
Happy reading ๐๐
Seperti untaian kata yang mencipta lirik merdu,begitu juga suka dukanya sepasang anak manusia dalam menguntai kisah.Di mana tiap ceritanya menggoreskan warna warni kehidupan lalu tanpa sungkan menggulir tumpukan rasa yang kian menempa hati.Mengajarkan kepada kita agar menjadi lebih dewasa dalam berpikir kemudian pandai dalam mengambil sebuah keputusan lalu bijak menyikapi setiap hal baik maupun hal buruk.
Paradise Loft Villas
Baru saja beberapa menit yang lalu mereka check in ke puncak syurga yang tersembunyi itu.Jauh dari keramaian dan hiruk pikuk manusia menjadi pilihan utama bagi Danang.Pemuda itu sengaja membuat momen kebersamaannya menjadi lebih berharga di tempat ini hanya untuk memahami lebih dalam pribadi pasangan yang dinikahinya karena sebuah kesalahan.
Danang meraih lengan Hilya dan mengajaknya keluar dari kamar penginapan dengan hati yang semringah dan perasaan yang menggebu-gebu.Namun karena canggung dan khawatir Hilya salah menanggapi perubahan sikapnya,Danang berusaha menyembunyikan semua rasa tersebut dengan memasang wajah datar,
"Ikut aku,kita hanya perlu mengisi sisa waktu dengan berjalan-jalan."
Hilya yang tampak ingin menolak,tidak bisa berbuat apa-apa selain menuruti perintah suaminya sembari memasang kerut di kening luasnya.
Ya,memang itu yang harus Danang lakukan demi melancarkan rencana yang telah dibuat,karena Hilya lebih banyak menolak diajak keluar meski sekedar untuk menikmati keindahan panorama.
Alasannya cukup kuat,ia tidak ingin jalan bersama Danang karena tidak ingin berdebat apalagi sampai bertengkar.
Danang yang tidak kehabisan ide,selalu punya cara untuk menaklukkan wanita yang telah mengisi relung hatinya dengan cara menarik dan unik.Meskipun lidahnya terasa kelu mengakui bahwa ia punya rasa yang berbeda kepadanya,namun dari sikap dan tindakan yang tidak disadarinya telah membuktikan bahwa ia punya secuil perhatian kepada isterinya itu.
Kini ia menangkup pinggang gadis itu dengan kelima jemari maskulinnya,"Lihat,"menempelkan lima jemari lain yang memegang teropong digital ke depan Hilya untuk membantu penglihatannya,"bahkan dari sini saja kau bisa melihat aktivitas pantai dengan jelas."lanjutnya sembari membawa tubuh langsing itu berdiri tepat didepannya pada kedekatan tanpa jarak.
Hilya yang kurang siaga,tiba-tiba tersentak dengan tindakan suaminya.Apalagi mendapat cekalan lembut dari tangan maskulin yang melingkar di sisi pinggangnya,membuat batin gadis itu sukses menggeliat.Menggelitikkan sensasi hasrat wanita dewasanya bekerja secara intens.Gadis itu seketika menjadi gugup,lantas berusaha melepas cekalan jemari suaminya,"Emm....,lepaskan aku dulu,"pintanya.
"Baiklah,akan kulepaskan."Danang yang tersenyum samar.
Sementara Hilya yang sudah terpesona dengan keindahan alam di depan sana sudah tidak mempedulikan ke arah mana pergerakan tangan suaminya.Gadis itu tampak memekik kegirangan,"Wahh....,ini menakjubkan."jingkrak-jingkrak kegirangan.
Satu kesempatan yang tidak ingin disia-siakan oleh sang suami.Pemuda itu lantas merubah pegangan.Ia tampak memindahkan tangannya melingkar sebelah tangan ke pinggang sang isteri.Sementara tangan yang lainnya masih setia menopang teropong digital tepat di matanya.Hilya asyik memuja keindahan hingga lupa menyadari kalau Danang tengah menempelkan tubuhnya dari belakang,begitu dekat.
"Kau menyukainya?"Danang menambah erat pelukannya,"Aku akan mengajakmu ke sana."lanjutnya sembari mendaratkan sebuah ciuman ke pucuk kepalanya.
Untuk sejenak Hilya melupakan semua beban yang sempat menderanya.Di saat Danang tidak sengaja melonggarkan pelukannya,ia refleks membalikkan badan dan membalas pelukan itu dengan hati yang damai,"Terima kasih untuk keindahan ini,"merengguk dalam aroma maskulin yang menguar dari dada bidang suaminya.
Sungguh menjalar,menusuk rasa yang memabukkan.Danang menopangkan dagu runcingnya ke puncak kepala yang menebar wangi bunga tersebut lalu mendaratkan satu ciuman yang cukup lama.
