kepalanya ikut menoleh ke arah samping,"Karin."Nama itu terbaca di layar yang tengah berkedip.


Namun ia memilih mengedikkan bahu,daripada harus merespon sesuatu yang bersifat privasi,"Biarkan saja,sampai orangnya kemari."Meski itu berasal dari barang milik suaminya sendiri.


Sekali,dua kali,ia abaikan begitu saja,namun ketika berkali-kali panggilan masuk dari nomor yang sama,mendadak membuat hatinya ikut terusik.


Kini ia harus kembali menerawang masa itu,"Wanita yang pernah dipeluknya,posesif itu,kan."pikirnya rada tegores.


Matanya tetap mengawasi layar yang terus berkedip meminta segera diraba.Senyum cantik yang sedari tadi mengembang tiba-tiba memudar,cemburukah dirinya?


Baru saja jemarinya melayang ke atas nakas,berniat untuk menjawab ponsel milik suaminya,hanya dengan satu tujuan,meredam keributan yang tercipta....


"Sayang,supnya sudah jadi....,"Tangannya tertahan,begitu mendengar suara Danang yang baru muncul dari balik pintu,"Dicicip,ya."


Wajah semringah dengan garis otot nan kekar itu,lagi-lagi memamerkan senyum khas yang membuat hati meleleh,"Ah,dikau."gumamnya lebih tepat berbicara kepada diri sendiri.


"Kenapa tidak diangkat?"Gelegar suara maskulinnya lagi-lagi memecah seisi kamar,membuat yang disapapun ikut menoleh untuk sekian kalinya,"Emm....,kau saja."Memukul mundur tawaran sang suami seraya bangkit dari rebahan.


Merasa tak mendapat respon hangat,Danang bergerak kian maju,lalu ikut mengambil posisi duduk disampingnya,"Aku suap,ya."Meletakkan nampan di atas kedua pahanya.


Lalu siap menjangkau sendok seraya menyodorkan satu suapan kuah bening yang masih hangat ke mulut sang isteri dengan penuh kesabaran,"Habis ini kita istirahat,oke."lanjutnya mengarahkan.


"Juna belum tidur?"Menjawab dengan pertanyaan yang lain.


"Amanlah,sama bibi Nunung,dia....,"


"Yakin,sedikit lagi juga pasti tidur...."


Menjelaskan penuh semangat.


Hilya mengangguk pelan seraya menikmati hasil suapan tangan suaminya,paduan rasa rebusan kaldu ayam,potongan kecil aneka sayuran serta daun bawang dan juga saledri,memberi rasa segar di lidah,"Enak."Kata yang melesat,begitu indera pengecapnya berhasil mencecap rasa kuah tersebut.


Ditambah taburan bawang goreng dan bubuk lada menambah aroma gurih pada kuah bening buatan bibi Nunung tersebut,"Nikmat."Pujinya lagi,membuat Danang tersenyum miring.


"Bibi Nunung memang jago masak.Tahu saja selera lidahku saat ini,"ucapnya tulus.Tapi tunggu dulu,apa benar buatan bibi Nunung,ataukah Danang cuma beralasan karena ia malu mengakuinya kalau itu menu sehat buatannya sendiri?


Yang jelasnya,Hilya merasakan ada perbedaan rasa antara sup buatan bibi Nunung sebelumnya dengan menu saat ini,"Bibi Nunungnya tahu bener ya kalau aku sedang tidak suka yang asin,"ujar Hilya merasa menangkap celahnya.


Lagi-lagi Danang tersenyum miring,"Emm....,mungkin bibi Nunung lagi main game online saat meraciknya....,"Membiarkan kedua tangan Hilya menyambar nampan dari pegangannya,"sampai lupa menabur garam kedalam menu itu,"decit Danang sekenanya.


Hilya menipiskan bibir seraya mengangguk,mencoba membenarkan,namun tidak lama kemudian,"Sejak kapan bibi Nunung pandai main game online?"Melayangkan protes.


Danang melemparkan kekehan pendek,"Sejak hari ini."


Namun candaan suaminya justeru tidak berhasil mengusir raut datar di wajahnya.Pikirannya kini bergelayut ria pada panggilan masuk berulang kali di ponsel suaminya,"Ah,dia lagi."


