
Happy reading 😍📖
Perlahan Hilya melangkah mendekati sang ayah mertua,
"Ada yang bisa Hilya bantu pa?"balas Hilya sembari tersenyum.
"Di mana suamimu,nak?"tanya papa Imran.
"Masih ganti baju pa,sedikit lagi pasti kemari."
Tuan Imran terlihat menghela napas berat,ada sorot sendu di balik mata elang seniornya itu,
"Nak,maafkan suamimu jika terkadang sikapnya tidak sopan terhadapmu.Papa harap kau harus pandai menyikapinya dengan bijak,"ucapnya sembari mengangkat jemarinya,menyapu lembut kepala Hilya seperti yang biasa dilakukan kepada puterinya Dania.
Hilya menyimak setiap ucapan ayah mertuanya.Meski di dalam hatinya terasa berat,namun bibirnya tidak bisa menolak untuk tidak berkata ya.
"Putera papa itu sebenarnya sangat baik.Hanya masa lalu yang pahit,membuatnya berubah drastis.Jadi penyendiri,cepat marah,uring-uringan dan tidak sopan kepada semua orang."
Hilya menatap ayah mertuanya tidak percaya,
'Sangat baik?!....,apa dia pecinta yang pernah dikhianati oleh seorang gadis,ataukah dia seorang suami yang ditinggal mati isteri,lalu menduda di usia muda,atau malah isterinya yang memilih untuk berkhianat lantaran sikap monsternya itu?'batinnya bingung.
Beberapa pertanyaan tentang masa lalu kini suaminya memberondong begitu saja di dalam pikirannya.Ingin rasanya ia banyak bertanya kepada ayah mertuanya saat itu,namun karena kehadirannya ke dalam keluarga ini baru terhitung sejak dua jam yang lalu,maka ia memilih untuk mengurungkan niatnya untuk mengutarakan segunung pertanyaan di benaknya.
"Apa kau mengalami kesulitan saat berada di dekatnya,nak?"selidik papa Imran.
Hilya menggeleng,
"Tidak pa,Hilya hanya butuh penyesuaian saja."jawabnya berkelit.Sorot mata sendu itu berusaha ditutupi olehnya namun tetap saja terbaca oleh ayah mertuanya.
"Jangan khawatir nak,papa dan mama akan tetap mendukungmu dalam segala hal.Jika suamimu sampai berulah,maka papa juga tidak akan segan-segan memberikan peringatan tegas kepadanya."ucap papa Imran sedikit menekan.
"J_jangan begitu pa...Hilya rasa,tidak ada yang instan kan,di dunia ini.Jadi biarkan Hilya berjuang dengan cara Hilya sendiri."
"Yakin?"
Hilya mengangguk mantap.
"Baiklah,kalau begitu.Papa percayakan semuanya kepadamu dan papa harap,kau bisa menjaga rumah tanggamu dengan baik,jalani dengan ikhlas dan jangan pernah berpisah meski sesulit apapun tantangannya."ucapnya menutup pembicaraan.
Hilya mengangguk sopan.
Sementara Danang yang baru keluar dari kamar mandi,berniat menyuruh Hilya untuk mencarikan pakaian untuknya.Pemuda itu malah kebingungan karena tidak mendapati isterinya di mana-mana.
Sejenak,iapun berpindah ke ruang ganti.Di sanalah ia mulai mengerti kalau isterinya sudah keluar kamar setelah menyiapkan setelan piyama lengkap dengan onderdil yang dibutuhkan.Sigap ia mengenakan pakaian yang sudah disediakan untuknya,lalu bergegas menuju ke lantai bawah dan bergabung dengan keluarganya di meja makan.
Hilya yang sudah paham akan tugasnya,sigap menyediakan makanan di piring untuk sang suami.Papa Imran dan mama Andin yang sudah siap menyantap hidangan mereka,mempersilahkan kepada Hilya agar segera mencicipi makanan.
