
Happy reading 😍📖
Di ujung jalan setapak,Danang menatap gelap tingkah gadis itu secara mendetil.Ia bahkan menangis dan merutuki dirinya,katakan saja ia curhat kepada bintang.Di langkah pelannya yang menapak kian mendekat,entah kenapa pemuda itu seakan tidak ingin membiarkan gadis tersebut tertatih dalam kesendirian di tengah malam gelap.
Andai bisa kupilih antaranya,
maka bukan bintang di antara bintang paling bersinar yang akan kupilih,melainkan satu yang tiada duanya yaitu rembulan.Namun aku juga tidak ingin memilih di antaranya manakala kaki sudah terlanjur salah menentukan arah dan hati sulit menggapai keinginan.Mata ini tidak sanggup memandang kenyataan yang berbeda dan jiwa ini tak sarat menanggung impian yang terluka.Kenapa cinta begitu membenci hingga luka yang terkoyak ikut menganga,mengungkung raga....,seakan tidak bisa disembuhkan lagi.Ah,aku benci semuanya....,aku benci wanita...
Danang berdiri mematung memandang gadis yang berlutut dan menangis mengeluh kepada bintang.Bahkan kalau bisa jujur,jiwanya juga ikut tercabik,larut dalam kesedihan itu.Akan tetapi salahkah jika ia mendesak gadis itu untuk pergi dari ruang hidupnya.
Entahlah,gadis tersebut bersalah ataupun tidak,kini ia harus ikut menanggung keterpurukan akibat masa lalu yang telah membuat luka hatinya menjadi menganga kian lebar.Jika bisa ia jelaskan kepada semua orang,ia hanya sedang berupaya menjauhkan diri dari makhluk lembut yang bernama wanita,lalu mengapa gadis itu malah membuatnya terusik di saat ia sudah memantapkan hati untuk membawa langkahnya sendirian tanpa seorang wanita di sisi.
'Ah,persetan dibilang kejam.'
Di tengah kebimbangan hati,Danang membatin sembari melangkah kian jauh meninggalkan gadis yang masih khusyu dalam dunia pelampiasannya.
Hilya melangkah gontai menuju pintu pagar pekarangan rumah.Gadis itu berupaya sekuat tenaga dan membuat agar dirinya terlihat baik-baik saja.Sementara di depan teras sudah ada Dania bersama kakak Helmy yang tengah duduk bercengkerama ria.Sedangkan Hilya baru saja membanting satu langkah ke depan,tiba-tiba sosok pemuda yang baru saja menyakiti hatinya itu sudah mencegat langkahnya.Gadis itu terhenyak,namun tangan pemuda itu lebih sigap menangkap pinggangnya lalu membawa tubuhnya pada jarak lima sentimeter.
"Apa kau mau melangkah sendirian,lalu tertawa melihat amarah kakakmu membekas sekali lagi di wajahku ini,barulah kau merasa puas karena telah membalasku hmm sayang?"serang Danang pura-pura lembut sembari meramas pinggangnya dan digenggamnya kuat.
Merasa dilecehkan,Hilya menggeliat keras,
"Lepaskan aku!"bentaknya.
Danang segera melepasnya dengan cara mendorongnya namun memastikan gadis itu tidak terjerembab lagi.Sesaat kemudian iapun mengambil gerakan bersedekap di dalam pencahayaan yang remang,
"Kenapa harus bicara kepada bintang?Ini bukan ilusi cinta remaja,yang mengharap dan menunggu keajaiban datang dari bintang jatuh.Ini kenyataan hidup yang harus kau hadapi,karena telah berani melanggar batasanmu dengan mencampuri hidupku.Kau sendiri yang membawa api ke dalam sekam itu.Maka cukup kau terima,jalani,genggam lalu rasakan.Itu saja."tukasnya sinis sembari melangkah memasuki pekarangan rumah dan tidak lupa membawa punggung gadis itu dengan telapak tangannya.
Hilya terperangah mendengar ucapan Danang.Jika tadinya ia berpikir bahwa dirinya berjalan sendirian dan melampiaskan kekesalannya dengan berteriak sekuat-kuatnya kepada bintang,meminta agar bintang mendengarnya berbicara,kini ia harus terima satu kenyataan bahwa ada orang lain yang mengetahui perbuatan konyolnya itu.
Gadis itu sukses terbelalak dengan bibir membentuk huruf O.Rasa malu tiba-tiba menggerogoti hati dan dirinya.Wajahnya berubah menjadi merah padam.Menyadari dirinya tengah digandeng oleh Danang,Hilya hanya bisa pasrah menerimanya karena tidak ingin menjadi pemicu amarah sang kakak.Meski di hatinya dongkol setengah mati dan ingin rasanya ia mengucak kasar mulut pedas pemuda itu,namun gadis malang itu terpaksa pura-pura berlakon agar menyelamatkan sang kakak dari kemungkinan akan bertengkar lagi dengan pemuda yang menggandengnya itu.
