I Need You

I Need You
Candle Light Dinner



Happy reading 😍📖


Danang melangkah gontai menuju kamarnya.Di hatinya timbul berjuta rasa yang mengganggu.Dia menyesali tindakannya sendiri karena telah menyanggupi permintaan sang papa untuk segera berbenah diri.Padahal jika ia menginginkan sesuatu,ia tinggal membangkang saja seperti sebelumnya.Toh,sang papa juga tidak akan memaksakannya lagi.


Pemuda itu sukses mematung di balik daun pintu kamar yang tertutup.Kamar miliknya yang selama ini menjadi saksi kedukaannya,kesendiriannya,air mata terlukanya,keterpurukannya maupun masa-masa bahagianya sebelum terluka.


Kini di dalam sana ada orang lain lagi yang telah mengisinya.Orang yang tidak pernah ia bayangkan sedikitpun di dalam hidupnya.Sosok yang serba canggung akibat kebodohannya sendiri.Siapa suruh,nekad menjebak orang.


Ya,sosok yang sudah pastinya akan membuat hari-harinya menjadi kacau balau akibat kerusuhan yang bakal ia ciptakan nanti.Untuk sesaat pikirannya berkelana kepada Hilya yang tengah tertidur manis di ranjang miliknya,


'Apa karena dia,aku jadi lemah dan mengalah sama papa?....,awas saja kalau dia sampai mengadu macam-macam sama papa.'batinnya rusuh.


Tangannya meraih gagang pintu,


Ceklek


Perlahan langkahnya berjingkrak ke kamar mandi untuk membersihkan diri,kemudian begerak maju ke ranjang.Sejenak ia memandang intens tubuh molek yang sedang tidur membelakangi dirinya,


'Tidak terlalu buruk,yang buruk itu adalah sifatnya yang pura-pura manis di depan semua orang.'pikirnya.


'Hhhh....,kau berhak bahagia sampai aku berhasil mengumpulkan semua bukti yang memberatkanmu.'batinnya berlanjut.


Danang sengaja melempar kasar tubuhnya ke atas kasur empuk,membuat ranjangnya ikut bergetar.Hilya yang tadinya sudah terlelap,mendadak terkesiap dan....,


Bukkk!


Gadis itu seketika terhenyak membawa pinggul dan kepalanya sukses mencium lantai.


"Argh!"


Hening.....


Sesaat Danang bergeser maju.Memastikan keadaan sang isteri yang secara tidak sengaja telah ia buat jatuh ke lantai.Hilya tampak memegang pinggul dan kepalanya yang sukses mencium lantai.Mendongak ke atas,lalu mencekam mata suaminya dengan sebuah tatapan berkunang,


"Kau!"


"Maaf."ucapnya sembari mengulurkan tangan,membantunya untuk bangkit.


Hilya menolak.Ia sengaja menepis tangan suaminya itu.Gadis itu memilih tetap duduk di lantai sembari memegang kepala dan pinggulnya.


"Kemarilah,pindah ke atas."


Hilya menggeleng.


"Aku bilang naik,sekarang juga!"


Hilya masih tetap bersikeras.Gadis itu tampak merajuk.Tatapannya yang masih berkunang membuatnya sulit untuk berdiri.


"Kau menantangku?"


Hilya menggeleng.Gadis itu segera memeluk kedua kakinya sembari menyesuaikan tatapannya yang masih berkunang.


Merasa ditolak,Danang tidak terima begitu saja.Pemuda itu meloncat turun dari ranjang dan sigap membopong tubuh langsing gadis itu kembali ke atas ranjang.Gerakannya yang sangat gesit membuat Hilya tidak sempat memberontak.Saat menyadarinya,ia sudah terlanjur tidur di dalam kungkungan tangan dan kaki suaminya.


Hilya berusaha menghindar dari cekalan tangan kekar yang membuat suasana sekelilingnya seketika menjadi panas dan penuh ghairah,


"Lepaskan aku,"pintanya pelan.


"Tidak akan kulepaskan,kau telah membuatku marah."sahut Danang menekan.


Hilya masih berusaha melepas dari cekalan tangan Danang yang semakin menyakitinya,


"Sakit."Hilya meringis kesakitan.


"Lebih sakit hatiku."Balas Danang menyeringai licik,"kau harus membayar semua perbuatanmu."lanjutnya menantang.


"Kau mau apa?"sentaknya panik.Kini sorot elang itu tidak terelakkan lagi.Menerobos masuk ke kelopak bening dan kian menyentak pori-pori jantung dan hati sang isteri.


Danang menyeringai,Kini saatnya melempar batu tepat sasaran.Jika memang harus demikian baru bisa mendapatkan bukti,kenapa tidak.Pemuda itu berlagak penuh sarkas,


"Minta hakku."jawabnya seraya berbisik lembut ke telinga Hilya.Andai rasa itu benar,maka kenapa mereka dipertemukan dalam sebuah kesalahan yang hanya menimbulkan persepsi yang salah,dan penialaian yang berbeda pula.


"Jangan,kumohon."pinta Hilya memelas.


