
"Salam bersua kembali."
Hilya terkesiap.Lantas mendongak memandang wajah yang mirip dengan seseorang yang ia kenal tengah menatapnya,teduh.Senyum ramah mengukir jelas di bibirnya yang terbuka.Tampak deretan gigi putihnya yang tersusun rapi menambah kesan muda di sosok yang masih menatapnya tersebut.
"Minumlah,biar tenang."Pria itu berucap tenang.
Hilya hanya bisa menyambut botol kemasan tersebut dengan ekspresi senyum yang ditahan namun tidak ingin membuka segel kemasannya.
Hening....
"Anda tampak berbeda,"ucapnya sembari mengambil posisi duduk menyamping dengan gadis yang berbeda fase dengannya itu.
"Kebanyakan anak muda suka blak-blakkan soal permasalahan hidupnya.Digembar-gemborkan di sosial media dan membiarkan publik mengetahui perjalanan hidup mereka.Namun tidak dengan gadis yang satu ini."Pria itu beropini sembari menatap lepas pantai dan seakan berbicara kepada dirinya sendiri,
"Apa anda punya sesuatu yang ingin dibagi ke orang lain?"lanjutnya berbalik menatap Hilya yang hanya bingung memandanginya.
Gadis itu menggeleng,"Tidak."
"Lalu sesulit itukah,hingga harus menangis dalam diam?"
Hilya menghela napas dalam,"Aku hanya merasakan apa yang kualami,"menggenggam erat botol kemasan hingga tangannya ikut bergetar,"Sebagai bentuk dari pelampiasan atas ketidaksukaanku terhadap sesuatu."lanjutnya memindai wajah pria paruh baya yang duduk bersebelahan dengannya itu,sementara keningnya mengerut tajam.
Hilya merasa baru bertemu dengan pria paruh baya ini beberapa hari yang lalu.Sosok yang pernah berpapasan dengannya di Lobi Adhytama Star Group sewaktu ia mengantarkan makanan untuk suaminya.
Namun karena wanita yang datang dari masa lalu suaminya itu juga yang membuatnya terpaksa harus membatalkan niat untuk mengajak sang suami makan siang bersama.
"Tapi kau bisa membagikan masalahmu kepada orang lain agar tidak jauh terpuruk,"ujarnya berpendapat.
Waktu itu,Hilya bertemu dengan bapak ini manakala dirinya sedang dilanda kesedihan,dan berusaha tersenyum.Lalu kini mereka bertemu kembali dalam kondisi dan perasaan yang sama,di mana Hilya tengah berjuang menepis kesedihannya.Mungkin itu yang menjadi dasar utama sang pria seumuran ayahnya tersebut beropini.
"Aku juga punya seorang anak,"menerawang jauh,"Dia juga pendiam,tegar,kuat....,dan sama tertutupnya sepertimu."
"Oh,ya.Lalu di mana dia sekarang,tuan?"
Tampak pria itu menarik napas tajam lalu membuangnya berat,"Dia....,"menjeda karena seakan tercekat di tenggorokan,"dia sedang sakit keras.Berbagai cara sudah diupayakan untuk menyembuhkan dirinya,termasuk berobat ke luar negeri,namun nihil."
"Oh,maaf telah menyinggung anda."Hilya sedikit merasa bersalah.
"Tidak apa-apa,ah....,sudahlah."Bangkit dan siap beranjak,"Jika kau tertarik dengan ceritaku tadi,sudilah mampir ke alamat ini,aku yakin kau punya sesuatu yang bisa diandalkan."Berharap mungkin bisa membantu.
Hilya menyambutnya sembari meneliti kartu nama tersebut.Sejenak iapun mendongak dan berniat untuk bertanya lebih jauh,namun sayangnya pria tersebut sudah menjauh dan mustahil untuk memanggilnya kembali hanya untuk menanyakan,mengapa begitu yakin terhadap dirinya.
Hilya yang masih mematung memandang punggung pria paruh baya dikejauhan,tidak menyadari jika seseorang telah datang dan memeluknya begitu posesif dari belakang.
"Kumohon,jangan tinggalkan aku,"ucapnya kedengaran meronta di dadanya.
Hilya baru menyadari kalau saat itu Danang telah berada di sisinya.Hilya hanya diam tanpa ingin merespon balik kata-kata suaminya.Mungkinkah hatinya yang sedang terluka itu,karena sedang marah dan membenci seseorang.Lalu persisnya,wanita itu atau Danangkah yang dibencinya saat itu.
"Kenapa berada di tempat sunyi ini,"masih medekapnya erat,"Aku sudah mencarimu ke mana-mana tapi tidak menemuimu."lanjutnya belum lepas dari kepanikan yang tidak direkayasa.
"A_aku hanya sedang mencari ketenangan,"balas Hilya membuyar dari pikirannya yang berkelana.
"Aku tahu,kau terluka kan,"membalikkan posisi Hilya agar berhadapan dengannya,"Tapi percayalah,itu hanya masa laluku."meraihnya kedalam pelukan hangat.
'Banyak yang inginku jelaskan kepadamu perihal masa laluku.Tapi nanti,agar tidak merusak momen bahagia kita ini.'batin Danang penuh perasaan.
Hilya yang mendengar bahwa wanita itu hanya masa lalu suaminya,mengangguk singkat lalu memilih untuk beranjak,namun Danang segera mencegatnya,
"Kamar kecil."
"Akan kuantar."Menarik lengan sang isteri tanpa menunggu persetujuan darinya terlebih dahulu.
