I Need You

I Need You
Terkuak



Happy reading 😍📖


Malam itu,happy weekend....,


Danang muncul di hotel Xx,Bintang Timur dengan wajah yang sengaja disamarkan oleh topi hitam di kepalanya,khas ala cowboy country.Tangannya tampak sibuk memutar benda berbentuk kubus yang dapat berputar pada poros.


Mengutak-atik,menyusun warna berbeda yang diacak menjadi satu warna yang serasi pada tiap enam sudut yang sama besar.Diulang-ulang dalam sepersekian detik,sembari sorot elangnya tetap mengawasi pergerakan target di depan sana.


Ya,pria yang menjadi targetnya itu,sedari tadi asyik mabuk-mabukan dan bercanda ria dengan seorang wanita muda,dan ditandainya sebagai Yeti Auliah,di area yang sudah ditentukan yaitu kafe Longue Bintang Timur.


Entah berapa kali ia telah menegak minuman beralkohol tersebut,dan sudah berapa botol yang berhasil dihabiskan oleh pria itu.


Danang menyeringai sinis,Kafe Longue menjadi saksi keberlanjutan aksi menuntaskan misinya.Meski rada pesimis,namun hatinya mencoba tenang dan berpikir positif.


Kini ia hanya bisa meyakinkan dirinya dengan ungkapan pamungkas,ada petuah lama yang mengatakan bahwa setiap usaha tidak akan pernah mengkhianati hasil.Dan Yeti adalah sosok penentu keberhasilannya saat ini.


Sejenak iapun melihat wanita itu memapah om Denis meninggalkan kafe Longue,pastinya sesuai rencana,ia akan mengajaknya menuju ke kamar hotel yang telah dipesan.


"Tuan Dany."


Danang mendongak dan betapa tertegun dirinya manakala mendapati sosok Yeti dengan pakaian serba tertutup berjalan maju dan menyapa dirinya.


"Jelaskan kepadaku sekarang."Danang melempar pandangan sulit dibaca sembari berucap datar namun menuntut.


Kini ia hanya berusaha menyembunyikan kebingungan di wajahnya saat memandang gadis di depannya dengan tatapan tidak yakin,seakan memberi kode kepada Yeti bagaimana mungkin kau berganti kostum secepat itu padahal baru saja aku melihatmu menggoda om Denis seraya berpakaian serba minim alias kekurangan benang.


Yeti yang sepertinya sudah hafal dengan ekpresi Danang yang ditujukan kepadanya,lantas menghela napas panjang,sembari berucap setengah berbisik,"Aku punya seseorang yang sangat lihai dalam urusan menjebak,"memberi kode kedipan mata demi meyakinkan boss yang tengah menghunus tatapan membunuh ke arahnya.


"Jadi bukan kau?"


Danang berkesimpulan bahwa bukan Yeti yang menjalankan pekerjaan beresiko tersebut.Yeti mengangguk pelan,"Dia Leny,orang kepercayaanku,"jelasnya tersipu,menahan malu di wajahnya yang memerah.


"Kau yakin berhasil?"


Lagi-lagi Yeti mengangguk yakin.Sebagian besar pekerjaan Yeti tuntas di tangannya,"Jadi percayalah,Leny akan baik-baik saja,"terangnya percaya diri.


Danang baru meninggalkan hotel pada jam dua dinihari setelah berhasil mendapatkan kembali semua barang-barang antik miliknya yang ia titipkan kepada Yeti,namun ternyata Yeti malah mengalihkannya kepada seorang wanita lain yang sekilas,tampak begitu mirip dengan dirinya.


"Terima kasih,atas kerja samanya."


..


Minggu yang cerah,Danang memasuki ruangan owner Wayans Group dengan pakaian biasa.Tidak menunjukkan kalau dirinya akan bekerja,melainkan ia datang karena memenuhi panggilan sang paman yang baru pulang dari negeri Mat Saleh,dan ini adalah tugas terakhir yang akan ia serahkan kepada sang paman.


