I Need You

I Need You
Pertemuan Tak Terduga



Dalam acara pembukaan Hari Berbagi Seribu Warga tersebut,banyak tamu undangan yang datang dan berasal dari kolega bisnis tuan Imran.Tidak ketinggalan orangtua Nuha Izz dan juga Joshua,yaitu tuan Farhan dan juga tuan Jayahadi.


"Hai,calon kakak ipar.Hari ini izinkan aku membawa Dania pergi jalan-jalan,"ucap Haidar yang baru muncul dari sisi yang berbeda.Tampak sudut bibirnya mengukir senyum memukau ditambah kedipan mata khas playboynya.


Hilya menoleh dan ikut tertawa melihat tingkah konyol khas playboy sang General Manager yang berjalan mendekati dirinya.


'Benar kata Dania,dia benar-benar absurd.'batinnya.


"Boleh,asal jangan kau permainkan adik iparku."


"Awas kalau sampai hatinya kau lukai."


"Hah,amanlah itu.Asal jangan dibeberkan,aku butuh waktu buat pendekatan kepada calon mertua,"tambahnya tersenyum miring.


"Emmph...,sogok tidak berlaku."Hilya melengos.


Haidar mendengus,


"Ah,kau ini.Sepertinya aku perlu melakukan sesuatu agar kau mendukungku."


"Silahkan saja,kau bahkan tidak bisa merebut hati suamiku yang keras kepala itu."cebik Hilya.


Danang yang dari tadi nampak sibuk dengan kerabat dari seberang,menatap isterinya yang tengah bercengkerama dengan Haidar.Sebuah perkenalan yang membawa keakraban dadakan dan patut diacungi jempol,menurutnya.


Gadis yang sebagai menantu keluarga Adhytama Setiawan,baru saja ikut melaksanakan ritual khusus acara gunting bunga bersama suami,mertua,keluarga dan kerabat.Hilya yang selalu tampil riang,baru kembali berganti kostum setelah melewati beberapa rentetan acara,lalu bergegas mencari keberadaan Juna bersama mama Andin.


Saat Hilya berkeliling mencari posisi mama Andin,ia kembali memergoki suaminya Danang tengah asyik berbaur dengan keluarga dari seberang.Sangat asyik.Sampai lupa diri.Bahkan di saat matanya bertembung dengan isterinya yang sedang melewati area tersebut saja,jangankan menyapa.Menghiraukannya saja tidak sama sekali.Hanya pria yang bernama Diego itu saja yang tampak ramah dan menyapa dirinya.


Hilya memilih untuk menepi agar tidak terlihat kikuk dan memalukan di depan keluarga bangsawan itu.Beberapa langkah Hilya berhasil melewati keramaian dan memasuki area sepi,tiba-tiba seseorang menarik paksa tangannya.


"Joe?!...,kau di sini?"


"Ya,aku melihatmu di televisi lalu memutuskan kemari."


"Tapi,untuk apa Joe?"


"Karena....,karena aku merindukanmu.."


"Joe,kumohon jangan temui aku lagi."


"Kenapa Hilya,aku mencintaimu.Kenapa kau tidak mengerti juga?"


"Karena suami palsumu itu,kan?Aku sudah tahu semuanya,dia tidak mencintaimu.Maka dia juga tidak pantas untuk dicintai,Hilya."


"Joe,tidak sepantasnya kau bicara begitu,"menepis tangannya,"Dia suamiku,dan Pernikahan kami sah di mata hukum dan agama."


Hilya mendorong tubuh Joshua yang menahan pergerakannya.


"Tapi untuk apa kau pertahankan?"menarik lengan Hilya,"jika dia saja sering menyiksamu?"lanjut Joshua menekan.


"Hei,aku akan terus mengejarmu,hingga aku benar-benar mendapatkanmu!"pekik Joshua frustrasi dari kejauhan memandang punggung Hilya yang semakin menjauh sambil menahan sebak di dada.


Sementara itu di tengah keramaian beberapa orang bocah imut sedang berlari-lari mengitari para tamu yang sedang turun minum.


"Juna sayang,jangan lari-lari nak.Nanti jatuh."


Di ujung ballroom,suara mama Andin terdengar ikut menggema seisi ruangan.Peringatan yang tidak diindahkan oleh si kecil Juna.Ia bersama teman-temannya berlari riang berjingkat-jingkat di atara keramaian dan lalu lalang.Semakin menjauh dari posisi mama Andin.Tiba-tiba,


Bukkk


Pranggg!!


Bunyi tabrakan dan pecahan gelas menyentuh keramik.Juna terduduk di lantai.Hati-hati ia mendongak ke atas,memindai wajah,sembari menahan rasa sakit di kepala akibat membentur di tubuh seseorang.


Bocah itu ketakutan menatap seorang pria yang tidak sengaja ia tabrak.Pria paruh baya itu juga ikut sembari meringis memegang sisi jasnya yang basah akibat bekas tumpahan minuman yang dipegangnya.


Akibat tabrakan keras dari Juna,gelas yang dipegangnya ikut pecah.Pria itu terkejut dan menatap tajam ke arah Juna yang masih mematung.


Hening.....


Mendengar suara berisik,Hilya yang berada di kejauhan bergegas menuju ke arah Juna,tampak panik dan segera berjongkok meraih Juna kedalam pelukannya,lalu berdiri dan berniat meminta maaf kepada pria tersebut.


