I Need You

I Need You
Terabaikan



Happy reading😍📖


Pagi yang cerah....,Hilya yang baru usai menata sarapan pagi di atas meja makan,bergegas menuju ke kamar.Gadis itu merasa perlu menyapa suaminya yang sudah terlanjur mendiamkan dirinya sejak mereka pindah ke rumah barunya.


"Sarapanmu sudah kusediakan di meja makan,"ucap Hilya mengarahkan Danang,"dicicipi dulu sebelum berangkat,setidaknya demi kesehatan."lanjutnya sembari berjalan menuju ke kamar mandi untuk menjalani ritual mandi.Ucapan yang tidak mendapat respon apapun dari suaminya.Danang yang masih mematutkan dirinya di depan cermin,memilih bungkam.


Liburan semester membuatnya jadi memiliki lebih banyak waktu di rumah.Gadis itu sengaja bangun dari tidurnya lebih awal agar bisa menyediakan sarapan pagi buat suaminya yang baru saja pulang di awal sepertiga malam tadi.Dan kini,pagi-pagi ia harus berangkat lagi demi menyelesaikan pekerjaannya yang sempat tertunda.


Hilya tahu bahwa suaminya masih marah kepadanya sejak perdebatan terskbiritu terjadi.Itu sebabnya ia tidak berani berdiri berlama-lama di depan Danang karena khawatir suaminya akan naik darah dan mencaci dirinya.Hilya memilih menghindar sebelum perdebatan dimulai lagi.


"Selamat pagi tuan,"ucap bibi Nunung yang baru muncul dari depan pintu.


"Pagi juga,bi."Danang yang tampak bergegas menuruni tangga menuju ke pintu,"Aku berangkat dulu bi,"Kalau Hilya bertanya,bilang saja aku tidak sempat sarapan ya,bi"lanjutnya sembari tersenyum kecil.Langkah kakinya semakin cepat mencapai daun pintu.


"Baik, tuan muda."Bibi Nunung menuruti arahan majikannya.


Wanita paruh baya itu baru sempat datang ke rumah majikannya setelah menyelesaikan beberapa pekerjaan di rumah besar,mengingat teman senasibnya sedang izin pulang ke kampung halaman untuk menjenguk anaknya yang sedang sakit.


"Bibi Nunung,kapan kemari?"pekik Hilya yang baru masuk ke ruang keluarga dan mendapati asisten rumah tangga yang telah merawat dan membesarkan suaminya itu sedang mengacak-acak isi dapur.


"Baru saja nak,"ucapnya santun,"Bibi datang sebelum tuan muda berangkat kerja."lanjutnya tersenyum.


Hilya manggut-manggut sembari mengedarkan pandangan ke atas meja makan,"Pasti sarapan yang kusediakan tadi masih utuh kan,bi?"


"Ya,nak.Tuan muda suruh bilang ke nona,kalau dia tidak sempat sarapan."


"Oh,ya?Baiklah bi."Hilya melempar senyum yang dipaksakan,"biar kita saja yang mencicipinya."lanjutnya getir.Bibi Nunung yang menyadari hal itu,hanya bisa tertunduk iba melihat kesedihan yang sengaja disembunyikan oleh majikannya.


Hari-hari berikutnya....,


"Sebaiknya sarapanlah dulu."Hilya yang baru muncul dari dapur mencegat langkah suaminya yang tampak terburu-buru mencapai daun pintu.


"Kau saja,aku tidak sempat."


"Apa perlu kubungkus buat bekal saja?"


"Tidak usah repot-repot,aku bisa mencari sarapan di kantor."


Hilya menarik napas berat,'Sungguh,dia tidak pandai menghargai orang.'gumamnya kesal sembari memandangi punggung suaminya yang menghilang di balik pintu.


Malam itu,Hilya duduk termenung di sofa ruang keluarga.Juna sudah tertidur sejam yang lalu.Suasana sunyi,sepi dan kosong.Gadis itu sengaja menyalakan televisi hanya sekedar untuk memecah keheningan.