Hilya makan dalam diam.Perasaan gadis itu rada canggung,karena Danang tidak sedikitpun menyapanya selama acara makan malam berlangung.Untung saja ada Dania di sana yang sering mengajak kakak iparnya itu berbicara.
"Ayo,silahkan ditambah,nak."suara mama Andin menguar lembut ke telinga Hilya.
"Ya,terima kasih ma."sahutnya santun.
"Hilya,rupanya papa lebih dulu mengenal Helmy,daripada kamu toh.Ah,memang.Dunia rasanya terlalu sempit."ucap papa Imran menggeleng pelan.
Hilya mendongak,
"Benarkah itu pa,kapan dan di mana?"balas gadis itu penasaran.
Papa Imran tersenyum dengan gayanya yang khas,
"Dia pernah menyelamatkan papa dari pengemis gadungan itu,kira-kira tiga bulan yang lalu.Waktu itu,papa sedang jalan sendirian melewati jalur batas kota melewati Jaya Group.Tiba-tiba ada pengemis yang menahan mobil dan pura-pura minta uang.Enggk taunya dia menodong.Nah,ada pula si Helmy ini di sana dan sigap menolong papa."
"Tiga bulan la..llu..,ah,ya.Kalau tidak salah,waktu itu kakak lagi cari pekerjaan.Dia habis di PHK dari perusahaan X."
"Nah,itu dia.Tepat sekali.Papa sempat bertanya dan diapun menceritakan sekilas soal kehidupannya.Papa kasih saja dia kartu nama...Siapa tahu butuh kan,tapi sayang....,dia keburu diterima di Jaya Group.Alhamdulillah,dia jadi manager di sana."tambahnya ikut bersyukur.
Hilya manggut-manggut memandang intens wajah ayah mertuanya yang tampak sedang berpikir keras.
"Amin....,kakak Helmy memang lagi susah waktu itu,pa."balas Hilya menerawang.
"Emmphh....,ya....,ya,papa baru ingat.Waktu itu dia sempat minta didoakan agar cepat diterima kerja,biar bisa menjemput kembali adik perempuan yang terpaksa pindah dari rumahnya ke kos sejak ia kena PHK.Ternyata kamu toh,nak."
Hilya tertegun.Rupanya ayah mertuanya juga sudah pernah bertemu sang kakak jauh sebelum peristiwa di kamar hotel itu.Hilya baru mengetahui kalau kakak Helmy sekarang jadi manager di perusahaan Jaya Group.Perusahaan milik ayah sahabat baiknya Nuha Izz.Benar juga kata papa Imran,kalau dunia ini memang sempit.
Diam-diam Hilya salut pada kebaikan ayah mertuanya,
"Lagian papa juga,sejak dari zaman surat kawat sampai zaman sosmed,tradisi give away nya itu tidak pernah hilang.Sudah gitu,pake acara bolos dari asisten pribadi lagi.Apa gunanya asisten pribadi kalau tidak dikerahkan,ingat....,keselamatan itu sangat penting papa."celetuk mama Andin kesal.
"Ah,mama.Kalau asisten pribadi yang melakukan tugas itu,nanti nama give away nya papa jadi bukan 'Papa Penyayang'lagi tapi 'Aspri Penyayang'alias asisten pribadi penyayang."tukas papa Imran tertawa ngilu sembari mengedikkan bahunya.
Danang yang sedari tadi menyimak pembicaraan orangtuanya,mendadak sigap mengangkat kepala,memandang sang papa.Pemuda itu tampak mengernyitkan kening.
Ah,rasanya baru-baru ini ia pernah mendengar seseorang lain yang pernah menyebut nama program hadiah kejutan'Papa Penyayang'milik sang papa.Tapi siapa dia,pemuda itu terkesan lupa dan masih berpikir keras.
