I Need You

I Need You
Cerita kepada Bintang



Langkah gesit Hilya dicegat oleh sang bapak di ruang keluarga.


"Ada apa nak?"timpal tuan Imran yang juga berada di sana bersama nyonya Andin dan juga ibunda Iza,mamanya Hilya.


Tuan Imran menatap Hilya dengan penuh rasa hormat dan sayang kepada gadis itu layak seorang ayah yang memberi ruang kebebasan kepada seorang puteri kandungnya.Ia bahkan nyaris tidak menyadari kalau puteri kandungnya sedang berada dibelakang gadis yang ia sapa.


Pria paruh baya itu tidak hanya baik menurut buah bibir orang saja,akan tetapi ia benar-benar mempraktekkan keramahan itu di dalam kehidupan sehari-hari.Keluarga ini memang sangat pantas dielu-elukan menurut Hilya.


Buktinya keluarga Hilya yang sangat sederhana karena memiliki segala kekurangan dari sisi ekonomi dan juga sosialita namun tidak mempengaruhi keseruan beliau dalam berinteraksi.Baik tuan Imran,nyonya Andin maupun Dania sendiri,sama-sama ikut berbaur dan tidak kikuk.


Suasana ruang keluarga yang semula begitu riuh tiba-tiba menjadi hening.Semua yang ada saling pandang.


"Ah,ya...,tidak apa-apa.Cuma mau_"


"Cari udara segar pa."potong Dania cepat,


"soalnya di dalam kamar udaranya panas dan membuat gerah."lanjutnya pura-pura mengibaskan rambut dan meraba leher jenjangnya berkali-kali.


"Ya,itu benar om."balas Hilya sopan sembari mengangguk.


"Nak,tolong jangan jauh-jauh keluar rumah."pinta tuan Imran tulus.


"Baiklah,om."


Hilya menarik lengan Dania agar segera keluar dari rumah setelah memastikan sang kakak dengan Danang tidak ada di sana.


"Kau tahu Nia,kakakku orangnya pendendam.Dia tidak akan tinggal diam sebelum membalas dendam pada orang yang telah menyakiti hatinya."desah Hilya pelan sembari melangkah cepat.


Mendengarnya,Dania hanya bisa menghela napas panjang sembari bersedekap,merutuki kecerobohannya.Padahal dari awal ia sudah mendapat kode dari sang kakak agar jangan meninggalkan dirinya sendiri di ruang tamu.Akan tetapi ia malah sengaja membuat sang kakak terkena batu.Siapa yang menyangka jika Helmy adalah sosok pendendam yang bisa membalas dendam kapan saja kepada orang yang telah menyakiti hatinya.Dania tergugu di dalam pekatnya malam,menerobos remangnya cahaya bintang yang menerpa jalan setapak yang mereka lewati.


Tiba di sebuah pintu gerbang,Hilya dan Dania mendadak berhenti.Suasana taman tasik yang indah diterpa cahaya bulan memantulkan aroma kota kecil nan indah dan asri.Kelap kelip lampu yang berasal dari lapak-lapak sederhana para penjaja kuliner turut menambah ramai suasana taman danau tasik.


Di kejauhan tampak dua orang muda sedang duduk di sebuah rumah pondok dan tengah meneguk air kemasan mineral.Entah apa yang mereka bahas,dan apa yang sudah terjadi di antara mereka,yang jelas keduanya tampak serius tanpa sebarang basa-basi.Hilya dan Dania melangkah mendekati kakak mereka masing-masing dengan napas lega.


"Kakak,apa kalian baik-baik saja?"sapa Hilya pura-pura tersenyum ramah.Menyembunyikan gejolak rasa khawatir di dada.Padahal dirinya sendiri saat ini bagai disambar arus deras yang siap menyeretnya ke dasar danau yang terdalam.


"Kau di sini dek?"sahut Helmy terperangah melihat kehadiran dua gadis cantik di hadapan mereka.