Malam yang semakin larut justeru membuat suasana menjadi semakin kalut.Hilya baru menyadari kalau sejak pindah ke rumah ini,suaminya memang tidak pernah pulang awal.Kalau bukan dinihari,berarti akan menginap di luar sana.


Sejenak ia mengingat kembali kejadian awal saat mereka baru saja menginjakkan kaki ke rumah ini.Mereka sempat berdebat soal rumah dan juga wanita pilihan.Ah,Hilya baru saja tersadar sepertinya pernyataan suaminya itu benar.Bahkan Danang tidak pernah makan ataupun sarapan di rumah.


'Hhfftt...,jadi benar dia sengaja membawaku kemari hanya untuk melukai hatiku.Pantas saja di depan papa dan mama dia bilang kalau kami butuh waktu untuk berbenah diri.'


'Jadi benar dia juga punya gadis pilihan?'gumamnya bersedih.


Tapi untuk apa ia harus memikirkan hal tersebut.Kenapa harus bersedih dengan keputusan suaminya itu.Padahal Danang saja tidak pernah menghargai dirinya sebagai seorang isteri.Kalau di rumah besar mereka masih bisa makan masakan Hilya.Itu karena ada papa dan mamanya di sana.


Nah,di sini jangankan menyentuh,melirik makanannya saja tidak sama sekali.Sesibuk apa dia sampai pulangnya selalu dinihari,padahal di rumah besar hampir tidak pernah begitu.Atau mungkin saja ia punya seseorang di luar sana yang mengajaknya tinggal bersama.


'Ah,sial.Aku bahkan jadi penasaran soal gadis pilihannya itu,'merutuki dirinya sendiri.


Tanpa sadar,gadis itupun tertidur di atas sofa hingga tepat di jam dua dinihari.Suara berisik yang diciptakan oleh derap langkah suaminya seketika membuat matanya mengerjap.


"Kau sudah pulang?"


Pertanyaan yang tidak membuat pria itu langsung menjawabnya.


"Seharusnya kau tidak perlu menungguku di sini,"ucapnya ketus.


"Ah,maafkanlah.Aku hanya ketiduran,tidak bermaksud menunggumu,"jawabnya berkelit.


Padahal.di dalam hatinya merutuk panjang pendek,'Monster,mosnter tidak tahu terima kasih.'


Seperti biasa,pagi-paginya Hilya yang tidak menyerah tetap saja menyediakan sarapan buat suaminya.Namun lagi-lagi hatinya dikecewakan.Danang tetap tidak sempat mencicipi sarapan yang dibuat olehnya.Entah itu disengaja ataupun tidak yang jelas Hilya hanya bisa pasrah dengan kenyataan.


Puncaknya,dua malam terakhir.Danang tidak pulang ke rumah.Hilya mulai hilang kesabaran.Hatinya meringis.Rasanya ini tidak bisa ia biarkan lagi sampai berlarut-larut.Isteri mana yang rela diperlakukan demikian.


Sejengkel apapun seseorang,tidak dibenarkan mendiami sesamanya lebih dari tiga hari.Inikan pula isteri sendiri.Ya,meskipun keseharian mereka tidak begitu akur.Hilya meraih ponsel miliknya,mengutak-atik sesuatu di sana,


Boleh aku antarkan makan siang ke kantor?


Lalu menekan tombol kirim di aplikasi whatsapp.Beberapa menit kemudian Hilya masih belum mendapatkan jawaban meskipun di sana tertera centang biru.Sepertinya dia sangat sibuk,pikirnya.


Sepuluh menit kemudian...


Boleh.


Jawaban singkat dari Danang,namun membuat Hilya terlonjak kegirangan.Entah apa yang membuatnya harus bergembira,yang jelas ia merasa bahwa permasalahan yang satu ini akan segera berakhir.