Di depan teras,Danang berbaur dengan Dania dan Helmy.Sedangkan Hilya memilih untuk kembali ke kamar untuk membersihkan wajahnya dari sisa-sisa air mata yang menempel.Tidak seharusnya ia menunjukkan kesedihan di depan keluarganya terutama kedua orangtua yang telah melahirkan dan membesarkan dirinya.Usai membersihkan wajahnya dan memastikan bahwa dirinya baik-baik saja,Hilya bergegas menuju ke dapur.
Di ruang keluarga,Hilya mendapati sosok dua orang pria paruh baya yang tengah bercengkerama ria.Sangat akrab.Tidak ada sekat di antara keduanya.
"Eh,dari tadi aku belum berkenalan dengan calon menantuku lho."ucap bapak Haryadi membuat tuan Imran tergelak.
"Danang...,kemarilah!"pekik tuan Imran memanggil Danang dari kejauhan.Hilya melirik ke arah Danang yang sudah masuk ke dalam ruang keluarga sembari tersenyum ramah menatap calon mertuanya.Ada rasa kikuk yang mendera hati gadis itu dan ingin cepat-cepat menghilang di balik dinding.
Hilya melirik kembali ke arah dapur.Di sana dua wanita paruh baya juga tengah sibuk membantu kakak iparnya menata hidangan makan malam di meja makan.Sangat ramah dan penuh rasa kekeluargaan.
"Maaf merepotkanmu Andin.Kami tidak punya kemampuan menyewa pembantu,jadi apa-apa dikerjakan sendiri."ucap ibu Iza rada sungkan.
"Ah,jangan dibesar-besarkan Iza.Aku sangat menghargai calon menantuku,dan aku tidak mengharapkan punya besan yang hidupnya serba mewah namun belum tentu berhati emas seperti keluarga ini."balas nyonya Andin merendah.
"Hilya,kau sudah kembali dek?"ramah suara kakak ipar Heny menyapa.
Hilya mengangguk sopan sembari tersenyum simpul,
"Ya,kakak Heny.Oh ya,di mana Hana dan Hany?"
"Kak Helmy sudah mengantar mereka ke rumah bibi Ulfa sejak sore tadi,biar tidak mengganggu tamu-tamu kita dek."jawab Heny tertawa kecil.
Hilya ikut tertawa.Itu berarti anak angkatnya Juna juga sudah pasti berada di rumah bibi Ulfa,adik bungsu dari sang ayah.Wanita ramah bernama lengkap Ulfa Syuhandayani itu bekerja sebagai seorang guru PNS tingkat sekolah dasar negeri.Suaminya seorang kontraktor dan mereka memiliki dua orang putera serta dua orang puteri yang baik.Kharakter dasar beliau yang suka kepada anak kecil,maka tidak diragukan lagi jika bapak Haryadi senang menitipkan anak dan cucunya kepada sang adik.
Ketika makan malam tiba,semua orang berkumpul dan menikmati hidangan dengan lahap.Tidak ada rasa sungkan dan jaim seperti yang biasa terjadi di antara kebanyakan keluarga besan,apalagi masih berstatus calon besan begini.Hilya memandang sendu wajah ayah dan ibunya tengah bercengkerama ria bersama dengan para tamu yang bakal menjadi bagian dari hidupnya.
Gadis itu merasa sangat bersalah karena telah melanggar janjinya sendiri bahwa ia tidak akan menikah sebelum menyelesaikan pendidikan kuliahnya.Namun keadaanlah yang memaksa dirinya untuk melakukan hal demikian.
Dalam hatinya tertanya-tanya,bagaimana bisa sang ayah dan ibu tidak memasang wajah marah sedikitpun terhadapnya atau paling tidak memberondong pertanyaan untuk mengetahui kejadian apa yang membawanya kepada pernikahan.Hilya bingung menatap wajah orang-orang tercintanya itu,kemudian melirik ke arah dua orang yang bakal menjadi ayah dan ibu mertuanya.
'Apa yang sudah terjadi di sini?'batinnya lirih.
Tanpa ia sadari,setiap tingkahnya diperhatikan oleh Danang,dan tanpa Danang sadari pula,setiap gerakan sorot mata elangnya tidak luput dari penglihatan sang adik,Dania Puteri Setiawan.
•••••
Bersambung...
Teman-teman sekalian,salam lanjut berkarya dan saling dukung..
🤗🤗🤗