"Maafkan,anak saya tidak sengj_"


"Tidak apa-apa,namanya juga anak kecil."potongnya cepat seraya menyapu jasnya.Kemudian mendongak memandang ke depan,"Kau ibunya Hilya?"tanya pria itu tidak percaya.


Hilya gelagapan,


"Ee....,ya om Jayahadi.Dia Juna,anak saya."


Hilya menjawab pertanyaan tuan Jayahadi dengan perasaan yang gugup.Pria paruh baya itu menatap tajam ke arah Hilya dengan ekspresi yang berubah-ubah,


"Kakek,jangan marah bunda.Juna yang salah."Juna yang dari tadi bersembunyi di balik rok sama bunda,ikut memberanikan diri mengangkat suara,"maafkan Juna."lanjutnya meminta maaf.


Tuan Jayahadi baru menyadari kalau sikapnya telah membuat bocah itu ketakutan.


"Ah,ya.Kakek tidak marah.Hanya terkejut,nak."Jahayadi mengelus rambut tipis bocah itu,sorot matanya tidak lepas memindai tubuh sang bocah dari ujung rambut hingga ke ujung kaki,


"Juna...,namamu Juna,lengkapnya siapa,nak?"lanjutnya melemparkan pertanyaan basa -basi lantaran melihat keberanian bocah yang gencar membela ibunya.


Juna mengangguk,


"Arjuna Wijaya,kakek,"ucapnya penuh percaya diri.Tuan Jayahadi terbelalak mendengarnya.


Satu senyuman kecil ia daratkan di bibir seraya berucap,"Nama yang sangat bagus,"mencubit gemas pipinya,"dan sempurna."lanjutnya dengan tatapan penuh makna.


"Makasih kakek,tapi papa akan segera mengganti akta Juna,dengan Arjuna Danuarta Setiawan,"terangnya seraya tertawa kegirangan.


"Aahhh,Juna sayang.Bicara apa kamu,nak?"Hilya menangkup mulut Juna daripada keceplosan berbicara lagi,"Pergi main bersama oma ya,nak."


Juna mengangguk sembari beranjak dari sana dengan wajah dan senyuman riang yang memukau hati pria yang bajunya separuh basah akibat ulahnya itu.


Tuan Jayahadi tampak mengerutkan kening,


"Hilya,kau seumuran Nuha kan,"memegang kepala bocah itu,"dan punya anak sebesar ini,apa kau menikah muda nak?"menatap gadis itu penuh selidik.


Hilya terkesiap.Ingin rasanya ia menjelaskan permasalahan yang sesungguhnya agar tuan Jayahadi tidak menilai buruk terhadap dirinya dan juga keluarganya.Namun sejenak ia berpikir lagi bahwa Juna adalah anak yatim piatu yang tidak memiliki siapa-siapa selain dirinya.Maka jika ia sampai mengungkapkan kenyataan,maka sangat dikhawatirkan akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.Apalagi Juna adalah anak yang tidak direstui oleh keluarga mendiang ayah maupun ibunya,


"Ah,maaf om.Ini menyangkut privasi.Saya tidak bisa menjelaskan kepada siapapun."


Mendengar pernyataan Hilya,tuan Jayahadi tampak menghela napas berat,


"Oh,baiklah.Tidak masalah,nak."


Hilya membungkuk sopan,


"Kalau begitu saya permisi dulu om,"ucapnya mengambil ancang-ancang berlalu dari hadapan pria paruh baya tersebut.


"Ya,silahkan."balas tuan Jayahadi,"Ee...,Hilya.Apa Juna juga tinggal bersamamu?"tambahnya seakan tertarik dengan keberadaan bocah yang memperkenalkan dirinya dengan nama Arjuna Wijaya itu.


Hilya mengangguk,


"Ya...,om."




Lantai tertinggi gedung Jaya Group...


Tuan Jayahadi tampak termenung di kursi kebesarannya.Sudah tiga hari berlalu,acara penyerahan secara simbolik perwakilan seribu warga oleh keluarga Imran.


Sejak kejadian gelas pecah dan jas basah akibat ulah seorang bocah yang mengaku bernama Arjuna Wijaya di Adhytama Star Hotel,pria itu tidak habis memikirkan dan membayangkan wajahnya.


'Aku seperti melihat sosok Arjunaku di sorot mata kecilnya itu.'


'Apa benar di cucuku?'


'Ah,mana mungkin.Bukankah kata Ferdi,Aluna meninggal bersama dengan bayinya?'


Tidak puas mengandai-andai,tuan Jayahadi meraih benda pipih dari atas meja lalu menghubungi seseorang,


Bagaimana,sudah kau cari tahu latar belakang anak kecil itu?


Tuan Jayahadi memulai pembicaraan kepada salah satu anak buah yang ia kerahkan untuk mencari tahu latar belakang puteranya Hilya.


Sudah tuan,Mereka berasal dari kota Kecil.Dia anak nona Aluna Handani,nona Luna yang meninggal dunia saat melahirkan,dan bayinya selamat.Keberadaannya tidak diterima oleh keluarga besar nona Luna.Karenanya,bocah itu diasuh oleh bapak Haryadi Abimanyu,ayah kandung dari nona Hilya pak manager Helmi Afindra.


Tuan Jayahadi tersenyum sinis seakan menertawakan dirinya sendiri.


'Hhhhfft....Ya,ya,aku bahkan lupa menyadari kalau ada Helmi di kantor ini.'batinnya frustrasi.


•••••


Bersambung..


Author sekeluarga mengucapkan selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankannya...😍


🤗🤗🤗