I Need You

I Need You
Level yang Berbeda



Happy reading 😍📖


Hilya masih tanda tanya dengan pernyataan Nuha bahwa Prisil mengetahui secara persis kejadian tadi malam yang telah membuat dirinya pingsan.


"Kau tidak bertanya kepadanya,dari mana dia mengetahui itu,Nuh?"


"Katanya dia ada di sana saat kejadian,tapi tidak berani mendekat karena kalian bertiga sama-sama diliputi amarah."terangnya sembari mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan.


"Terus...,"


"Terus dia memilih memapah Joshua setelah Danang sudah membawamu masuk ke mobil."tambahnya sembari mengacak-ngacak rambut sahabatnya,


"Lupakan Prisil,sekarang kau harus menjelaskan kepadaku,sudah berapa kali kalian melakukan em em nya?"serangnya gemas.


Mata nakalnya sengaja diputar-putar sembari memainkan dua jari peace and love nya diikuti seringai nakal dengan memancungkan ujung bibirnya.Menunjukkkan sesuatu di balik leher Hilya.Tanda kepemilikan yang baru saja dibuat oleh Danang.


Hilya pasrah meraba leher jenjangnya yang telah menjadi korban birahi suaminya.Cepat-cepat ia menutupi dengan jemari lentik.Rona merah tampak menyembul di balik wajah yang pasrah kini.


Nuha tampak menyeringai jail,menarik jemari Hilya untuk tidak menutupi lehernya,


"Ish,ish,iihss,kau macam siput di balik cangkang saja."Gadis itu tiada lepas mengusik sahabatnya yang mulai kesal.


"Kau dengan dia sama-sama menyebalkan."


"Huaa..,aku ini cantik dan centil,beda dengan dia yang monster tampan."


"Sama saja,tukang usik."


"Memangnya apa yang diusik olehnya?"


"Dia bilang aku kurus dan tidak menggiurkan,tapi bibir dan leherku ditancap juga."


"Bhahahaa...,itu tandanya dia sedang berusaha membiasakan dirimu.Karena sebenarnya dia itu sayang padamu. "


"Hah...,maksudmu?!"


"Ya,mungkin dia sedang berusaha memancing hasratmu saja,siapa tahu kau tipe orang yang susah didekati karena memiliki pribadi semacam panikan,atau risihan,gitu?"Nuha mengandai-andai dan Hilya tampak bengong mengerutkan kening.Apa hubungannya hasrat dengan panik atau risih.


Hening...


"Eh.tapi ngomong-ngomong,kau sudah diperawani oleh suamimu atau belum?"tanya Nuha kepo tanpa sensor.


Hilya melotot,


"Ihh...,di otakmu cuma ada mesum saja."menonjok pelan kepala Nuha Izz,membuat gadis itu pura-pura meringis kesakitan.Dasarnya jiwa kepo yang mencuat begitu saja membuatnya susah mengontrol ucapannya,"Ya,aku juga perlu banyak mencari tahu biar di depan suamiku kelak tidak malu-maluin."usik Nuha lagi-lagi membuat Hilya gemas dan mencubit pinggang sahabatnya.


Hilya menghela napas dalam,


"Belum pernah."jawabnya datar.


Nuha terbelalak,memicingkan mata mencari kepastian di bola mata sahabatnya itu,sendu yang ia dapatkan di sana.


Gadis itu mendengus kecil,


"Di kamar seromantis gini,tapi sama sekali belum ada kegiatan em em....,gila!...,padahal hampir empat bulan kalian tidur bersama,Hilaf."Nuha berdecak heran sembari menepuk jidatnya sendiri,


"Aku jadi curiga,jangan-jangan suamimu abnormal."ungkapnya tanpa ekspresi.


"Hushy,suudzon kau!....,Dia normal,aku yang menolak melakukannya."Hilya menampik gemas melihat gaya centil sahabatnya yang kepo.Cielah,yang mati-matian membela dan menjaga nama baik suaminya..Nuha melihat ada sorot cinta di balik tatapan Hilya saat membela Danang.


Mendengar Hilya menolak melayani hasrat suaminya,Nuha lagi-lagi terkesiap,


"Whatt?...,dan dia membiarkanmu begitu saja,lalu kau bebas menghirup udara segar,begitu?"


Hilya mengangguk lucu,"walaupun dia monster bermulut pedas,tapi untuk yang satu ini,dia tidak sebejat yang kita kira,"terangnya,"dia bahkan memberiku hak untuk menolaknya."lanjutnya menerawang.Entah itu perasaan cinta ataukah bentuk respon masa bodoh dari seorang Danang,yang jelasnya gadis itu menikmatinya dengan indah.


"Dasar pasangan gila."gumam Nuha,lebih tepatnya berbicara kepada dirinya sendiri.


"Tapi aku melihat ketulusan dan kebaikan di balik sifat monster suamimu itu."Nuha beropini,


"Pernah kan,kau sakit di Permata kos waktu itu,dia yang merawatmu dan menggantikan seragammu dengan piyama.Lalu mengompres panasmu dengan air panas yang dia masak sendiri di perapian."lanjutnya manggut-manggut meyakinkan.


Hilya mematung mendengarnya.