Gadis itu lalu mengangkat kepalanya,sesaat kemudian menyadari ucapannya sendiri,ia baru saja terbuai dengan perlakuan pria yang selama ini menjadi suami monsternya,"Ah,maaf."segera melepaskan pelukannya.
Danang menyeringai,"Baru menikmati pemandangan indah saja,kau sudah tenggelam."mengacak gemas rambutnya,"Bagaimana kalau melihat pemandangan yang lainnya?"lanjutnya miring.
Hilya mencebik,"Huh!....,aku lapar."Memeluk sendiri perutnya yang rata.
Danang terkekeh,"Baiklah,mau kupesan atau makan di luar saja?"
Hilya tampak berpikir sejenak ,"Emm....,dipesan saja boleh,"pintanya memelas,"Perasaanku agak pusing dan mual."lanjutnya mengelus dada.
Hilya bergegas masuk ke kamar dan membersihkan diri,sementara Danang yang usai memesan makanan kepada penjaga villa memilih tetap duduk di sofa ruang tengah.Beberapa menit kemudian makanan yang dipesanpun tiba.
Hilya yang sudah tampil bugar tampak cantik dengan penampilan make up naturalnya.Gadis itu masih mematutkan diri di depan cermin sembari bernyanyi riang.
"Masih berdandan?"Gelegar suara maskulin Danang tiba-tiba menyapa dari belakang.
Hilya baru menyadari kehadiran suaminya,"Ah,ya.Baru saja selesai,"jawabnya yang memandang sang suami melalui cermin.
Danang terpesona menatap wajah yang begitu bugar,"Makan yuk,"ujarnya mengajak.Hilya hanya tersenyum dan mengangguk.
Sore hari,Danang dan Hilya memilih untuk duduk di kursi taman sembari menikmati panorama alam dari bukit hingga memasuki senja.Tenangnya suasana,sangat mendukung nuansa romantis yang tercipta secara alami.
Danang tersenyum tipis,"Jadikan ini momen syurga yang indah bagi kita berdua,"bisiknya pelan namun menggelitik kuping sang isteri.
Hilya membalasnya dengan senyuman manis,"Jadi sebenarnya kau kemari bukan untuk bekerja?"Hilya yang baru menyadari kalau suaminya hanya bersantai sejak tadi dan tidak membawa satupun barang yang berhubungan dengan pekerjaannya.
"Ya,lebih tepatnya ingin berbagi waktu bersamamu,"melirik ke arah gadis yang masih setia memandang panorama sore yang indah,"Kau kan sedang libur semester."
Hilya tetap fokus dengan aktivitasnya meskipun masih setia berbincang dengan Danang.Gadis itu menyempatkan dirinya sesaat untuk sekedar melirik sang suami yang tengah memperhatikan dirinya secara saksama,Kemudian memilih segera berpaling sembari bersuara,"Apa tidak merepotkanmu?"
Danang menghela napas pelan,"Tidak sama sekali,"melingkarkan tangannya ke punggung Hilya,"Kita perlu waktu untuk saling mengisi,"meraih jemari lentik itu ke dalam genggamannya.
Hilya hanya terdiam.Gadis itu tampak merenungkan sesuatu dalam pikirannya.
Danang melanjutkan ucapannya,"Mau kah kau berbagi denganku?"desahnya sembari menatap lekat wajah Hilya yang juga sudah berbalik dan saling beradu pandang.
Sesaat kemudian,mata sendu itupun membiarkan bibir ranumnya membalas pertanyaan sang suami,"Akan kulakukan,"lanjutnya singkat.
Danang yang memahami arti tatapan sang isteri hanya bisa menarik tubuh sang gadis hingga berbaring di pangkuannya,"Maka izinkan aku memulainya,nona Hilya."membelai wajah tersebut dan memindai jemarinya ke mata,hidung,lalu turun meraba ke bibir ranum itu sembari menghunus tatapan nyalang penuh birahi.
Sorot mata elang yang selalu memporakporandakan itu melesat menerobos bola mata bening sang isteri,menusuk di relung hati yang paling dalam.Mengundang desiran hangat berupa getaran hasrat yang kian meronta untuk segera dijamah,dinikmati kemudian dilepaskan dalam pelepasan yang indah.
โกโก
Seperti warna-warni pena yang mengukir di kertas putih,begitu juga dengan goresan suka-duka di hati sepasang insan.Semuanya membaur menjadi satu rasa dan satu asa.Ia tidak mempunyai banyak pilihan atau untuk sekedar memilih pada titik tersebut jika memang takdir telah memilih ia untuk menjalaninya.Maka semua akan berjalan sebagaimana mestinya.
โขโขโขโขโข
Bersambung....
๐ค๐ค๐ค