Pandangan matanya kian berkaca-kaca.Walau bagaimanapun,gadis itu sangat tidak rela disentuh oleh orang lain secara paksa,apalagi itu suaminya sendiri.Pria yang seharusnya menjadi bagian dari dirinya,menjaga dirinya dengan baik,memperlakukannya dengan lembut dan sopan,serta memposisikan dirinya sebagai penyelamat di kala sulit.


"Kenapa?....,tapi aku suamimu,"tukas Danang tidak terima.Jika memang dia wanita liar,lalu mengapa hanya urusan meminta hak sebagai suami isteri saja,sampai berdebat fisik dan adu urat terlebih dahulu.


"Kita tidak saling mencintai."jawab Hilya membuang pandangan.Entah kenapa,kalimat itulah yang lolos dari mulutnya saat itu.Kenapa cinta begitu menyiksa jika dua insan yang tidak saling menghendaki tiba-tiba harus menyatu dalam rasa yang tidak seharusnya.


"Jadi kau lebih rela menyerahkan kewajibanmu kepada pria hidung belang?"sergah Danang melepaskan tubuh gadis itu dengan kasar.Entah kenapa,kalimat itu pula yang lolos dari bibir maskulin yang mengakunya benci kepada sosok makhluk lembut ini.Ah,sungguh di luar nalar.


'Sungguh,bukan ini yang kuinginkan!'batinnya kesal.


Jika cinta tidak harus menyatu,lalu kenapa ada rasa yang berdesir di benak ini dan meminta untuk segera dijamah.Kenapa juga memaksa rasa untuk menguar dan melanglang menyentuh jiwa.


"Bu_bukan begitu."desah Hilya pelan.


Jika cinta tidak ingin tumbuh bersemi,lalu mengapa ada rasa untuk ingin memperbaiki kesalahan ucapan agar tidak menimbulkan perasaan yang ambigu.


'Ah,lelah rasanya berdebat.'batinnya lunglai.


Danang memilih untuk mengakhiri perdebatan dengan menutup kepalanya dengan bantal.Sementara Hilya memilih membungkus tubuhnya dengan selimut tebal agar bisa menghindar dari tatapan nakal suaminya.Gadis itu berusaha melawan debaran jantung yang melanda tidak karuan.




Pagi yang cerah....,


Lantai tertinggi gedung Adhytama Star Group.Hari ini seluruh karyawan diliburkan,sebagai gantinya,tuan Imran mengundang seluruh karyawan,masing-masing bersama keluarga mereka untuk ikut mengambil bagian di dalam acara pelantikan direktur baru mereka.


Meskipun Hilya berasal dari keluarga sederhana dan keseharian hidupnya jauh dari kata mewah,namun tetap saja Hilya gampang menyesuaikan diri dengan lingkungan barunya.Telepas dari sikap suaminya yang suka kasar terhadap dirinya,namun baginya sosok sang suami itu sebenarnya peduli kepadanya.


Buktinya di setiap perjalanan mereka,Danang selalu saja mengingatkan kepadanya agar tidak lupa makan.Ya,hal sekecil itu,meskipun masih berorientasi kepada tidak ingin direpotkan jika sakitnya kambuh,namun satu hal yang membuatnya yakin akan sikap suaminya adalah,sang suami tidak pernah membiarkannya berjalan sendirian di tengah luka.


Kini saatnya sepasang suami isteri itu melangkah maju ke ruang pelantikan direktur Adhytama Star Group yang baru.Hilya yang baru kali ini terlibat acara seperti ini,ikut berlatih sejenak agar bisa melakukan tugasnya dengan baik.Hasilnya tidak terlalu buruk.


"Selamat menempuh hidup baru,tuan dan nyonya muda."ucap para karyawan yang baru mengetahui jika putera dikrektur itu kini telahpun menikah.


"Terima kasih."balas Danang dan Hilya dengan senyum kebahagiaan.


Berbagai ucapan selamat dan panjatan doa restu mengalir dari seluruh staf dan divisi yang berbeda.Tiap departemen memberikan ucapan selamat dengan cara yang berbeda-beda dan gaya yang khas ditujukan kepada pasangan pengantin serta direktur baru tersebut.Semuanya dikemas dalam suasana yang penuh kekeluargaan dan persahabatan yang erat.


Acara hari itu tidak hanya sampai di sini.Malam harinya,dilanjutkan dengan Dinner di luar acara tahunan,hanya untuk merayakan kedatangan pendamping hidup tuan muda mereka.Tuan Imran sengaja mengusung tema'Candle Light Dinner'di malam itu,sehingga kesan kebersamaaan mereka kali ini,lebih dipererat lagi dengan hubungan yang kuat.


Seluruh peserta yang hadir tidak mengenal batas usia,masing-masing diarahkan oleh pihak panitia pelaksana memasuki gedung dalam keadaan gelap gulita sembari membawa sepotong lilin yang tengah menyala di tangannya.Acara makan malamnya berlangsung seru dalam suasana penuh kekeluargaan.


•••••


Barsambung...


Maaf ya teman-teman,kemarin tidak sempat up karena author sedang di landa kedukaan yang mendalam atas bencana banjir bandang dan tanah longsor yang menimpa sebagian wilayah kediaman author di tanah timur.


Terima kasih sudah berbaik hati mendukung karyaku ini.Semoga kita semua diberi nikmat keselamatan,kesehatan dan rezeki yang melimpah...aamiin..


🤗🤗🤗