"Sudah,sampai di sini saja,"ucapnya sembari menyentak tangan suaminya,"Apa kau juga ingin masuk kedalam?"lanjutnya melotot melihat Danang yang semakin melewati batas area toilet umum wanita.
"Ah,ya.Aku lupa,maaf."Danang tersenyum usil sembari mengedipkan mata pertanda tindakannya itu hanya untuk mendapatkan perhatian Hilya,dan gadis itu hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
Di kamar kecil,saat Hilya baru saja usai memenuhi panggilan alam,dan beranjak mencuci tangan di wastafel,seseorang yang juga sedang mematutkan diri di depan cermin tiba-tiba menegurnya,"Bagaimana,asyik punya pengalaman hidup bersama Danang?"membuat Hilya terkejut dan berbalik menatap wanita yang tidak lain adalah masa lalunya Danang.
"Perkenalkan,namaku Vania Puteri Farhan."
Hilya mematung.Sementara gadis itu tampak mencibir,"Kasihan Danang harus terjebak dalam permainan wanita selevelmu."mengeringkan tanganya dengan tisu,"Danang itu hanya terpaksa menerimamu karena om Imran dan tante Andin,tapi dia memiliki cinta sejati yang tidak bisa dilepasnya,yaitu aku."
Hilya hanya tersenyum misterius sembari melanjutkan aktivitas membersihkan jemarinya.
"Kau tahu,aku dan Danang itu sudah selayaknya suami isteri.Setiap waktu senggang dia akan datang mencariku dan kami akan menghabiskan waktu bersama-sama di atas ranjang.Kami saling mengisi dan saling mencintai."
"Maka bukan mustahil jika dia bersamamu di atas ranjang tapi membayangkan tubuh jandamu itu adalah aku,cinta pertamanya."Lagi-lagi membuat Hilya merasa terluka.Gadis itu terpengaruh dengan ucapan wanita yang mengaku bernama Vania.
Ya,patut diakui semalam Danang memang agak buas dan sangat mahir dalam permainan ranjangnya.Jadi wajar kalau Hilya langsung mempercayai ucapan wanita itu.Apalagi dua kali ia memergoki wanita itu telah memeluk manja sang suami tanpa mendapat perlawanan apapun.
Hilya bukan tipe gadis yang lemah dan mau ditindas.Ia kini balik memindai tubuh gadis yang berdiri di depannya dengan saksama,"Oh,pantas saja.Cara bercintamu sangat buas dan hingga suamiku begitu gampang melukaimu."Melirik sinis ke arah lengan Vania yang tampak merah lebam,selanjutnya naik ke wajah wanita yang juga tampak memerah menahan amarah yang membuncah.
Gadis itu menyeringai,"Kenapa bersama cinta pertamanya,dia malah sebuas itu,apa itu yang disebut cinta sejati?Padahal dia memperlakukanku dengan sangat lembut dan sopan,"ucapnya bertubi-tubi membuat Vania semakin berang dan tampak hidungnya yang kembang kempis.
"Baiklah,jika kau memang cinta suamiku,maka silahkan berjuang untuk merebutnya kembali dariku.Karena aku pastikan suamiku lebih mencintaiku daripadamu yang mengaku sebagai cinta sejatinya itu."Hilya memberanikan diri mengucapkan kalimat tersebut meski di hatinya sedang terluka akibat pengakuan wanita tersebut.
"Masih mau jalan-jalan?"Gelegar lembut suara Danang menyapanya setelah ia menjejakkan kaki di luar toilet.Hatinya yang panas terbakar api cemburu membuatnya susah berpikir jernih.Kali ini ia tidak ingin bersikap lembut kepada siapapun termasuk suaminya sendiri,
"Antar aku pulang,"ucapnya ketus,membuat Danang seketika tersentak.
"Ah,ya.Kita akan segera pulang."Danang meraih sopan punggung sang isteri sembari mensejajarkan langkahnya.Baru saja ia akan berpaling menatap sang isteri,tiba-tiba ia menangkap kelebat bayangan Vania yang keluar dari toilet dengan wajah yang memberengut kesal dan menahan amarah.Kini Danang tahu penyebab mood isterinya tiba-tiba berubah.
Paradise Loft Villas
Meja makan....
"Makanlah,kau pasti lapar."Danang menyodorkan sesuap nasi ke arah Hilya.
Gadis itu merasa tidak enak hati untuk menolak bantuan sang suami,hingga akhirnya terpaksa menerima suapan pertama dari suaminya,"Kemarikan sendoknya,aku bisa sendiri."Merebut sendok dari tangan Danang namun pemuda itu lebih sigap menghindar hingga Hilyapun gagal mendapatkan sendoknya.
"Aku kan sudah bilang,ini momen,punya kita berdua,"menusuk sendok dan garpu ke piring,"Jangan karena masalah di pantai tadi,lalu kau menjauhiku."lanjutnya pelan namun tegas dan penuh penekanan.
Hilya yang paham dengan intonasi suaminya,akhirnya memilih menurut daripada harus berdebat kemudian bertengkar.Namun hatinya yang panas terbakar api cemburu masih tetap belum bisa diredakan begitu saja.
"Aku tidak suka pada....,"ucapannya tertahan.Wajahnya tiba-tiba tertunduk menahan air mata di kelopak beningnya yang sudah mulai berkaca-kaca.
"Kau cemburu kepadanya?"Danang menatap intens mata sang isteri yang dibuatnya wajib bertembung setelah melewati proses mengunci dagu runcingnya.
•••••
Bersambung....
🤗🤗🤗