Hilya mengangguk pelan,"bapak mencari keberadaan kalian."ucapnya sembari melirik ke arah Danang yang hanya memandang ke depan dengan tatapan kosong.


Dania menyikut pinggang Hilya seraya berbisik,


"Kau datangi kakakku,dan soal kak Helmy biar aku yang urus,oke."


Hilya berbalik menatap ragu ke wajah Dania.


"Cepatlah,sana!"tambah Dania mantap sembari mengangguk meyakini Hilya bahwa semuanya akan baik-baik saja.


"Emm....,kak Helmy,ini tempat wisata apa ya?"Dania memulai aksinya.Gadis itu segera mengambil posisi siaga menarik lengan bapak dua anak itu.


"Oh,ini namanya taman wisata Danau Kasih Sayang."balas Helmy mulai tersenyum.


"Nama yang unik,ya kak.Memang sudah dari sanakah,namanya itu?"ucap Dania ingin tahu.


"Ada mitosnya di zaman nenek moyang dulu dek,katanya sih.Ada sepasang anak muda yang saling jatuh cinta,tapi cinta mereka dihalang oleh orangtua.Akhirnya mereka sama-sama memutuskan untuk meceburkan diri,lalu menghilang ke dasar danau ini."jelas Helmy panjang lebar.


"Oh ya,seram gitu tapi so sweet ya.Pantas saja namanya unik,Kasih Sayang."ucapnya seraya memeluk dirinya sendiri,


"Semoga pasangan kekasih yang datang ke sini tidak terjebak dalam mitos menceburkan diri ya kak,ya."lanjutnya bergidik.


"Nah,itu dia.Dulu sering kejadian,ada pasangan kekasih yang tiba-tiba menghilang begitu saja.Hingga para orangtua membuat 'ritual belanga' untuk memanggil mereka kembali ke dunia nyata.Sejak saat itu,nama Danau ini diubah menjadi Danau Kasih Sayang.Tujuannya agar menghindari kejadian buruk yang bisa saja menimpa setiap pasangan kekasih yang main kemari."


Dania mencoba berbagai macam cara agar bisa mengajak Helmy pergi bersama dengannya,meninggalkan Danang bersama Hilya di sana.


Sementara Danang sedari tadi memperhatikan tingkah aneh sang adik yang menurutnya mulai centil dan lebih peduli kepada orang baru ketimbang dirinya,membuat hati kecil pemuda itu merasa terabaikan.Pemuda itu merasa perlu memperbaiki sifat adiknya.


"Nia,kenapa masih di sana?...Cepatlah,pulang sana!"seru Danang kesal.


"Kepalang tanggung kakak,mumpung sudah di sini,aku keliling dulu,boleh ya."sahutnya seraya menarik pergelangan tangan Helmy dan segera beranjak dari sana,


"Aku rasa sudah saatnya kita beri mereka waktu untuk saling bicara dari hati ke hati kakak Helmy."ulas Dania sembari mengedipkan mata ke arah pria dua anak itu.Senyum simpul menghiasi wajah imutnya membuat Helmy yang awalnya rada bingung,akhirnya mengerti bahwa gadis itu sekedar memasang trik untuk mendekatkan sang kakak dengan adiknya.Helmy sedikit kesal,namun akhirnya bisa menerima kenyataan itu.


Kembali kepada Hilya dan Danang....,gadis itu berupaya sebisa mungkin untuk melangkah mendekatinya.


"Stop,jangan mendekat!"bentak Danang kesal.Meskipun ketinggian suaranya hanya mereka berdua yang mendengarnya.Namun sukses membuat Hilya tersentak kaget,


"Untuk apa kau kemari,rupanya kau sangat ingin memamerkan sifat liarmu itu kepada semua orang dengan keluar rumah di malam hari,atau...,"


ucapan yang dijeda berganti dengan sorot mata yang memindai tubuh gadis itu dari ujung kaki hingga ujung rambut,


"atau...,sepertinya kau juga tidak tahan jika tidak melihatku kan,"tambahnya sinis penuh percaya diri.Membuat gadis itu sekali lagi merasakan sakit yang mendera pada ketulan daging kecil,di bagian dalam dada yang tengah berdetak.


