
Happy reading 😍📖
Suasana langit kota D Yang cerah....
Di sebuah rumah mewah dua lantai bergaya masa kini,seorang gadis cantik tengah sibuk membereskan tata ruangan yang sudah ia mulai sejak pagi.Keringat mengucur deras di kening dan wajah cantiknya.Tampak sesekali ia menyeka keringat dengan handuk kecil yang menggantung di bahu mungilnya.Rambut pendek sebahunya sengaja dikuncir kuda menambah kesan seksi pada leher jenjangnya yang ikut lembab tersapu keringat.
"Juna,dapat mainan baru lagi?"tanyanya sesaat setelah merasakan kehadiran bocah tersebut.
"Ya,bunda.Opa yang pernah Juna tumpahi minuman ke jasnya itu,"mengarahkan mobil listrik lamborgini mendekatinya,"dialah yang belikan untuk Juna,bun."lanjutnya berhenti tepat di depan sang bunda.
Gadis yang tidak lain adalah Hilya,tampak berpikir keras,
"Ya,ingat,sayang.Eemm...,gitu ya."Hilya berbalik memandangnya,"Juna tahu siapa opa itu,nak?"lanjutnya masih gencar beraktivitas.
Juna menggeleng,"Opa itu suruh dipanggil opa Hadi."memutar mobil listriknya,"Pas sama oma ketemu di taman hiburan kemarin.Opa itu sangat baik bunda."lanjutnya sembari melesat jauh meninggalkan sang bunda sendirian.
"Opa itu papanya tante Izz,nak."ungkapnya setengah memekik.
"Oh....,pantas saja bunda.Tante Izz juga sangat baik macam opa Hadi."balas Juna dari jauh.Senyum semringah menghiasi wajah mungilnya.
Hilya tampak sibuk beraktivitas membenahi rumah mewah yang baru mereka tempati beberapa hari,semenjak kejadian kakinya terkilir.Suaminya sengaja membeli rumah baru untuk ditempati bertiga dengan Juna.Tipe rumah yang benar-benar sesuai dengan impian gadis itu.Hilya pernah bermimpi suatu saat nanti bakal membangun rumah seperti yang ia tempati saat ini.
Flashback on.
"Mulai besok kita pindah ke rumah baru di kawasan Pemukiman Premium."Danang menyatakan perintahnya,
"Aku sudah bicara panjang lebar dengan papa dan mama,"lanjutnya tidak ingin dibantah.
"Baiklah."Hilya menjawab pasrah,meski dalam hatinya masih ingin bertanya kepada suaminya,"Kenapa secepat itu?"namun ia urungkan manakala melihat suaminya memasang tampang empat belas.Hhhftt,nasib jadi isteri yang serba bergantung.
Akhirnya setelah melalui proses berpamitan dengan kedua mertuanya,Hilya dan Juna terpaksa rela meninggalkan ayah dan ibu mertuanya.Padahal hatinya tidak ingin dipisahkan dengan dua orangtua yang selalu membela dan menghibur dirinya ketika Danang melukai hatinya.
Kembali ke urusan rumah baru,padahal dirinya tidak pernah bicara buka-bukaan tentang rumah impian.Tahu-tahunya sang suami sudah membelikan itu.Entah untuk siapa rumah itu,atau memang karena faktor kebetulan dan memang selera Danang juga sama dengannya,yang jelas Hilya sangat menikmatinya.
"Kau sendiri ingin tinggal di rumah sebesar ini?"Hilya melemparkan pertanyaan refleks di saat mereka baru saja tiba.Juna yang super aktif,mulai berlari-lari memeriksa ruangan baru yang belum pernah dilihat sebelumnya.
"Ya,biar lebih leluasa menghukummu,"ucap Danang sekenanya,"Di rumah besar aku tidak bisa berbuat banyak karena ada papa dan mama yang suka membelamu dan menyudutkanku."lanjutnya menyeringai.
"Hahh?!Kau beli rumah sebagus ini hanya untuk menghukum diriku?"Hilya masih menyerangnya dengan pertanyaan refleks,"Apa kau tidak merasa dirugikan berlipat-lipat?"lanjutnya mengerutkan kening dengan sebuah senyum mengejek.
"Asal bisa menghukummu,maka semua kerugianku akan terbayar dengan sendirinya."
Hilya masih menyisir ke ruangan arah matahari terbit yang tampak memantul pencahayaan yang cukup,cocok untuk menerima sinar pagi.Ia menyapu pandangannya sembari mencebik,
"Dasar manusia monster,rugi duit malah dibayar dengan hukuman lari-lari keliling perumahan,kan mana lucu,"gumamnya sinis,"Yang ada malah tambah rugi."lanjutnya lebih tepat berbicara kepada dirinya sendiri.
Rumah berdesain interior modern dibatasi dinding kaca sebagai penerang alami,sangat indah dan enak dipandang.Beberapa ruangan dihiasi dengan sistem pencahayaan terang tetapi bernuansa lembut.
Perpaduan kombinasi warna cokelat muda,abu-abu,putih dan peach pada interior membuat tampilan keseluruhannya menjadi sederhana namun mewah.Ditambah penyatuan ruang keluarga dan ruang makan menggunakan konsep terbuka yang minim sekat,menimbulkan kesan kebersamaan.
Deretan rak buku membingkai laci bertingkat,tipe menempel dan menggantung pada dinding di ruangan khusus,lengkap dengan meja dan kursi sebagai paket lengkap perpustakaan mini.
