I Need You

I Need You
Mendatangi Gadis Kecil



Happy reading๐Ÿ˜๐Ÿ“–


Dimas Yusdhistira Part II


Di tengah kegusaran yang mendalam,Dimas berusaha sebaik mungkin untuk meredam amarah yang menguasai dirinya.Jiwa maskulinnya serasa terkelupas bagai dikuliti belati tajam tak kasat mata.Egonya ikut tertantang untuk membuktikan sendiri kebenaran akan informasi yang ia dapatkan dari beberapa asisten yang diperintahkannya.


Dimas mengacak pelan rambutnya berkali-kali sembari mengumpat kesal,"Perlu membuktikan sendiri,"geramnya.


Dimas bukan tipe yang gampang uring-uringan atau hanya membuang-buang waktu kosong buat nelangsa atau sekedar untuk berbicara sendiri.


Berbeda dengan Danang yang baru akan menerima pekerjaan inti setelah puas mengencani hobinya,atau dengan kata lain menjadikan hobi sebagai sarana mendalami pekerjaan serta meningkatkan kepemimpinannya,Dimas malah sejak masih belia sudah tekun menggeluti pekerjaannya di sela menikmati hobi.Sungguh kharakter yang sama persis dengan sang ayah.


Bahkan sebelum lulus pendidikan menengah saja,keberadaan dan namanya sudah cukup terkenal di mata para kolega sang ayah.Sebagai hubungan sebab akibat dari kelihaiannya dalam menyelesaikan masalah,dan juga keaktifan menghadiri seminar yang dipercayakan sang ayah kepadanya.


"Itu,mudah."Senyum kecilnya selalu menunjukkan sikap optimis.


"Papa percaya kepadamu,jagoan."Tuan Amran dengan binar puas akan keyakinan dan percaya diri puteranya.


Alibi memperkuat bahwa Dimas pekerja ulet yang tidak suka menyia-nyiakan waktu untuk hal sepele,apalagi sampai merasa patah hati yang berlebihan.


Untuk itu,kalau sampai seorang Dimas malah sering uring-uringan dan suka berbicara tidak karuan pada diri sendiri seperti yang sedang dialaminya saat ini,maka anggap saja Dimas tengah mengalami skizofrenia tingkat tinggi.


Perasaannya kini sedang terluka.Hingga ia cenderung mengikuti kata hati yang tertindas ketimbang buah pemikiran jernih yang bisa mengarahkan otaknya untuk mencerna sesuatu dengan mengandalkan logika daripada perasaan negatif yang berkecamuk,sebagaimana yang selama ini dilakukannya.


Berbagai upayapun dilakukan,dan itu sama sekali tidak berhasil mengembalikan rasa percaya diri atas harga diri yang tergadaikan.Sisi maskulinnya kini benar-benar dilukai,ya,kali ini.Maka patut ia akui bahwa sekuat itulah pengaruh seorang wanita seperti Vania yang mengganggu ketenteraman hidupnya.


"Perlu disingkirkan ini,"gumamnya dengan rahang yang mengeras.Lagi-lagi sorot mata ikut menggelap.


Sementara waktu terus bergulir dan masalahnya ini perlu mendapatkan perhatian khusus.Ya,harus segera diselesaikan.Lebih cepat lebih baik daripada membiarkan luka hati yang kian menganga ikut terinfeksi.


Sesaat ia mencoba berdamai dengan hati,"Dia yang harus membantuku."Sekedar untuk menurunkan ego yang bermain di benaknya,seakan tengah mengejek,"Kau bukan pria sejati,melainkan seorang pecundang yang ingin lari dari masalah."Dalam pikiran yang bergelayut.


Demikian,jadi ada baiknya segera mengambil solusi agar tidak membiarkan masalah tersebut berlarut dan leluasa mengolok-olokkan egonya.Maka secara refleks timbul satu pemikiran yang cerdas,bahwa,"Danang."Dialah satu-satunya solusi terbaik,paling tidak bisa menjadi obat pereda rasa sakit yang kian menyiksa,meski pada kenyataannya tidak bisa menyembuhkan.


Berkali-kali jemari itu menekan tombol hijau lalu menempelkan benda pipih tersebut ke telinga,"Angkat ponselnya,Danang,"gumamnya resah di sepersekian detik yang bergulir....,"Hhhh....,"menyeringai sinis seraya membanting ponsel itu ke sofa,"Apa hubungannya masalahku denganmu,hingga kau harus repot-repot merespon panggilan dariku,huh?"Masih mengumpat kesal karena mendapati beberapa kali ada nada reject dari seberang.


Secepat kilat Dimas memutar otak,"Dania."Mungkin gadis kecilnya itu bisa membantunya membocorkan informasi tentang kabar keberadaan sang kakak.Tak perlu menunggu waktu lama,tangannya sigap mendail nomor yang sudah tertera di layar siaga,


"Hallo,dek,ini kak Dimas."


"Hei,kak Dimas....,hang ape pulak gerangan talipon ni....,aih,taklagi mimpi haku,kan?(tumben menelepon....,aih,aku tidak sedang bermimpi,kan?)"Dania berseru girang,menggoda kakak sepupunya itu dengan dialek khas tanah Mat Saleh dari balik sambungan jarak jauh.Sengaja biar seru.


