I Need You

I Need You
Pertemuan



Hari berikutnya....,


Wanita berparas cantik itu sedang asyik berjalan memasuki kamar utama seraya membawakan bubur nikmat buatan bibi Nunung untuk Dimas.Dari balik pintu,Dimas yang sudah sedia di kursi roda,mendapati wanita tersebut tampak semringah dan bibir ranumnya sedang komat-kamit membicarakan sesuatu.


Sepertinya ia tengah melakukan sambungan suara bersama seseorang di seberang sana.Di balik suara yang lantang,lawan bicaranya juga tidak kalah lantang.Keduanya larut dalam canda tawa yang menggembirakan.


Semuanya kedengaran jelas karena wanita itu memang sengaja mengaktifkan speaker demi menghidupkan suasana pembicaraan mereka.


Di sela langkah yang santai,ia masih sempat melirik singkat ke arah Dimas lalu melemparkan senyum nan memukau hati maskulinnya.


"Ya,akan kutraktir minggu depan."


"Waktunya berdua?"


"Hanya kita berdua,"


"Tampaknya,Juna betah bersamaku."


"Ya,semoga kelak dia mau tinggal di sana."


Dimas menangkap kejanggalan di sana.Langkah yang baru saja terhenti di depan nakas,dan tangan yang sigap meletakkan bungkusan bubur ayam di atasnya,tiba-tiba tubuh wanita itu limbung.


Tangannya gemetaran sembari memegang dahi yang tampak mengerut tajam.Sesaat ia mengerjap berulang-ulang seakan pandangannya berkunang-kunang dan....,


Brukkk


Tubuh langsing itu sukses terjerembab ke lantai.


"Hilya!"Dimas memekik kaget.


Demi apapun,rasa cemas luar biasa menggerogoti hati dan pikirannya saat ini.Niat hati ingin bergegas menolong,namun apa daya dalam kondisi yang tak berdaya,ia sama sekali tidak mampu melakukannya.


Namun begitu upaya tetaplah upaya.


Di tengah rasa khawatir yang membumbung,dirinya melakukan pertolongan semampu mungkin kepada gadis yang telah mempertaruhkan segala sesuatu demi hidupnya.


Dalam kepanikan yang membuatnya nyaris blank,bayangan akan kecelakaan tunggal yang dialami tiga bulan lalu tiba-tiba terekam jelas di memorinya otaknya,membuat jiwanya terguncang.


Raganya sontak gemetaran.Keringat panas dingin membasahi sekujur tubuhnya yang menggigil.Kini ajah pucat itu bertambah dua kali lipat dari biasanya.


Perlahan tangannya menggerakkan kursi roda demi meraih tombol darurat dan meminta pertolongan.Tatapannya mulai nanar dan perlahan menggelap.


Untung bibi Riska datang tepat waktu lalu memapah dirinya ke pembaringan,kemudian memanggil paman Fendy segera memberi pertolongan lanjutan kepada Hilya yang masih tergeletak di lantai,bibi Riska ikut bergerak mendekati tubuh gadis yang tak sadarkan diri.


Melirik singkat ke samping dan mendapati ponsel yang masih aktif.Masih terdengar suara panik seseorang dari seberang,


Hilaf....,jangan bercanda,


Kenapa Hil,ada apa....?


Hilya?


Sejenak ia memilih mengabaikan suara cemas dari seberang.Kini perhatiannya kembali tertuju kepada paman Fendy yang mulai membopong tubuh Hilya,"Pindahkan ke kamar tamu,"ujarnya lantang,disambut dengan anggukan pasti dari sang supir pribadi,"Baik,kak."


Langkahnya sigap mengekori pergerakan paman Fendy,sementara jemarinya sigap mengutak-atik benda pipih di tangannya yang lain,hingga muncul nama yang tertera di layar siaga,"Memanggil Dokter Maulana."


Usai berbicara dengan dokter Maulana,bibi Riska sigap menyapa seorang gadis yang setia menunggu di sambungan ponsel Hilya yang masih tersambung.Gadis itu tidak lain adalah sahabatnya,Nuha Izz.


"Hallo nak,"


"Hallo seseorang,tolong jelaskan.Apa Hilya baik-baik saja?Please."


Kini ia merasa perlu memberi penjelasan dan informasi mendetil kepadanya,


"Apa anda keluarga gadis ini?"


"Saya sahabatnya."


Dua puluh menit berlalu,kedatangan dokter Maulana membawa angin segar bagi penghuni rumah Permata Elite yang sedari tadi dilanda kepanikan yang luar biasa.


Di mana Dimas yang tadinya baik-baik saja tiba-tiba kembali terbujur meski hanya dalam waktu yang singkat.Sedangkan gadis yang menjadi penyelamatnya malah tergeletak tak berdaya.


Sementara tuan Amran dan nyonya Mira sedang berada di luar negeri.Selang beberapa menit kemudian,Dimas mulai menunjukkan sinyal dari pergerakan jemarinya,"Tolong dia,"ucapnya lirih.


Hasil pemeriksaan dokter Maulana mengatakan bahwa,Dimas mengalami syok atas peristiwa tragis yang pernah menimpanya.


Memori pasien secara refleks menangkap sinyal masa lalu didalam kejadian mengejutkan yang dialaminya masa sekarang,"Ada kemungkinan pingsannya gadis ini menjadi pemicu memori traumanya berjalan."