"Om,baru sampai?"


"Ya,kau akan pulang hari ini?"


"Ya,om.Pekerjaanku sudah tuntas."Menyodorkan sebuah flash disk yang berisi rekam jejak yang ia dapatkan dari kamera pengintai,"Berkat bantuan Yeti dan kawan-kawan."lanjutnya tersenyum.


Tuan Amran menatap lekat wajah keponakannya yang mengambil posisi duduk bersebelahan dengan dirinya.Kemudian tangannya meraih benda yang dimaksud lalu memasangnya pada laptop.


Muncul wajah Denis Prayoga yang sedang dalam keadaan mabuk berat.Tampak wajahnya yang semringah dengan tubuh setengah telanjang.Suaranya meracau tidak karuan,


"Ke marilah,sayang.Aku sudah tidak tahan lagi."


"Santailah,tuan.Kau pria kaya raya,aku suka itu."Suara seorang wanita muda yang tidak kelihatan wajahnya mendayu-dayu memuja ke telinganya.


"Aku kaya?Kau bilang aku kaya?"


"Ya,kau kaya raya.Wanita sepertiku sangat membutuhkan pria kaya seperti dirimu."


"Ya,aku memang kaya....,sangat kaya.Hhhhh."


"Dari mana kau mendapatkan harta sebanyak itu?"


"Kerja keras....,kerja berat....,hahaahaaa....,kerja berat,kerja keras."


Sejenak mimik Denis berubah sendu,"Amran terlalu bodoh menempatkan diriku di posisi tertinggi.Kepala divisi keuangan perusahaan."


"Hah,Aku bisa memanipulasi data sesuka hatiku.Pengeluaran yang kubuat tanpa ia sadari sudah mencapai milyaran rupiah.Memanfaatkan cek yang ada,lalu memalsukan kualitas barang kemudian menjualnya kembali dengan harga kompetitif."


"Mengarahkan YP dan DA untuk memenangi tender dengan cara yang tidak sehat.Semua itu sangat mudah....,"


"Amran mempermudah jalanku.Apalagi sejak si bocah bodoh itu kubuat celaka hingga mengalami koma berkepanjangan.Keuntungan yang kudapat semakin besar."


"Kau pria hebat,penuh tantangan.Aku suka pria seperti itu."


"Hhhhhh....,kau tahu Len,berapa banyak wanita yang kugoda dari hasil jerih payahku ini?"


"Sejak isteriku meninggal,duniaku hancur.Isteri baruku membuatku bangkrut,duitku habis karena dia.Anak-anak menjauhiku karena dia.Perusahaan mendiang isteriku pailid di tangannya."


"Jalan satu-satunya adalah memanfaatkan Amran untuk mendapatkan apa yang kuinginkan."


"Duitnya kupergunakan untuk berbagi kepada mereka yang menganggapku ada."


"Sisanya kugunakan untuk berfoya-foya bersama wanita-wanita muda yang cantik,"


Ya,cantik.Sangat cantik seperti dirimu Leny."


Tuan Amran menutup kasar laptop miliknya.Tampak raut wajah yang memerah padam.Amarah jelas membuncah,itu diperjelas dari tangannya yang kian gemetar membentuk kepalan tinju.


"Sial kau Denis!"


"Akan kubalas perbuatan biadapmu."


"Akan kubunuh kau,kalau sampai Dimas tidak tertolong."Sebutir bening air mata lolos begitu saja dari kelopak paruh baya yang tampak tegar padahal sebenarnya sangat rapuh.


Danang menghela napas berat,"Jadi selama ini Dimas sakit,om?"Danang dengan ekspresi sedihnya,"Kenapa om tidak memberitahuku?"Memberondong pertanyaan bertubi-tubi,"Seharusnya aku diberitahu,om."Merasa terabaikan oleh keputusan sang paman.