"Saje nak talipon dek oi,tak boleh?rindu kan....,sibuk?(Sengaja menelepon dek,emang nggak boleh?Rindu,kan....,sibuk?)"Dimas ikut tergelak renyah.


"Bo-leh-lah kak,ape hal ni,taklah,tak sibuk kot,where are you?(Boleh,kak.Apaan sih,nggak sibuk kok,kakak di mana?"Masih terdengar sebuah kekehan panjang menggema.


"Kebetulan,Wayan Hotel.Jum lepak kot....,hang abang tunggu kat sini kaghang,(Kebetulan lagi di Wayan Hotel.Ketemuan,yuk.abang tunggu di sini sekarang,)"titah Dimas memelas.


"Haaaww....,surprise!Baiklah-baiklah,sekaghangpun tak kisah,(Haaww,kejutan!Baiklah kak,sekarang pun nggak masalah)"timpal Dania diikuti derai tawa menggelikan.


"Buruan,bawel."Memutuskan sambungan sepihak.


Tuttuttuttutttt


"Ish,apaan sih,kak Dimas main pergi-pergi saja, menyebalkan."Dania memberengut kesal.


Wayan Hotel.


"Ih rindunya,"Pekik Dania bersamaan meneroboskan diri ke dalam pelukan pemuda bertampang oriental yang tingginya lima senti di bawah sang kakak,Danang.


"Sama,"timpalnya sembari mempersilahkan gadis kecilnya duduk,lalu tangannya sigap melambai ke arah barista untuk sekedar memesan minuman kopi rendah efek,"Frappe."Ia paham betul selera adik kecilnya itu.


"Dari kapan,dengan siapa kemari?"Tanya Dania dengan gerakan celingak-celinguk mencurigakan.


"Semalam,sendirian,"menyambar cangkir kopi hitamnya,"Apa kabar om dan tante?"Menyesap nikmat rasa kopi hitam pilihan,sembari menunggu datangnya racikan kopi milik Dania yang di antar oleh pelayan.


"Lalu mas bro?"Tambahnya hati-hati.


"Lose contact,sulit dihubungi,"ucap Dania sembari memasang wajah murung.


Dimas mulai tertarik dengan jawaban adik sepupunya itu,kali ini ia perlu membidik tepat sasaran.


"Kenapa,ada masalah?"


Dania menggeleng pelan,"Sejak kecelakaan maut menimpa kak Lian,kakak jadi menutup diri dari semua orang."


Dimas manggut-manggut mengerti.Ya,bisa dipahami.Berarti Danang juga sedang dalam fase yang sama dengan dirinya.Sama-sama terpuruk,sama-sama terluka.


"Padahal sudah setahun berlalu,ya."gumamnya pelan seakan berbicara pada diri sendiri.


"Ini kali kedua,kakak terpuruk lho kak?"


deg


"Mungkinkah?"gumamnya nyaris tidak kedengaran.Apa itu berarti awal keterpurukan sepupunya itu ada hubungan dengan Vania.


Merasa mendapat peluang bagus,Dimas mencoba untuk tetap mengendalikan diri dan mengontrol napasnya senetral mungkin,"Pertama kalinya kapan?"


Dania tercenung,"Waktu masih SMA,ditinggal cewek pas lagi sayang-sayangnya."Kini kedua punggung telapak tangannya dibuat agar menopang dagu runcingnya.


deg


'Vaniakah itu?'


Dania berkedip,"Hu-uh,"anggukknya refleks,seakan ikut mendengar jeritan hati sang kakak sepupunya tersebut,"Ngomong-ngomong di mana calon kakak ipar?"


"Vania?"Responnya malas.


Dania mengerutkan kening,"Iyalah....,siapa lagi,atau ada yang lain?"


"Tidak,tapi mungkin,niat mau tambah calon."Mengedipkan mata sembari terkekeh.


Dania membanting telapak tangan tepat ke bahu kekarnya,begitu cepat tanpa bisa terhindar olehnya,"Huh,candamu kelewatan,kak....,belum jadi nikah juga?"


"Kayaknya nggak jadi dek,"jawabnya pura-pura meringis kesakitan.


"Kenapa?"Dania mulai serius.


Dimas mendengus berat,"Panjang ceritanya."


"Boleh kutebak,selingkuh nih,pasti."Dania memicingkan mata sembari terkikih usil.


"Kau kenal baik?"Dimas mengernyit.


"Pastinya,kan dulu zaman putih abu,pernah main ke rumah mendiang Lian,ada aku di sana.Kita berteman,tapi tidak seakrab kak Lian."


"Lalu apa hubungannya rumah Lian dengan selingkuh?"Dimas pura-pura mengguyon konyol,padahal dalam hatinya berharap segera menemukan jawabannya dari sana.


Dania tertawa sumbang,"Dulu saat pacaran sama kakak,dia berani pindah ke lain hati,dan itu siapa?Kak Jefry!"jelasnya berapi-api,"Giliran diabaikan kak Jefry barulah pindah lagi ke kakak."


"Tapi,pria itu_"Ucapan Dania tiba-tiba terputus.Gadis itu tampak sedikit murung.


"Pria,siapa?"


....


Bersambung....


๐Ÿค—๐Ÿค—๐Ÿค—