
Happy reading 😍📖
Meski sudah terlewat dari jam yang seharusnya,Hilya tetap saja mendatangi rumah pria ngotot yang pada akhirnya ia ketahui sebagai paman kandung suaminya.Adik dari mertuanya sendiri.
"Berarti dia setingkat papa,"gumamnya pelan.
Kini iapun memantapkan langkah kakinya menuju ke pintu utama sembari menekan bell rumah seperti biasanya,
Ting tong
Maka seperti biasa pula bibi Riskalah yang setia menyambut kedatangannya di depan pintu dengan senyum semringah dan gaya santun.
"Selamat datang kembali,nona Hilya."Bibi Riska memberi anggukan hormat kepadanya.
"Terima kasih,bi."
"Ayo,saya antarkan."Namun Hilya lebih dulu mencegatnya sebelum ia benar-benar beranjak dari sana.
Seketika membuat langkah Riska terhenti,"Langsung saja ke tuan besar,ada mau kubicarakan dengannya."Pintanya sembari menyodorkan bungkusan berisi seporsi bubur ayam spesial buatan bibi Nunung kepada wanita itu,"Untuk Dimas,"yang akhirnya dikabulkan oleh wanita tersebut.
Padahal di dalam hatinya sangat berharap agar Hilya tidak terburu-buru pergi dan bisa segera mendatangi kamar utama milik Dimas.Ya,keberadaan wanita itu sangat mempengaruhi perkembangan kesehatan majikannya.
"Apa tidak sebaiknya mampir ke kamar utama dulu,nak?"Menyambut bungkusan tersebut sembari melemparkan pertanyaan mengandung umpan.Tentunya setelah mengucapkan,"Terima kasih atas bubur ayamnya."
"Mampir,bi....,tapi setelah bertemu tuan besar dan nyonya."
Bibi Riska kini sudah menarik lengkung samar di bibirnya,"Baiklah,nona.Silakan,tuan dan nyonya ada di ruang sebelah sana."Sembari mengarahkan telunjuk ke arah ruangan terbuka yang bebas dijangkau oleh pandangan dari lantai dasar.
"Oh,baiklah.Terima kasih,bi."
Kini langkah kakinya secara bergantian membentuk gerakan seirama dari sepatu kets yang membentur lantai,menciptakan musik khas lalu mengundang perhatian sepasang suami isteri yang tampak lebih bugar dan ramah dari pertama kali bertemu dengannya.
"Luar biasa!"Seru sang pria ngotot dengan tepuk tangan berirama selow demi menyambut kemunculan dirinya.Senyum takjub menyirat penuh arti di wajah paruh bayanya yang sekilas,tampak seiras dengan sang kakak kandung,tuan Imran.
'Pantas saja tampangnya tidak asing,'batinnya kini menggumam ria.
"Ugh!....,anak tante datang lagi deh,gemes."Tante Mira berjingkrak ria.
'Sok kenal,sok dekat,bukan?'pikirnya sinis,namun segera ia menepis jauh pikiran runyamnya,'Awas kualat sama orangtua.'desisnya geli.
Tante Mira meneroboskan diri menyambut dirinya ke dalam dekapan hangat,bak seorang ibu yang baru saja bertemu dengan puterinya setelah sekian lama tidak bersua wajah.
"Terima kasih,"bisiknya parau,nyaris tidak kedengaran karena dibarengi isak tangis yang tiba-tiba memecah begitu saja.
Sejenak ia matanya melirik singkat ke arah tuan Amran yang terpana menatap wajahnya,masygul.
Ada pancaran senyum di balik wajahnya,namun satu hal yang membuat jiwa rentannya ikut terusik,manakala melihat satu bulir bening itu.Ya,air mata sang bapak ikut lolos di wajah bersihnya yang tampak mulai terawat.
Sebuah pembuktian dari bentuk peduli dan kasih sayang yang kuat dari sosok seorang ayah yang penyayang terhadap anaknya.Membuatnya merasa berdosa telah menilai dan memanggilnya dengan sebutan bapak unik, jjuahhatt.
