
Kembali ke Premium Elite
"Aku pulang!"Gelegar datar suara maskulin Danang membelah heningnya isi kamar di ujung senja,membuat Hilya nyaris terjingkat.
"Duh,rindunya,"gumamnya pelan.Tangannya sigap membereskan pakaian yang sempat ia keluarkan dari lemari.Berhubung beberapa hari ini ia tidak di rumah,dan sempat mengambil asal,pakaiannya hingga tampak berantakan.
Rasa rindu yang memuncak membuatnya nyaris kehilangan akal sehat saat mendengar suara yang ditunggu-tunggunya sudah menggema di pendengaran.Udara seisi kamar seketika memanas.
"Benar dia,kah?"Lagi-lagi tanpa sadar ia bergumam pelan sembari menggigit bibir tipisnya sendiri,sesaat hingga terasa sakit dan memerah.
Sebisa mungkin ia berusaha menetralkan suasana hatinya.Padahal kini jantung dan paru-parunya sudah saling beradu sport.Lebih tepatnya bagai diaduk-aduk oleh 'kincir Belanda' tak kasat mata.Membuat rongga hidungnya susah mengontrol detak napas yang tiba-tiba memacu tidak karuan.
'Sumpah demi sesuatu,ini perasaan terburuk yang pernah kurasakan,'
'Sumpah demi apapun,andai bisa,ingin kumemangkas hari terburuk ini dari hidupku biar tidak mengalaminya sekalian.'
Semarah-marahnya Danang yang pernah ia anggap monster,akan lebih baik ketimbang sikap dingin dan kaku yang ia pamerkan kepadanya beberapa hari ini.Cukup menyentuh di lubuk hatinya yang terdalam.Perlu diketahui,pria itu lebih banyak diam di seberang sana ketimbang bersenda gurau,ketika mereka berbicara lewat ponsel.Memberi jeda bermenit-menit lamanya,seakan memikirkan sesuatu demi menjawab seadanya setiap pertanyaan.
Padahal Danang bukanlah tipe yang kaku tanpa guyonan,atau suka berlama-lama mencerna ucapan seseorang.Ia bahkan lebih mengandalkan komunikasi yang cepat dan tepat.Kemudian dengan cekatan menemukan solusi yang bisa menenangkan pikiran lawan bicaranya.
Ah,rasanya ini lebih sakit dari saat pertama kali bertemu.
"Kenapa melamun?"
"Ah,ya.Itu....,"
"Tidak suka,melihat aku pulang?"
"Bu_bukan begitu,a_aku hanya....,"
"Berdiri mematung menatapku,dan membiarkanku masuk berganti baju begitu saja tanpa disambut?"Sorot mata tajam itu memerah menandakan gejolak yang ditahan sedemikian rupa agar tidak meledak begitu saja.Ya,menurut Hilya.
"Hitung,"Danang mengarahkan diikuti gerakan matanya yang kian membola,"Baru seminggu aku meninggalkanmu,tapi kau sudah lupa tata cara menyambutku pulang?"
Duarrr
Bagai ditembak peluru tak kasat mata.Menembus jantung dan hatinya yang sedari tadi beradu kecepatan.Tiba-tiba stop,tak berdetak sama sekali.
'Apalagi ini?'batinnya mencelos.
"Kau melupakan_"
"Tidak,suamiku,kumohon jangan berkata begitu....,Aku benar-benar sangat merinduimu."Potongnya cepat,"Aku bahkan nyaris tidak bisa tidur setiap malam hanya memikirkan dirimu."lebih tepatnya bergumam pada diri sendiri.
Ucapan itu akhirnya meluncur begitu saja diikuti rona merah yang menyembul begitu saja semakin membuatnya salah tingkah di depan suami yang tiada hentinya menatap nyalang dengan sorot elang yang mematikan.
Danang mematung saat Hilya begitu sigap mendekapkan diri ke dada bidangnya,merengguk aroma maskulin yang beberapa hari menghilang.
Dalam suasana canggung,Hilya berusaha mendongakkan kepalanya sembari berucap lirih,"Maaf,"dengan gerakan bibir yang bergetar membuat jiwa maskulinnya kembali terguncang.
Gayung bersambut.Bibir tipis nan ranum itu segera mendekatkan diri mencari xample yang dibutuhkan,kemudian perlahan menautkannya lalu siap mentransfer arus sensitif tegangan tinggi,yang mengaduk-aduk semakin dalam.
Merasa keahlian sang isteri yang belum mancapai standar,Danang segera mengambil alih.Mendekap erat tubuh yang sangat dirinduinya dalam sepersekian detik.Merengkuh,merengguk,lalu menyesap dalam,aroma wanitanya yang menguar tajam,kian menggoda.
