I Need You

I Need You
Dia Belum Mengerti



Happy reading 😍📖


Kediaman Jayahadi....,ruang keluarga.


Tuan Jayahadi duduk berhadapan dengan Helmy Afindra.Keduanya saling menatap dalam suasana yang mencekam.


"Ini salah paham."Tuan Jayahadi bersuara lirih.


Tuan Jayahadi memang berniat memperjuangkan cucunya untuk kembali ke rumahnya,tapi tidak dengan merebutnya dari tangan bapak Haryadi,Helmy,apalagi Hilya yang sudah ia kenal sebelum ia mengenal Helmy sebagai manager di perusahaan Jaya Group.


"Aku bahkan tidak pernah berniat merebutnya dari siapapun,"ujar Jayahadi trenyuh,


"Orangtua mana yang tega membiarkan cucunya sendirian kalau saja ia mengetahui bahwa cucunya masih hidup."lanjutnya nelangsa.


Dirinya sendiripun baru saja melakukan pendekatan kepada bapak Haryadi dengan maksud memperkenalkan diri.Jika mereka ingin membahas masalah tersebut selanjutnya,maka tuan Jayahadi harus menunggu kesediaan bapak Haryadi terlebih dahulu,barulah ia berani maju.


"Saya bertindak demi melindungi keluarga saya,pak."Helmy menyatakan pembelaan dirinya.


Ya,kenapa tiba-tiba saja Helmy menyerang atasannya begitu saja,itu dikarenakan sehari sebelumnya ia pulang ke kota Kecil.Di sana ia bertemu dengan para asisten kepercayaan tuan Jayahadi yang sedang berbincang dengan sang bapak Haryadi Abimanyu perihal Juna sebagai pewaris utama Jaya Group.


"Juna adalah cucunya tuan Jayahadi."menunjukkan bukti foto Arjuna Wijaya yang sedang memeluk Aluna kepada bapak Haryadi.Juga foto Arjuna sewaktu masih kecil yang mirip dengan Juna saat ini membuat pria paruh baya itu seketika berang.


"Pergilah kalian,aku tidak butuh orang lain untuk membesarkan cucuku,"menunjukkan telunjuknya ke arah pintu,"Tidak ada keluarga yang lebih baik buat Juna selain diriku."lanjutnya berang.


Para asisten tersebut tidak menyerah,


"Kami harap bapak bersedia menyerahkan sang pewaris Jaya Group kepada tuan Jayahadi."salah seorang dari asisten itu bersuara.


Mendengarnya,Helmy yang rada temperamen dalam melindungi keluarganya,tidak terima begitu saja.Selama lima tahun ia mencari-cari keberadaan keluarga mendiang Arjuna Wijaya yang ia anggap sebagai pembunuh adik sepupunya.Dia bahkan pernah berjanji akan membalas dendam kepada keluarga tersebut.


"Aku sangat menghormati keputusan kalian,"meraup wajahnya yang tampak kusut,"tapi setidaknya berilah aku kesempatan untuk menjelaskannya."lanjutnya tertunduk.


Rencananya,Helmy memang bertujuan menemui atasannya ini untuk mengatakan agar jangan pernah membahas tentang Juna Lagi.Karena Juna adalah milik keluarga Haryadi.Lebih tepatnya milik Hilya.Namun alangkah terkejutnya dia ketika tiba di kediaman tuan Jayahadi,ia mendapati Juna yang tengah dipeluk cium oleh tuan dan puan Jayahadi.


"Dia dan Hilya kemari menjenguk Nuha."terang tuan Jayahadi menyerah.


"Dan saya tidak mengetahui itu sebelumnya."pungkas Helmy Afindra menjelaskan.


Diperkuat lagi saat kedatangan Helmy tadi bersamaan dengan kehadiran adik iparnya. Danang yang tiba-tiba muncul di rumah itu, membuat praduganya semakin kuat.Satu keyakinan di hatinya bahwa mereka tengah melakukan kesepakatan untuk menyerahkan Juna kepada keluarga tersebut.


"Maafkan atas kesalahpahaman ini."Jayahadi lagi-lagi meminta maaf.


"Baiklah,saya yang akan mempertemukan anda dengan bapak saya,"ucap Helmy yang baru saja melunak,namun nada bahasanya belum sepenuhnya netral.


Bahkan saat keluar dari mobil tadi Helmy sempat beradu urat dengan Danang yang tidak tahu menahu tentang masalah tersebut.Hal itu membuat Danang hanya bisa menghela napas dalam demi meredam amarahnya kepada pria tersebut yang dikenalnya sebagai kakak ipar.


'Hfftt,untung dia kakak iparku.Coba saja seseorang,sudah kutonjok tu muka biar kapok.'gumam Danang pelan sembari menepuk tinju di belahan telapak tangan yang lainnya.



.


Di kamar tamu....


"Bundaaa..."Juna berlari kedalam pelukan Hilya yang baru saja bersiap untuk turun dari ranjang.