Hilya bergegas ke dapur dan memulai aksinya,


"Bibi,biar aku yang siapkan makan siangnya,"ucapnya sembari tersenyum senang,"Aku akan mengantarkan makan siang untuk suamiku ke kantor."lanjutnya semringah.


"Oh,ya.Baiklah nak."balas bibi Nunung ikut senang.


Sementara itu,di kantor....


Tuan Imran sengaja memberikan kesempatan kepada puteranya untuk memimpin rapat koordinasi antar divisi.Tujunnya agar bisa melatih puteranya menjadi lebih mandiri, mengingat sewaktu-waktu dirinya berhalangan hadir atau memang terhambat faktor usia.


Danang yang memiliki kemampuan super dan tidak perlu diragukan lagi.Meskipun selama ini oa tampak tidak tertarik dengab pekerjaan sang ayah,dan memilih bekerja sesuai dengan kemampuan jurusannya sebagai seorang enginer calon insinyur.Namun Danang sangat lihai dan mampu menguasai pekerjaan ayahnya dalam jangka waktu beberapa hari saja terhitung sejak ia pindah ke rumah barunya.


Dan saat ini ia baru saja usai memimpin rapat koordinasi management,lalu memilih bergegas menuju ke ruangannya daripada duduk berbincang-bincang dengan sang papa dan yang lainnya.


Wajahnya menyeringai saat membaca kembali pesan whatsapp dari isterinya.Baru kali ini ia mendapati Hilya berani mengirimkan pesan untuknya.Pernah beberapa kali mereka berinteraksi melalui aplikasi tersebut namun dirinyalah yang memulainya.Lalu hari ini Hilya yang tiba-tiba memulai dan menawarkan makan siang untuknya,Boleh.


Danang tampak serius menuntaskan pekerjaannya yang masih tersisa.


Suara merdu berasal dari seorang wanita muda menyapa Danang yang sibuk bekerja di ruangannya.Wanita cantik dan langsing berpenampilan modis dan seksi.Gadis itu sangat ramah dan lincah menghampirinya sembari tersenyum manis.Danang yang sibuk memandang layar laptop miliknya seketika mendongakkan kepala dan mendapati seseorang yang tidak asing di wajahnya meski sudah sekian lama tidak berjumpa.Pria itu tertegun,


"Kau_?!"


Wanita itu mengangguk yakin sembari menahan tawa melihat tingkah Danang yang tampak tidak percaya melihat kehadirannya.


"Kau ada di kota ini,sejak kapan?"Danang mengulangi ucapannya yang sempat tercekat.


"Sejak hari ini."Jawabnya masih tertawa lepas.


"Di mana dia?"Danang masih belum yakin.


"Dia siapa,"mengedikkan bahunya,"Dimas maksudmu?"lanjutnya memicingkan mata.


"Yalah,siapa lagi,"ucapnya menipiskan senyum di bibir,"Pacarmu kan,cuma satu."lanjutnya datar sembari turun memandang laptop.


"Dia kan sudah menikah."balasnya mengerutkan kening.


"Oh,jadi kalian sudah jadi suami isteri toh."Danang berkesimpulan.


"Apa kau tidak ingin mempersilahkan aku duduk?"bersedekap ria,"Aku juga tamu lho!"lanjutnya mencebik.


"Ah,ya.silahkan."mengarahkannya ke sofa,"Kau juga adik iparku jadi aku rasa kau tidak perlu sungkan."lanjutnya santai.Mengambil posisi duduk disampingnya.


"Eit!....,no!"mengangkat telunjuknya,"Aku hanya mantan calon adik iparmu."lanjutnya mengingatkan.


Danang mengalihkan pandangannya lurus ke arah gadis yang tidak lain adalah Vania.Keningnya berkerut menatap gadis yang selama ini menjadi calon isteri dari Dimas sepupu Danang.Dimas adalah anak semata wayang tuan Amran.Adik kandung dari tuan Imran yang bermukim di tanah Tun Mat Saleh.Dulu sewaktu Danang masih bekerja di TF.Electro Group,ia tinggal di rumah Dimas.


