
Happy Reading 😍📖
Danang Danuarta..., si pria muda yang baru saja melepas penat dengan menikmati sensasi terindah bersama dengan sang isteri di ruang privasi, entah sudah berapa jam mereka bertahan di sana. Matanya melirik singkat ke wajah wanita cantik yang nyawanya sudah setengah melayang ke dunia mimpi.
"Sayang, terima kasih banyak,"
"Servisnya sangat memuaskan, aku suka," lirihnya puas. Hembusan napas lembut menari-nari di kuping sang isteri membuat si pemilik kulit tipis itu ikut meremang.
"Hmm...," ucapannya dibalas dengan setengah nyawa yang tersisa, "sama-sama, cintaku," sebuah jawaban yang sontak mengembangkan senyum bahagia di wajah pria jangkung tersebut. Pikirannya melanglang mencari momen terindah dalam petualangan bersama mereka tadi. Semuanya begitu sempurna berbalut rindu yang kian menggebu tanpa cela sedikitpun. Semakin dalam dan erat. Jemari maskulinnya sibuk membelai perut datar milik pujaan hatinya, mencoba menerawang bentuk dan ukuran sang calon buah hati yang wujud dan bersemayam di dalam sana.
"Apa kabarmu, nak? Tetaplah baik-baik di sana, Papa merindukanmu." batinnya haru.
Sementara itu, di luar sana, sejak beberapa jam yang lalu, suasana sore yang tadinya cerah, tiba-tiba saja berubah menjadi mendung. Hujan deras ikut mengguyur kota D, diikuti terpaan angin ribut nan kencang. Ya, hujan deras yang sempat memicu suasana pertualangan cinta mereka menjadi lebih hidup.
Perlahan matanya mulai sayu, dan nyaris menyusul sang isteri yang telah lebih dulu tenggelam ke dunia mimpi, namun saat itu juga mendadak mengerjap setelah seseorang mengetuk keras pintu kamarnya dari luar. Iapun segera bangkit lalu bergegas meraih pakaian bawahan luar yang tadinya sempat tercecer entah ke mana akibat permainan birahinya yang memuncak.
ceklek
"Kenapa lama sekali bukanya?" gema suara khas seorang ibu yang kesannya terburu-buru, panik dan khawatir tingkat tinggi.
"Lagi istirahat," jawabnya santai.
Wanita yang tidak lain adalah sang mama Andin, menghela napas cukup dalam kemudian bersuara parau, mengundang picingan tajam di matanya, "Cepat kau susul Papa dan yang lainnya ke rumah sakit Maulana Medika," melongok ke dalam kamar, mencari keberadaan sang menantu, "Nuha dan Juna, ditabrak saat bermain sepeda di taman kompleks tadi."
"Astaga! Kenapa bisa demikian?" serunya terkesiap.
"Awalnya, tadi mama dengar Juna sempat merengek minta pergi ke Papa dan Bundanya. Lalu Nuha yang berusaha menghibur, kemudian berupaya mengabulkan permintaan lainnya yaitu bersepeda." jelas sang mama terburu-buru namun dengan volume suara yang sangat rendah, "Boleh dikatakan tadi Juna merajuk padamu dan Hilya," lebih tepatnya berbisik ke telinga namun sorot mata sang mama terbilang cukup mengadili.
"Kalau begitu, aku panggilkan Hilya dulu," ucapnya sigap membalikkan badan. Tampak jela di wajahnya yang begitu panik dan kewalahan, namun mendadak lengannya ditangkap oleh sang mama serta-merta menghentikan pergerakannya.
Mama Andin menggeleng lesu, "Jangan beritahu Hilya sekarang, biarlah dia istirahat dulu." lagi-lagi menatap cemas ke arah ranjang, "Kau pergilah. Sisanya biar mama urus." lanjutnya khawatir kalau-kalau Hilya mendengar pembicaraan mereka.
"Baik, Ma. Kalau begitu, aku siap-siap dulu." memandang selimut tebal yang membungkus tubuh polos isterinya sebelum dirinya bergegas pergi. Mau tidak mau, ia harus memakaikan jubah mandi ke tubuh polos isterinya. Mana mungkin ia pergi meninggalkan sang isteri dalam keadaan tanpa sehelai benangpun, sementara sang mama akan setia berjaga di kamar tersebut demi memantau keadaan sang menantu.
Hospital Maulana Medika....,
Bocah itu mengerjapkan mata beberapa kali, pandangannya menyesuaikan cahaya yang berpendar menerangi unit gawat darurat, "Bu, bundaa...," gema suara mungil berasal dari mulut sang bocah, "Bunda, jangan tinggalkan Juna!" diucapan yang baru separuh sadar, "Papa, kenapa mengabaikan Juna? Hu hu hu...." begitu manja di sela ringisan rasa sakitnya. Rengekan bawah sadarnya itu jelas memberi kesan trenyuh di hati sang Papa yang kian diliputi rasa bersalah yang mendalam.