"Juna sayang,baik-baik saja kan?"


Juna mengangguk mantap,"Juna habis main pesawat tempur di taman bunga,"ucapnya sembari memeluk manja wanita yang selama ini ia anggap ibu kandungnya.


Nuha memandang Danang yang tengah mematung,


"Kenapa,tampangmu seperti udang rebus gitu?"menarik ujung bibirnya,"Habis kena jitak kakak ipar ya?"lanjutnya menahan tawa.


"Kau yang tomat segar.Kenapa pakai ajak-ajak isteriku kemari,bawa Juna lagi."


"Itu salahmu,tuan Danang Danuarta Setiawan.Kalau kau tidak membuat sahabatku menangis di ujung trotoar,mana mungkin aku memaksanya kemari."


"Apa kau bilang?"sentak Danang tidak terima.Lantas menarik ujung rambut gadis centil tersebut sampai meringis kesakitan.


"Sakit tauk,mana rambutmu,sini kubalas."melompat-lompat menggapai kepala Danang yang jauh menjulang di atas,"Biar kucabut sekalian."lanjutnya,namun gagal karena Danang berhasil menghindar.


"Sudah,sudah,ah!....,kalian berdua bertengkarnya macam bocah saja."lerai Hilya sembari tergelak pecah.Juna yang tengah memeluk sang bunda ikut tertawa geli melihat tante Nuha dan papa Danang beradu urat.


"Hurra,akhirnya mereka ketawa juga."pekik Nuha diikuti bersulang tinju dengan Danang yang sedari tadi sudah semringah merayakan kemenangan triknya membuat sang isteri tertawa terpingkal-pingkal.


"Tuh,baru awet muda,"ucap Danang semringah,"Masih bocah saja,sudah kelihatan tua....,kan,kan."lanjutnya sembari berlagak meneliti gurat tua di wajah isterinya.


Hilya melengos,mendorong pelan pelipis suaminya yang pasrah mengikuti arah pergerakan tangan isterinya,"Asal bicara saja."




Ruang tamu....


"Om dan tante,kami pamit pulang dulu."Danang membuka pembicaraan.


"Baiklah,nak.Hati-hati di jalan."


Hilya yang merasa tidak enak hati memilih untuk tetap bungkam sembari memegang tangan Juna yang digendong oleh Danang.


"Hilya,"Suara lembut nyonya Amanda menyapu telinga gadis itu.Tubuh paruh baya yang tampak cantik dan awet itu berjalan mendekatinya,"Terima kasih sudah menjadi ibu buat cucuku selama ini."bisiknya lirih,lantas membawa tubuh Hilya kedalam pelukan erat seorang ibu.Kedua wanita beda fase itu tampak mengucurkan air mata.


"Maafkan aku,sudah lancang sama tante dan om."Hilya meminta maaf atas tindakan refleks yang sempat terjadi sebelumnya.


Nyonya Amanda menggelengkan kepala,"Kau dan kakakmu tidak bersalah,nak."menangkup bahunya,"Justeru kami yang harusnya minta maaf kepada kalian."lanjutnya tersenyum ramah.


"Juna sayang,jangan pernah jauhi opa ya?"Tuan Jayahadi yang sedari tadi hanya menyimak tiba-tiba bersuara saat mendapati Juna membuang pandangannya saat mereka beradu tatap.


Juna bungkam.Bocah itu memilih memeluk leher sang papa sembari menenggelamkan wajahnya dada bidang pemuda tersebut.


"Maafkanlah,dia masih belum mengerti."Hilya dan Danang bersuara nyaris bersamaan.


Baik tuan Jayahadi maupun nyonya Amanda hanya mengangguk pasrah.Mereka sangat memaklumi hati bocah yang selama ini hidupnya sangat malang.Bahkan hingga saat di antar keluar dan mereka masuk ke mobilpun,Juna tetap memilih menyembunyikan wajahnya daripada harus memandang pria paruh baya yang selalu mencari perhatian darinya itu.


Di perjalanan,Juna dan Hilya sama-sama terlelap akibat kelelahan.Sementara Danang tetap fokus kepada kemudi,menerobos pekatnya awal malam kota D hingga mereka sampai ke rumah.Bibi Nunung siap menyambut kehadiran mereka di pekarangan depan.


Wanita paruh baya itu terlihat tersenyum lega manakala mendapati majikannya kini pulang bersama-sama dalam keadaan baik-baik saja.Bahkan dari raut wajah dn bahasa tubuh mereka saja,jelas terbaca kalau pasangan muda itu tampak mulai akur.


Usai makan malam,Danang membiarkan isterinya istirahat di kamar.Sementara dirinya memilih untuk menuju ruang kerjanya.Di sanalah ia mulai membongkar kembali memori di malam itu.Di mana VIP room menjadi saksi utama yang membuat dirinya bertemu dengan gadis misterius bernama Hilya Afiyana Abimanyu.


•••••


Bersambung...


🤗🤗🤗