"Aku melihat semuanya.Dia melakukannya dengan sangat sempurna."tambahnya meninggi-ninggikan Danang.


"Tapi waktu itu,kau tidak bilang kepadaku.Kau bahkan dengan bangga menerima ucapan terima kasih dariku."sewot Hilya.


"Ya,karena waktu itu aku juga tidak yakin untuk langsung memujinya.Kalau tiba-tiba ada yang salah dan kecolongan,bagaimana?"


'Monsterku....'batinnya dalam getaran yang indah.


Sementara itu,di sebuah cafe...


Dania dan Haidar sedang duduk menikmati secangkir kopi hitam dan jus yogurt segar.Keduanya tampak menikmati momen baik mereka saat itu.


"Apa kau tahu,kenapa kakakmu melarang kita memiliki hubungan khusus?"


Suara Haidar memecah hening yang sempat tercipta.


Dania menghela napas.Sejenak iapun menggeleng,


"Kurang tahu persisnya,"mengaduk-aduk minuman,"kakak hanya pernah bilang kalau standar sosialmu mencapai level mafia."lanjutnya sembari menyeruput jus miliknya.


Haidar tertegun.Tepat sudah dugaannya.Jika hanya sebatas playboy saja,mana mungkin kakak dari gadis ini menolak mentah-mentah hubungan mereka.Haidar menyapu kasar wajahnya.Jika Dania mengetahui siapa dirinya yang sebenar,maka kecil kemungkinan untuk gadis itu mau mempertahankan hubungan mereka.


Hening...


"Aku harap,apa yang dipikirkan kakakku itu tidak benar,"ucap Dania santai.Jelas terpampang di wajah polos itu bahwa kehidupan yang ia jalani selama ini jauh dari yang namanya tantangan berat.Gadis itu memiliki segalanya.Ayahnya,ibunya,kakaknya,kasih sayangnya,manjanya dan juga kebahagiaannya.Pantaskah kini ia menggandengnya untuk sama-sama menikmati kerasnya kahidupan yang membutuhkan perjuangan yang berat pula.


Haidar bungkam...


"Kau kenapa,apa ada yang salah dengan ucapanku?"pungkas Dania di sela bungkamnya pemuda yang ia cintai itu.


Haidar menggeleng,


"Menurutmu bagaimana,kalau yang dipikirkan kakakmu itu benar."pertanyaan Haidar yang membuat Dania sontak mengangkat dagu dan menatapnya menerawang.


"Mustahil,Ibnu Haidar."jawab Dania menyeringai.


Dari sorot matanya,ia tidak mempercayai keberadaan Haidar yang terlibat dalam lingkup mafia.


Haidar menghela napas panjang,


"Tidak ada yang mustahil dalam hidupku,Nia."


Dania melengos,


"Lalu apa aku harus mempercayaimu begitu saja?"masih tidak serius menanggapi.


Haidar meraih jemari gadis itu lalu membawanya ke dalam genggaman yang erat,


"Jika seseorang ditakdirkan hidup dan berkembang pada level itu,lalu apakah kodratnya itu salah?"


Dania menggeleng pelan,


"Tidak salah,Haidar.Yang salah itu ketika seseorang memanfaatkan kodratnya itu untuk menindas orang lain di level yang tidak seharusnya."menurut pendapatnya,


"Apa kau merasa menjadi bagian dari mafia itu?"lanjutnya menerawang bola mata pemuda tersebut.


Haidar mengangguk pelan,


"Ya,tapi keluargaku hanya bagian dari penumpasnya."


Dania memicingkan matanya,


"Jadi statusmu sama seperti kak Diego,maksudmu?"


"Ya,bahkan lebih dari itu.Sebagian besar denyut nadiku ada di tangannya.Kapan dan di manapun dia menginginkanku,aku harus siap menjalaninya."


"Hahh?!"Dania terbelalak tidak percaya.Haidar hanya mengangguk meyakinkan gadis yang sangat ia cintai itu.Ada rasa takut kehilangan yang muncul begitu saja di dalam dirinya.


Haidar mencoba lebih realistis,


"Ya....,dan kakakmu tidak salah."menangkup kedua bahu gadis itu,


"Dia hanya ingin melindungi adiknya dari lingkungan yang membahayakan nyawanya."menepuk pelan dan memeluk erat tubuh itu seakan tidak ingin melepasnya begitu saja.


Dengan adanya kenyataan begini,apakah Dania masih mau menerima dirinya,menjadi pertanyaan yang paling menakutkan bagi diri pemuda itu.Andai Dania tipe gadis yang manja dan tidak mau menghadapi tantangan,atau bahkan sudah nyaman di zonanya,maka pupuslah harapan untuk memiliki gadis itu seutuhnya.


Ataukah memang mereka ditakdirkan untuk tidak hidup bersama,merajut hari-hari indah dan suka duka bersama,lalu mengapa cinta terlalu mudah untuk mempertemukan mereka namun susah untuk menyatukan dalam satu ikatan yang sah.Jika memang demikian maka hati itu akan meminta untuk tidak dipertemukan dengan cinta jenis ini.Oh,payah..


•••••


Bersambung...


🤗🤗🤗