I Need You

I Need You
Demi Menjaga Nama Baik



Happy Reading 📖😍


Hilya mencermati tindakan yang dilakukan oleh pria paruh baya di hadapannya itu.Ada beberapa hal yang ia tangkap dari sana, selain ramah,ia juga memiliki raut wajah yang teduh dan berwibawa,


'Jadi dia presdir Adhytama Star Group dan pemilik Hotel serta restoran DS yang selama hampir dua bulan ini telah menggaji lelahku.' batinnya.


Hilya merenung,andai masalah ini tidak terjadi maka mungkin saja saat ini ia sedang asyik berada di kampus bersama dengan teman-temannya.Namun sayang gara-gara insiden ini membuat semua rutinitasnya terpaksa berhenti total.


Kini ia tengah berada di lantai tertinggi gedung mewah ini hanya untuk menunggu vonis apa yang bakal dijatuhkan kepadanya. Gadis itu tampak menghela napas berat meskipun hatinya sudah sedikit lega lantaran orang yang berhadapan dengannya saat ini bukanlah orang jahat seperti yang ada dalam bayangannya sejak semalam.Dan tentunya pria paruh baya ini tidak seperti si tuan muda gila itu menurutnya.


Hilya yang dipersilahkan menunggu di sofa untuk beberapa lama sembari menanti tindakan selanjutnya dari pihak atasannya tampak terkantuk-kantuk menunggu lantaran hampir dua jam ia duduk dan belum juga mendapat panggilan selanjutnya,


'Apa ini juga merupakan bagian dari hukuman itu?'gumamnya pelan.


Sejak tadi ia ingin sekali merogoh ponsel dari sling bag yang dibawanya namun keberaniannya menciut manakala mengingat kehadirannya kemari bukanlah mencari pekerjaan ataukah menjalani interview naik jenjang melainkan kehadiran dirinya kemari adalah sebagai terdakwah yang menunggu divonis.


'Tuhan lindungilah diri ini.' batinnya penuh harap.


Tepat di dua setengah jam terlihat seseorang membuka pintu ruangan owner begitu saja tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.Tuan presdir yang sedari tadi sedang sibuk memandang laptopnya segera mengalihkan pandangannya ke arah pemicu munculnya suara itu.


Sementara Hilya yang hampir ketiduran gara-gara kelamaan menunggu terkesiap menatap sosok yang tiba-tiba memasuki ruangan tersebut,


'Kenapa dia kemari di saat aku belum selesai diusut?Bisa-bisa dia mengira aku sengaja menunggu dirinya lagi.Oh Tuhan masalah apalagi ini.' batinnya nelangsa.


Hilya memandang sosok yang tidak lain adalah Danang tanpa kedip.Pemuda itu tampak kalem di hadapan sang presdir yang menjadi ayahnya itu.Tidak ada suara ataupun deheman darinya.Dan untuk Hilya,jangankan dipandang,dirasakan keberadaannya oleh pemuda acuh itu saja tidak sama sekali.


Hilya duduk berselonjor seraya menopangkan wajahnya dengam menjadikan kedua sikunya sebagai tumpuan.Sesekali ia menyugar rambut sebahunya yang turun menutupi wajahnya.


Beberapa kali Ia sengaja mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan mencari-cari sesuatu yang mungkin bisa menetralkan matanya lantaran kelelahan, hingga akhirnya ia benar-benar ketiduran dengan posisi sedang menopang wajah dengan kedua telapak tangannya.


"Bangunlah!Jangan pura-pura tertidur."suara sentakan menggelegar membuat mata yang terpejam dan pikiran yang setengah terjaga itu membelalak.


Hilya mendapati pemuda asing itu sudah berada tepat disampingnya,sangat dekat.


Hilya mendadak bergeser beberapa senti untuk mengambil cela di antara mereka.


"Kenapa kau bergeser,bukankah ini yang kau inginkan?"ucap pemuda itu nyinyir.


Hilya bungkam.Menurutnya percuma berdebat dengan pemuda ini.Danang menatap tajam ke arahnya.Sorot mata elang itu masih saja terlihat gelap dan menerkam meski ia lebih banyak diam daripada menyerang menggunakan fisik seperti kemarin.