"Maaf,aku hanya ingin memastikan,apa kau baik-baik saja...,dan....,"ucapannya menjeda,


"apa kakakku juga menyakitimu?"lanjutnya ragu.


Danang mendengus kesal,


"Tidak perlu sok perhatian kepadaku,kau senang kan melihat kakakmu yang sok pahlawan itu memukuliku."umpatnya geram.


Hilya menggeleng,


"Aku baru dengar dari Dania jika kau sudah pernah bertemu dengan kakakku sebelumnya...,dia juga menceritakan soal kejadian di ruang meeting itu hingga aku merasa tidak seharusnya membiarkan kalian berdua sendirian di ruang tamu tadi."jelas Hilya pelan dan menerawang.


Danang tersenyum sinis,


"Hhh..,cih!..,kakak dan adik sama saja,sama-sama mencari kesempatan untuk memenangi hati keluargaku."Danang yang semakin marah tidak bisa mengontrol emosinya,


"Heh,dengar baik-baik gadis liar!...,jangan pernah mengajarkan sesuatu yang buruk kepada adikku,dan perlu kau ketahui,bahwa kau itu tidak sepadan bergaul dengan adikku yang beradab."lanjutnya menohok hati dan jantung gadis yang masih mematung di depannya.


Siapapun akan sakit mendengarnya....,Hilya mendadak membuang pandangan ke sisi yang lain.Gadis itu tidak sanggup lagi menantang sorot mata elang yang semakin gelap menerobos jantung yang semakin terasa lukanya.Bibirnya seketika bergetar hebat,gadis itu tersenyun getir mencoba menahan gejolak dada yang kian membuncah.Air mata yang nyaris tidak terbendung lagi hampir saja lolos namun dengan sekuat tenaga ia menahannya,


Saat ini ia tidak ingin melakukan perlawanan.Rasa lelah tiba-tiba menggerogoti jiwanya,


"Ya,sudah...,tunggulah kakakku dan Dania di sini.Cepatlah ajak mereka pulang dan pastikan mereka pulang bersamamu....,aku akan pulang duluan."ucapnya pelan dengan nada pasrah.Gadis yang tidak sempat mengambil posisi duduk disamping calon suaminya itupun sejenak tertunduk lalu segera beranjak dari sana membawa sekeping hati yang luka.


Hilya berlari sekuat tenaga,menerobos malam gelap yang semakin larut.Membiarkan air mata yang lolos begitu saja mengucur lepas.Derita di dada yang mendera sahut menyahut berpadu dengan deru napas yang kian tersengal.Di tengah jalan setapak yang sunyi,sepi,gadis itu mendadak berhenti lalu berjongkok memegang kedua lututnya....,lantas mendongak memandang langit malam yang bertaburan bintang,


"Bintang!...,andai bisa memilih....,aku tidak akan memilih jalan hidupku yang begini!...,Ini terlalu sakiiittt..."ucapnya sebak.


Di ujung jalan setapak,Danang menatap gelap tingkah gadis itu secara mendetil.Langkah pelannya berjalan kian mendekat.Entah kenapa pemuda itu seakan tidak ingin membiarkan gadis tersebut tertatih sendirian di tengah malam gelap.


•••••


Bersambung....


Teman-teman sekalian.,tetap baca karyaku dan dukung jika berkenan ya...Ada yang salah boleh dititipkan di ruang komen.Nanti kuperbaiki.Terima kasih sudah saling dukung..semoga kita semua diberi nikmat kesehatan dan rezeki yang berlimpah...aamiin..


🤗🤗🤗