Danang berbicara sedikit lantang agar bisa mencapai pendengaran Hilya yang tengah menyisir ke beberapa sudut ruangan,
"Mulai besok,tugasmu membersihkan seluruh ruangan ini,"mengambil posisi duduk di sofa,"Hitung-hitung buat membayar kerugian tabunganku yang sudah terkuras."lanjutnya sembari menyilangkan kedua kakinya.
Hilya mendengarnya,namun tidak ingin membantah.Dalam pikirannya saat ini adalah soal pikiran suaminya yang sudah buang-buang uang dan tenaga untuk membeli rumah besar yang hanya akan ditempati sendirian.Sedangkan dirinya maupun Juna belum tentu akan menetap di sana jika semua pilihan memang sudah jelas.Toh,suaminya juga yang bilang demikian.
Lalu jika ia berharap lebih untuk tetap tinggal bersamanya,lalu tiba-tiba suatu ketika Danang mengusirnya,maka paling tidak ia sudah punya persiapan menata hati dan mentalnya untuk hal itu.
Ah,atau bisa jadi Danang sengaja mempersiapkan rumah ini untuk wanita pilihannya,dan bakal keluarga kecilnya yang akan lahir dari rahim gadis pilihannya.Sebuah pemikiran yang menurutnya benar tiba-tiba muncul begitu saja membuatnya tersenyum getir.Gadis itu merasa perlu membicarakan hal itu kepada suaminya ini.
Hilya geleng-geleng kepala,"Ada baiknya kau simpan uangmu untuk membina rumah tangga bersama wanita pilihanmu,"melewati sofa yang di duduki suaminya,"daripada kau sia-siakan untuk sesuatu yang tidak berguna be_"
"Siapa bilang tidak berguna?"memeriksa sesuatu di dalam benda pipihnya,"bahkan sangat berguna untuk menyiksamu.Maka batinku juga akan puas."lanjutnya menyeringai licik.
Kedengarannya,sakit memang.Namun Hilya memilih tetap berpendapat daripada harus diam dan tinggal tadah,hanya akan membawa luka hati yang tidak bisa ia bendung.Gadis itu melengos,
"Hhh...,padahal jika kau mau,kau bisa mengusirku ke jalanan yang banyak premannya,atau bahkan di hutan rimba yang banyak binatang buasnya."berkacak pinggang,"Maka sekali siksa langsung lenyap dari pandangan.Akan lebih puas batinmu itu."lanjutnya menyeletuk gemas.Senyum mengejek lagi-lagi menghiasi bibir cherry miliknya.Semua itu tidak luput dari penglihatan pemuda yang duduk tidak jauh darinya.
Danang yang awalnya biasa-biasa saja,kini tersulut mendengar penghinaan isterinya.Pria itu tidak mau kalah,ia bangkit dan berjalan mendekatinya.Menghunuskan sebuah tatapan menerkam.Kemudian sigap menangkup wajah tirus itu untuk beradu tatap dengannya.Kini jarak mereka hanya sejauh lima senti meter.Hilya tertegun.
"Tidak semudah itu sayang,"meraba bibir ranum nya dengan jemari yang lain,"justeru menyiksamu pelan-pelan,itu yang akan lebih membekas di hati ini,"turun perlahan ke dada kiri gadis itu,membuat udara sekeliling seketika berubah menjadi panas.Sumpah,Hilya bahkan sadar bahwa Danang pasti merasakan debaran jantungnya yang berpacu tidak karuan dalam level tertinggi.Namun apa daya,sesuatu yang ingin meronta,merontalah tanpa sanggup ia bendung.Membuat wajah Hilya tampak memerah menahan malu.
Danang menyeringai sinis,mengeratkan tangkupan tangannya ke pelipis Hilya,
"Dan apa kau bilang tadi,wanita pilihan?"memicingkan mata,"Hhh...,baiklah.Mulai sekarang aku akan membuatmu menyaksikan sendiri dengan kedua matamu ini,bagaimana aku mencintai seorang wanita pilihanku."lanjutnya datar dan melepas kasar gadis itu kemudian berlalu pergi meninggalkannya.
Flashback off.
Mendengar dan mengingat ucapan Danang,Hilya baru menyadari kalau ternyata beberapa hari ini Danang memang sengaja mendekatinya.Menarik ulur suasana hatinya,lalu meletakkan beban birahi di dalam darahnya.Membuat dirinya jatuh cinta kepadanya,hingga suatu saat ia benar-benar tidak berdaya lagi,barulah ia akan membalasnya dengan mencintai wanita lain.
Membayangnya saja,hati Hilya sudah tersayat-sayat.Inikan pula kebenaran yang bakal dijalani dalam kehidupannya.Di ruangan besar yang menampung dirinya sendiri itu,Hilya menghentakkan kakinya berkali-kali sembari bergumam kesal,"Orang gila paling menyebalkan sejagat."Berharap didengar langsung oleh pemuda itu.
Semenjak kejadian itu,Hilya yang selalu memilih menjauh dari suaminya sangat didukung oleh aktivitas padat suaminya yang kerap pulang dinihari,lalu paginya berangkat lagi.Maka kesempatan bicara dan saling berdebat menjadi semakin berkurang.Setidaknya gadis itu bisa sedikit bernapas lega.
Dan kini,sudah tidak ada lagi yang namanya sandiwara di depan orangtua.Lagi pula untuk apalagi ia harus bersandiwara bermesra-mesraan dengan pemuda itu.Toh,di rumah ini tinggal Juna sendiri.Ya,hanya butuh sedikit waktu untuk bersandiwara di depan Juna.Sisanya bebas menjadi diri sendiri.
••••.
Bersambung...
🤗🤗🤗