Logikanya bahwa andai ia tidak menerima tugas penting membantu sang paman,berarti sampai kapanpun Danang tidak akan pernah mengetahui kondisi sepupunya itu.Padahal betapa dekatnya mereka berdua selama ini.Posisi Dimas di hatinya sudah sama seperti Dania,adik kandungnya sendiri.


"E....,maaf,bukan maksud menyembunyikan ini darimu,nak."


"Tapi berlaku untuk semua orang,Om hanya tidak


ingin berita ini terkuak lalu ada yang mengambil kesempatan di dalamnya.Sementara saat itu masalah adikmu dengan Vania masih belum tuntas."


Danang menghela napas berat,"Aku juga baru dengar langsung dari Vania kalau Dimas tidak jadi menikahinya,dan...."


Tuan Amran seketika itu juga memotong ucapannya,"Hubungan Dimas dan Vania tiba-tiba memburuk,"


"Om tidak tahu,ada masalah apa di antara mereka berdua dengan dirimu."


"Tapi kalimat terakhir yang om dengar sebelum adikmu kecelakaan,dia sempat bilang kalau kau membencinya karena Vania,dan kau menolak berkomunikasi dengannya."


Danang tampak mengerutkan kening,"Lalu,di mana Dimas sekarang,om?"


"Untuk sementara om sudah menitipkannya pada orang baik.Dia aman bersama gadis baik itu.Om akan segera ke sana,sepulang dari sini."


"Eh,yang punya isteri,sombong.Tidak berniat memperkenalkannya kepada pamanmu ini?"


"Papa bilang,Om yang menolak hadir ke pesta pernikahanku,kan."


"Bukan,lebih tepatnya saat itu om hilang arah karena Dimas sedang sekarat,"


"Kapan-kapan,ada waktu om akan ceritakan semuanya ke kamu secara mendetil."


Danang mengangguk tanda mengerti,"Ya,bisa dimaklumi.Oke,kapan-kapan akan kuajak isteriku bermain ke rumah dan....,"ucapnya menjeda,"menjenguk Dimas."lanjutnya dengan ekspresi sulit ditebak.


Perumahan elit Premium.


Hilya baru usai berendam di bak mandi dengan aroma lavender yang menyeruak dari busa air hangat yang ia gunakan.Aroma segar sabun wangi menyelinap masuk ke dalam pori-pori kulitnya menguar ketenangan sendiri.


Kini saatnya ia mempersiapkan diri untuk menyambut kepulangan sang suami.Tujuh hari,bukanlah waktu yang singkat bagi pasangan baru yang baru berdamai dengan hati.


"Bundaaa....,"pekik Juna dari ujung pintu manakala dirinya baru saja usai berdandan cantik.


"Eh,anak bunda yang cakep,sudah pulang."Menyambut sang bocah yang sigap melompat ke dalan dekapannya.


"Bunda ke mana saja,Juna rindu berat."Juna dengan kebiasaan membenamkan kepalanya ke tubuh sang bunda.


Hilya terkekeh geli,"Bunda ada urusan,nak."


"Bagaimana acara nginap di rumah tante?"


Juna menjawab antusias,"Asyik bunda,ada foto Juna juga di sana."


"Oh,ya?Ceritakan ke bunda.Juna sama siapa di foto,sama bunda kah?"


Juna menggeleng pelan,"Bukan,Juna di sana seumuran dengan tante Nuhizz,lebih gede Juna,malah."


"Oh,ya?"


Hilya menoleh memandang wajah Nuha yang sedari tadi sudah berdiri di depan pintu kamar.


"Papanya?"Hilya berucap tanpa mengeluarkan suara.


Nuha tersenyum masygul.Gadis itu tampak mengangguk pelan pertanda tebakannya benar.Juna melihat foto almarhum ayahnya lalu mengklaim bahwa itu dirinya.Namun senyumnya jelas memastikan semuanya baik-baik saja.