Muncul pertanyaan mengenai pribadi wanita yang pernah ia lihat sekilas sedang berpelukan mesra dengan suaminya,namun tidak begitu akrab menyapa manakala melihat dirinya,"Kenapa tiba-tiba penasaran begini?"batinnya kesal.


"Kenapa,tidak suka supnya?"Danang membuyarkan lamunan sang isteri.


"Tidak apa-apa,aku hanya lelah....,"mengerling singkat ke arahnya,"Supnya,aku suka."Beralih melirik ke arah ponsel milik sang suami,"Dia menghubungimu dari tadi."


Danang mengernyit,"Siapa?....,harusnya dijawablah."


Hilya mendongak menatap lekat ke mata elang yang sudah siap mengaduk-aduk isi hatinya,kian menggetar.Sejenak kelopak bening itu beradu tatap dengan sorot tajam tersebut,saling mengunci dan dalam.


Lalu sigap menggelengkan pelan kepalanya,"Merasa tidak punya hubungan,"ucapnya kalem.Menunduk menatap mangkuk di tangannya,kemudian melanjutkan suapan sup kedalam mulut.


Danang terkekeh,"Oh,ya.Baiklah,biar kuperiksa,"ucapnya masih tertawa sembari meraih ponsel ke tangannya.


"Tidak punya hubungan,dengan pemanggilnya atau dengan ponselnya?"Melirik ke arah Hilya yang sibuk menikmati sup hasil karyanya,yang diketahui sebagai buatan bibi Nunung.


Danang tahu betul akan sifat isterinya yang tidak suka mengganggu privasi orang lain termasuk dirinya yang berstatus sebagai suami.


Bahkan selama lima bulan mereka hidup sebumbung,sekamar dan seranjang,tidak pernah sekalipun ia melihat jiwa kepo yang menguar pada diri isterinya itu.


"Dua-duanya."Kali ini benar-benar tidak ingin mendongakkan kepala,melainkan memilih melahap sisa kuahnya hingga tuntas.


"Dasar manusia langka,"ucapnya sengaja memancing emosi sang isteri,"Setidaknya cari tahulah apa yang ada didalam ponselku itu,"Menggulir layar pipihnya,"Siapa tahu ketemu sesuatu yang bisa dijadikan bahan obrolan."


Sementara tatapannya sudah terpana kepada nama 'Karin' yang tertera di sana sebagai lima panggilan tak terjawab,"Whatt?,pantas."batinnya getir.


Iapun melirik singkat ke arah Hilya yang tetap sibuk memainkan sendok dan membentur ke mangkuk kosong dipangkuannya.Hatinya mencoba menebak,"Marahkah dia mendapati Karin menghubungiku berkali-kali ini?"


Pikirannya kini berkelana pada selow respon yang dipertontonkan sang isteri,ada yang salah di sana,"Atau memang aku yang sedang sensitif?"Diletakkanlah ponselnya kembali ke tempat semula.


"Sebaiknya dihubungi dulu,dia melakukan panggilan sebanyak lima kali."Kata 'lima kali' berarti isterinya tahu persis dan menghitung jumlah panggilan nomor dan nama itu.


Tapi mengapa malah memilih mengabaikan panggilan tersebut.Padahal pernah dua kali,ingat betul waktu itu,papa menghubunginya,Hilya yang menjawab panggilan tersebut sembari memberi penjelasan,"Danang lagi mandi,"atau,"Danang lagi istirahat."Tapi ini,lima panggilan ia abaikan begitu saja.


"Hubungi dia,pasti ada hal penting yang tidak bisa disepelekan."Pinta Hilya,lebih tepatnya menitah.


Oke fix,kesimpulan sementara,dirinya saja yang memang sedang dilanda perasaan sensitif akibat dari kelelahan bekerja.Ya,bisa jadi.


Atau mungkin karena isterinya yang tengah hamil muda hingga efek dari bawaan janin yang dikandungnya membuat wanita itu terkesan cuek dan masa bodoh.Ya bisa juga itu yang terjadi.


"Sayang."Mencoba menangkup kedua bahunya,menatap nyalang ke bola mata bening sebening kaca,"Masih menganggapku orang asing?"


Tangannya turun meraih mangkuk kosong yang isinya sudah dibuat ludes oleh isterinya,"Bahkan baru pernah menyentuh ponselku sebanyak dua kali,aku ingat ini."Kemudian memindahkan di atas nakas lalu kembali menangkup bahu isterinya.Kali ini lebih dekat.