Kepala dan sebagian tubuhnya yang terluka berbalut perban menambah kesan nyeri di dadanya. Gurat tampan yang pastinya digariskan oleh mendiang sang ayah, Arjuna Wijaya itu tampak pias tak bertenaga. Mekipun dirinya tidak pernah mengenal sosok yang telah melahirkan putera angkatnya itu, akan tetapi ia merasa begitu dekat dengan sosok mendiang tersebut lantaran kedekatan yang diciptakan sang bocah selama beberapa bulan tepat di mana malam mereka saling menerima menjadi ayah dan anak.
"Sayang, maafkan Papa," lirihnya sebak, "Apa jadinya jika mama mengetahui keadaanmu yang begini..., hmm?" membelai lembut jemari sang bocah berwajah pias yang masih dalam rengekan sendu kian mendayu.
Ya, lebih tepatnya atas nama Junalah, awal dirinya diterima oleh Hilya dari hati. Bukan karena kekayaan ataupun ketenaran, melainkan bentuk perhatian yang ia curahkan kepada sang bocah meski awalnya sempat ragu. Namun tak bisa dipungkiri, bahwa sang bocah sendirilah yang membuka diri lalu menuntun ia untuk masuk ke dalam dunia bocahnya. Hingga akhirnya dirinya berhasil menjadi sosok ayah angkat yang begitu baik dan nyaris sempurna di mata Juna.
"Papa janji, tidak bakal meninggalkan Juna seperti Papa Arjun?" pertanyaan gamblang yang dilontarkan beberapa minggu sebelum kejadian ia pergi ke luar kota dalam rangka urusan dinas dengan Wayan Group. Seakan tidak rela melepas kepergiannya selama beberapa minggu.
"Kasihan bunda sendirian di rumah, jika papa pergi terlalu lama." begitulah bentuk perhatiannya kepada wanita yang rela mengorbankan segala hidup demi dirinya. Sebuah ikatan ibu dan anak yang tergambar nyata di sana. Kalimatnya itu bahkan sempat mengundang perasaan rendah dalam dirinya yang pernah menorehkan luka di hati wanita yang tidak tahu menahu, tiba-tiba sudah terjebak dalam permainan amarah yang ia ciptakan lantaran duka masa lalunya.
"Berjanjilah untuk tetap kuat," menggenggam erat jemari sang bocah penuh kasih sayang. Seakan yakin bahwa satu-satunya kekuatan yang dimiliki sang isteri dalam hidupnya adalah Juna, "Papa dan Bunda akan selalu mendampingimu."
Bola matanya ikut memanas, dan tubuhnya sempat terguncang saat kupingnya kembali terngiang pada penjelasan Papa Imran beberapa menit yang lalu mengenai kronologi kecelakaan yang menimpa dua orang terdekat sang isteri. Mengingat keberadaan wanitanya saat itu dalam keadaan hamil muda, dan rentan stress membuat dirinya merasa sangat mengkhawatirkan kondisi psikisnya.
"Menurut saksi mata mengatakan, kalau Juna dan Nuha yang terjebak hujan lebat dan angin kencang, terpaksa berteduh di perhentian demi menunggu suasana kembali kondusif, namun tiba-tiba saja tampak Juna berlari keluar menuju jalanan lengang dan Nuha berupaya menahannya. Naasnya ada mobil yang melaju kencang dan nyaris menabrak Juna namun Nuha sigap menyelamatkan sang bocah dengan mendorongnya ke pinggir, belum juga sempat ia melakukannya, mobil sudah berada di jarak terdekat hingga akhirnya upaya melompatpun gagal lantaran sudah terlanjur ditabrak dan keduanya sama-sama terpental membentur aspal dalam posisi sang gadis memeluk erat si bocah hingga dipastikan mereka benar-benar tak sadarkan diri. Sedangkan mobil tersebut yang tadinya sempat membelok langsung menabrak pagar pembatas jalan." begitu penjelasan saksi mata yang sempat melihat peristiwa tabrakan tersebut.
"Mohon bapak menunggu di luar." ucap salah seorang petugas pendamping dokter dari tim medis yang gesit memasuki ruangan sebagai respon balik dari panggilan darurat yang ia lakukan lantaran Juna mengalami kejang-kejang.
Hanya anggukan yang mengisyaratkan kalimat penyetujuan.
Langkah berat membawa jasadnya keluar dari ruangan manakala tim medis yang bergegas sudah masuk ke dalam ruangan demi menangani kondisi sang bocah yang tiba-tiba saja menegang.
"Papa yakin kau sangat kuat, nak!" gumamnya panik, masih berupaya menenang jiwanya yang sempat syok berat setelah sempat mengaitkan kejadian yang hampir mirip dengan peristiwa kepergian Lian dan asisten pribadinya beberapa tahun silam. Bukankah sama-sama dalam level kecelakaan dan sama-sama pula saling bertaruh nyawa?
"Kau harus kembali demi bunda,"lirihnya sendu.