"Bagaimana keadaan Hilya,bro?"Meski lemah Dimas melemparkan pertanyaan sebagai bentuk rasa khawatirnya kepada gadis itu.


"Menunggu hasil,"jawab sang dokter santai.


Beberapa menit setelah pemeriksaan berjalan,gadis itu belum juga menunjukkan tanda-tanda siuman.Entah apa yang membuat gadis itu pingsan,yang jelas kini Dimas hanya merasakan ada kepanikan tersendiri didalam hatinya.


Sungguh dirinyakah yang menjadi penyebab keadaan gadis itu drop?Kalau ya,alamat bakal dituntut oleh keluarga sang gadis dan lagi-lagi sang papa harus bertanggung jawab atas masalah ini.


Walau bagaimanapun,kesehatan gadis itu menjadi urusan dirinya dan juga keluarganya.


"Faktor kelelahan dan kurang istirahat,"Membuat gadis ini kekurangan imun tubuh,"Jelas dokter Maulana,"Jaga pola makan dan pola tidur yang teratur agar kondisi kesehatan tetap terjaga,"Menatap lekat wajah Dimas yang sudah mengambil posisi duduk di kasur.


"Kesehatan bunda sangat mempengaruhi perkembangan janin didalam rahim sang bunda."Merentang pendek kedua tangannya seraya mengedikkan bahu, seakan mengajaknya bercengkerama,"Apa mau dikata."


Dimas manggut-manggut mengerti,"Pantas saja dia kelihatan sangat pucat beberapa hari ini,rupanya dia hamil."Terjawab sudah pertanyaannya kini.Hilya benar-benar sudah menikah dan sebentar lagi bakal punya bayi.


"Terima kasih atas informasinya,"ujarnya tanpa menggubris maksud dari ekspresi sepupunya,sang dokter.


"Sudah kuberi suntik perangsang,biarkan dia beristirahat agar lekas pulih."Tambah dokter tersebut sembari menyodorkan satu paket komplet resep obat dosis rendah dan suplemen yang sudah ditakar olehnya,"Perbanyak stok sabar,"Menyikut pelan bahu Dimas,


"Demi menghadapi kemungkinan terburuk sekalipun."lanjutnya mengulum senyum.Namun disambut Dimas dengan sebuah decakan kecil tanpa senyum.


Di kamar tamu....


Saat Hilya membuka matanya,ia mendapati dirinya tengah terbaring di atas kasur.Bersamaan dengan seorang gadis yang baru saja mengetuk pintu dan menerobos memasuki ruangan kamar tamu,"Kau baik-baik saja,Hilya?"Meraba kening dan pelipisnya,cemas.


Hilya mengangguk pelan,"Kepalaku masih pusing."Mengulurkan tangannya seraya meminta agar Nuha membantunya untuk bangkit dari posisi berbaring.


"Jika begitu,sebaiknya tetaplah berbaring.Aku mengkhawatirkan keadaanmu."Pinta Nuha cemas.


"Aku baik-baik saja,kacang Nut."Hilya melemoar candaannya,"Kenapa kau cemas sekali?"lanjutnya mengerutkan kening.


Nuha mendengus kesal,"Dasar,kau memang tukang hilaf."Ia mendengar semua kronologi yang terjadi beberapa jam yang lalu lewat ponsel yang masih aktif.Mendengar tanpa menyaksikan sendiri,bukankah itu sebuah penyiksaan akut yang bakal membunuh secara perlahan-lahan?


"Kau ini,kita sedang berbicara dan kau kelewat gembira sampai pingsan,itu tandanya serius.Sudah sewajarnya aku panik."Melempar candaan yang serius.Hilya melengos.


Saat keduanya saling bercanda ria,tiba-tiba gagang pintu dibuka.Baik Hilya maupun Nuha sama-sama mengawasi ke arah daun pintu yang masih tertutup.


Sejenak suasana hening saat mendapati Dimas yang memasuki kamar tamu.Namun heningnya tidak berlangsung lama.Nuha Izz dan Dimas yang sama-sama saling pandang dengan kening yang mengerut tiba-tiba saling terperangah lalu melempar umpatan dari mulut masing-masing.


"Kau?!"


"Kau?!"


Pekik keduanya nyaris bersamaan.


"Kenapa berada di rumahku?"


"Kau apakan sahabatku?"


Lagi-lagi suara ketus tidak berperasaan itu beriringan memecah nyaris bersamaan membuat keduanya saling menautkan alis dan mengatup rahang.Sama-sama berang.


"Hah,gadis gila sepertimu punya sahabat sebaik dia?"Dimas menatap tidak percaya,"Bisa ketularan gila nanti."


Ucapan pedasnya justeru menyulut emosi Nuha,"Dan kau pria monster,diselamatkan oleh gadis sebaik dia?"


"Hah,kenapa bukan aku yang kebagian menolongmu,biar sekalian kusuntikkan racun kedalam tubuh kurusmu itu."Menggeleng penuh sarkas,"biar nggak bangun-bangun lagi."


"Apa kau bilang,mau membunuhku?Kugusur juga kau,biar ikut jadi tulang belulang."


"Yee....,dasar monster."


"Kau yang nenek lampir."


"Ehmmm....."


Tiba-tiba sebuah deheman keras dan panjang dari balik pintu yang baru terbuka membuat semua mata menoleh.....


.....


Bersambung....


🤗🤗🤗