"Tanyalah sesuatu,akan kujawab."


Hilya mendongak,"Tentang Dania?"


Danang mendengus kecil,"boleh."diikuti anggukan kecinya.


Sementara itu di rumah besar kediaman tuan Imran,Dania tercenung memikirkan kelanjutan hubungannya dengan Ibnu Haidar.


Sejak lamaran bulan lalu,hingga kinipun ia belum mendapatkan tindak lanjut apapun dari sang papa,"Tampaknya papa tidak begitu peduli padaku,"keluhnya getir.


Tidak terasa kelopak matanya mulai memanas,"Bahkan papa tidak punya waktu untuk sekedar menyinggung lamaran itu."Menyapu pipinya yang basah.


Wajahnya menunduk menggulir benda pipih yang menempel di tangannya,"Mungkin kakak ipar Hilya bisa menolongku."


Tampak gadis itu mengutak-atik sesuatu hingga ia benar-bernar menekan tombol kirim kepada Hilya,sang kakak ipar.


Hilya yang masih menimbang kalimat apa yang tepat untuk membuka pembicaraan,harus terusik dengan sebuah pesan masuk yang tidak lain adalah milik Dania.


"Kakak ipar,aku rindu."Sepotong kalimat yang cukup menyentuh perasaannya sebagai sesama kaum hawa.


"Sama."Wajahnya ikut memelas.Balasan yang dikirim memang sebagai penanda dirinya ikut merasakan pederitaan sang adik ipar.


Cukup lama ia menunggu notice lanjutan dari seberang namun yang ditunggu tidak kunjung merespon kecuali hanya dengan membaca pesan tersebut lalu mengabaikannya,"Terbaca,tapi tidak dilanjutkan."gumamnya.


"Sayang,apa permintaanku terlalu berat?"Gelegar suara maskulin sang suami membuyarkan konsentrasinya.


"Eh,itu...."


"Baiklah,kalau begitu,abaikan saja.Sekarang aku yang bertanya....,"Melongokkan kepalanya mendekat,"Itu pesan masuk dari siapa?"Mengedipkan mata pertanda usil.


Hilya tertawa,"Adikmu."


"Dania?"Danang pura-pura membelalakkan mata penuh sarkas,"Kebetulan gini....,apa katanya?"


Hilya tertawa,"Ada deh,rahasia sesama wanita."Memagar penglihatan sang suami dengan jari jemarinya yang lentik.


"Mana,lihat."Danang berupaya melanggar pembatas.Secepat kilat gerakannya menangkap ponsel dari tangannya.Niatnya masih sama, mencoba menebar candaan demi mencairkan suasana yang rada mencekam.


"Sama,aku juga rindu."Usai membaca isi pesan dari Dania.Kini saatnya ia memberi ruang kebersamaan kepada isterinya.


"Ih,curang."Cetus Hilya kesal sembari berusaha menangkap ponsel yang terlanjur disita suaminya.


"Apanya,inikan milikku juga."Masih mengangkat tinggi ponsel yang disita.


"Tapi itu pesan untukku."Protes Hilya.


"Dia adikku."Danang tertawa sarkas.


"Adik iparku."Hilya mencebik.


Sepasang anak muda itu akhirnya larut dalam canda ria yang menyenangkan sepanjang malam.Sesekali Danang menggerayanginya dengan pelukan mesra dan kecupan ringan yang membahagiakan jiwa dan raganya.


Danang juga sengaja menjadi pendengar yang baik agar isterinya bisa berekpresi sesuai dengan apa yang ia harapkan.


"Sayang....,"Hilya memeluk erat tubuhnya yang kekar.


"Hmmh....,"balasnya menelentang dengan mata yang memejam.Kedua tangan menumpu di kepala,menjadikan bantal.Hilya ikut diposisi berbaring.


"Besok aku ingin mendatangi Dania."


Danang membuka matanya setengah memicing,"Boleh,tapi kalau dia membahas tentang lamaran itu,jangan digubris."


Hilya menelan salivanya,berat,"Tapi kenapa?"Tenggorokannya serasa tercekat,"Memangnya ada apa dengan calon suaminya?"


"Baiklah,kau mulai bertanya,dan sekarang akan kujawab."Danang tersenyum merasa umpannya berhasil.


....


Bersambung....


🤗🤗🤗