Kini suasana hati keduanya mulai terasa saling berdamai,terbiasa dengan situasi,kemudian saling melempar jauh-jauh rasa canggung yang datang malu-malu.Merasakan degupan jantung masing-masing nan berpacu hebat,demi merasakan gelenyar luar biasa yang berpusat di bawah perut masing-masing.Oh,sentuhan yang teramat dirinduinya selama terpisah di luar sana.
Ingin rasanya ia ikut membenam,mendesakkan diri saat itu juga namun tak kuasa,mengingat dirinya yang baru usai melakukan perjalanan jauh,butuh membersihkan tubuh demi menjaga kesehatan diri,terutama sang isteri.
"Temani aku mandi."Ucapan tak terbantahkan.Melucuti seluruh pakaian luarnya.
"Baiklah,aku temani di dalam."Mengumpulkan setelan pakaian milik sang suami yang baru dilepas.
"Mandi berdua."Lagi-lagi tak ingin dibantah.
"Baiklah,kita mandi berdua."Jawaban pasrah mengingat dirinya baru usai mandi.
Pasangan yang baru berdamai dengan hati itupun mulai menjalani ritual mandi.Berendam di busa hangat yang menguar aroma wangi bunga,menjadi pilihan terbaik saat itu,segar dan menenangkan jiwa.Ditambah sensasi guncangan bola air yang menyapu sekujur pori-pori sensitif mereka,membuat keduanya tak kuasa lagi menahan seluruh gejolak rasa yang kian membuncah,menyiksa diri dan sanubari,meminta untuk segera dilepas.
"Kenapa membuat masalah selama aku pergi,hmm....,kenapa meninggalkan rumah?"
"Siapa dia,hmm?....,seberapa pentingnya dia dariku,hmm?....,akan kuhukum kau dengan sesuatu yang tidak pernah kau duga sebelum ini."
Danang meracau parau dalam gejolak yang kian menggebu.
Hilya pasrah....,sesungguhnya inilah alasan mendasar yang kenapa bisa membuatnya ketar-ketir.Melewati masa pengadilan terhadap kesalahan yang tidak sengaja ia lakukan selama beberapa hari ini.Ungkapan hati yang sangat berat untuk diuraikan.Ah,rasanya tidak ingin menjawab begitu saja.
"Ma....aafkan aku....,semuanya di luar kendali.Hsssh...."Hilya menjawab di tengah napas yang memburu akibat ulah Danang yang tidak ingin memberinya jeda berbicara sedikitpun.Bibir,lidah dan tangannya begitu lincah memainkan dua bola sensitifnya.Didukung dengan sensasi gulungan ombak kecil yang menerpa kulit porinya,panas dingin.Menambah kesan menggigil di tubuhnya,"Tidak bermaksud menyakiti hatimu."lanjutnya setengah mendesah.Entah ke berapa kalinya bibir tipis itu ia gigit sendiri.
"Kau tahu,betapa khawatirnya diriku saat mendengarmu tidak di rumah,hmm....,kau tahu seberapa takutnya aku kehilangan dirimu,hmm....,"ujarnya parau sembari menatap mata letih isterinya itu penuh tuntutan,
"Aku pernah kehilangan sesuatu dengan cara yang tidak adil,membuatku membenci semua yang ada....,lalu kau tega membiarkan semua itu terjadi lagi padaku,hmm sayang?"
deg
'Pernah kehilangan sesuatu dengan cara yabg tidak adil,apa itu tentang mendiang calon isteri di masa lalunya?'batin Hilya tercenung berupaya mencerna ucapan yang baru saja dilontarkan oleh Danang.
"Aku....,ah lebih baik aku mengurungmu di dalam rumah selamanya,daripada harus menerima kenyataan seperti itu....,kali ini tak akan ada lagi kompromi untuk tetap hidup."Ujarnya lagi tanpa memberi jeda.
"Maafkan aku,jangan bicara begitu,aku_"
"Aku sudah tidak peduli tentang masa laluku,tentang hidupku.Tapi kau?"
"Kau bahkan hadir tanpa kuminta.Membawa kedamaian dalam hatiku dengan menyembuhkan luka lamaku,Lalu memaksa hatiku menerimamu,dengan kau memberiku apa yang tidak bisa diberikan oleh orang lain di masa laluku....,lalu kau ingin pergi begitu saja?"
"Berpikirlah sebelum melangkah,apakah aku sanggup hidup setelah itu,wahai isteriku tercinta,nona Hilya Afiyana Abimanyu binti Haryadi Abimanyu."
Sebesar itukah cinta Danang kepadanya,secepat itukah suaminya itu berubah.Lalu bagaimana dengan mendiang calon isterinya di masa lalu itu?Apa perasaannya kepada gadis tersebut telah berubah secepat itu?