"Semuanya akan baik-baik saja,tuan dan nyonya,"ucapnya santun.Matanya masih memindai wajah bersih yang memberi ketenangan tersendiri kepada dirinya saat ini.Tidak bisa ia pungkiri itu.Namun di sana ia justeru menangkap satu sorot tak terbaca artinya,meluncur dari manik paruh baya tersebut.
"Eh,ralat.Mulai saat ini panggil kami om dan tante."Perintah tak terbantahkan keluar begitu saja dari mulut wanita paruh baya yang kini menatapnya dengan senyum keibuan.Cantik sempurna.Benar kata suaminya kalau tante Mira sebenarnya ramah senyum.
"Kau apakan anak tante,hingga semudah itu dia sadar dari komanya?"Tante Mira dengan nada cerewet khas ala emak-emak,membuatnya seketika tertawa canggung.
"Tidak diapa-apakan,tante."Masih dengan tawa canggung,"Hanya menjalankan terapi bicara seperti yang seharusnya."lanjutnya malu-malu dengan rona merah menyembul di wajah cantiknya.
Melihat perlakuan baik dari kedua orang tua itu,seketika membuat hatinya menghangat.Hilya kini merasa tidak tega untuk menyatakan tujuan kedatangan dirinya kemari.
"Apa yang kau minta,katakan."Tuan Amran membuka perbincangan setelah mereka berhasil mengambil posisi duduk di sofa dan berbincang empat mata.Sementara nyonya Mira baru saja pergi menghadap tim dokter yang datang mengontrol kondisi Dimas.
"H_hanya mau mengatakan kalau setelah hari ini,tugasku selesai.Dan tidak akan pernah kemari lagi,"ucapnya rada gugup.
Tuan Amran yang tadinya sempat tersenyum,kini menampakkan senyum datar,"Jika aku mengajak bernegosiasi,mau?"
"Maksud tuan?"Menatapnya bingung.
"Kau boleh pergi selamanya asalkan kau bisa membuat puteraku tertarik pada seorang wanita dalam jangka waktu satu minggu."
"Kalau tidak bisa,maka kau tidak boleh pergi begitu saja."tambahnya kekeh.
Hilya terlolong,ditatapnya tak berkedip wajah bapak yang tiba-tiba kembali membuat hatinya jengkel,dan menjadi tampak begitu menyebalkan di matanya,"Maksud tuan mencarikan pasangan yang sreg untuknya,begitu?"Mengerling tak percaya akan apa yang baru saja didengarnya,"Negosiasi macam apa ini?"gumamnya pelan nyaris tak terdengar.
Tuan Amran mengangguk singkat.
"Tapi apa mungkin anak anda bisa menerima seorang wanita tak dikenalnya dalam waktu sesingkat itu?"Hilya melakukan pemberontakan secara halus.Berharap ada keringanan dari sana.
Tuan Amran bungkam.
Sementara itu di kamar utama,Dimas yang baru usai diperiksa kesehatannya,mendapat kabar baik kalau dirinya sudah bisa diajak turun dari ranjang dan di bawa jalan-jalan keluar demi menghirup udara segar.
"Secara keseluruhan,hasil tes laboratorium bagus."Membantu pasiennya bangkit dari posisi berbaring,"Tinggal selangkah lagi,"Lalu membawa tubuh jangkung nan kurus itu perlahan duduk di kursi roda,"Perbiasakan secara perlahan melakukan pergerakan kecil hingga ototnya benar-benar kembali ramah dan berfungsi."
"Jangan lupa untuk terus mendekatkan ia pada oyek yang membuatnya cepat menerima rangsangan baik....,gadis yang waktu itu,contohnya."Tambah sang dokter dengan luwes sembari melirik singkat ke arah Dimas yang tampak masih berusaha mencerna sesuatu.