Sesaat kemudian terlihat pria paruh baya itu ikut bergabung dan terlihat dua orang lain yang datang dari arah pintu masuk, Hilya baru nalar setelah mencoba mengingat kembali wajah dua wanita yang baru saja bergabung dengan mereka itu ternyata tidak lain adalah ibu dan adik dari pemuda asing ini.


'Jadi ini maksudnya aku disuruh menunggu lama.' batinnya.


"Maaf menunggu lama nak,"ucap wanita paruh baya yang dipastikan Hilya sebagai ibunda Danang.


Hilya mengangguk sopan,"Tidak apa-apa nyonya,seharusnya saya yang meminta maaf karena sudah merepotkan ibu."balasnya tersenyum malu.


Tuan Imran dan nyonya Andin seketika saling pandang dan sontak membuang kembali pandangannya masing-masing. Sedangkan Dania hanya bisa mengangguk sopan ke arah gadis yang bernama Hilya itu.Dalam hatinya sangat iba dan merutuk panjang pendek nasib malang yang menimpa wanita muda yang tidak lama lagi akan menjadi kakak iparnya itu.


"Ba_baik nyonya,_eh,baik bu."balas Hilya gagap diikuti oleh senyum kecutnya.


Mama Andin membalas gadis itu dengan


sebuah senyum yang sangat tulus.


Danang yang melihat semua kejadian tersebut hanya membuang pandangan kosong ke sisi yang lain.Dalam hatinya tidak bisa menerima ketulusan gadis yang menurutnya sangatlah munafik.


"Baiklah,bisa kita mulai sekarang?"ucap tuan Imran membuka percakapan inti.


Hilya mulai merasakan debaran jantung yang tidak karuan lantaran panik memikirkan vonis apa yang bakal dijatuhkan kepadanya.


"Oke pa,silahkan.Kasihan anak orang menunggu lama."balas nyonya Andin.


"Baiklah,berhubung insiden ini sudah terlanjur menyebar di seluruh wilayah Adhytama Star Group dan,"menjeda sejenak,


"untuk menjaga agar tidak menyebar kepada publik,dan demi menjaga nama baik dari kedua belah pihak maka siap atau tidak siap kalian berdua harus menerima keputusan untuk segera dinikahkan."ucap sang presdir dengan nada tegas dan penuh penekanan.


Hilya yang sudah kelelahan menunggu sejak pagi merasa bagai gemuruh yang menggelegar memecah gendang telinganya tinggal menunggu kehancuran di depan mata,dan bagai petir menyambar sekujur tubuhnya dan tinggal menjemput kematian di ujung napasnya.


Ucapan tuan presdir itu terngiang-ngiang menari riang di pelupuk mata dan pikirannya.Senyum semringah kekalahan seakan sedang meledek kelemahannya dan berbisik kata,'mampus kau!'ke telinga gadis itu membuatnya seketika tergugu.


'Tuhan,cobaan apalagi ini.' batinnya seraya menggeleng-geleng.


Matanya yang mulai berkaca-kaca dipaksa bertahan demi tidak menunjukkan kelemahan dirinya di hadapan orang-orang yang sama sekali tidak dikenalnya dan tiba-tiba saja memaksanya untuk menjadi bagian dari keluarga mereka.


Terlebih pemuda itu.Hilya tidak ingin menangis di hadapannya karena baginya pria itu tidak pantas untuk menjaga hati seorang wanita lemah seperti dirinya.


Hilya mengambil langkah cepat menekan tombol lift dan turun ke lantai dasar kemudian berlari sekuat tenaga menuju pintu gerbang menghentikan taksi dan masuk ke dalam taksi dengan cucuran air mata yang tidak terbendung.


Di perjalanan gadis itu terlihat melamun dan menatap kosong ke luar jendela,


"Paman,turunkan saya di Permata Kos,blok G.No.34."ucap Hilya terperinci.


"Baik nona."balas si supir taksi.


Di depan kos Hilya berdiri mematung memandang pintu yang tertutup di depannya.Memikirkan entah bagaimana pemuda gila itu menemukan kos yang ditempatinya dalam tempo satu malam saja.


Berarti dia tidak main-main dengan ucapannya jika Hilya memang ada rencana atau ancang-ancang untuk melarikan diri. Senyum getir menghiasi bibirnya yang mengering dan memucat sebelum akhirnya ia benar-benar merasa tatapannya nanar seketika dan dunianya menjadi gelap.


•••


Bersambung...


🤗🤗🤗