Lagi-lagi bayangannya lari kepada Hilya yang masih berada di rumah. Isteri cantiknya itu belum mengetahui persis kejadian yang sebenarnya menimpa Juna dan Nuha. Pikirannya kalut. Kekhawatirannya memuncak, dan malah semakin menghantui bentaknya. Ingin rasanya segera membawa pergi sang isteri sejauh mungkin agar terlepas dari kungkungan belenggu yang bahkan bisa saja memicu keselamatan nyawa calon sang buah hati. Kemungkinan terburuknya adalah, janin yang ada di dalam rahim isterinya itu ikut menjadi taruhan, jika Hilya benar-benar lepas kendali, lalu meraung-raung histeris ataukh memang tertekan lalu menderita semacam depresi saat berita buruk ini terkuak dipendengarannya.
"Ini tidak bisa terjadi," otaknya berjalan, saat ini hanyalah tekad yang kuat untuk benar-benar mengusir duka nestapa dari kehidupan wanita pujaannya tersebut.
Dari balik kaca transparan, Ia melirik singkat di kejauhan ruang tunggu, tampak ayah mertua dan ibu mertuanya yang terpukul hebat. Langkah canggungnya kian mendekati dua sejoli yang kini menangis histeris mendapati cucu kesayangan mereka dalam keadaan terluka parah, dan tak sadarkan diri, sementara dari alam bawah sadarnya, bibir mungil itu sempat meraung-raung memanggil nama 'bunda'.
"Ya, Allah. Selamatkan cucuku, jangan biarkan nasib buruk merenggut kebahagiaan yang baru sesaat ia dapatkan, hu hu huu....," tangis meraung sang nenek, Elmyza sangat memilukan.
"Kenapa hidupmu selalu diuji, nak?" kesah sang kakek, Haryadi Abimanyu turut menyayat hati.
Sedangkan sang paman Helmy, tampak mematung di salah satu sudut ruang tunggu dengan tatapan kosong tanpa ekspresi, ikut menambah luka pada seonggok daging merah di bagian kiri dada yang kian berdetak kencang, seakan lupa caranya untuk kembali normal.
Bahkan jiwanya ikut tercabik mengingat situasi dan kondisi beberapa minggu belakangan juga telah memicu kecerobohan dirinya sendiri hingga lalai dalam memperhatikan kebutuhan putera angkatnya itu. Bukankah seharusnya di saat sang isteri sedang dalam masa istirahat, maka sang suamilah yang siaga memantau setiap kebutuhan putera mereka? Ini malah dirinya juga ikut mengabaikan sang bocah lantaran masalah besar telah menimpa Dania dan juga Haidar. Sang Papa balik melimpahkan segala permasalahan sang adik kepada dirinya. Imbasnya dirinyapun lepas kendali pada keluarga kecilnya yang baru terbentuk meski belum begitu sempurna. Apa mungkin karena Juna bukan anak kandungnya hingga pihak keluarganya tidak begitu menaruh rasa peduli terhadap bocah mungil itu? Hatinya mencoba menyangkal, namun itulah kebenaran yang terungkap saat ini.
Baru saja ia akan menyapa kedua mertuanya yang tengah meratapi sang cucu, tiba-tiba derap langkah cepat tim medis penuh kepanikan, bergerak kian cepat menuju ke salah satu ruang ICU yang sudah bisa dipastikan sebagai ruangan yang ditempati Nuha Izz. Apa yang terjadi di sana? Bagaimana kondisi gadis itu? Rasa bersalah kembali menyelimuti hati dan pikirannya. Dunia seakan benar-benar bergeser dari porosnya, hingga begitu lamban memutar.
"Dokter! Lakukan yang terbaik, tolong selamatkan Puteriku," pinta suara berat Tuan Jayahadi mengikuti langkah lebar sang dokter yang kian menembus daun pintu ruangan. Wajah piasnya tampak panik luar biasa, "Ya, Allah. Arjunaku!" gumamnya pasrah. Air mata yang lolos begitu saja seakan enggan kompromi. Sudah bisa dipastikan betapa terlukanya pria itu manakala mendapati dua generasi penerusnya yang tersisa kini sama-sama dalam keadaan kritis. Di balik kursi yang berjejer tampak sosok ringkih nyonya Amanda yang terguncang hebat dengan kedua telapak tangannya memeluk lutut. "Semuanya sama saja. Para orang dewasa lebih mementingkan diri dan hidupnya sendiri ketimbang menuruti satu saja keinginan anak kecil." raungnya di sela isakan yang kian memecah hening di ruang tunggu.
Langkah lebar Danang perlahan membawa jemari maskulinnya hendak turun menyentuh pundak wanita paruh baya yang tampak sangat rapuh tersebut, namun mendadak pergerakannya tersekat oleh tangan seorang yang telah lebih dulu menyentuh pundaknya, lantas ia berbalik lalu netranya bertembung tajam dengan milik Dimas di sana. Sorot diam pemuda itu seakan memberi isyarat nyata bahwa, 'Bukan ini saat yang tepat.' Paket lengkap bahwa dirinyalah yang sepenuhnya bersalah di sini.
••••
Bersambung.....
🤗🤗🤗