"Jangan dipaksakan untuk berpikir keras,karena hanya akan membawa sakit di area kepalanya,"
"Gadis itu sangat bisa membantunya dalam hal ini."Gema suara dokter tersebut,lagi-lagi berhasil membuatnya dadanya semakin membusung ke depan.Entah dukungan jenis apa yang diterimanya,namun kini ia merasa sedikit memiliki kekuatan yang entah berasal dari kata pamungkas yang mana di antara sederet kalimat panjang milik sang dokter.
"Baik terima kasih,dok.Dengan senang hati kami mengamalkannya."Nyonya Mira mengucapkan terima kasih banyak sebelum akhirnya sang dokter pamit untuk beranjak,sedangkan dua perawatnya masih berkutat dengan resep yang sudah diberikan oleh sang dokter untuk pasiennya.
"Baik,lakukan yang terbaik,sembari menunggu hasil diagnosis scan otaknya."Dokter Maulana mengarahkan kepada wanita yang duduk berhadapan dengannya.
"Aku pamit,tante."Sang dokter yang tidak lain adalah keponakan nyonya Mira,generasi penerus dokter spesialis dari keluarga Amran.
"Baik,nak.Terima kasih."Mengantar dokter muda itu keluar dari kamar.
Sementara Hilya baru saja melewati sekat pembatas ruang multiguna dengan kamar utama.Pikirannya berkecamuk ria.Tidak habis pikir dengan sikap tuan Amran yang menolak keinginannya untuk tidak melibatkan diri kedalam urusan penyembuhan puteranya.
Bibirnya komat-kamit mengumpat panjang pendek.Permintaan mencarikan wanita untuk puteranya dalam waktu yang singkat,bukankah itu konyol.Zaman sekarang,mana ada perempuan bodoh yang mau dipaksa-paksa tanpa alasan yang jelas.Apalagi sandingannya dengan pasien yang kemungkinan sembuhnya sangat kecil.
"Apa tidak ada pilihan lain,tuan?"Hilya melayangkan protes secara halus di ruang multiguna tadi.Suasana yang awalnya biasa saja,berubah mencekam.Hingga akhirnya pria itu kembali bersuara setelah menciptakan keheningan yang cukup lama.
"Hanya ada satu pilihan yang tak terbantahkan."
"Sungguh,ide yang gila,"umpatnya kesal.Namun tidak mendapat respon apapun dari sosok yang duduk berseberangan di sana sembari melipat salah satu kaki jenjangnya dengan kaki yang lain digunakan sebagai penopang.
Maka mau tidak mau Hilya harus pasrah dengan keadaan,lalu berjanji pada dirinya untuk segera berbicara panjang lebar kepada suaminya sepulang dari sana.
"Baiklah,aku menyanggupinya."
"Oke,sekarang kau boleh minta berapa imbalan yang kau inginkan,"ungkapan datar yang entah kenapa terdengar begitu sinis di telinganya.Membuat harga dirinya ikut terseret.
"Ini ikhlas tuan,tapi jika anda menginginkan adanya transaksi,"berdiri dari posisi duduk,lalu memandanginya lurus,"Maka silakan dibahas kembali setelah putera anda sembuh total."Melangkah pergi dari hadapannya,tanpa permisi.Diikuti tatapan misterius sang bapak yang mengantar punggungnya hingga menghilang di balik dinding pembatas menuju ke kamar utama.
Ketentuan bersyarat,itu berarti pria paruh baya tersebut memang sengaja menghalangi pergerakannya,tapi untuk apa,toh urusannya untuk membuat puteranya sadar dari koma sudah selesai.
"Aneh saja tuh bapak.Sukanya menyiksa orang,"Mengangkat sepuluh jemarinya mencakar angin.Ya,anggap saja itu wajah si bapak ngotot.
"Jjuahhatt,"gumamnya di sela rasa kantuk yang tiba-tiba mendera.Itu benar,karena semalaman ia tidak bisa terlelap sedikitpun akibat ulah Danang yang mogok bicara.Belum lagi beratnya persyaratan yang diajukan tuan Amran membuat kepalanya terasa bergelembung panas.Rasanya ingin pecah saja.Kalau sudah begitu,maka berteriak sekeras mungkinpun tidak menjamin semuanya kembali normal.