"Kalian tidak jadi menikah?"Danang melemparkan pertanyaannya.


Vania tertawa tipis,


"Tuan Danang Danuarta Setiawan....,"menaikkan sebelah alisnya,"Kau memang benar tidak tahu atau pura-pura tidak tahu?"lanjutnya tergelak.


"Benarlah,aku kan bukan tukang kepo,"tukasnya datar.


"Dimas menghamili wanita itu,"terangnya sendu.


"Siapa?"tanya Danang sigap.


"Tania."


"Keponakannya mendiang Mr.Jolly?"


Vania mengangguk pasrah,"Ya."tertunduk lemas.


'Hah,sudah kuduga.'batin Danang.


"Padahal aku sudah berkorban jiwa dan raga untuk dia,"terang Vania tiba-tiba menangis sesenggukan.


Danang adalah tipe pria yang tidak tega melihat wanita menangis.Sifat asalnya memang demikian.Vania salah satu gadis yang pernah ada di masa lalunya.Dengan melihatnya menangis sesenggukan,Danang tiba-tiba saja luruh dan berusaha menenangkan gadis itu.Perlahan ia bawa gadis itu kedalam pelukannya sembari menenangkan,


"Tenanglah,masa depanmu masih panjang Van,"membelai pucuk kepalanya,"Mungkin Dimas bukan pria yang baik untukmu."lanjutnya pelan.


Vania menghela napas berat,tangisnya sedikit mereda,


"Aku merasa sangat bersalah kepadamu.Maafkan aku Danang."Vania tertunduk.


"Kau tidak salah Vania,keadaanlah yang salah."Danang menenangkan.


"Tapi,kalau saja waktu itu aku menolak perjodohan dengan Dimas,maka hubungan kita pasti masih berlanjut,Danang."Vania tampak menggebu-gebu.


Danang mengha napas berat,


"Lupakan Van,tidak usah dibahas,"melepas pelukannya,"hanya akan menimbulkan luka."lanjutnya membuang pandangan ke sisi yang berbeda.


"Tidak,Danang.Aku sengaja kemari untuk memperbaiki semua kesalahanku."Vania terisak mengenang masa lalu,"Apa tidak ada kesempatan ke dua untukku?"


"Semuanya sudah berubah Vania,"jawab Danang datar.


Vania kembali merangkul pinggang Danang,


"Tidak ada yang berubah Danang,waktu itu kau rela diperbudak oleh cinta demi aku kan?"mendongak menatap lekat mata pemuda yang juga tunduk ke bawah menatapnya,"Ayolah,aku akan memperbaiki semuanya.,oke."


"Dulu....,tidak sekarang."Danang sengaja melepas pelukan Vania.


Vania mendengus,


"Kau berubah Danang,aku jadi tidak mengenalmu,"gerutunya kesal,


"Apa kau memandang seorang wanita dari ciri kegadisannya saja?"lanjutnya seakan merasa Danang menggapnya hina.


"Bukan begitu,"balasnya dingin.


"Lalu kenapa?"Vania sigap memeluk kembali tubuh yang kini mematung.Danang bungkam.Membiarkan Vania yang gencar memeluk tubuhnya.


"Selamat siang,apa saya mengganggu?"


Santun suara seseorang menyapa lembut seteah beberapa saat tampak mematung di depan pintu.


"Ah,ya.Tidak.Masuklah....,"jawab Danang sekenanya tanpa memperhatikan siapa yang datang.Jam-jam begini biasa juga wakil sekretaris paman Sani yang datang menyodorkan berkas untuk ditandatangani.Baru saja ia ingin fokus menyambut orang tersebut Namun...., tiba-tiba....,"K_kau?"terkesiap saat menyadari yang hadir dan menyapa itu tidak lain adalah isterinya sendiri,Hilya.


•••••


Bersambung...


🤗🤗🤗