Usai makan malam,keluarga itu memilih untuk berkumpul sejenak di ruang keluarga.Sembari berbincang-bincang soal rutinitas yang akan mereka lewati esok harinya.Hanya Hilya saja yang tampak lebih dulu beristirahat mengingat kondisi badannya yang kurang fit.
"Nia sayang,besok pagi di kantor,temani Hilya untuk gladi acara penyambutan Direktur Adhytama Star Group yang baru ya.Soalnya kakakmu akan sibuk dengan urusan klien yang masih tertunda."ucap sang papa di sela kumpul keluarga.
"Baiklah,papa."sahut Nia manja.
"Maksudnya apa itu pa,direktur baru,siapa?"tanya Danang ingin tahu.
Papa Imran tersenyum tipis,
"Besok,kau akan dilantik menjadi direktur Adhytama Star Group generasi ke dua.Otomatis Hilya akan ikut mendampingimu di sana."
Danang tertegun,posisi yang pernah dijanjikan sang papa kini akan diserahkan kepadanya secara dadakan.Ah,rasanya ia belum siap melangkah sampai ke jenjang itu.
Pemuda itu terdiam cukup lama,
"Kenapa tidak bilang dulu padaku pa?"ucapnya datar.
"Papa sudah mempertimbangkannya secara matang,nak.Papa yakin kau bisa melakukannya."
"Aku belum siap,pa....,karena aku masih harus berbenah diri."
Papa Imran menggeleng,
"Papa sudah pernah bilang kepadamu,setelah kau menikah,papa akan menyerahkan tugas besar ini kepadamu."
"Pa...,aku belum siap!....,pernikahan ini terjadi dari sebuah kesalahan.Aku harus memperbaiki semua kesalahan itu terlebih dahulu.Bukan cuma aku yang tidak menginginkan pernikahan ini,tapi Hilya juga,"ucapannya menjeda,
"jika kami langsung diberi tugas sebesar itu,sementara hati dan pikiran kami saja belum bisa menyatu,lalu mau dibawa ke mana perusahaan yang papa rintis dengan keringat darah itu pa?"serang Danang berapi-api,
Hening.....
"Tolong beri aku waktu untuk mempertimbangkan hal ini."lanjutnya datar.
Lagi-lagi tuan Imran tersenyum ramah,
"Puteraku,papa serahkan tugas itu kepadamu hanya untuk mempermudahkan jalan keinginan yang kau ungkapkan tadi."
"Sebaiknya diterima saja dulu penobatannya,urusan tugasnya nanti dipertimbangkan.Anggap saja ini sebagai tantangan agar kau cepat membenahi diri.Papa akan menyerahkan tugasnya setelah kau benar-benar siap."
"Tapi pa...,"
"Tidak ada tapi,nak.Kau lihat saja Adhytama Star Hotel.Meski hotel itu sudah di tangan Karin yang bijak dan Diego yang ahli,"ucapannya menjeda,
"tapi papa masih tetap terlibat di sana kan,sampai mereka benar-benar mandiri....,lalu untuk kebahagiaan anak kandung papa sendiri,kenapa tidak bisa papa lakukan?"lanjutnya menyeringai.
"Emmm..,baiklah papa,aku ikut."
Tuan Imran menepuk punggung puteranya,memberi dorongan positif.Danang menyambutnya dengan sebuah pelukan sebagai permohonan maaf dan ucapan terima kasihnya sebelum ia memilih pergi dari hadapan sang papa.
"Maafkan aku,dan terima kasih banyak,pa."
"Hmmm....,semuanya akan baik-baik saja,nak."
Tuan Imran memandang intens punggung sang anak yang kian menjauh.Baru kali ini puteranya itu menerima keputusannya,setelah sekian lama membangkang.
Tampak senyum samar menyungging di bibir seniornya yang ahli,
'Satu kemajuan.'gumamnya pelan.
•••••
Bersambung...
🤗🤗🤗