I Need You

I Need You
Nikahi Dia!



Happy reading 📖😍


Jika takdir memang berkehendak, maka apapun upaya yang dilakukan untuk mendekatkannya atau menjauhkannya tidak akan pernah berjalan sesuai keinginan hati.., melainkan segalanya berjalan sesuai kehendakNYA...


Tok tok tok


Ceklek


Sang mama yang sengaja ingin memberikan kejutan kepada puteranya itu pun langsung membuka pintu kamar dari luar dengan menggunakan kunci duplikat.


Dari kejauhan senyum sumringah memancar di wajah wanita paruh baya itu manakala mendapati sang anak dalam keadaan baik-baik saja.


‘Ugh, Jagoan mama benar-benar ya! Semalaman suntuk nggak pulang, tapi tuh, lihat saja tetap segar dan bugar. Anak siapa dulu..., hehehe.’ Ibu Andin bergumam ria.


“Ahhaa.., anak mama..., main pergi-pergi saja tanpa meninggalkan pesan buat mama,” ucapnya seraya berjalan mendekati,


”dasar anak bertuah, bikin mama nggak tidur semalaman gara-gara mikirin kamu.. Lho nak...., Danang?!”


Danang yang nyawanya masih belum sepenuhnya terkumpul berusaha membuka mata. Menggeliat dan sesaat matanya ikut memicing manakala menangkap sosok sang mama berdiri mematung dengan mulut yang membentuk huruf O.


“Emm..., mama!Ada apa pagi-pagi sudah kemari?” Danang berniat mengambil posisi duduk bersandar namun terasa ada beban yang menimpa sebelah lengannya.


Sontak ia pun segera menoleh ke arah objek yang menimpa lengannya yang ternyata juga menjadi tumpuan perhatian sang mama dan membuatnya seketika terbelalak.


“Whattt?!” Danang terperangah melihat seorang gadis cantik yang imut dengan tubuh setengah polos terbaring lelap di dalam pelukannya. Seketika itu juga ia berusaha menarik lengannya daripada menjadi bantalan kepala wanita itu.


“Wuah?! Apa yang terjadi nak, siapa gadis itu?” Mama Andin memekik heran.


“Ma...., mama tenang ya, aku akan menjelaskannya oke,” ucap Danang berusaha menenangkan sang mama namun dirinya sendiri malah bingung, entah apa yang mau ia jelaskan dan bagaimana caranya menjelaskan kepada sang mama.


“Oh, tidak!” Mama Andin memekik keras membuat papa Imran dan Dania yang berjalan perlahan di belakang segera berlari mendekat.


Kedua orang terdekat Danang yang baru hadir itu juga ikut terperanjat melihat pemandangan yang begitu asing di depan mata.


Sementara gadis yang berada disamping itu tidak lain adalah Hilya sang koki yang menolongnya tadi malam.Sesaat mata gadis itu ikut mengerjap lantaran m endengar keributan di sekitarnya. Jemari lentik itu naik meraba tengkuknya yang terasa berat. Namun seketika itu juga gadis itu tersentak kaget melihat pemandangan aneh di depan matanya setelah seluruh nyawanya mulai terkumpul.


Satu hal yang membuatnya tiba-tiba syok berat adalah ketika menyadari bahwa tubuhnya tergolek tanpa busana dan juga tidur seranjang dengan seorang pria yang tidak dikenalnya sama sekali dan seketika itu juga membuatnya merasakan bahwa dunianya kembali gelap.


"Eh...., eh...., malah pingsan!" Papa Imran yang mengarahkan telunjuk mengisyaratkan kepada Dania agar segera mendekati gadis asing tersebut.


Dania menuruti arahan sang papa dan segera menyelimuti tubuh gadis yang tersingkap dengan penampakan setengah polosnya.


“Mama tidak percaya anak mama bisa sebejat ini,” pekik sang mama histeris,


”Hei, anak muda, bangunlah! Bagaimana kau bisa sekamar bersama puteraku hah?” Mama Andin menjerit berulang kali. Malangnya si gadis misterius itu tidak menampakkan tanda-tanda kehidupan di sana.


Plakk!


Satu tamparan keras berasal dari amarah tuan Imran telak mengenai wajah Danang membuat pemuda itu seketika meringis perih. Ikut meraba pelipis yang nyeri. Yang pastinya termasuk dalam adegan rekayasa sang papa demi memperkuat alasan.


“Danang, papa menyesal mengutusmu ke sini. Cepat katakan siapa gadis itu!” Papa Imran turut menggeram.