Beruntungnya wanita tersebut,menjadi calon isteri,itu berarti sebuah posisi yang sangat istimewa,bukankah begitu?Atau bahkan mungkin dirinya kini hanya sekedar melengkapi status yang ada.Atau dengan kata lain,sebagai pelarian masa lalu suaminya saja.Meski hatinta rada bingung dan nelangsa,namun ia tetap berusaha untuk tetus tersenyum agar suaminya tidak berpikir macam-macam tentangnya.
"Kita makan malam bersama Juna,dulu.Setelah itu kita lanjutkan,karena ini baru awalnya dan aku belum selesai menghukummu."Danang memberi peringatan sesaat setelah berpiyama lengkap.Bergerak menuju nakas,meraih sesuatu di sana lalu beranjak keluar dari kamar sembari matanya tetap mengawasi gadis yang masih mematung menatap langkahnya.
Hilya menarik napas dalam sesaat setelah pintu kamar usai dibanting oleh Danang.Kesal dan dongkol.Merutuki dirinya sendiri karena telah melakukan kesalahan yang membuat Danang marah besar,"Salahmu sendiri sih,main ke rumah bapak juahhatt itu,"gumamnya kesal membanting kaki ke udara secara bergantian menendang angin.
"Ck!"
Dalam pikirannya,ungkapan perasaan suaminya tentang masa lalu yang tadi saja sudah cukup menohok dan membuatnya sangat terluka.Lalu apa lagi yang bakal didengungkan oleh suaminya jika itu saja dibilang baru awal dan belum selesai.Oh,bakal terputus juga urat nadinya kali ini.
"Bodoh."
Ruang Keluarga....
Danang bergerak maju mendekati Juna yang tengah asyik menonton aksi tokoh si kucing animasi ajaib. Sejenak ia baru menyadari kalau sang papa sudah sangat dekat dengannya,
"Papaa...."Juna dengan gaya penuh semangat melompat ke pelukan pria hebatnya itu,"Juna rindu,berat."lanjutnya sembari tertawa riang.
"Ah,ya.Papa juga dong jagoan,"ucapnya menyambut sang bocah dengan sebelah tangannya sementara tangan yang lain masih setia memegang benda yang diambilnya dari nakas.
"Apattu,papa?"
"Tebak dong,papa bawa apa."Meraih salah satu dari empat kotak kecil yang terbungkus rapi.
"Game board?"
"No,"Geleng-geleng.
"Yo-yo?"
"Juga bukan,emm....,baiklah,sini biar papa bukakan."
Hening....,hanya ada bunyi kasak-kusuk bungkusan yang dibuka.
"Wah,itu Kubus Rubik,kayak di televisi itu kan,pa?"
"Heeum....,tepat sekali,"
"Oke nanti,papa akan mengajarkan jagoan papa ini,menjadi seorang pesulap rubik yang handal dan tak terkalahkan,mau?"
"Horee....,mau pa,mau!"
"Ngomong-ngomong,di mana nenek Nung?"
"Di dapur belakang."
"Nggak tau sama sekali kalau papa pulang?"
Juna menggeleng,"Nggak."
"Kalau begitu,papa ke tempat nenek mau kasih oleh-oleh dulu,dan jagoan papa tunggu di sini,jangan ke mana-mana,oke."
"Ashiap boss!"
Danang beranjak manakala Hilya baru saja turun dari tangga dan mendekati Juna yang tenggelam dalam uji coba permainan rubiknya.
"Juna main apa,nak?"
"Ini,bunda.Papa belikan Juna mainan baru,"ucapnya sembari menunjukkan permainan berbentuk kubus itu kepadanya.
"Oh,ya,lalu di mana papa?"Hilya dengan wajah penuh senyum mengambil posisi duduk di samping sang anak.
"Bagi oleh-oleh tempat nenek dan opa,"jawabnya tanpa beban.
"Oh,ya?"Kening Hilya mengerut tajam,'Jadi ceritanya,dia balas dendam?'batinnya kesal.
"Heeum,emang bunda nggak dapat?"Juna mengangguk dan bertanya,ragu.
"Nggak,emang semua dapat?"Hilya belum lepas dari rasa bingungnya.
"Heeum,kecuali bunda?"Juna balik bertanya bingung.
Hilya menggeleng pelan,"Tega,papa kamu,nak."
"Kata siapa?"Juna bernada membela sang papa.
"Kata bunda."
"Siapa yang tega?"Suara Danang tiba-tiba muncul dari belakang,membuat ibu dan anak itu sontak berpaling ke arahnya.
"Eh,itu si 'Jon Arbuckle',yang baru lewat."Menunjukkan tuan pemilik 'garfield' si kucing gembul yang muncul di televisi,"Makan malam sudah siap,makan,yuk."lanjutnya sembari mengajaknya kemudian menarik tubuh bocah mana paham itu,lalu siap beranjak dari posisi duduknya.
Danang terlolong dengan mulut membentuk huruf 'O',namun tetap bergerak maju ke meja makan.
....
Bersambung....
🤗🤗🤗