Hilya manggut-manggut mengerti.


"Juna mau ke nenek Nung sama opa Madi dan opa Rudi,Juna rindu sama mereka."


"Oh,baiklah sayang.Hati-hati ya sayang,"


"Awas,nak.Jangan lari-lari,nanti jatuh."


"Baaaikk bunda."Jawaban menggemaskan dari kejauhan membuat Hilya hanya menggeleng-geleng.


"Bagaimana kau bisa lolos dari rumah itu?"Nuha dengan pertanyaan ketusnya.


"Aku kabur sebelum semuanya bangun."


"Ah,terima kasih,aku sudah merepotkanmu."


"Kau anggap apa aku ini,hah....,sudah seperti orang lain saja?"Nuha dengan nada protes,"Hei,Juna adalah keponakanku.Justeru kamilah yang telah merepotkanmu selama ini,"ucapnya sendu,"Suamimu sebentar lagi sampai,kan?"


Hilya mendengus berat,"Entahlah,si bapak menyebalkan itu sudah membuatku terjebak masalah dengan suamiku sendiri."


"Entahlah,bagaimana aku menjelaskan semua, nantinya."


"Kalau begitu,aku pamit pulang saja.Aku tidak ingin menyaksikan kemarahan suamimu yang sangar itu."Nuha dengan ekspresi bergidik ngilu.


"Ah,dasar kau,nenek."Hilya menggerutu sebal.


Di hari yang sama....,


Saat mentari pagi nan cerah menyambangi langit kota D....Settingan dua jam lebih awal dari suasana di Perumahan Premium dan Wayans Group.


Manakala cahaya kemilau menerobos malu-malu menembusi kamar utama Permata R.Tampak seorang pemuda jakung bertubuh kurus dan berwajah pucat sedang menggeliat memandang sekelilingnya.Matanya perlahan mengedar mencari-cari sumber yang dituju.


Alunan musik lembut yang berasal dari denting piano 'Walking in The Rain' jelas mengalun merdu menyapa gendang.Jemari lemahnya yang kian bergerak-gerak seakan memberi pertanda bahwa ia ingin segera bangkit dari tempat ia berbaring.


"Kau sudah bangun,nak?"Suara wanita paruh baya itu menyapa lembut ke telinga sembari melangkah mendekati.


Tanpa menjawab,pemuda itu lagi-lagi mengedar pelan mata dan wajahnya.


"Kau mencari sumber suara itu,nak?"Menunjukkan arah speaker aktif yang sudah tidak pernah aktif lagi setelah dirinya mengalami koma.


Dimas tampak mengangguk lemah.


"Kau merindukan aktivitas mingguanmu,nak?"


Dimas tak bergeming.


"Apa kau ingin sesuatu?Katakan,bibi akan mengambilkan untukmu."


"Siapa dia?"Gelegar suara itu perlahan mulai muncul membuat wanita paruh baya itu tampak tersenyum haru.


"Gadis itu kah?"


Dimas mengangguk.


"Namanya Hilya,dia baru saja pergi."


"Ke mana?"


"Pulang ke rumahnya,tapi dia akan datang kembali setelah urusan di rumahnya selesai."


"Di mana mereka?"


"Papa dan mama sedang ada urusan di perusahaan,nak."


"Mereka akan segera pulang dalam beberapa hari."


Dimas mengangguk lemah,seakan dirinya mengetahui sesuatu yang terjadi.


"Dokter akan segera datang untuk memastikan apa hari ini kau sudah bisa menghirup udara luar atau belum,"ujar bibi Riska yang setia menunggu jawaban darinya.


Kini memory yang terputar di kepalanya adalah saat empat bulan lalu di mana sebelum peristiwa mengenaskan itu menimpa dirinya....


.....


Bersambung....


🤗🤗🤗