"Diam! Jadi itu alasan selama ini kau mulai melawan papa, hmm?" serangnya, 


"Papa tidak ingin mendengar apapun dari anak yang sudah mencoreng nama baik keluarga. Sekarang juga kau harus bertanggung jawab atas kelakuan burukmu ini."


Danang bungkam. Jangankan mengajaknya tidur bersama, bahkan mengenal siapa gadis itu saja tidak sama sekali. Lalu mengapa sang papa tidak bisa melihat kenyataan di wajah bodohnya saat ini. Ya, Danang merasa menjadi pria paling bodoh yang tidak bisa menyelesaikan masalah yang tiba-tiba saja muncul di depan mata.


“Huaa?! Danang kau apakan anak orang sampai pingsan begini nak?” Mama Andin tambah histeris.


"Ma..., mama jangan berlebihan deh! Memangnya aku apakan dia ma? Baru saja dia pingsan gara-gara syok dengan keadaan ini kan dan kita semua menyaksikannya kan," bantah Danang tidak terima dengan berbagai macam tudingan yang memberatkan dirinya.


"Papa...., mama mau pulang saja! Mama tidak betah melihat anak mama yang kelakuannya makin aneh begini." Andin melangkah gesit meninggalkan ruangan dengan deraian air mata yang tidak terbendung.


"Ma, tunggu dulu mama." Danang mencoba menahan pergerakan sang mama namun seketika itu juga sang papa menahan tubuhnya.


"Nikahi dia atau kami tidak akan pernah menganggapmu sebagai anak lagi." Imran menekan setiap ucapannya dengan tatapan yang sama sekali tidak bersahabat. Sesaat kemudian sang papa juga ikut berlalu mengikuti jejak isterinya.


Sementara Danang yang sebenarnya tidak terima dengan berbagai macam tudingan tersebut hanya bisa menghela napas penuh, frustrasi. Satu hal yang membuatnya tidak bisa berbuat banyak karena semua bukti memang telah memberatkan dirinya. Pemuda itu hanya bisa mengatup bibir dan mengertakkan rahangnya pertanda berang.


"Nia, nia...., apa kau juga mengatakan hal yang sama dengan papa dan mama, Nia?" Danang yang merasa terpojok berusaha mendekati sang adik yang berdiri mematung memandangnya tidak berkutik.


"Aku tidak bilang begitu kak, tapi...., apa aku harus percaya kepadamu yang belakangan ini sering bertingkah aneh dan...," menarik napas berat,


"Mulai membangkang setiap pernyataan orangtua kita? Aku jadi tidak mengenal dirimu yang sekarang kak," balas Dania yang mulai terlihat berkaca-kaca. Gadis itu menatap intens wajah sang kakak yang terlihat memelas.


Namun apalah daya nasi sudah menjadi bubur. Dania sudah terlanjur tidak mempercayai sang kakak. Sejenak gadis itu pun memilih berbalik dan berlalu pergi dari hadapan sang kakak yang semakin kecewa dengan sikap orang-orang terdekatnya.


'****!' Danang mengumpat kesal. Memijit kening dan pangkal hidungnya frustrasi, menyapu kasar wajah oopa-oopaan yang kian memerah akibat amarah yang tidak terbendung.


“Cepat, panggilkan dokter untuknya!” Danang mengarahkan jemarinya kepada Sani yang berdiri ala bodyguard tidak jauh di balik pintu.


“Baik, tuan muda.” Sani mengangguk seraya membungkuk hormat.


Beberapa jam kemudian setelah dokter meninggalkan beberapa resep obat dan beranjak pergi, gadis malang itu terlihat mengerjapkan matanya beberapa kali menandakan ia mulai siuman. Beberapa kali ia menyapu pandangan ke seisi ruangan, kemudian dengan susah payah mencoba bangkit,


‘ Aku di mana?’ Hilya bergumam pelan.


Jemarinya naik meraba tengkuknya yang terasa sakit.


“Argh!”


“Hati-hatilah, Kau masih sakit,” ucap seseorang yang tidak lain adalah Danang. Pemuda itu baru muncul dari balik pintu membawakan semangkuk sup panas di atas nampan.


Hilya yang mendengar suara seorang pria sontak kaget dan terjingkat mundur beberapa senti dari posisi duduknya yang semula. Tubuhnya yang setengah polos masih berbalut selimut. Tangannya sigap meraih selimut lantas menutupi sekujur wajah hingga kepalanya benar-benar menghilang di balik selimut tersebut.


********


Bersambung....


🤗🤗🤗