"Siapa yang jahat?"Gelegar suara yang cukup pelan namun tepat di ujung telinga,membuat tubuhnya yang rada lemas,seketika limbung dan kehilangan keseimbangan.
"Ah,itu.Kucing galak."Pekik Hilya yang sudah siap terjerembab,"Auw....,sakit."Meringis kesakitan.
"Apa anda dalam masalah?"Suara jernih itu kembali menggema dari seorang berpenampilan bersih,suara tegas,rahang kokoh,wajah bersih dan juga tatapan teduh yang mencerminkan kewibawaan seorang dokter di balik jas putih kebesarannya.Dialah dokter Maulana yang tengah mengulurkan tangan,menawarkan bantuan kepada Hilya untuk berdiri.
Hilyapun menerima bantuan pria itu,"Tidak pak,semuanya baik-baik saja."Balasnya saat tubuhnya sudah diposisi berdiri,"Terima kasih,pak."
Sang dokter mengangguk,"Jika ada yang lebih istimewa dalam urusan kemanusiaan,itu ketika kau menyelamatkan nyawa seseorang yang sangat membutuhkan kehadiranmu,"ujarnya usai membalas ucapan terima kasihnya dengan mengatakan,"sama-sama."
"Kau sudah menjalankan setengah dari tugas mulia ini,"
"Sesuatu telah membuktikan,bahwa dia mengharapkan kehadiranmu,"
"Maka tuntaskanlah,dan ikhlas,itulah kuncinya,"lanjut sang dokter kalem,sebelum ia benar-benar berpamitan di saat kedua asistennya keluar dari kamar,lalu menyapa dan mengajaknya pergi.
Hilya menatap kepergian dokter dan dua perawat itu tanpa kedip,"Setengah dari tugas mulia,mengharapkan kehadiran,tuntaskan dengan ikhlas."Bergumam sarkas,"Apa hubungannya denganku?"Tambahnya makin bingung.
Di Kamar Utama,
Hilya baru membuka pintu kamar dan menerobos masuk begitu saja.Seorang pria jangkung yang duduk di kursi roda kini terpana menatapnya tanpa kedip.Seulas senyum samar menyemat di bibir pucat tersebut,namun masih bisa dibaca olehnya.Pancaran sorot redup itu juga seakan tengah memohon belas kasihan darinya,sembari berkata,"Tolong aku."
Katakanlah seperti seorang ibu penggenggam nadi yang memberi hak hidup kepada seorang bayi mungil yang sedang sakit tak berdaya sembari mengucapkan harapan,"Cepat sembuh anakku sayang."Miris.
Memangnya siapa dirinya hingga orang itu tampak begitu mengharapkan keberadaannya,seolah sedang memintanya untuk,"Tetaplah di sini."Padahal jemari sang ibu yang telah melahirkan dirinya masih saja terulur manis membelai rambut kepala dan punggungnya,begitu telaten.
Lalu mengapa kini dirinya pula menjadi tumpuan harapan penyembuh sakit seseorang yang tidak memiliki hubungan darah atau apapun dengan dirinya.
Ah,inikah inti sari yang termaktub dalam kalimat panjang lebar sang dokter muda nan tampan tadi,"Sesuatu telah membuktikan,dia sangat mengharapkan kehadiranmu."
Lalu ini jugakah maksud yang tersirat dalam ucapan tuan Amran di ruang multifungsi tadi,"Jika aku mengajakmu bernegosiasi,mau?"Sedangkan permintaan agar mencarikan seorang wanita untuk puteranya hanya alasan belaka demi menghalangi langkah yang diambilnya.
Seorang ayah yang kalap lantaran kehilangan cara demi mempertahankan sesuatu yang sangat dipercaya bisa menyembuhkan penyakit anaknya.
Sehingga itu juga alasan yang membuat sang bapak berani bertindak semaunya,lalu secara sepihak menentukan peraturan untuk ia jalani,"Hanya ada satu pilihan yang tak terbantahkan."
"Huh,pusing."Hilya mendengus pelan.
....
Bersambung....
🤗🤗🤗